
Pagi baru menjelang. Terlihat sebuah kereta kuda bergerak meninggalkan kota Hinom di kawal sepuluh orang berkuda. Itulah kereta kuda yang membawa Louisa.
Duduk di kereta kuda, Louisa dan Margaret. Sementara Lucio lebih memilih naik kuda bersama Deep dan Shine. Walaupun baru berusia dua belas tahun, namun ia memiliki perawakan yang cukup tinggi sehingga terkesan lebih dewasa.
"Jadi sekali ini perang dengan Lingkar Awan pasti terjadi ya Louisa?"
"Iya, Ma. Jelas persiapan yang dilakukan mereka pasti untuk menyerang kerajaan lain. Mengingat kelakuan mereka di masa lalu, kerajaan mana yang akan menjadi sasaran jika bukan kerajaan kita."
"Tapi ayahmu mengatakan jika mereka bekerja sama dengan kerajaan Dark Forest."
"Menurut mata mata kita seperti itu. Tapi sejauh apa keterlibatan kerajaan Dark Forest, belum ada beritanya"
"Jadi apa rencana kalian terkait kerajaan Dark Forest?"
"Inti rencana sementara hanya bertahan, Ma. Jika mereka tidak menyerang, kita biarkan saja. Tapi jika mereka bergerak, baru kita melawan"
"Ternyata kamu tidak mengerti maksud Mama Louisa. Apa yang kamu ketahui tentang kerajaan Dark Forest?"
"Aku hanya tahu jika kerajaan Dark Forest berbatasan dengan Lingkar Awan, dan Long Beach. Dan pendapatan mereka terbesar dari hasil hutan."
"Bagaimana dengan kekuatannya?"
"Aku kurang jelas, Ma. Yang ku tahu, kerajaan Dark Forest sebenarnya jarang terlibat dengan perang."
"Haih... mereka terkenal sebagai pemilik senjata beracun. Aku memang pernah mendengar kabar jika mereka menjual racun, tapi hanya kepada pihak tertentu"
"Jadi jika begitu, berarti mereka tidak akan ikut perang secara langsung, begitu menurutmu Ma?"
"Kemungkinan seperti itu, mereka hanya menyediakan racun untuk pihak kerajaan Lingkar Awan."
"Tapi Ma, menurut mata mata kita, yang mengadakan pertemuan dengan Raja Hurex adalah Raja Tiger pribadi. Dan mata mata kita juga mendapat kabar jika satu bulan terakhir kedua kerajaan melakukan perekrutan prajurit secara besar besaran."
"Jika begitu, mereka akan ikut berperang. Prajurit kita yang ikut berperang harus disediakan penawar racun untuk mengantisipasi keadaan"
"Apakah kakek bisa menyediakan dalam jumlah besar?"
__ADS_1
"Dengan adanya anggota keluarga besar yang masih di Hinom, dan pasokan bahan tersedia, itu tidak akan sulit dibuat. Nanti ibu akan diskusikan dengan kakek dan nenekmu" jawab Margaret sambil memandang keluar jendela kereta.
"Lihat puteramu sudah besar. Bahkan tanpa kita sadari, sebentar lagi ia mungkin akan pulang membawa cucu menantu untuk mama." lanjutnya
"Lucio masih muda, Ma. Lagi pula, ada beban besar dipundaknya. Apa mama ingin mencarikan jodoh untuknya?"
"Bukan itu maksud ibu..."
"Jadi?"
"Bagaimana hubunganmu dengan Peter?"
"Seperti biasa. Kami masih saling mengirim kabar. Hanya saja ya, mengenai kerajaan, kemarau, bahan pangan, perang hanya hal hal semacam itu"
"Apa dia tidak pernah menyinggung hubungan kalian?" tanya Margaret sedikit lirih.
Louisa menarik nafas yang dalam. Pembicaraan seperti ini bukan terjadi hanya sekali atau dua kali. Louisa tidak tahu harus menjawab seperti apa. Biasanya yang dilakukannya melarikan diri atau mengalihkan pembicaraan.
Louisa tahu keprihatinan keluarganya, tapi baginya saat ini yang paling menjadi prioritasnya hanya Lucio dan perang yang akan terjadi. Tapi mengelak terus terusan tidak akan pernah menyelesaikan masalah.
"Tapi Louisa, ayahmu dan aku semakin tua..."
"Kalian tidak akan mati secepat itu..." potong Louisa. "Aku berjanji kepada mama, setelah Lucio pergi ke Gordon, aku akan membuat keputusan. Apakah kembali kepada Peter, atau mencari yang lain."
"Apakah masih tentang penghianatannya?"
"Mama tahu, aku pernah hidup dijamin yang lebih maju. Di jaman itu, jarang seorang wanita bisa menerima suaminya punya isteri lain. Di kerajaan kita dari dahulu, para leluhur juga melakukan hal yang sama. Bahkan di Gordon sendiri, hanya satu dua Raja yang melakukannya. Dan terus terang, ia masih sangat berat untukku, bagiku seharusnya itu satu isteri satu suami"
"Aku tahu sayang, tapi bukankah kau sendiri yang memilih Natasha menjadi isteri Peter?"
"Aku melakukannya untuk Gordon, bukan untuk Peter. Dan waktu aku membuat keputusan saat itu, aku memang tidak berniat kembali kepada Peter. Jika bukan karena Lucio, aku tidak pernah berpikir kembali menginjakkan kaki di istana Gordon lagi"
'Mama hanya ingin kau memiliki seseorang disisimu puteriku' batin Margaret tapi tidak mengatakannya.
Mereka kemudian sama sama terdiam, dan sibuk dengan pikiran masing masing.
__ADS_1
Kereta kuda terus bergerak, setelah menempuh 3 jam perjalanan, akhirnya mereka memasuki lahan pertanian Louisa.
Margaret memasuki gudang pangan untuk mengambil sejumlah sayuran dan daging untuk dibawa kembali ke kota Hinom. Memang untuk keperluan bahan pangan kediaman leluhur, dan kediaman keluarga Valley diatur oleh Margaret dan semua diambil dari pertanian Louisa.
Sedangkan untuk istana Hinom, mereka memiliki gudang pangan tersendiri.
Selagi Margaret sibuk dengan keperluannya, Louisa dan Shine mengatur anggota the power of night yang akan berangkat ke perbatasan. Saat ini pasukan yang berangkat sebanyak tujuh ratus orang, sehingga yang tersisa untuk menjaga pertanian hanya sekitar lima ratus orang saja.
Setelah membuat berbagai pengaturan, ke tujuh ratus orang itu akhirnya berangkat menuju kota Hinom untuk bergabung dengan pasukan kerajaan. Keberangkatan mereka bersamaan dengan pulangnya Margaret ke kota Hinom sehingga terkesan dia dikawal oleh tujuh ratus pasukan berkuda.
.....
Hari ketiga seperti hasil pembicaraan sebelumnya, ketika hari masih gelap, lima ribu prajurit kerajaan ditambah lima ratus anggota the power of night berangkat menuju gerbang perbatasan Utara.
Keesokan harinya gelombang serupa terjadi, tetapi bergerak ke gerbang perbatasan Timur. Begitulah sampai seluruh prajurit terakhir berangkat. Karena mereka berangkat saat hari masih gelap sehingga tidak menyebabkan kegemparan penduduk kota, tapi sepanjang kota atau desa yang dilalui, tetap saja kehadiran mereka menjadi tontonan yang menarik perhatian penduduk.
Sebagian besar memandang mereka penuh dengan rasa kagum. Ada rasa aman dan kebanggaan tersendiri yang mereka rasakan melihat para prajurit kerajaan.
"Apakah mereka mau pergi berperang?" tanya seorang ibu ibu pada tetangganya
"Bukan, mereka pergi menjaga perbatasan. Puteraku juga prajurit kerajaan, semoga ia mendapat perlindungan dari langit saat bertugas menjaga perbatasan"
"Ayah, Prajurit kerajaan sangat gagah. Nanti jika aku sudah besar aku juga mau jadi prajurit kerajaan" kata seorang anak kecil yang duduk dipundak ayahnya
"Ibu, mereka semua sangat tampan dan terlihat kuat. Apa ada yang mau jadi suamiku?" tanya seorang gadis dengan malu malu pada ibunya.
.
.
.
... Saat menulis akhir bab ini, author teringat dengan masa kecil author. Ketika melihat rombongan tentara lewat apalagi naik kendaraan militer, ada kekaguman , rasa bangga dan hormat melihat mereka. Saat kuliah ada seorang teman yang kakak laki lakinya merupakan seorang tentara. Dari sana author tahu, ternyata setiap kali sang kakak pergi daerah konflik maka ibunya tidak pernah bisa tidur nyenyak dirumah karena cemas anaknya akan pulang tinggal nama.
..Mungkin readers ada cerita serupa?
__ADS_1