
Sesampainya di kediaman Jendral Lucky, kedatangan mereka rupanya sudah ditunggu Nyonya Margaret.
"Cerita kan bagaimana kunjungannya?" katanya dengan tidak sabar
"Ibu... biarkan Lucio beristirahat dahulu. Ia sangat lelah seharian." kata Louisa
"Ha...ha... Aduh cucu nenek. Karena tidak sabar dengar ceritanya sampai lupa kalau cucu nenek lelah. Sudah, Lucio mandi terus istirahat dulu. Nanti saat makan malam, nenek bangunkan" kata Nyonya Margaret.
"Baik nek" kata Lucio tidak membantah dan masuk kedalam kamar.
Setelah Lucio menutup pintu kamar,..
"Ayo ceritakan pada ibu bagaimana kunjungan kalian?" desak Nyonya Margaret pada Louisa
"Ibu duduklah dulu" kata Louisa sambil menuangkan segelas minuman untuk dirinya sendiri.
Margaret kemudian duduk disamping Louisa.
"Ibu mau mendengar kunjungan yang mana? Kunjungan ke kediaman Dutch Norwey atau kunjungan ke istana" kata Louisa tersenyum menggoda .
"Tentu saja keduanya, Lorine" kata Margaret semakin tidak sabar.
Louisa kemudian menceritakan kunjungan mereka, termasuk undangan minum teh Ibu suri Anita kepada Lucio.
"Jadi ibu suri ingin minum teh dengan cucunya. Ha...ha..."
"Mama..."
"Bagaimana dengan urusanmu disini, apakah sudah selesai?"
"Sudah, ma"
"Jika sudah, kita besok sudah bisa pulang ke Hinom" kata Nyonya Margaret
"Aku tidak masalah, tapi nanti coba tanya Lucio. Mungkin masih ada tempat yang ingin di kunjunginya? Mama kan tau dia jarang dibawa berkeliling?"
"Lucio nanti mama yang bujuk. Kau tahu Lorine, mengapa kita harus pergi secepatnya?"
"Karena ibu suri?"
"Iya. Kau tahu sendiri sifatnya bagaimana. Paling lama lusa pagi, beliau akan mengunjungi kediaman dutch Norwey karena kamu dan Lucio tidak datang berkunjung ke istananya"
"Tapi dutch Norwey pasti tidak akan membocorkan tentang Lucio, ma"
"Aku tahu. Tapi ibu suri Anita pasti mencari tahu dari para penjaga. Mungkin akan ada yang buka mulut setelah diberi sedikit uang dan mengatakan jika kereta kuda berasal dari kediaman Jendral Lucky"
"Tapi dutch Norwey pasti sudah memperingatkan anggotanya, ma"
__ADS_1
"Kita tidak pernah tahu Lorine. Jadi kita harus bertindak lebih cepat"
"Terserah mama saja"
.
.
Besok paginya, ketika matahari mulai bersinar terlihat dua kereta kuda dan satu kereta barang yang di kawal sejumlah pengawal berkuda, bergerak meninggalkan Gordon city.
"Nenek janji ya, kita singgah di banyak kota. Bukan cuma makan dan tidur seperti waktu ke kota Gordon" terdengar suara Lucio dari kereta paling depan.
"Tentu anak ganteng.. mana mungkin nenek berbohong pada cucu nenek" jawab Margaret
Memang itulah kesepakatan yang dibuat Margaret dengan Lucio, agar mereka segera bergerak pergi pagi ini dari Gordon city. Mereka akan singgah di banyak tempat sambil pulang ke kota Hinom.
Jadinya perjalanan Gordon city ke kota Hinom yang seharusnya bisa di capai tujuh sampai sepuluh hari perjalanan, berubah menjadi dua belas hari perjalanan. Karena alih alih menjalani perjalanan pulang, mereka lebih seperti orang bepergian untuk berlibur ke banyak tempat.
Tapi itu, cerita lain.
.
.
Sementara itu, malam harinya di istana Gordon.
"Ada apa ibu suri? Apakah makanannya kurang enak? Biar saya pesan dapur istana untuk menggantinya" kata salah satu pelayan senior.
"Ah.. bukan masalah makanannya pelayan Mar. Kau ingat anak muda yang kita jumpai tempo hari di alun alun istana?"
"Oh.. maksud ibu suri, cicit dutch Norwey?"
"Benar. Aku sudah mengundangnya untuk minum teh tapi mengapa ia tidak datang? Apa mungkin orang tua itu melarangnya datang menemaniku?"
" Ibu suri terlalu banyak berpikir. Anak muda itu datang ke istana bersama ibunya. Aku pikir itu bukan kunjungan biasa, mungkin ada hal penting yang terjadi di kediaman dutch Norwey. Jika tidak mana mungkin mereka datang ke istana untuk menjumpai Tuan Hubert, bukannya mengundang Tuan Hurbert pulang ke kediaman Dutch Norwey"
"Kau benar pelayan Mar. Kau tahu pelayan Mar, aku sangat iri pada Dutch Norwey. Beliau sudah memiliki anak, cucu dan bahkan cicit yang banyak. Sedangkan aku, hanya memiliki seorang anak yang tidak berbakti. Yang bahkan tidak bisa memberikan seorang cucu untuk aku gendong" keluh ibu suri Anita
"Jangan berkata seperti itu ibu suri. Bersabarlah.. "
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi pelayan Mar. Punya Permaisuri yang baik dan pintar, tapi dengan bodohnya diceraikan hanya karena tiga tahun menikah belum hamil."
"Dan sekarang punya tiga orang selir, dan sudah hampir sembilan tahun tapi tak seorangpun memberikanku seorang cucu yang kuinginkan. Hanya ada anak perempuan orang yang dibesarkan anak bodohku. Bodoh..!"
"Ibu suri.."
"Jika aku mati nanti, bagaimana wajahku bertemu dengan suamiku dan leluhur Henry pelayan Mar. Hiks...hiks... Apa dosaku... katakan padaku pelayan Mar...hiks..hiks..."
__ADS_1
"Ibu suri... jangan terlalu bersedih. Bagaimana jika besok kita berkunjung ke kediaman Dutch Norwey?" tanya pelayan Mar penuh harap untuk mengalihkan kesedihan ibu suri.
"Kau benar...kau benar. Kita berkunjung ke kediaman dutch Norwey. Kirim pesan malam ini juga ke sana. Besok pagi kita datang berkunjung..."
Dengan mengatakannya, suasana hati ibu suri menjadi lebih baik.
.
.
Di kediaman dutch Norwey pagi harinya.
"Ingat... jika ada yang bertanya tentang tamuku beberapa hari yang lalu, katakan itu cucu Keponakanku dari kota Agriba. Ingat! Jangan ada yang mengatakan dari kediaman Jendral Lucky " kata dutch Norwey pada beberapa pengawal yang bertugas disaat Louisa dan Lucio berkunjung.
"Iya tuan"
"Jika ada yang berani menerima uang dan membocorkannya, maka aku akan menghukumnya beserta keluarga kalian. Aku tidak main main sekali ini!"
"Kami mengerti tuan" jawab para penjaga itu serempak
"Sudah. Kembali bertugas"
"Baik tuan"
Setelah para penjaga bubar, selang beberapa waktu tampaklah keret kuda ibu suri dengan lambang kerajaan Gordon datang memasuki kediaman.
Dutch Norwey yang masih di depan rumahnya langsung menyambut kedatangan ibu suri.
"Selamat datang ibu suri Anita" sambutnya sambil tersenyum
"Salam jumpa orang tua. Ha.. ha... " kata Ibu suri Anita dengan tertawa.
Walaupun usia dutch Norwey jauh lebih tua, tapi hubungan keduanya cukup akrab. Karena dutch Norwey merupakan teman ayahnya.
"Kudengar, beberapa hari yang lalu kau datang berkunjung ke istana."
"Iya benar. Aku membawa seorang cucu keponakan bersama puteranya. Ada beberapa hal yang perlu kami bahas dengan Hubert, jadi maaf tidak sempat mengunjungimu. Ayo masuk dahulu, kita berbincang di dalam."
"Dimana isterimu?"
"Dia sibuk di dapur dari pagi, karena tahu kamu berkunjung"
"Tie tidak pernah berubah... ayo... aku sudah lama tidak bertemu dengannya"
Mereka memasuki kediaman dan duduk di ruang tamu.
"Selamat datang ibu suri. Aku sangat merindukanmu.. Ingin berkunjung ke istana, tapi kamu tak pernah mengundangku" terdengar suara Nyonya Tie menyambut kedatangan ibu suri Anita
__ADS_1
"Bilang saja kamu masih marah padaku karena ulah anak bodoh itu..."