
"Untuk apa itu Lorine. Menurut ibu, jika mantera ruang bisa membuat bahan makanan yang kita masukkan tidak akan membusuk selama berada didalamĀ ruang itu. Ini akan berguna untuk menyimpan daging segar, atau ikan segar segar serta sayuran nantinya. Selama ini gudang kita hanya persiapan bahan pangan paling dasar. Jika ini berhasil ini akan sangat baik untuk kit semua"
"Tapi selama ini kita sudah mengajarkan pada penduduk cara mengawetkan makanan dengan mengasinkan atau mengasap. Menurut bibi ini sudah sangat bagus. Jika ditangani dengan baik, dan disimpan dengan baik ini juga bisa bertahan cukup lama. Dan gudang gudang kita juga sudah mulai persiapan untuk menyimpan makanan ini" kata Permaisuri Sophia.
"Memang benar bibi. Aku memang tidak berencana membuat gudang dengan mantera ruang untuk semua penduduk. Kita tidak akan sanggup membuatnya. Aku hanya akan membuat beberapa. Satu di lahan pertanian. Satu di rumah leluhur, Satu di istana ini. Dan satu lagi, di kota Coco. Dengan hanya tenaga aku, Light dan Shadow kukira itu sudah sangat bagus."
"Apa keluarga Puteri Reva sudah diberitahukan tentang bencana ini?"
"Sudah bibi. Selesai pesta pernikahan sepupu Lark dan Reva, aku dan Lark yang langsung memberi informasi ini kepada raja Tezja. Sempat beliau ragu, tapi saat aku menceritakan sebagian persiapan yang kita lakukan, beliau menjadi percaya dan berencana melakukan hal yang serupa"
"Aku tadi khawatir jika mereka sama sekali tidak ada persiapan. Bila bencana datang, sebagai besan tidak mungkin kita tidak membantu. Tapi kita sendiri memiliki keterbatasan, dan pasti mendahulukan kepentingan rakyat kita terlebih dahulu. Belum lagi kerajaan lainnya pasti meminta bantuan"
"Kerajaan Fatma sudah berdiri ratusan tahun bibi. Walaupun mereka mungkin tidak ada catatan tentang bencana kemarau ini. Tapi dengan segala kemajuan di wilayah kerajaan Fatma, walaupun sedikit terlambat memulai, aku yakin mereka bisa mengejar ketertinggalan mereka"
"Tadi datang kemari ada perlu apa, sayang? Tidak mungkin jika hanya mau ikutan pembicaraan kami?"
"Iya. Hampir lupa, aku mau ingatkan nanti jamuan makan malam dengan perwakilan beberapa kerajaan. Jangan sampai terlambat."
"Apa persiapannya sudah selesai?"
"Sudah sembilan puluh persen. Tinggal menunggu tamu datang. Jika kamu berangkat ke kota Alma, berarti tidak ikut perjamuan Lorine?"
"Tidak bibi. Biar kalian saja. Sekalian aku pamit, mau mempersiapkan beberapa barang yang hendak dibawa ke kota Alma."
"Didepan kediamanmu masih ada pohon anggurnya, Lorine?"
"Ada bibi. Nanti jika berbuah, aku bawa untuk bibi"
"Terima kasih, Lorine"
Louisa berlalu dari ruangan itu, menibggsmja raja Landen dan Permaisuri Sophia.
"Kalau mau anggur, kan tinggal minta pelayan beli di pasar. Mengapa harus merepotkan Lorine?"
"Suamiku, buah anggur yang ditanam di pekarangan Lorine itu berbeda. Buahnya lebih besar dan sangat manis, cocok dibuat manisan. Ibu mertua saja sangat suka. "
"Aku hanya tidak mau, jika nanti merepotkan Lorine"
__ADS_1
"Keponakan sendiri juga. Tapi apa yang dilakukan Lorine pada lahan pertaniannya memang sungguh luar biasa, suamiku. Lahan pertanian itu sudah seperti kota kecil yang indah. Segala sesuatu sangat teratur disana. Ah, suamiku. Kamu harus mengatur waktumu, agar kita bisa kesana sekedar melepas penat"
"Sabarlah. Sampai Lark dan Revaline siap diberi tahta ini. Setelah itu kita bisa beristirahat dan menikmati hari"
"Masih dua tahun lagi persiapannya.. Itu masih sangat lama, suamiku." kata Permaisuri Sophia dengan wajah cemberut.
"Mungkin bisa kita percepat untuk tahun depan. Tapi tunggu saya bicara kembali dengan Lorine setelah dia pulang dari Gordon. Jika Lorine setuju, hal ini akan dibicarakan dalam rapat dewan kerajaan dua bulan lagi."
"Baiklah, suamiku. Aku pergi dahulu, kembali lah bekerja. Ingat, jangan sampai terlambat datang keperjamuan. Garvin..." kata Permaisuri Sophia melirik tangan kanan Raja Landen yang dari tadi sibuk bekerja.
"Saya Permaisuri...." kata Garvin sambil menghentikan pekerjaannya sebentar.
"Ingatkan Rajamu. Jangan sampai terlambat.."
"Baik Permaisuri. Akan hamba ingatkan Raja bila sudah waktunya bersiap untuk perjamuan"
"Aku pergi" kata Permaisuri Sophia sambil pergi diikuti dua orang pelayan yang dari tadi menunggu di luar ruangan.
*****
"Sudah siap semua Ibu?" tanya Louisa pada Margaret.
"Sudah. Suamiku kami berangkat" kata Margaret sambil berpamitan pada Jendral Lucky.
"Hati hati sayang. Lorine, jaga Lucio dan ibumu. Ingat pesan ayah dan kakek Franklin"
"Tentu ayah. Kami berangkat" kata Louisa sambil naik kereta kuda.
"Kakek, sampai bertemu lagi" kata Lucio
Jendral Lucky hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan mendekati Shine.
"Shine, aku titipan mereka padamu. Pastikan tiba kembali dalam keadaan selamat "
"Pasti Jendral. Nyawaku taruhannya" jawab Shine dengan tegas.
Rombongan itupun berangkat. Ada tiga kereta. Kereta pertama dinaiki Margaret, Louisa dan Lucio. Kereta kedua dengan ukuran lebih kecil dinaiki pelayan Margaret dan Louisa. Sedang kereta terakhir untuk membawa sejumlah barang untuk keperluan perjalanan mereka.
__ADS_1
Selain kelima anggota Louisa, mereka juga dikawal sepuluh prajurit elit Kerajaan Lembah Angin. Karena menggunakan kuda kuda terbaik yang mampu menempuh jarak yang lebih cepat dari kuda biasa, rombongan itu akhirnya tiba di kota Gordon setelah menempuh tujuh hari perjalanan. Jika tadinya mereka tidak membawa kereta kuda, tapi menunggangi kuda tentu perjalanan bisa berjalan lebih singkat.
Saat memasuki kota Gordon, hari sudah menjelang sore. Lampu lampu sudah dihidupkan menciptakan pemandangan yang indah. Lucio melihat semua itu dengan sangat antusias.
Sepanjang jalan, ia berceloteh dengan riang.
"Lihat nenek. Rumah itu sangat tinggi. Rumah yang itu sangat besar..." katanya dengan bersemangat.
"Iya..." jawab Margaret sambil tersenyum.
" Mama.. istana Gordon apakah lebih besar dari istana Hinom kita?"
"Tentu sayang. Hmm.. mungkin tiga kali lebih besar dibandingkan dengan istana Hinom ditambah rumah Leluhur"
"Apa...! Istana Hinom ditambah rumah leluhur masih lebih besar tiga kali? Wah....tidak sabar untuk melihatnya" katanya penuh semangat.
"Ibu, kapan pesta pernikahan Puteri Dutch Andrew berlangsung?"
"Dua hari lagi. Besok ibu mau keliling membeli beberapa keperluan termasuk mengambil gaun untuk pesta itu. Aku sudah pesan dua bulan yang lalu. Kamu uruslah urusanmu. Lucio bisa kubawa bersamaku."
Louisa terdiam sambil berpikir.
"Jika bertemu kenalan ibu, apa yang akan ibu katakan tentang Lucio"
"Cucuku. Putera dari Louisa Valley. Ibu tidak salah bukan?"
"Hah... Bagaimana Cio.? Besok ikut nenek Margaret atau ikut Mama?"
"Kapan kita ke istana Gordon?" tanya Lucio penuh harap.
"Tidak bisa begitu cepat sayang. Memasuki istana Gordon, tidak semudah itu. Nanti mama harus menulis surat pada leluhur Ducth Norwey terlebih dahulu. Minta ijin untuk bertemu. Jika disetujui, nanti kita bertemu leluhur Norwey terlebih dahulu. Baru nanti leluhur Norwey yang mengatur, agar bisa membawa Lucio masuk ke dalam istana"
"Tidak bisakah mama saja yang langsung bawa Cio ke istana?
"
.
__ADS_1