
"Menurut pendapat kalian, apakah mereka akan tetap bertahan dihutan kabut karena merasa keadaan sudah aman disana?"
"Tidak akan Yang Mulia. Saya yakin, mereka akan segera melarikan diri. Karena itu, kita harus segera melakukan pengejaran"
"Baiklah jika begitu. Letak hutan kabut ada disini" kata Raja Tejza sambil menunjuk kepeta.
"Wilayah nya sangat luas, dan merupakan hutan terluas di kerajaan Fatma. Di sebelah utara berbatasan dengan kerajaan Lingkar Awan, di sebelah timur berbatasan dengan kerajaan Mala."
"Yang paling dekat dengan hutan kabut ada ke kota mana?" tanya Louisa
"Dua hari perjalanan ke kota Grass dikerajaan Lingkar Awan, dua setengah hari perjalanan kekota Mito di kerajaan Mala" jawab Jendral Yufra.
"Jika begitu, kita harus memblokade jalan kedua tempat itu. Tapi bagaimana dengan penyergapan ke markas mereka?"
"Biar kami yang melakukan nya Yang Mulia"
"Maksudnya bagaimana puteri Lorine?"
"Maaf Yang Mulia jika saya lancang. Berdasar apa yang dijelaskan sebelumnya, kondisi alam dan cuaca di hutan Kabut cukup ekstrim. Jika menurut Jendral Yufra, apakah pasukan prajurit kerajaan Fatma dapat menembusnya?"
"Akan sangat sulit tuan Puteri. Mungkin hanya sekitar lima orang prajurit elit yang mampu melakukannya. "
"Jika begitu, kita bagi tugas. Bagaimana menurut Shine?"
"Aku setuju dengan pendapat, ketua. Prajurit kerajaan Fatma melakukan pemblokiran jalan, sehingga tidak memungkinkan mereka meninggalkan kerajaan Fatma. Sementara tim kita akan melakukan penyerangan dan penyerapan ke kutan Kabut"
"Tapi apa jumlah prajurit kalian cukup tuan Puteri. Jika kurang, aku akan memerintahkan beberapa Kapten kami membantu kalian"
"Ayah, apa bisa aku membawa semua pasukan elit kita?"
"Tidak masalah Lorine. Kami akan aman selama masih didalam kompleks istana. Apa perlu ayah ikut membantu?"
"Ayah cukup menjaga kakek dan nenek, juga sepupu. Semua prajurit kita akan ikut denganku. Jika ada dua tiga orang prajurit Fatma membantu kami, tentu kami berterimakasih. Setidaknya mereka lebih tahu arah didalam hutan kabut"
"Jendral, siapa yang bisa membantu puteri Lorine?"
"Ada tiga orang yang memungkinkan Yang Mulia. Kapten divisi satu dan empat. Serta seorang prajurit elit, Floe. Sementara empat kapten lainnya akan menjaga perbatasan."
"Begitu juga bagus. Tapi Puteri, apa kalian mampu menembus hutan kabut? Disana sangat dingin"
"Seharusnya mampu. Jika tidak mampu, berarti mereka sepulang nya dari kota Malwa akan diberikan rekreasi di gunung Awan. Jendral Yufra, kami akan berangkat malam ini juga. Kita harus bergegas, sebelum mereka menyebrangi perbatasan."
"Aku akan memberikan perintah kepada anggota kami. Dimana titik kumpul kalian?"
"Gedung the power of night Jendral. Tengah malam kami berangkat"
"Baik. Saya langsung bergerak. Hamba permisi Yang Mulia"
"Silahkan Jendral"
__ADS_1
Jendral Yufra keluar dari ruangan. Melihat itu, Louisa juga berpamitan.
"Yang Mulia, kami juga langsung berangkat. Mau mempersiapkan segala sesuatu yang hendak dibawa."
"Silahkan puteri Lorine"
"Terimakasih Yang Mulia. Paling lama dua hari, kami membawa akan membawa Jhon Muel kemari"
"Tidak usah buru-buru. Jangan lupa, kirim kabar jika terjadi sesuatu"
"Baik Yang Mulia. Ayah, jangan lupa kirim pesan ke ibu jika kita terlambat pulang. Tapi jangan katakan kejadian disini."
"Tentu. Ayah paling mengerti ibumu. Kalian harus hati hati Lorine. Bagaimanapun, kelompok Bear Arrow cukup merepotkan. Dan Shine, Marco, kalian tahu tugas kalian bukan?"
"Tentu Jendral." kata keduanya serempak
Ketiganya segera keluar dari ruangan itu meninggalkan Raja Tejza dan jendral Lucky.
"Jendral Lucky, anda begitu tenang melepaskan puteri Lorine pergi ke Medan tempur. Apa anda tidak ada kekuatiran?"
"Kuatir tentu saja ada Yang Mulia. Tapi aku tahu puteri ku seperti apa. Juga anggota intinya hanya kurang satu. Formasi pelindungnya sudah lengkap. Dia juga membawa anggota elit kerajaan, tentu aku lebih tenang lagi"
"Berapa orang kah pasukan elit yang kalian bawa Jendral Lucky?"
"Lima puluh orang Yang Mulia"
"Tentu Yang Mulia ingat dimana letak titik kumpul dikatakan Lorine tadi. The power of night tentu akan ikut terlibat. Hanya aku kurang tahu berapa orang yang bisa dibawa Lorine. Tapi menurut ku itu sudah lebih dari cukup"
"Mengapa the power of night mau terlibat?"
"Karena Lorine ketua utama mereka. "
"Apa!! Bagaimana itu bisa Jendral? Puteri mu sungguh menakjubkan, apa ada hal yang tidak bisa dia lakukan?"
"Tentu saja ada Yang Mulia. Tidak ada manusia yang sempurna"
"Ha...ha... Menurut pendapat Jendral, kira kira siapa dalang dibalik penyerangan ini? Setahu ku puteri Revaline tidak memiliki musuh. Terus terang saja Jendral, ini menjadi guncangan besar bagi keamanan Fatma"
"Kita belum bisa menebaknya Yang Mulia. Bisa juga itu berkaitan dengan pangeran Lark. Tapi pangeran Lark juga setahu kami tidak pernah memiliki musuh"
"Semoga ada setitik terang nantinya Jendral Lucky. Aku mau melihat keadaan puteri Revaline, anda mau ikut Jendral?"
"Tentu Yang Mulia"
*****
Sementara itu di kamar Puteri Revaline.
"Kakak, ini bukan perbuatan ku. Aku sungguh sungguh saat mengatakan sudah menarik misi itu." kata puteri ketiga ketakutan.
__ADS_1
"Kakak tahu kamu berkata benar. Begitu banyak kemungkinan adik ketiga. Tapi kamu tidak usah kuatir, yang penting baik kakak maupun kakak ipar mu baik baik saja sekarang"
"Aku mendengar dari pelayan, jika darah kakak sangat banyak keluar. Sampai baju kakak darah semua"
"Tidak apa-apa. Lukanya sudah sembuh. Tinggal pemulihan.Beberapa hari ini tentu sudah pulih seperti biasa."
Tiba-tiba di luar kediaman terdengar...
"Yang Mulia Raja Tejza datang berkunjung..!!" terdengar teriakan prajurit penjaga
Tak lama terdengar pintu dibuka..
"Ananda Reva, boleh ayahanda masuk?"
"Tentu ayahanda"
******
Di gedung the power of night
"Apa semua sudah datang Shine?"
"Tinggal menunggu ketiga orang prajurit Fatma ketua. Setelah itu kita bisa langsung bergerak"
"Jika instruksi kan kepada semua anggota untuk berkumpul dan berbaris. "
"Segera ketua"
Tidak menunggu lama, semua anggota the of night yang ikut penyergapan sudah berbaris. Louisa memutuskan hanya membawa tiga puluh orang saja dari mereka.
Disamping mereka juga ikut berbaris lima puluh orang pasukan elit kerajaan Lembah Angin yang telah dibawa sebelumnya dari desa Alma.
Tidak lama kemudian, datang tiga orang menunggangi kuda ke tempat itu.
Mereka melompat turun dari kudanya masing masing dan mendatangi Louisa.
"Salam puteri Lorine. Saya Kapten Boris, Ini rekan saya Kapten Smith, dan prajurit Floe. Kami bertiga diutus Yang Mulia Raja Tejza untuk membantu puteri Lorine menyergap penyerang puteri Revaline"
"Kalian sudah tahu medan yang akan kita tuju?"
"Tahu puteri. Hutan kabut"
"Bagus jika kalian tahu. Ini ada masing masing tiga butir pil herbal yang telah kami siapkan. Minum satu butir sekarang. Herbal ini baru akan bereaksi setelah dua jam. Fungsinya membuat tubuh tetap hangat walaupun ditempat dingin. Ini akan meminimalisir pengaruh kabut di hutan kabut nantinya"
"Terimakasih tuan Puteri" kata ketiganya sambil meminum pil yang diberikan Louisa.
"Jika begitu kita berangkat."kata Louisa sambil menunggangi kudanya.
Malam sangat lah pekat. Ditengah kegelapan malam, puluhan kuda bergerak meninggalkan kota Malwa menuju Hutan kabut.
__ADS_1