
Deep kembali melatih para calon prajurit karena Louisa pingsan.
Sedangkan Reneisme berjalan mengikuti kakek Franklin dan nenek Eliz. Hatinya sangat cemas..berulang kali ia meremas remas tangannya sendiri sambil berjalan. Ia merasa apa yang akan tanyakan nenek Eliz sesuatu yang sangat serius.
"Mari Ren, masuk"kata nenek Eliz setelah membuka sebuah ruangan.
Hati Reneisme semakin cemas setelah kakek Franklin menutup pintu agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Duduklah. Mengapa wajahmu pucat seperti itu? Nona mu baik baik saja. Hanya saja ada yang ingin kami tanyakan terkait kondisinya saat ini"kata kakek Franklin.
"Mengenai apa itu tuan?"
"Bagaimana hubungan nonamu dengan Peter setelah pemberitahuan perceraian?"
"Yah...dingin. Mereka jarang bertemu, jika bertemupun hanya sekedar bertukar salam."
Nenek Eliz dan kakek Franklin saling berpandangan.
"Apa kamu yakin Ren?" tanya nenek Eliz
"Sangat yakin Nyonya."
"Apakah Lorine ada dekat dengan seorang pria?" selidik nenek Eliz lagi.
"Tidak ada Nyonya. Sebenarnya ada apa ini tuan, nyonya" desak Reneisme tidak sabar.
"Nonamu sedang hamil. Aku merasakan ada dua denyut nadi di tubuhnya. Karenanya aku meminta pendapat kakek. Ternyata kakek pun berpendapat serupa."
Wajah Reneisme memucat, seketika air matanya tumpah. Dia mengepalkan tangannya kuat.
"Akan ku balas kau ibu suri. Kau ingin mendapatkannya dengan cara curang. Tidak akan kubiarkan kau mengetahuinya." batinnya geram.
"Apa ada yang bisa kau ceritakan tentang itu?" tanya kakek Franklin.
"Ada tuan. Tapi ini sebenarnya rahasia, karena bagi nona Lorine ini adalah penghinaan. Sejauh ini yang tahu hanya saya dan tabib Kurd."
"Tiga hari sebelum sidang putus cerai, nona mengadakan jamuan makan malam untuk semua pelayan dan pengawal istana. Pada malam kedua, kami sudah sangat kelelahan sehingga begitu acara selesai aku mengantar nona kekamarnya. Setelah memastikan nona tidur aku langsung pergi untuk beristirahat" kata Reneisme, kemudian menceritakan semua tragedi yang dialami Louisa sampai kepada hasil penyelidikannya.
"Begitulah tuan, nyonya. Bahkan tuan Lucky dan nyonya Margaret tidak mengetahui kejadian ini"
"Jadi Lorine tidak tahu keterlibatan ibu suri Anita?"
"Tidak nyonya. Aku sengaja merahasiakannya karena aku tidak mau nona semakin terpukul, sebab hubungan keduanya sangat akrab layaknya sahabat."
"Jika mereka sedekat itu, mengapa Anita melakukannya?"
"Karena pada dasarnya dia tidak mau melepas nona Lorine. Dia berpikir, jika nona Lorine berhasil hamil maka nona Lorine akan kembali kepada raja Peter"
__ADS_1
"Usaha terakhir, dan anehnya berhasil. Ha...ha..." tawa kakek Franklin.
"Kenapa kakek tertawa. Nenek tidak suka. Bagaimanapun cara yang dilakukannya menyalahi aturan" marah nenek Eliz.
"Kakek tahu nek. Tapi coba nenek bayangkan, selama tiga tahun mereka berumah tangga dan mereka cukup berusaha. Bahkan aneka obat sudah mereka minum untuk memperoleh pewaris tahta, tapi tidak ada hasilnya. Tapi saat pengobatan dihentikan dan mereka melupakannya tanpa disengaja malah berhasil."
"Hah...kakek benar. Cucuku yang malang" kata nenek Eliz.
"Jadi apa pendapatmu Ren? Kamu paling mengenal Lorine" kata kakek Franklin.
Reneisme terdiam sejenak, berpikir.
"Tuan, nyonya. Aku pribadi sangat sakit hati dengan apa yang dilakukan ibu suri Anita, bahkan rasa marahku padanya atas kejadian itu melebihi amarahku
pada raja Peter. Keluarga besar Valley mungkin perlu mengetahuinya agar tidak ada fitnah dikemudian hari. Tapi
Bagaimanapun aku tidak ingin kabar ini tersebar sampai ke Gordon. Biarlah anak itu nanti tumbuh di kerajaan Lembah Angin"
"Tapi Ren, anak itu berhak tahu siapa dirinya. Apalagi jika anak yang akan lahir itu seorang putra. Maka dia akan menjadi pewaris tahta Gordon"
"Saya pribadi yang akan mendidiknya menjadi putra mahkota kerajaan Gordon. Dan saya yakin Shine juga akan senang membantu"
"Baiklah. Kita akan membicarakannya dengan Lorine. Bagaimanapun biar dia yang memutuskan" kata nenek Eliz
Tok!!!Tok!!!
"Tuan, ini Jen. Nona besar sudah sadar" kata Jen dari balik pintu.
"Ayo" kata nenek Eliz tidak sabar.
Mereka kembali bergegas ke kamar Louisa.
Sesampainya dikamar Louisa.
"Cucuku kamu sudah sadar?" tanya nenek Eliz sambil memberikan secangkir minuman herbal.
"Siapa yang membawaku kemari?"tanya Louisa setelah menghabiskan minumannya.
"Senior Deep nona"jawab Jen yang memang ikut menemaninya selama berlatih.
"Ibu Ren jangan memarahi Deep. Ia pasti sudah ketakutan, takut ibu marahi. Besok besok ia tidak mau lagi melatihku" kata Louisa yang tahu Deep pasti ketakutan melihat Reneisme.
"Untuk sementara kamu tidak boleh berkuda dulu cucuku"
"Kenapa kek?"
"Jen, tolong pergi kedapur. Minta cemilan buah pada pelayan. Juga buatkan teh untuk kita berlima"
__ADS_1
"Baik Nyonya" kata Jen berlalu yang sadar ada hal rahasia yang ingin mereka bicarakan.
Setelah Jen pergi.
"Reneisme telah menceritakan kejadian yang kamu alami dihari hari terakhirmu di istana Gordon. Apa yang kamu alami hari ini, berhubungan dengan kejadian tersebut"kata nenek Eliz.
"Maksud nenek?" tanya Louisa bingung. Dalam pikirannya apa hubungan antara tragedi itu, pingsannya dia, juga larangan untuk naik kuda sementara waktu.
"Mungkinkah....?"
"Iya, kamu hamil" kata nenek Eliz lagi sambil melihat perubahan diwajah Louisa.
"Jadi ini yang di sebutkan Lorine dengan aura kehidupan waktu itu. Baiklah, aku akan membesarkannya demi Lorine" batinnya.
"Kakek, nenek bolehkah aku membesarkannya? Bahkan jika ia tumbuh tanpa ayahnya?"
"Tentu cucuku. Sebuah kehidupan harus diperjuangkan. Apapun alasan kehadirannya. Hanya saja, kita harus memberitahukan kepada seluruh keluarga besar agar tidak ada fitnah dikemudian hari"
"Bagaimana dengan kerajaan Gordon, bisakah kita menyembunyikan ini dari mereka? Biar Peter termakan oleh tuduhannya sendiri. "
"Tapi bagaimanapun juga, anak itu tetaplah keturunan raja Peter. Bagaimana jika anak itu nanti seorang anak laki laki? Bukankah ia seharusnya menjadi putra mahkota?"tanya Reneisme
"Aku tidak akan menutupi kebenaran siapa dirinya dari anakku sendiri. Tapi sampai ia siap, aku tidak akan memperkenalkannya keistana Gordon. Bila tiba saatnya nanti, aku yakin penyesalan sebesar apapun tidak akan cukup untuk Raja Peter."
"Tapi bukankah ia mempunyai selir? Bagaimana jika selir selirnya akan memberikan dia seorang putera?" tanya Reneisme.
"Renesime, Lorine.... Alasan sebenarnya Lorine sulit hamil karena kesehatan Raja Peter sendiri. Mungkin kalian tidak mengetahui, tapi kakek pernah mengobati Peter sewaktu masih kecil. Itu berhubungan dengan penyakit yang dideritanya waktu itu. Tapi yang mengetahui hal itu selain Yang Mulia Raja, hanyalah permaisuri Anita dan tabib Kurd."
"Jadi itu penyebab ibu suri Anita menentang alasan yang diajukan raja Peter, karena beliau tahu alasan yang sebenarnya."
"Benar. Tapi mungkin Anita tidak mau mematahkan semangat Peter. "
"Tapi kakek, ada satu rahasia Raja Peter yang jadi alasan utama perceraian kami. Dia mempunyai seorang perempuan yang dibawa dari kerajaan Mordan. Menurut Shine, perempuan itu sekarang sedang hamil"
"Berarti perempuan itu isteri orang lain. Jelas anak yang dikandungnya bukan anak Peter."
"Apa!!" serentak Louisa dan Reneisme berteriak.
"Kenapa kakek begitu yakin?"
"Karena kakek sangat tahu tidak semudah itu ia mendapat anak"
"Dan lagi ia terikat sebuah sumpah. Dan mungkin sumpahnya itu berkaitan dengan kehamilanmu"
"Sumpah apa itu nyonya?"
>
__ADS_1