
"Ratu...ratu...." teriak pelayan itu dengan tergesa.
"Dasar pelayan! Apa kau tidak tahu sopan santun?" tanya ratu Tania dengan marah.
"Ampun Yang Mulia Ratu. Tapi ini... itu..."
"Ini ... itu...bicara yang jelas!"
"Puteri Resta..."
"Kenapa puteri Resta?"
"Puteri Resta..."
"Menunggumu bicara tidak ada selesai nya. Kepala pelayan, teruskan persiapan makan malam nya. Aku melihat puteri Resta dahulu..."
"Hamba Yang Mulia Ratu..." jawab kepala pelayan itu.
Ratu Tania berjalan dengan cepat. Ada sedikit rasa kawatir dihatinya.
"Tadi dia baik baik saja. Apa yang terjadi?" pikir Ratu Tania.
Sampai dikediaman Puteri Resta.
"Yang Mulia Ratu Tania datang!" teriak prajurit yang berjaga.
Ratu Tania bergegas menuju kedalam kamar Puteri Resta. Didepan kamar nampak beberapa pelayan berdiri sambil melihat kedalam kamar.
"Apa yang terjadi?" tanya Ratu Tania sambil masuk kedalam kamar.
Di lantai tampak Puteri Resta duduk ketakutan. Wajahnya benar-benar pucat sekarang.
"Puteri ku... ada apa?" tanya Ratu Tania lembut sambil membawa Puteri Resta kedalam pelukannya.
"Huuu...huuu...ibunda.... Resta takut.... huuu... huu...."isaknya dalam pelukan Ratu Tania.
"Takut kenapa? Siapa yang berani membuat takut puteri kesayangan ku?"
"Huuu...huuuu..."
Puteri Resta menangis sambil menunjuk ke kotak kayu yang sekarang tergeletak dilantai.
Melihat itu Ratu Tania baru memperhatikan keadaan kamar Puteri Resta. Kotak kayu yang tergeletak di lantai, juga bungkusan yang sebagian isinya telah terserak di sekitar meja rias.
Seketika wajah Ratu Tania pucat pasi. Ia teringat jika kotak kayu itu dibawa Puteri Resta dari kediaman pangeran Hurex.
"Hurex...!" teriak Ratu Tania tanpa sadar.
*****
Sementara itu, pangeran Hurex sedang berbicara dengan Raja Gulfre di ruang kerja raja.
Tok...tok...
__ADS_1
"Siapa?" tanya raja Gulfre setengah gusar karena merasa terganggu pembicaraan nya dengan pangeran Hurex.
"Hamba Yang Mulia. Kepala pelayan Moen" terdengar jaeaban dibalik pintu.
"Masuk"
Pintu terbuka menampilkan wajah seorang perempuan tua dengan kepala tertunduk.
"Salam Yang Mulia Raja Gulfre dan Pangeran Hurex"
"Salam mu aku terima. Ada apa?"
"Ampun Yang Mulia... Yang Mulia Ratu Tania mencari Yang Mulia. Ampun Yang Mulia..." kata kepala pelayan itu dengan kepala nya hampir menyentuh lantai karena takutnya dengan hal yang disampaikan nya.
"Mengapa bukan Ratu sendiri yang datang kemari menemuiku?"
"Ampun Yang Mulia... Ini tentang Puteri Resta"
"Kenapa dengan adinda Resta? Tadi dia baik baik saja saat datang kekediaman ku" kata pangeran Hurex sedikit bingung.
"Aku juga kurang begitu mengerti Pangeran. Tadi hamba sedang mempersiapkan makan malam saat Ratu datang membawa Puteri Resta keruang jamuan istana. Puteri Resta bertingkah seperti orang ketakutan. Kemudian Ratu memerintahkan hamba untuk mencari Yang Mulia Raja dan Pangeran Hurex. Ampun Yang Mulia..."
"Adinda Resta ketakutan? Apa ada hubungannya kotak kayu itu?" kata pangeran Hurex pelan lebih seperti gumaman.
"Ada apa ananda?" tanya Raja Gulfre
"Mungkin ini ada hubungannya dengan cendramata yang kuterima hari ini ayahanda"
"Cendramata mata? Cendramata apa?"
"Jika begitu ayo cepat..." kata Raja Gulfre.
Mereka berjalan disepanjang lorong istana dengan terburu-buru. Dibelakang mereka beberapa pelayan mengikuti gerak langkah raja dan pangeran mereka.
"Ratu...apa yang terjadi?" tanya Raja Gulfre begitu sampai di ruang jamuan.
"Tanyakan saja pada puteramu Yang Mulia!" kata Ratu Tania dengan suara keras.
"Ibunda... aku dari tadi bersama ayahanda. Bagaimana aku tahu apa yang terjadi pada adinda Resta"
"Apa yang kau berikan pada adikmu! Apa kau sengaja menakutinya?"
"Bunda... Itu bukan salahku sepenuhnya terlepas dari apapun isi kotak kayu itu. Aku bahkan belum membuka isi kotak itu. Adinda Resta lah mengambilnya ketika aku mandi."
"Sudahlah Ratuku. Pangeran mana mungkin ingin menakuti Puteri kita. Tapi kau sendiri kan tahu bagaimana sifat keras kepala puteri kita. Jangan hanya menyalahkan pangeran Hurex. Yang terpenting sekarang menenangkan Puteri Resta" kata raja Gulfre membujuk Ratu Tania.
"Ibunda aku sangat menyayangi adinda Resta. Mana mungkin aku ada niat menakutinya. Sekarang dimana kotak itu?"
"Dikamar adikmu. Kau bereskan sendiri kekacauan itu. Tadi aku memerintahkan pelayan agar jangan masuk kedalam kamar itu" kata Ratu Tania ketus.
"Baiklah ibunda Ratu. Aku pergi melihat dahulu."
"Tunggu aku juga ingin melihatnya. Apa yang membuat puteriku begitu ketakutan" kata Raja Gulfre.
__ADS_1
Raja Gulfre dan pangeran Hurex berjalan menuju kediaman puteri Resta. Kedatangan mereka disambut prajurit yang berjaga dan juga beberapa pelayan.
"Salam hormat Yang Mulia dan juga pangeran"
Baik taja Gulfre maupun pangeran Hurex hanya menganggukkan kepalanya sambil masuk kedalam kediaman.
"Bagaimana keadaan nya?" tanya pangeran Hurex kepada seorang pelayan.
"Ampun pangeran. Ratu melarang kami masuk kedalam kamar. Jadi kamar masih berantakan. Ibu ibu jari itu masih berserakan dimeja dan dilantai kamar" kata pelayan itu.
"Ibu ibu jari?" tanya pangeran Hurex dan raja Gulfre bersamaan dengan heran.
"Benar paduka. Untuk lebih pastinya silahkan Paduka dan pangeran melihat secara langsung ke kamar Puteri Resta"
"Iya."
Mereka memasuki kamar Puteri Resta. Mata mereka menelusuri seluruh isi kamar. Memang dilantai tampak beberapa potongan jari terserak disekitat meja rias. Dan masih ada lebih banyak lagi terserak di atas meja rias.
"Huh..." kata pangeran Hurex menghela napas.
Ia berjalan ke meja rias, mengambil kotak kayu itu.
"Itu kotaknya?" tanya raja Gulfre.
"Iya ayahanda. Pelayan..!"
"Hamba pangeran" kata dua orang pelayan yang sedari tadi menunggu di depan pintu.
"Bereskan semua kekacauan ini. Kumpulkan semua potongan jari tangan itu kedalam kotak kayu ini!" perintah pangeran Hurex.
"Baik pangeran" kata kedua pelayan itu dan segera potongan potongan jari tangan itu dikumpulkan kembali kedalam kotak kayu.
"Ini sudah semua pangeran"
"Ada berapa jumlahnya?"
"Yang terserak tadi ada lima belas potong pangeran. Yang didalam kotak ada tujuh potong pangeran"
"Terimakasih. Tolong rapikan kembali kamar ini" kata pangeran Hurex sambil mengambil koyak kayu itu dan memberikan kepada prajurit pengawalnya.
"Baik pangeran"
Pangeran Hurex dan Raja Gulfre kembali ke ruang kerja raja.
"Ini kotaknya Yang Mulia" kata prajurit pengawal.
"Letak disini saja" kata raja Gulfre sambil menunjuk meja yang ada didepan nya.
Prajurit pengawal itu meletakkan kotak kayu itu diatas meja dan kemudian mundur ke dekat pintu.
"Kau pergilah dulu. Nanti jika ada yang perlu aku akan memanggilmu kembali" kata pangeran Hurex.
"Hamba pangeran" kata prajurit pengawal itu.
__ADS_1
¹