
"Memang apa yang kau tulis?Jangan membawa masalah kepada ayahmu Lorine"
" Tidak akan ada masalah paman. Hanya sedikit sindiran akan hasil kunjungannya kekerajaan Mordan. Dan informasi tentang Scream yang telah tewas."
"Paman hanya tidak mau jika nanti hubungan kerajan Gordon dan Lembah Valley memburuk"
"Aku masih tahu batasanku paman. Aku mau mandi dulu paman, setelah menjumpai Ibu Ren aku mau tidur"
"Istirahatlah, kita semua sangat lelah. Aku akan memberitahu kepala pengawal kita akan berangkat besok pagi sebelum matahari terbit"
Louisa naik ke lantai dua rumah makan itu, dan masuk kedalam salah satu kamar yang telah dipesan Sofia sebelumnya. Setelah selesai mandi ia menuju kamar Reneisme dan Jen yang tidur satu kamar.
"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Louisa begitu memasuki kamar.
"Sudah lebih baik. Cuma lukanya memang belum sembuh, mungkin sekitar dua Minggu baru kering lukanya."
"Tapi masih sakitkah?"
"Sedikit nona, tapi tadi sudah minum obat herbal yang diberikan nyonya Sofia"
"Jika begitu segeralah beristirahat, karena besok pagi kita melanjutkan perjalanan. Aku pergi dulu ya ibu, tolong jaga ibu Ren ya Jen."
"Baik nona"
*****
Sebelum matahari terbit, rombongan itu kembali bergerak. Kereta barang yang kemarin dikosongkan untuk mengangkut bandit, kembali diisi dengan barang bawaan.
Ketika matahari mulai merangkak naik, mereka tiba di perbatasan yang ditandai dengan sebuah jembatan kayu yang memisahkan kedua kawasan. Di bawah jembatan terdapat sebuah sungai kecil.
"Mungkin inilah perbedaan yang dimaksud oleh Lorine" batin Sofia .
Saat memandang kebelakang, terlihat sebuah kota yang cukup maju dengan perumahan penduduk yang teratur rapi dan dilengkapi lampu lampu dengan batu elemen cahaya, ataupun lilin yang ditempatkan pada lampu lampu hias. Serta terlihat satu dua kereta kuda bergerak membawa barang barang dagangan.
Sedangkan jika melihat kedepan, tepatnya diseberang jembatan terdapat sebuah desa kecil minim penduduk. Lengkap dengan ketidak teraturannya, dan bangunan yang terbuat dari kayu kayu yang terlihat usang. Membuat desa kecil itu seperti kawasan kumuh bila dibandingkan dengan kota diseberangnya.
Tapi itulah tanda kita memasuki wilayah Lembah Angin. Penduduk desa kecil itu menggantungkan hidupnya dengan menjadi buruh kasar atau pekerja pemanggul barang di kota maju itu.
"Sekarang aku mengerti keprihatinan Lorine. Bahkan dengan kedudukannya sebagai permaisuri sekalipun ia tidak bisa merubah keadaan lembah angin. Sepertinya ini lebih sulit dari dugaanku" pikir Louisa.
"Paman, aku sudah cukup lama tidak pergi ke Lembah Angin. Apakah keadaan masyarakatnya masih sama?"
"Maksudmu Lorine?"
"Maksudku apakah masih banyak kawasan seperti desa ini?"
__ADS_1
"Maksudmu dengan kemiskinannya?"
"Benar paman"
Landen menghela napas sebelum menjawab.
"Yang kita lihat ini keadaan nya masih terbilang cukup baik Lorine bila dibandingkan dengan wilayah wilayah pedesaan lainnya. Mungkin karena kamu terlalu lama Gordon Empire, sehingga kamu terkejut dengan keadaan ini."
"Paman, apa selama aku menjadi permaisuri tidak ada kebijakan khusus untuk wilayah Lembah Angin?"
"Kan kamu permaisurinya, mengapa tidak tahu mengenai hal itu?" tanya Sofia sedikit menyindir.
"Kebijakan mengenai suatu distrik, bukan urusan permaisuri sayang. Itu murni kebijaksanaan raja sendiri" bela Landen.
"Benar yang dikatakan paman, bibi. Bibi juga nanti harus belajar mengenai hal ini. Banyak pekerjaan raja, yang tidak bisa diintervensi oleh permaisuri"
"Tapi bukannya permaisuri bisa mengusulkan hal hal yang menurutnya cukup penting kepada raja?"
"Sebatas usul bisa bibi, tapi itu harus disampaikan secara pribadi. Karena sifatnya pribadi, permaisuri tidak mungkin menuntut atau mendesak raja agar usulnya diterima. Dan aku pernah menyampaikan hal itu kepada Raja Peter."
"Jadi apa katanya waktu itu?"
" Nanti kupikirkan, hanya itu jawabannya. Makanya kukira beliau sudah melakukan kebijakan tertentu tanpa memberitahukan kepadaku"
"Kapan kamu memintanya Lorine?"
Mereka berbincang sampai tidak terasa rombongan sudah sampai disebuah kota kecil bernama Rock city. Kota ini dikelilingi oleh bukit bukit berbatu .
Pekerjaan utama penduduknya adalah sebagai pendulang batu. Batu batu ini kemudian dikumpulkan, dan dijual kepenadah dengan harga murah. Tapi setidaknya mereka mempunyai penghasilan untuk memberi makan keluarga mereka di rumah.
Dan disepanjang jalan terdapat warung warung sederhana. Mereka berhenti disalah satu warung paling besar. Setelah makan dan beristirahat sebentar mereka melanjutkan perjalanan.
Mereka melewati beberapa desa sebelum akhirnya memasuki sebuah kota besar. Hilton city merupakan salah satu kota terbesar di Lembah Angin.
Lembah Angin sendiri terdiri dari empat kota besar dan sepuluh kota kecil.
Dan sekitar seratus empat puluhan desa yang menyebar di berbagai wilayah.
Rombongan itu berhenti disebuah rumah makan milik Margaret. Mereka menginap ditempat itu kemudian melanjutkan kembali perjalanan keesokan paginya.
Setelah menempuh perjalanan selama sepuluh hari, akhirnya rombongan itu tiba di perbatasan Hinom city.
Sebagai ibu kota dari distriks sembilan, Hinom city merupakan kota yang paling besar dan paling maju diantara wilayah lainnya serta memiliki tingkat kepadatan penduduk yang paling tinggi.
Kota ini merupakan pusat perdagangan bagi Lembah Angin.
__ADS_1
*****
"Lorine bangun..."
"Sudah sampaikah bibi?"
"Kita sudah memasuki Hinom city."
Louisa membuka jendela kecil disamping kereta agar bisa melihat keadaan disepanjang jalan yang mereka lewati.
"Kota ini lebih mirip Melfet" pikir Louisa. "Sangat jauh ketinggalan dengan Gordon Empire"
"Nah kita sampai. Lihat sepupumu ada disini" kata Sofia menunjuk kearah seorang perempuan muda yang tersenyum kearah rombongan.
"Memangnya Sola tinggal disini bibi? Bukannya dia bersama adik ipar tinggal di distrik delapan?"
"Mungkin mereka berkunjung, karena tahu kamu akan pulang ke Hinom city"
"Ayo turun, nanti lagi ngobrolnya" kata Landen memotong pembicaraan mereka. Landen yang dari tadi ingin turun, terhalang oleh Sofia yang duduk didekat pintu.
"Oh iya. Maaf paman. He...he..." jawab Louisa sambil turun dari kereta.
"Kakak Lorine, selamat datang di Hinom city" kata Sola menyambut Louisa.
"Salam jumpa Sola. Apakabar mu?"
"Aku baik kakak. Ibu, ayah selamat datang" katanya kepada Sofia dan Landen.
"Salam jumpa sayang. Kapan kamu tiba? Mana menantuku?"
"Sudah seminggu kami tiba ibu. Menantu mu sedang dipanggil kakek"
"Kita masuk dulu. Berbincang didalam rumah saja" kata Landen.
Mereka masuk ke dalam rumah.
"Nyamannya....setelah berhari hari duduk diatas kereta kuda" kata Louisa.
"Jika tidak membawa barangmu yang sangat banyak itu, kita sudah bisa tiba dua hari yang lalu" kata Sofia.
"Jadi semua kereta barang tadi isinya milik kakak semua?? Ckk..ckk.. Jangan jangan kakak mengangkut semua isi istana Gordon kemari" kata Sola menggeleng gellengkan kepalanya yang diikuti tawa renyah Sofia dan Landen.
Sola memang belum pernah masuk ke dalam istana Gordon, sehingga tidak tahu jika seratus kereta barang sekalipun tidak mampu mengangkut barang barang yang ada diistana Gordon.
"Yang tadi kami bawa masih sedikit Sola, sebelum kami berangkat barang sepupumu telah tiba terlebih dahulu dengan jumlah yang jauh lebih banyak" kata Sofia, membuat mulut Sola ternganga.
__ADS_1
Mereka masih asik bercanda sambil meminum teh yang disajikan pelayan sampai tiba tiba terdengar suara ribut dari arah pintu masuk..
"Awas ya jika terjadi sesuatu pada cucu kesayanganku. Akan kupukul kepala ayah mertuamu. Berani sekali ia membohongiku, sehingga aku tidak jadi ikut ke Gordon.."