
"Kemana dia? Tidak mungkin dia ditempatkan pelatihan kan?" terdengar suara perempuan
"Tadi pagi memangnya dia permisi Kemana, nona?"
"Aku meminta nya belanja keperluan bidak bidak ditempat pelatihan dan membagi upah mereka untuk pergerakan malam ini"
"Tak mungkin ia melarikan uang itukan?" katz pria yang satu
"Tidak mungkin.. Tadi sebelum sore aku sudah ketempat pelatihan untuk memancarkan serangan malam ini. Kata mereka, Pine Tadi memang kesana membawa sejumlah barang dan makanan. Juga memberikan upah mereka" sanggah pria yang satu lagi
"Jadi bagaimana rencana kita malam ini? Ditunda?"
"Tidak. Tetap berjalan sesuai rencana. Persiapkan semuanya. Aku juga akan persiapkan rencana pelaksanaan kita. Ntah kenapa, menghilangnya Pine membuatku sedikit gelisah"
"Nona curiga ia melapor kepada pemerintah kota?"
"Aku tidak yakin. Tapi lebih baik kita waspada. Bagaimanapun aku tidak sepenuhnya mempercayainya"
Tok... tok...
"Siapa yang datang? Mungkin Pine pulang?"
"Jangan dibuka. Itu bukan Pine. Dia tidak pernah mengetuk pintu"
"Kalian ada memberikan alamat kita kepada bidak bidak itu?"
"Tidak..."
"Aku yakin ini bukan hal baik. Ayo pergi dari pintu belakang. Sebelumnya, semua berkas rencana kita bakar semua, agar tidak ada bukti"
"Tidak sempat lagi nona. Jika belum habis dibakar pintu sudah didobrak, dan kita tertangkap, itu sangat berbahaya"
"Jika begitu, bawa semua"
Mereka bergerak dengan hati hati. Berusaha meredam suara kaki sepelan mungkin. Dengan terburu buru memasukkan semua gulungan gulungan kertas kedalam sebuah tas kain.
Tok...tok....tok...
"Buka pintunya atau kami buka paksa..." terdengar dari dari luar pintu .
Suara ketukan di pintu semakin keras.
"Cepat.." katanya pelan. Mengintip dari celah pintu belakang, sebelum membukanya.
"Aku lari dari pintu belakang. Kau dari pintu samping kanan, dan kau dari pintu samping kiri. Kita bertemu ditempat pelatihan. Tunggu kode dariku, kira keluar saat bersamaan"
__ADS_1
"Baik Nona"
"Jika keadaan tidak memungkinkan, gunakan kertas mantera angin untuk melarikan diri. Walaupun itu sangat berharga, tapi tidak sebanding jika tertangkap"
Saling memberikan kode saat membuka pintu, dan...
" Satu... dua... Tiga..."
Ketiganya membuka pintu bersamaan dan lari sekencang mungkin.
Bersamaan dengan itu terdengar pintu didobrak yang diikuti langkah kaki berderap.
" Cepat periksa setiap ruangan.. jangan biarkan mereka lolos!" terdengar perintah Kapten Leon.
"Siap Kapten."
Semua bergerak cepat memeriksa setiap ruangan.
"Kosong Kapten."
"Disini juga kosong. Tapi kami menemukan ini" kata seorang prajurit sambil membawa sebuah gulungan kertas dan menyerahkannya kepad Kapten Leon.
"Baik. Ini laporan keuangan mereka. Cari yang lain, mungkin ada petunjuk yang lain yang bisa kita temukan."
"Siap Kapten!"
Tiga buah bayangan melesat meninggalkan rumah itu dengan tiga arah yang berbeda.
"Ada yang bergerak. Sergap..!" terdengar seruan Louisa kepada prajurit yang bersamanya.
Lima sosok pria berpakaian prajurit kerajaan Lembah Angin bergerak cepat untuk menangkap sebuah bayangan yang melesat keluar rumah. Bahkan Louisa pun ikut serta mengejar.
Orang yang keluar itu terkejut mengetahui jika pelariannya telah diprediksi. Ia berusaha lari secepat mungkin, tapi orang yang ingin menangkapnya juga bergerak tidak kalah cepat.
Dia sangat ketakutan sekarang, sebab dialah yang bertugas membawa berkas berkas yang berisi rencana dan juga laporan kegiatan mereka selama fi kerajaan Lembah Angin.
"Sialan nona Rea. Dia sengaja menjebakku. Jika aku tertangkap dan semua berkas ini jatuh ketangan orang orang kerajaan Lembah Angin, dia pasti cuci tangan dan melimpahkan semua kesalahan kepadaku. Sementara dia yang akan menerima pujian dari Yang Mulia" gumamnya sambil berlari.
Sesekali ia menoleh kebelakang dan semakin gugup menyadari jaraknya dengan kelompok yang mengajarkan semakin pendek.
"Apa yang harus kulakukan? Ah...kertas mantera angin... Ini satu satunya jalan agar aku bisa berlari lebih cepat" pikirnya sambil mengeluarkan sebuah kertas mantera dari balik saku bajunya dan mencabut segelnya berupa benang tipis diujung kertas. Seketika itu juga ia seperti didorong dengan kecepatan tinggi membuat kelompok yang ingin menangkapnya tertinggal jauh.
Tapi tiba tiba...
Brukk....
__ADS_1
Tubuhnya terpental seolah menabrak sebuah dinding yang tidak kasar mata membuatnya meringis. Tapi karena kertas mantera angin masih ditangannya membuat tubuhnya kembali bergerak tanpa bisa ia kendalikan dan sekali lagi tubuhnya terpental.
"Aww..." ringisnya.
Tubuhnya terdorong kesana kemari karena ia tidak bisa lagi berkonsentrasi dengan arah tujuannya ditambah tubuhnya yang terasa sakit akibat terpental beberapa kali.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya di dalam hati.
"Lepaskan kertas manteramu, dan menyerahlah..." terdengar suara seorang perempuan kepadanya.
Ia menoleh mencari sumber suara dan menemukan seorang perempuan berpakaian serba hitam beserta lima orang laki laki melihatnya dengan wajah prihatin.
"Apa! Bagaimana dia tahu aku memakai kertas mantera. Menyerah? Tidak ! Aku tidak boleh menyerah semudah itu" batinnya. "Jika aku tidak bisa melarikan diri, setidaknya aku harus memberikan perlawanan kepada mereka sekuat tenaga"
Dia berbalik dari posisi melarikan diri ke posisi menyerang. Menarik pedang yang tersimpan dipinggang, menghunusnya kearah salah satu pria yang mengejarnya yang dia rasa mempunyai pertahanan paling sedikit.
Trank.. trank... terdengar suara benturan pedang.
Walaupun sudah memperkirakan, tapi Louisa masih sedikit terkejut dengan serangan balik yang ditunjukkan pria itu dengan tiba tiba.
Dari pertarungan jelas terlihat, jika pria itu bukanlah masyarakat biasa. Melainkan orang yang mendapat pelatihan beladiri khusus.
Louisa memilih mundur, dan melihat saja. Melihat musuh cukup kuat, Louisa memerintahkan salah satu prajurit ikut membantu.
Sekarang pertarungan dia lawan satu, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama pria itu berhasil ditangkap.
"Tuan Putri.."
"Bagaimana keadaan yang lain Kapten?"
"Dua orang lainnya sudah ditangkap juga Tuan Puteri. Tapi satu orang melarikan diri"
"Hah... Mengapa bisa lolos Kapten...?" tanya Louisa terkejut.
"Perempuan itu?"
"Bukan Tuan Puteri. Seorang laki laki, penduduk kita. Kata pelatih Shine namanya Pine.."
"Mungkin ia berada ditempat rekrutmen. Kita tunggu saja kabar dari Marco dan Shadow."
"Baik Tuan Puteri. Apa langkah selanjutnya yang kita lakukan?"
"Bawa mereka ke Balai kota. Dan ingat harus tetap waspada agar mereka tidak bisa melarikan diri"
"Siap Tuan Puteri.."
__ADS_1
Mereka akhirnya kembali ke Balai Kota membawa ketiga tawanan beserta sejumlah dokumen yang berhasil ditemukan.