
Wajah dutch Norwey dan Nyonya Tie berangsur pulih kembali. Tapi terlihat jelas di wajah keduanya mengandung banyak pertanyaan kepada Louisa.
"Apa karena ini kamu datang kemari?" tany ducth Norwey.
"Iya, kakek."
"Apakah cucuku yang bodoh itu tahu?"
"Peter? Tidak. Lucio baru kuperkenalkan kepada anda berdua. Karena saya menganggap, jika kakek dan nenek bisa mewakili orang tua diatas gunung itu. Bahkan ibu suri Anita juga tidak tahu"
"Ha...ha.. Aku tahu...aku tahu. Kamu sengaja tidak memberitahukan pihak istana untuk menghukum kedua orang itu, kan? Mendambakan sesuatu, sudah memilikinya tapi tidak pernah mengetahui bahwa dia sudah memiliki. Ha.. ha.." dutch Norwey tertawa terbahak bahak.
"Bisa dibilang seperti itu, kakek."
"Jadi kapan kamu ingin mempertemukan ayah dan anak?"
"Tergantung pada jawaban orang tua diatas gunung itu. Tapi yang jelas, Lucio baru akan ku izinkan memasuki istana Gordon saat dia berusia lima belas tahun. Usia yang aku perkirakan dia bisa melindungi dirinya sendiri."
"Jadi maksud kedatangan kalian?"
"Ada beberapa hal kakek, nenek. Yang pertama, Lucio ingin melihat istana Gordon. Aku tidak mau, jika orang tahu ia seorang pangeran saat memasuki istana. Jika aku yang membawanya masuk sebagai dutchess Lorine, bisa kalian bayangkan keributan apa yang akan terjadi"
"Jadi Lorine ingin kami yang membawa masuk?"
"Benar. Aku bisa saja ikut, tapi atas nama cucu Keponakan atau saudara jauh. Bukan atas nama dutchess Lorine"
"Iya, kami mengerti maksudmu. Jika itu yang pertama, apa yang kedua ?"
"Aku mendengar, jika terjadi keributan di harem istana. Apakah benar ?"
"Hah.. itu memang benar Lorine. Selir ketiga itu, benar benar sangat berani. Raja Peter sendiri seperti orang bodoh, tidak bisa mendamaikan selir selirnya."
"Aku mendengar selir ketiga melahirkan seorang anak perempuan, tapi tidak memiliki ciri keturunan Henry. Apakah itu juga benar?"
"Iya..Aku sudah melihatnya. Rambutnya berwarna kuning. Cantik memang. Tapi jelas bukan seorang Henry" kata Nyonya Tie.
"Aku sebenarnya tidak mau turut campur. Tapi ibu mengatakan aku harus melakukan sesuatu demi Lucio dan rakyat Gordon. Karenanya aku minta tolong kakek tentang suatu hal, sebab hanya anda yang bisa melakukannya."
"Jika aku bisa membantu, pasti akan kulakukan Lorine. Katakan saja"
"Aku tahu jika hanya kakek yang bisa menghubungi orang tua diatas gunung itu. Aku tidak perlu tahu apa alasan yang anda buat. Yang jelas, aku ingin beliau turun gunung"
"Hmmm...jika aku menggunakan Lucio, apakah kamu keberatan?"
__ADS_1
"Lakukanlah saja kakek"
"Pelayan.." kata dutch Norwey
"Iya Tuan.. " seorang pelayan laki laki berlari memasuki ruangan.
"Keluar, panggil pelukis Derby kemari"
"Baik tuan"
"Katakan padanya. Penting!"
"Baik tuan" kata pelayan itu membungkuk hormat dan berlari keluar.
"Jika orang tua itu sudah turun gunung, apa selanjutnya Lorine.?"
"Beliau pasti mengamuk dan menjumpai kakek. Jika begitu, minta beliau menjumpaiku di Lembah Angin. Tepatnya di kota Alma, karena aku sangat jarang berada di kota Hinom."
"Agar orang tua itu bertemu keturunan terakhirnya ?"
"Itu hal belakangan kakek. Bukan itu maksud utamaku. Sebenarnya aku memiliki informasi rahasia tentang selir ketiga. Tapi ada beberapa hal yang belum bisa kubuktikan kebenarannya. Orang tua itu bisa mendapatkan kebenaran informasi itu dengan mudah"
"Maksudmu?"
"Ada sesuatu tentang selir ketiga yang tidak benar. Sebenarnya dalam salah satu suratku kepada Peter, aku sudah pernah meminta beliau mencari tahu sendiri. Tapi menilai dari sifat Peter, hal itu pasti tidak akan pernah dilakukannya."
"Iya. Melibatkan hubungan dua kerajaan."
"Anak itu memang tidak pernah bijaksana. Sangat berbeda dengan ayahnya. Sayang beliau meninggal di usia terbilang muda"
"Dan ada satu lagi yang ingin kutanyakan kakek. Apakah kakek pernah mendengar tentang bencana kemarau?"
"Yang terjadi setiap dua ratus tahun sekali?"
"Benar?"
"Tentu. Apakah kakek sudah mendengar ada persiapan pihak istana untuk itu?"
"Apa?"
"Terus terang kakek, kedatangan kami ke kota Gordon selain ingin memperkenalkan istana Gordon kepada Lucio, juga membuat persiapan untuk bencana kemarau yang akan datang. "
"Bukankah masih lama, Lorine ?"
__ADS_1
"Menurut perhitungan perkamen istana yang kubaca waktu itu, sekitar dua sampai empat tahun lagi."
"Apa? Sudah sedekat itu? Gawat... walaupun Gordon kerajaan yang subur, jika sudah waktunya sedekat itu mungkin persiapannya tidak akan cukup. aku takut tetap akan terjadi kelaparan. Langkahmu tepat meminta orang tua itu turun gunung Lorine. Biarkan beliau menjewer telinga anak bodoh itu agar mengingat tugasnya sebagai Raja" kata Dutch Norwey dengan emosi.
"Lembah Angin sendiri bagaimana persiapannya, Lorine?" tanya Nyonya Tie
"Dari segi bahan pangan, kami sudah siap. Hanya air yang belum. Karena itulah aku kemari, memesan sebuah alat pompa air"
"Menurut Lorine sendiri, keluarga Norwey bagaimana harus bersiap? Kau tahu, keluarga Norwey sendiri memiliki anggota keluarga yang tidak sedikit"
"Setahuku kakek memiliki lahan pertanian yang sangat luas. Mulai sekarang, hasil pertanian jangan dijual semua. Simpan tujuh puluh persen, lepaskan kepasar tiga puluh persen saja . Buat gudang gudang penyimpanan. Perkirakan untuk bahan pangan sekitar dua sampai tiga tahun. Sebab perkiraan bencana satu sampai dua tahun"
"Itu tidak akan cukup. Karena pihak istana pasti akan meminta bantuan dan kita tidak akan bisa mengabaikan hal itu. Setidaknya persiapan lima tahun atau dua kali kebutuhan keluarga Norwey" sahut Nyonya Tie cepat
"Jika begitu mulai sekarang, hasil panen tidak usah dijual saja. Aku akan mengumpulkan seluruh keluarga termasuk yang dicabang untuk membahas itu. Beruntung kamu datang Lorine, jika tidak begitu bencana datang entah apa yang akan terjadi pada kerajaan ini"
Tok. tok..
"Tuan. Pelukis Derby sudah ada disini" seru seorang pelayan
"Bawa ke halaman belakang"
"Baik Tuan"
Pelayan itu pergi keluar.
"Ayo Lucio, ikut leluhur."
"Kita mau ngapain leluhur ?"
"Membuat lukisan kita berdua, agar seseorang cemburu dan segera pulang"
"Siapa leluhur?"
"Kakek leluhurmu. Jika beliau melihat gambar kita berdua, ha...ha... dia pasti tidak akan sabar dan segera terbang kemari. Ha...ha..."
Dutch Norwey tertawa terbahak bahak membayangkan wajah orang tua itu.
"Kakek Leluhur bisa terbang seperti burung? Wow... sangat hebat. Aku akan meminta kakek leluhur bertanding melawan kakek Shadow. Kakek Shadow pasti kalah, karena hanya bisa berlari cepat seperti bayangan yang tidak terlihat. Ha...ha.." kata Lucio sambil tertawa.
"Kakek leluhurmu dan Shadow bertanding? Ha...ha... ajak leluhur ini untuk menonton. Ha...ha..."
Louisa dan Nyonya Tie tersenyum mendengar pembicaraan kedua, dan mengikuti dibelakang mereka.
__ADS_1
"Mereka berdua memikirkan sesuatu yang tidak mungkin" kata Nyonya Tie
"Tapi Lucio mungkin saja punya akal yang bisa memaksa keduanya melakukan permintaannya" jawab Louisa