Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Akhir Dendam Empat Kehidupan (2)


__ADS_3

Marco memasuki sebuah rumah makan yang cukup ramai pengunjung. Ia memilih tempat duduk di pojokan.


Seorang pelayan datang menghampirinya.


"Tuan mau pesan apa?"


"Berikan aku satu porsi makanan terbaik kalian lengkap dengan minuman nya" kata Marco.


"Baik tuan. Silahkan ditunggu"


Pelayan itu pergi menyiapkan pesanan Marco. Marco sekilas melihat sekeliling. Mengamati orang orang yang berkunjung ke warung makan itu.


Penyerangan yang terjadi pada puteri Revaline masih menjadi topik pembicaraan pengunjung warung makan.


"Puteri Revaline sangat baik dan ramah. Kenapa ada orang jahat yang menginginkan kematian nya?"


"Aku dengar jika ia terluka parah, tapi untunglah ia masih selamat"


"Apakah pelakunya sudah tertangkap?"


"Aku tidak tahu, hanya saja kemarin aku melihat prajurit mengawal konvoi kereta tahanan istana. Dan jumlah nya sangat banyak"


"Tapi istana belum ada pengumuman apapun tentang itu"


"Jika benar tentang itu, sebentar lagi pelakunya akan dihukum mati"


"Benar itu..." jawab yang lain dengan emosi.


"Bagaimana dengan tunangannya itu?"


"Pangeran itu juga terluka. Tapi tidak separah puteri"


"Tapi untung juga puteri selamat, jika tidak..."


"Jika tidak kenapa?"


" Jika tidak Pangeran itu sungguh kasihan. Datang sebagai bujangan, pulang sebagai duda bahkan sebelum menikah. Ha...ha..."


"Ha...ha...." tawa serempak terdengar memenuhi rumah makan itu.


Marco tersenyum mendengar candaan mereka. Walaupun membuat anggota kerajaan sebagai bahan candaan itu tidak baik, tapi setelah ia memikirkan nya apa yang dikatakan orang itu ada benarnya juga.


"Silahkan makanan nya tuan" kata pelayan membuat perhatian Marco teralihkan dari pembicaraan orang orang disekitar nya.


"Terimakasih" kata Marco dan mulai menyantap makanan nya.


Saat Marco sedang menikmati makanan nya, terdengar celetukan diantara orang orang yang berbicara.


"Memang nya kenapa kalau ia sudah jadi duda. Tinggal cari gadis cantik yang lain. Bagaimana pun ia adalah seorang putera mahkota. Aku yakin, banyak Puteri dari kerajaan lain juga berminat menjadi isterinya mengganti kan Puteri Revaline"


Semua mata dirumah makan itu mencari asal suara. Marco pun bahkan berhenti menyantap makanan nya dan ikut mencari pemilik suara tadi.

__ADS_1


Seorang pria berperawakan tinggi dan memakai baju hitam. Wajahnya terlihat tidak peduli walaupun hampir semua orang di rumah makan itu memandang kepada nya.


"Pria yang cukup menarik. Jika tebakan tidak salah, orang yang kucari adalah dia." batin Marco sambil meneruskan menyantap makanan nya.


Ia bersikap terlihat tidak peduli. Tapi sebenarnya, ia mengawasi pria itu diam diam. Banyak orang terlihat tidak senang mendengar perkataan pria itu.


Setelah menghabiskan makanan nya, Marco keluar dari rumah makan itu. Ia memutuskan menunggu pria itu keluar dari rumah makan dari tempat lain. Ini untuk menghindari kecurigaan pria itu.


Setelah menunggu sekitar setengah jam, pria itu akhirnya keluar dari rumah makan itu. Ia berjalan menuju kawasan yang cukup mewah. Kawasan itu merupakan perumahan mewah di kota Malwa.


Marco memperhatikan dari kejauhan rumah yang dimasuki pria itu.


"Sudah ditemukan" gumamnya.


*****


Diistana Fatma.


"Karena kalian ingin segera kembali ke Lembah Angin, baiklah aku akan mengumumkan sidang untuk tahanan itu diadakan besok pagi. Nanti siang sudah akan diumumkan keseluruh kota"


"Apa tidak terlalu terburu buru Yang Mulia?"


"Seharusnya tidak. Lagipula kalian lah yang menangkap mereka. Sudah sepantasnya kalian melihat mereka dihukum sebelum kembali ke Lembah Angin"


"Jika itu baik menurut Yang Mulia, tentu saja kami setuju"


"Dan ada satu lagi yang ingin saya bahas dengan kalian. Ini ada hubungannya sedikit dengan penyerangan yang kita alami"


"Setelah penyerangan yang dialami Pangeran Lark dan puteri Revaline, saya banyak berpikir dan sudah membahasnya dengan jendral Kerajaan Fatma."


" Kami merasa jika kekuatan militer kami sangat lah lemah. Dan melihat kekuatan yang kalian tunjukkan sudah membuat kami sangat kagum. Jadi kami ingin mengajukan sebuah latihan bersama antar kedua kerajaan."


"Bagaimana ayah?" tanya Louisa kepada Jendral Lucky.


"Ini harus dibahas dengan Yang Mulia Landen terlebih dahulu. Walaupun saya merupakan Jendral tertinggi di kerajaan Lembah Angin, tapi masalah sebesar ini tetap harus dibahas dengan beliau, tidak bisa diputuskan sendiri" kata Jendral Lucky.


"Yang Mulia sudah mendengar langsung. Begini saja Yang Mulia, sebelumnya kami pulang sebaiknya Yang Mulia sudah menyiapkan surat pengajuan resmi ke pihak kerajaan Lembah Angin. Sehingga hal ini menjadi resmi. Dan akan kami bahas dahulu dengan Raja Landen dan membalas surat pengajuan latihan bersama secepat mungkin"


"Baik. Kami akan segera menyiapkan suratnya"


******


Sore harinya.


Tok...tok...


"Siapa?"


"Tuan puteri, hamba pelayan Cleo. Tuan Marco minta ijin bertemu anda"


"Suruh dia menunggu di taman kecil. Saya akan menjumpainya disana"

__ADS_1


"Baik tuan puteri" jawab pelayan itu dari luar ruangan.


Tidak berapa lama terdengar suara langkah kaki menjauhi kamar Louisa.


Louisa merapikan sedikit pakaiannya dan segera bergegas keluar kamar menuju taman kecil yang berada tidak jauh dari tempat Louisa.


"Ketua.." sapa Marco begitu Louisa sampai.


"Bagaimana dengan tugas yang kuberikan?


"Sudah saya laksanakan ketua."


"Kau menemukan dia?"


"Aku belum melihatnya. Tapi menurut keterangan beberapa orang, orang itu memang pernah terlihat membawa seorang perempuan kedalam kompleks perumahan mereka. Tapi belum pernah mereka lihat perempuan itu keluar dari sana"


"Besok sidang untuk tahanan akan digelar. Aku ingin sudah ada kepastian tentang dia sebelum sidang dimulai. Malam ini, kamu, Shadow dan Deep pergi melihat. Ingat, kalian harus hati hati"


"Perlukah penyamaran ketua?"


"Iya"


"Aku pamit ketua. Mau memberi tahukan kepada Shadow dan Deep agar bersiap" kata Marco kemudian pergi.


"Apa yang anda harapkan, ketua?"


"Aku tidak tahu Light. Aku mungkin hanya berharap, segera lepas dari belenggu masa lalu"


"Apakah anda yakin kematian Jhon Muel adalah penyelesaian nya?"


"Salah satunya mungkin. Lagi pula, bukan aku yang akan memberikan hukuman kepadanya. Melainkan Raja Tejza"


"Meminjam tangan orang lain untuk balas dendam"


"Hmm..."


"Tapi mengapa harus memberitahu Jhon Muel jika isterinya mungkin sudah terbunuh?"


"Hanya membalikkan strategi pangeran Hurex. "


"Apa hubungannya dengan sebuah berita?"


"Huh Light. Walaupun aku tidak ingin memberi tahukan tentang pangeran Hurex kepada Raja Tejza, tapi aku tentu ingin juga pangeran Hurex tahu jika kita mengetahui keterlibatan nya"


"Maksud ketua, jika Jhon Muel tahu isterinya sudah dibunuh, maka ia pasti akan menghianati pangeran Hurex dan memberikan bukti hubungan mereka. Begitukah?"


"Tebakan Light benar sekali. Aku yakin jika Jhon Muel masih menyimpan sedikit bukti penting tentang keterlibatan pangeran Hurex"


"Mengapa mereka sangat tidak tahu malu?"


"Harta dan kekuasaan sering kali membuat orang lupa diri sehingga menjadi serakah. Dan serakah, membuat orang melakukan apapun untuk mencapai tujuannya. Termasuk menghilangkan nyawa orang lain, bukan menjadi masalah bagi mereka"

__ADS_1


__ADS_2