
Mengetahui jika usaha nya gagal, wanita muda itu segera meninggalkan restoran itu. Dengan langkah terburu buru dia keluar.
Setelah bergerak sekitar lima puluh meter, dua orang pria yang sebelumnya duduk di sudut ruangan itu bergerak mengikuti dari belakang.
Wanita muda itu terus berjalan ke arah timur kota. Setelah berjalan sekitar setengah jam, akhirnya ia memasuki sebuah toko pertukangan bercat coklat.
"Hmm...bandit Racun Api" kata salah satu pria yang mengikutinya tadi.
"Maksud mu ini merupakan markas mereka?"
"Benar."
"Jadi wanita muda tadi anggota mereka. Pantas saja ia memakai racun pada minuman tuan Puteri. "
"Tapi dilihat dari gerakan yang digunakan olehnya, sepertinya ia sudah cukup profesional di bidangnya."
"Bandit Racun api terkenal sebagai pembunuh kelas menengah . Aku yakin, mereka belum akan berhenti sebelum puteri mati"
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Tugas kita hanya untuk mengamati saat ini. Kita tidak bisa membuat keputusan apapun. Kita sebaiknya melaporkan masalah ini ke senior"
"Jika begitu, kita kembali markas"
Keduanya berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, Puteri Revaline sama sekali tidak mengetahui bahaya yang baru saja mengincarnya. Setelah sarapan di restoran itu, ia kembali melanjutkan acara belanja nya di pasar itu.
Sebenarnya bisa saja ia menyuruh pelayan yang pergi untuk berbelanja kebutuhan dikediaman nya. Tapi ia memanfaatkan kesempatan ini untuk berinteraksi dengan penduduk yang ada di pasar.
Puteri Revaline terkenal ramah dan santun kepada siapa saja. Tidak pernah menggunakan status tuan putri sebagai sesuatu yang perlu dibanggakan. Karena itu penduduk sekitar kota Malwa sangat mencintai nya.
Selesai dengan acara belanja nya ia kemudian kembali ke istana dengan perasaan senang.
*****
Di gedung serikat pekerja Sorka.
"Sayangku, apakah kamu yakin mengambil pesanan itu?" tanya seorang wanita berpakaian mewah pada Jhon Muel.
"Aku tidak bisa menolaknya Rose. Harga yang ditawarkan sangat tinggi. Kamu tahu, untuk uang mukanya saja pangeran itu membayar hampir mencapai penghasilan serikat selama dua tahun. "
__ADS_1
"Benarkah?"
"Untuk apa aku berbohong kepada mu. Bisa kamu bayangkan jika ini berhasil berapa yang bisa kita dapatkan? Kamu bisa membeli perhiasan dari Gordon yang sangat kamu inginkan itu, dan membanggakan nya pada teman teman mu."
"Oh, cintaku. Tidak kuduga kamu begitu memikirkan aku."
"Kita telah melalui empat kehidupan bersama. Bagaimana mungkin aku tidak memahami keinginan mu"
"Tapi sayang, ini sangatlah berbahaya. Baik berhasil ataupun gagal, tetap berisiko pada akhirnya terbongkar pihak istana. Dan kau tahu sendiri hukuman untuk orang yang menyerang keluarga kerajaan. Hanya satu, hukuman mati beserta seluruh keluarganya"
"Karena nya, baik ini berhasil atau gagal, kita akan segera pergi dari Malwa"
"Kemana tujuan kita?"
"Kota Kapur Putih. Pangeran Hurex telah berjanji akan memberikan perlindungan selama kita berada dikerajaan Lingkar Awan. Bahkan jika ini berhasil, beliau berjanji memberikan sebuah posisi penting di istana Lingkar Awan padaku. Sesuatu yang tidak terjangkau olehku sebelumnya"
Mendengar itu wanita itu menjadi sangat bersemangat.
"Jika begitu, hal ini harus dikerjakan sebaik mungkin. Pilih anggota kita yang benar benar profesional."
"Aku juga berpikir demikian. Sayangku, aku segera pergi ke hutan kabut. Ke markas rahasia kita. Mungkin akan beberapa hari aku disana"
"Mengapa begitu lama?" kata wanita itu dengan sedih.
"Tapi aku akan kesepian disini sendiri"
"Hubungi adikmu, ajak bermalam disini sampai aku kembali. Ini ada uang untuk mu bersenang senang. Berbelanja lah sesuka mu. Yang penting kamu gembira"
"Suamiku memang terbaik. Jika begitu berhati-hati lah dijalan."
"Aku berangkat sayangku" kata Jhon Muel, setelah mencium kening wanita itu.
Jhon Muel kemudian keluar dari gedung serikat pekerja Sorka. Di depan pintu, telah menunggu seorang bawahan nya yang memegang dua tali kekang kuda.
"Kita berangkat tuan?" tanyanya setelah menyerahkan satu tali kekang kuda kepada Jhon Muel.
"Iya" jawab Jhon Muel singkat dan segera menunggangi kuda nya.
Derap langkah kuda segera terdengar meninggalkan tempat itu. Kuda bergerak cepat ke arah hutan kabut.
Hutan kabut merupakan hutan yang berada di perbatasan tiga kerajaan. Kerajaan Lembah Angin, kerajaan Lingkar Awan dan kerajaan Fatma. Tapi hutan kabut masih termasuk kedalam wilayah kerajaan Fatma.
__ADS_1
Hutan kabut jarang di jamah manusia, karena seperti nama nya selalu berkabut. Memberikan sensasi dingin membuat siapapun tidak bertahan lama di dalamnya.
Tapi dihutan inilah Jhon Muel membangun markas untuk para pembunuh bayarannya. Ini dilakukan nya untuk menghindari kecurigaan pihak istana Fatma.
Walaupun kekuatan militer prajurit Fatma tidak begitu kuat dan menonjol, tapi mereka memiliki jumlah prajurit yang sangat banyak dan sangat setia kepada kerajaan.
Hal ini tentu akan sangat merepotkan bagi Jhon Muel dalam pekerjaan nya. Bagaimana pun organisasi pembunuh bayaran dilarang beroperasi di kerajaan Fatma.
Jika adapun, semuanya sangat rahasia dan hanya orang orang tertentu saja yang mengetahui keberadaan mereka. Dan kebanyakan akan menyamarkan organisasi mereka seperti yang dilakukan Jhon Muel pada serikat pekerja Sorka atau toko pertukangan seperti bandit Racun Api.
Jhon Muel memecut kudanya kesebuah warung kecil di pinggir hutan kabut dan berhenti disana. Setelah menunggangi kuda selama tiga jam, membuat nya lapar. Lagi pula, ini merupakan warung terakhir sebelum memasuki hutan kabut.
"Selamat datang tuan. Silahkan masuk..anda mau makan apa?" tanya pemilik warung ramah saat melihat Jhon Muel masuk berserta anak buahnya.
"Sajikan hidangan terbaik kalian" jawab Jhon Muel.
Dengan semangat pemilik warung menghidangkan makanan kepada Jhon Muel dan anak buah yang dibawanya.
"Silahkan dinikmati tuan tuan"
"Terimakasih"
Dengan lahap mereka makan. Sambil makan mereka beristirahat mengumpulkan tenaga. Sebab setelah ini, perjalanan akan mereka tempuh dengan berjalan kaki sejauh tiga jam perjalanan.
Ini sudah kebiasaan Jhon Muel. Kuda kuda akan dititipkan kepada pemilik warung sampai ia kembali mengambil nya.
Kuda akan diurus oleh pemilik warung, dan saat diambil akan diberikan uang pemeliharaan. Tentu ini akan menguntungkan kedua belah pihak.
Setelah satu jam berada di warung itu, Jhon Muel bersiap memasuki bagian dalam hutan. Tapi sebelum itu, ia mengambil mantel wol yang tebal agar tidak kedinginan selama berada di dalam hutan.
"Pak, aku titip kuda kuda kami. Ini uang makan kami tadi sekaligus biaya perawatan kuda. Kekurangan nya akan kuberikan ketika kembali mengambil kudanya"
"Tuan tenang saja. Saya pasti merawat nya dengan baik."
"Kami pergi" kata Jhon Muel sambil berjalan keluar dari warung itu.
Keduanya berjalan memasuki area hutan. Semakin kedalam, udara terasa semakin menusuk tulang. Setelah berjalan kaki selama kurang dari tiga jam, tampak didepan mereka sebuah kompleks perumahan sederhana.
Didalam nya terdapat sepuluh buah rumah sederhana. Tapi walaupun berada ditengah hutan kabut, area seluas tiga hektar tersebut tidak sedingin hutan sekitarnya.
'
__ADS_1
Inilah area pelatihan dan markas para pembunuh bayaran serikat pekerja Sorka.