
"Keluar!! Kau pria yang tak punya hati!!" teriaknya marah.
Raja Peter terkejut melihat kemarahan Lorine. Selama bertahun tahun mengenal Lorine, tak pernah sekalipun ia melihat Lorine berteriak seperti itu. Jika marah, Lorine cenderung akan diam dan hanya akan bicara seperlunya saja.
Seperti waktu ia mengatakan memutuskan menceraikan Permaisuri Lorine, Lorine hanya diam dan kemudian pergi.
Yah... mungkin tindakannya kali ini benar benar kelewat batas.
"Maaf ... maafkan aku Lorine" katanya pelan berusaha memeluk tubuh Louisa.
"Jangan sentuh aku!! Belum cukup kah kau menyakiti hatiku?" kata Louisa dengan marah..
"Aku tahu ini keterlaluan. Tapi aku sangat merindukanmu Lorine"
"Rindu katamu. Tapi penghinaan yang kurasakan. Kau menghina dan melecehkanku. Kau tau dengan jelas peraturan, bahwa tubuhku bukan lagi milikmu sejak kau ajukan permohonan putus cerai ke balai pengadilan"
"Lorine, dengarkan aku. Aku menceraikanmu hanya karena aku menginginkan seorang putra. Jika aku telah mendapatkan seorang putra, aku berjanji akan membawamu kembali ke pelukanku"
"Oh ya?"Louisa tersenyum mengejek. "Jadi bagimu selir selirmu nantinya hanyakah seperti mesin pencetak anak? Manusia yang tidak punya perasaan. Jika tidak menghasilkan tinggal dibuang seperti yg kau lakukan padaku?"
"Lorine bukan begitu maksudku..."
"Setelah semua yang kau lakukan, jangan berharap aku mau kembali kepadamu. Sekarang keluar dari kamarku. Pintunya ada disebelah sana Yang Mulia...."
"Lorine..."
Louisa berjalan cepat dan membuka pintu. Melihat itu Raja Peter dengan tubuh lunglai berjalan keluar dari kamar Louisa. Begitu tubuhnya sudah berada di luar kamar,
Brak!!!
Pintu ditutup dengan kasar. Tidak berapa lama, terdengar barang barang dibanting hingga pecah dari dalam kamar. Raja Peter terdiam sejenak sebelum akhirnya melangkahkan kaki pergi dari sana.
******
Reneisme bangun dengan perasaan tidak tenang. Seolah olah ada sesuatu yang buruk terjadi. Tergesa gesa ia mandi dan mengganti pakaiannya kemudian pergi keruangan permaisuri.
Dia melihat penjaga yang bertugas adalah penjaga ship malam dan berjalan melewatinya.
Begitu pintu ruangan permaisuri dibuka ia terkejut bukan main. Ruangan itu berantakan, banyak kaca pecah berserakan dilantai. Dan permaisuri duduk dilantai sambil tubuhnya bersandar pada tempat tidur dengan mata bengkak habis menangis. Ia terlihat begitu kacau.
"Permaisuri...." serunya cemas
__ADS_1
"Ibu...hiks...hiks..."Louisa menangis kembali tanpa menyelesaikan kalimatnya .
Reneisme memeluknya erat. Setelah melihat noda yang ada di seprai, ia langsung memahami yang terjadi. Tangannya terkepal kuat menahan amarah dan kecewa. Ia gagal melindungi Permaisurinya.
Ia membawa Louisa ke kamar mandi, dan memandikannya. Setelah memastikan tubuh Louisa bersih, ia memakaikannya baju dan mendudukkan disalah satu kursi.
Reneisme mendekati tempat tidur, membuka seprei dan selimutnya serta menggantinya dengan yang baru. Begitu semua selesai, ia menuntun Louisa ketempat tidur dan menyelimutinya.
Kepala Louisa dielus elus dengan lembut sampai tertidur. Kemudian ia keluar kamar menjumpai penjaga.
"Aku mau mau mendengar laporan dari kalian"katanya tegas. "Tunggu aku di pos jaga setelah pergantian penjaga. Katakan pada penjaga pengganti, jangan membiarkan satu orangpun memasuki ruangan permaisuri tanpa ijinku."
"Baik Nyonya" jawab mereka berdua serempak. Mereka tahu jika Reneisme merupakan penanggung jawab kediaman permaisuri.
Reneisme kembali memasuki ruangan Louisa. Dia kemudian mulai membereskan segala kekacauan yang terjadi.
Mengumpulkan beling, kemudian menyapu pecahan kaca yang lebih kecil. Terakhir mengepel lantai sampai bersih memastikan tidak ada lagi pecahan kaca yang tertinggal, kemudian membuang sampah hasil kekacauan, ia pergi kedapur. Mencuci tangan dan meminta koki memasakkan bubur.
Begitu bubur masak, ia membawanya nya ke kamar Louisa. Louisa dibangunkan dari tidurnya, dan disuapi makan.
"Ibu sudah cukup"
" Makanlah sedikit lagi, agar tenaga Permaisuri kembali pulih"
"Tapi Permaisuri, ini baru beberapa suap"
Louisa diam tidak bergeming, membuat Reneisme semakin merasa bersalah. Ia meletakkan buburnya di meja dan duduk di lantai disamping tempat tidur Louisa. Ia meremas tangannya sendiri dan menangis...
"Hiks...hiks...hiks ...." tangisnya sedih, kemudian ia berlutut dengan muka menyentuh lantai
"Permaisuri, hukumlah aku. Aku bersalah, tidak bisa menjaga junjunganku..."katanya ditengah derai air mata
"Ibu.... "panggil Louisa pelan, Reneisme masih diam dengan posisinya
"Ibu... bangunlah. Duduk disini, dekat denganku"
Reneisme bangun sambil menyeka air matanya dan duduk disamping tempat tidur Louisa. Tangannya digenggam erat oleh Louisa.
"Ibu tidak bersalah.. ini semua karena aku yang tidak mendengarkan peringatan sebelumnya"
"Maksud Permaisuri peringatan apa?"
__ADS_1
Louisa kemudian menceritakan peringatan yang telah diberikan pelayan uzur yang menemuinya sesaat sebelum bubarnya acara jamuan makan malam.
"Aku terlalu menyepelekannya..."
"Mengapa Permaisuri tidak mengatakannya kepadaku? Ia adalah bibi Batrice. Pelayan paling tua diistana ini. Ia mempunyai kemampuan meramal yang diakui bahkan oleh Yang Mulia Raja Hermos ayahanda Raja Peter."
"Semua sudah terjadi ibu. Tidak ada yang patut disesali lagi"
"Baiklah Yang Mulia. Istirahatlah... "
Reneisme menyelimuti Louisa kembali, setelah Louisa tidur ia berjalan keluar kamar menyelesaikan urusannya.
*****
Di pos jaga utama istana
Dua orang penjaga duduk dengan gelisah. Mereka memang tahu telah terjadi sesuatu di ruang permaisuri tadi malam. Tapi karena tahu yang didalamnya adakah raja mereka sendiri, membuat mereka tidak berani bertindak.
Setelah menunggu cukup lama, orang yang mereka tunggu akhirnya datang.
"Ikuti aku.."kata wanita paruh baya itu dengan tegas
"Baik Nyonya Ren..."jawab mereka serentak.
Wanita paruh baya itu adalah Reneisme, penanggung jawab kediaman permaisuri. Ia membawa kedua penjaga itu ke ruang kedisiplinan. Didalam ruangan telah menunggu seorang pria tua yang merupakan kepala penjaga istana.
"Duduk !" perintahnya tegas, setelah ia sendiri duduk di salah satu kursi di depan kedua penjaga itu .
"Sekarang berikan laporan kalian"
"Tadi malam setelah pergantian penjaga sekitar lima belas menit, Yang Mulia Raja Peter datang kekediaman permaisuri. Dari keadaannya Yang Mulia dalam kondisi setengah mabuk" kata penjaga yang bertubuh kurus
"Karena yang datang adalah Yang Mulia Raja Peter, kami tidak berani mencegah nya masuk kekediaman Permaisuri. Selama beberapa waktu tidak ada sesuatu yang mencurigakan kami dengar. Menjelang pagi kami dengar keributan dari dalam ruangan permaisuri, sepertinya Permaisuri marah. Sekitar setengah jam kemudian Raja Peter keluar dari ruang permaisuri. Beliau sempat berdiri didepan pintu cukup lama sebelum akhirnya pergi" kata penjaga yang bertubuh agak gemuk melanjutkan.
Reneisme dan kepala penjaga saling berpandangan dan menghela napas yang dalam.
"Kalian tahu kesalahan kalian dimana?" tanya kepala penjaga.
"Berikan petunjuk ketua"
"Pertama, kalian mengijinkan Yang Mulia Raja Peter memasuki ruang permaisuri seorang diri. Dalam keadaan normal hal itu memang tidak salah. Tapi keadaan hubungan raja dan permaisuri kalian sendiri tahu, dan besok adalah hari sidang putus cerai mereka. Intinya pertemuan raja dan permaisuri harus didampingi pihak ketiga. Itu tertuang dalam peraturan kerajaan."
__ADS_1
"Kesalahan kalian yang kedua, kalian tahu telah terjadi sesuatu di dalam ruangan permaisuri tapi kalian mendiamkannya. Seharusnya kalian meminta seorang pelayan untuk memeriksanya begitu raja pergi dari sana"