Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Rencana Pangeran Hurex (3)


__ADS_3

Seekor kuda berwarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi memasuki kota Malwa.


Memasuki daerah yang cukup ramai, dengan terpaksa kuda harus berjalan sedikit lebih perlahan.


Setelah melalui keramaian, kuda kembali melaju kencang menuju timur kota dan akhirnya berhenti di sebuah bangunan. Walaupun tidak begitu besar, tapi bangunan ini merupakan bangunan termegah dibanding bangunan disekitarnya.


Diatas pintu, terpampang sebuah pamplet dengan tulisan besar "Serikat Pekerja Sorka".


Pria bertubuh tinggi melompat turun dari atas kuda. Tali kekang kuda diberikan kepada pengawal yang bertugas menjaga didepan bangunan. Sedang ia sendiri segera memasuki bangunan itu.


Didalam bangunan cenderung sepi. Ada beberapa anggota serikat yang menunggu tugas atau misi. Juga ada dua orang pria yang sedang bernegosiasi dengan seorang anggota serikat yang bertugas menjadi resepsionis tentang biaya pengawalan yang dibutuhkannya.


Kedatangan pria bertubuh tinggi itu menarik perhatian resepsionis lainnya. Dari penampilan pria itu, langsung terlihat ia telah menempuh perjalanan panjang untuk sampai di gedung itu.


"Selamat datang di serikat pekerja Sorka. Apa ada yang dapat kami bantu, tuan?" tanyanya dengan senyum ramah.


"Aku mau bertemu dengan tuan Jhon Muel" jawab pria itu.


"Sudah ada janji sebelumnya?" kata resepsionis itu dengan hati hati.


"Belum. Tapi tunjukkan saja ini. Beliau akan mengerti" katanya sambil memberikan sebuah token perak kepada resepsionis itu.


"Saya segera menjumpai tuan Jhon Muel. Silahkan tuan tunggu sebentar di kursi itu" kata resepsionis itu sambil menunjuk sebuah kursi panjang.


"Terimakasih" kata pria itu, kemudian duduk dikursi yang ditunjuk resepsionis itu sebelumnya.


Tidak menunggu lama, resepsionis itu datang kembali.


"Mari tuan ikut saya."n


Pria itu mengikuti resepsionis menuju ke lantai dua bangunan itu dan berhenti di depan sebuah ruang dengan pintu tertutup.


"Silahkan tuan. Tuan Jhon Muel menunggu anda di dalam."


Pria itu membuka pintu dan tampaklah Jhon Muel duduk dengan tenang didalamya.


"Selamat datang tuan Gypro. Silahkan duduk"


"Terimakasih tuan Jhon Muel"


"Ada pesan apa dari pangeran Hurex, sampai anda diutus begitu jauh kemari?"


"Pangeran menitipkan sebuah surat untuk anda tuan Jhon Muel. Silahkan"kata pria bertubuh tinggi itu yang ternyata bernama Progy.


Jhon Muel menerima surat itu, dan membuka segelnya.

__ADS_1


Raut wajahnya berubah rubah sewaktu membaca isi surat itu.


"Tuan Gypro,vanda pasti tahu jika permintaan pangeran sangat beresiko tinggi. Baik gagal ataupun berhasil, jika terbongkar resikonya hukuman mati. Belum lagi, waktunya saya yakin pasti sangat terbatas. Walaupun pihak kerajaan belum mengumumkan tanggal pesta pertunangan, tapi saya yakin itu tidak lama lagi"


"Tuan Jhon Muel, sesuatu yang berisiko tinggi pastinya juga mendapat harga yang tinggi. Anda tinggal menyebutkan harga yang anda inginkan"


"Soal harga, tanpa saya sebutkan, saya yakin pangeran Hurex lebih tahu berapa harga yang sesuai. Saya setuju mengerjakan permintaan pangeran Hurex, tapi dengan syarat. "


"Apa syaratnya tuan Jhon Muel? Jika memungkinkan tentu kami berusaha penuhi"


"Baik berhasil ataupun gagal, aku ingin perlindungan dari kerajaan Lingkat Awan. Karena baik berhasil ataupun gagal, pihak istana Fatma tidak akan tinggal diam. Belum lagi pihak calon tunangannya."


"Terus terang tuan Jhon Muel, jika anda berada dikerajaan Fatma kami tidak bisa melindungi anda. Tapi jika anda bersedia pindah ke Kekerajaan Lingkar Awan, kami dapat menjamin keselamatan anda. Lagi pula, jika anda berhasil, sebuah posisi sudah disiapkan pangeran Hurex untuk anda di istana Lingkar Awan"


"Benarkah?" tanya Jhon Muel dengan gembira.


"Tentu tuan. Saya tidak akan berbohong. Untuk uang muka, terimalah ini. Sisanya akan diberikan setelah pekerjaan anda selesai" kata tuan Gypro sambil menyerahkan sekantong uang.


"Karena tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya permisi tuan Muel. Kami menunggu kabar baik dari anda" kata tuan Gypro sambil keluar dari ruangan itu.


Selepas tuan Gypro keluar, dengan tidak sabar Jhon Muel segera menghitung uang yang diberikan kepadanya.


"Ini setara dengan pendapatan bersih serikat pekerja Sorka selama dua tahun. Jika ini masih uang muka, berarti sisanya...ha...ha...aku kaya"


*****


Tok...tok...


"Siapa?"


"Ini aku ibu. Puteri Novaline"


"Masuk saja"


Puteri Novaline masuk kedalam kediaman selir ke dua dengan wajah cemberut.


"Ada apa dengan matahari. Kemana cahayanya?"


"Ibu..."


"Ada apa? Apa yang membuat putriku berduram durja?" tanya selir ketiga


"Aku kesal dengan putri Serly, ibu. Hanya karena calon tunangannya pangeran Nathan dari Yard, dia begitu sombong dan menghinaku"


"Jangan diambil hati. Sikapnya memang seperti itu. Tapi kita tidak bisa berbuat apa apa. Jika tidak, ia pasti mengadu pada Permaisuri. Dan Permaisuri akan memotong dana bulanan kita lagi"

__ADS_1


"Seandainya ada pangeran yang lebih kaya dari pangeran Nathan. Tidak peduli milik siapa, pasti akan kurebut menjadi suami"


"Apa kau yakin dengan ucapanmu putriku?"


"Tentu ibu. Aku tidak aka ragu.."


"Jika begitu, rebutlah pangeran Lark dari puteri Reva. Tadi malam ibu berbincang dengan putera Mahkota, katanya ternyata kekayaan Lembah Angin saat ini hampir mendekati Yard. Dalam beberapa tahun kedepan, kekayaan Lembah Angin pasti diatas kerajaan lain. "


"Oh ya. Tapi aku rasa yang disampaikan putera Mahkota memang benar. Aku telah melihat cincin pemberian pangeran Lark. Dan cantik sekali. ibu aku mau bertanya. Jika calon tunangan salah satu pihak meninggal, apakah posisinya dapat digantikan oleh oleh adiknya?"


"Dibanyak pihak, memang demikian. Apa yang kau rencanakan?"


"Menyewa bandit untuk membunuh puteri Reva." katanya nyaris berbisik.


"Apa ada yang kau kenal Nova?"


"Aku tidak kenal. Tapi aku ada teman di balai pelatihan yang kenal. Soalnya dia pernah memakai jasa mereka"


"Jika begitu, hubungi mereka. Tapi ingat, kau harus hati hati. Jangan sampai ketahuan. Soal biaya, nanti ibu yang akan berikan"


"Aku pergi dahulu ibu"


Selir ketiga hanya menganggukkan kepalanya.


"Semoga berhasil. Jika Novaline berhasil menjadi permaisuri kerajaan Lembah Angin, itu akan sangat membahagiakan. Permaisuri juga tidak akan berani memandang sepele kepadaku lagi" gumamnya lirih.


Sementara ada beberapa pihak yang ingin membunuhnya, puteri Revaline sibuk mempersiapkan pesta pertunangannya.


Saat ini sedang bersama Selir kedua menbahas konsep yang diinginkan puteri Revaline untuk pertunangannya.


"Jadi warna apa yang kau inginkan untuk pestamu putriku?"


"Aku suka warna kuning ibu. Apa lagi, kain sutra yang dikirim pangeran Lark juga berwarna kuning. Ini sangat cocok."


"Mengapa tidak kau pilih warna putih atau warna merah? Bukankah ini warna yang biasa dipakai untuk sebuah pesta?"


"Putih cocok untuk pesta pernikahan ibu. Sedangkan ini masih pesta pertunangan. Jika warna merah, aku merasa itu terlalu meriah"


"Kau benar sayangku. Jika pesta ini kita buat hanya sederhana, apa kau keberatan sayangku?"


"Aku sebenarnya tidak keberatan ibu. Tapi ini adalah pesta kerajaan. Jika kita membuatnya sangat sederhana, tidakkah ini akan membuat malu kerajaan Fatma? Bagaimanapun, utusan dari beberapa kerajaan tetangga akan datang, ibu"


"Ibu juga sebenarnya ingin membuat semewah mungkin. Kamu adalah putriku satu satunya, aku ingin yang terbaik untukmu. Tapi..."


.

__ADS_1


..


... Jangan lupa like dan comment


__ADS_2