Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Kemarahan Leluhur Kendrick Alexander Henry


__ADS_3

Di ujung utara kerajaan Gordon, di puncak sebuah gunung. Gunung Herba, gunung tertinggi di kerajaan Gordon.


Seekor burung falco terbang rendah menuju sebuah bangunan sederhana di puncak gunung. Dia sengaja menabrak sebuah lonceng Angin yang ada di depan rumah meninggalkan bunyi yang merdu di telinga.


Kemudian kembali terbang berputar putar disekeliling rumah, dan sekali lagi menabrak lonceng Angin itu.


Pintu bangunan terbuka, seorang pria tua dengan rambut berwarna putih keseluruhannya keluar dari pintu.


"Aihh... kemari..." katanya pada si burung sambil merentangkan tangannya.


Burung itu kemudian mendarat di salah satu lengannya.


"Ada kabar apa dari istana? Sudah beberapa tahun ini, Bian Norwey tidak pernah mengirim kabar" gumamnya sambil melepaskan gulungan pesan di kaki burung itu.


Ketika ia membuka tabung surat, sebuah gulungan terbang keluar dan bercahaya pendam. Kemudian secara ajaib gulunganpun terbuka dan membesar menampilkan lukisan dutch Norwey dengan seorang pemuda kecil. Saat itu terdengar pesan suara.


"Orang tua bau, aku menang. Kau pemiliknya, tapi aku yang memilikinya. Biarkan saja yang sepi tetap dalam kesepian, dan yang bahagia tetap dalam kebahagiaan. Tak usah kau kembali lagi"


"Kurang ajar kau Bian. Itu keturunanku, enak saja kau memilikinya. Berani sekali kau membuat lukisanmu dengan cicitku tanpa ijinku...ha...ha.... Aku akan kembali... ha...ha...kau bahkan tidak menyebutkan namanya... ha...ha.." katanya dengan marah tapi juga tertawa dengan terbahak bahak


"Lion....!"


Sebuah Bayangan hitam bergerak cepat dan tiba didepan orang tua itu.


"Hamba tuanku..."


"Siapkan Tiger dan Hwak. Keturunan terakhirku sudah besar. Aku ingin melihatnya. Sepuluh hari lagi kita kembali ke Gordon city."


"Siap tuanku"


.


.


Hari hari berlalu, Louisa kembali sibuk dengan pekerjaannya. Apa lagi kiriman alat pompa pertama sudah tiba di kota Alma.


Walaupun dia tidak terlibat langsung dengan pemasangan, tapi dialah yang mengatur pembagian tugas serta siapa saja yang bertanggung jawab untuk setiap pemasangan alat pompa. Juga pembangunan gudang gudang baru yang direncanakan.


Sementara Lucio sibuk antara Hinom untuk belajar tentang aturan Istana dan putera mahkota setiap tiga hari, kemudian kembali ke kota Alma untuk berlatih keprajuritan serta rapalan dengan the power of night untuk tiga hari berikutnya. Demikian terus berulang..


.


.


Di istana Gordon.


"Yang Mulia..."

__ADS_1


Seorang prajurit muda berlari menerobos masuk kedalam ruang kerja Raja Peter.


"Lancang masuk tanpa ijin!" teriak Huber tangan kanan Raja Peter


"Ampun Yang Mulia.... tapi di kediaman leluhur Kedatangan seorang pria yang sudah tua dengan uban diseluruh kepalanya. Dia menunggangi seekor harimau putih besar..." katanya sambil bersujud dengan Kepala menyentuh lantai.


Raja Peter tersentak kaget sejenak.


"Huber, pergi ke kediaman ibu suri. Katakan jika leluhur kembali. Aku pergi terlebih dahulu kesana, minta beliau menyusul." kata Raja Peter


"Baik Yang Mulia.."


"Dan kau ikut denganku.." katanya kepada prajurit itu.


"Baik Yang Mulia.." jawab prajurit itu. Ia segera bangun, dan mengikuti Raja Peter dengan cepat.


Raja Peter berjalan dengan cepat. Selain prajurit yang melapor tadi, ia juga diikuti beberapa prajurit khusus raja.


Benar saja, seekor harimau putih terbaring malas di depan pintu masuk istana leluhur. Disampingnya berdiri seorang pria berpakaian serba hitam.


Melihat kedatangan Raja Peter, pria itu tersenyum ramah.


"Yang Mulia..." katanya sambil merentangkan tangannya.


"Paman Lion... ha...ha..." kata Raja Peter sambil memeluk pria itu.


Lion dan Hwak merupakan pengawal bayangan leluhur Alexander Henry. Walaupun penampilannya terlihat seperti pria paruh baya, tapi sesungguhnya usianya hampir sama dengan leluhur Alexander sendiri.


"Lihatlah, beberapa tahun tidak bertemu kamu sekarang sudah benar-benar dewasa. Temui leluhurmu didalam. Beliau bersama bibimu Hwak"


"Paman tidak masuk ?"


"Aku menunggu ibumu. Nanti kami masuk bersama"


"Baik paman. Aku masuk dahulu, sebelum orang tua itu mengamuk"


"Berhati hatilah. Sepertinya beliau akan mengamuk!"


Peter yang hendak melangkah kedalam menjadi sedikit ragu.


"Sekarang atau nanti, kau tetap harus menghadapinya Yang Mulia" katanya


Akhirnya Peter masuk kedalam kediaman.


Belum juga pintu tertutup rapat, tiba tiba sebuah vas bunga terbang kearahnya. Raja Peter menunduk dengan cepat, membuat vas bunga itu hancur menghantam pintu yang baru tertutup.


Jantung Raja Peter berdegub kencang. Tidak jauh di depannya terlihat seorang pria berambut putih tengah meminum teh dengan santai, dan bersikap acuh tak acuh dengan kedatangan Raja Peter. Seolah saat vas bunga melayang tidak ada hubungannya dengannya.

__ADS_1


Di sebelahnya berdiri seorang perempuan paruh baya berpakaian serba putih dengan anggun. Dia tersenyum lembut pada Raja Peter.


"Kemarilah..." katanya lembut.


"Bibi Hwak..." kata Raja Peter sambil berjalan. Tapi tiba tiba ia merasa tubuhnya berat, kakinya sulit untuk berjalan.


Dia sangat kebingungan, melihat ke arah Hwak minta pertolongan.


"Tuan besar, kasihan Tuan muda " bisiknya pelan pada leluhur Alexander.


Seketika langkah Raja Peter kembali ringan.


"Leluhur.. cicit tidak berguna ini datang menghadap" kata Raja Peter sambil menyembah leluhur Kendrick Alexander sambil membungkukkan badannya sebanyak tiga kali.


"Kau benar, dasar keturunan tidak berguna. Dimana cicit menantuku! Dimana cucu cicitku!"


"Leluhur, aku dan Lorine sudah bercerai.."


Byur...


Secangkir air teh menyiram tepat dimuka Raja Peter tanpa sempat mengelak.


"Beraninya kau...!"


"Aku yang mengatur pernikahanmu lebih dari seratus tahun, dan beraninya kau menceraikannya hanya setelah menikahinya kurang dari tiga tahun!"


"Leluhur, aku bersalah. Waktu itu aku hanya putus asa karena Lorine tidak kunjung mengandung"


"Kalian baru menikah beberapa tahun, dan kau mengatakan putus asa. Tanya ibumu, berapa lama ia menunggu kehadiranmu! Sepuluh tahun! Dan selama sepuluh tahun itu ayahmu tidak pernah menyerah. Tidak satu detikpun Peter..."


"Ampun leluhur..."


Tok...tok...


"Masuklah cucu menantuku.."


Ibu suri Anita berjalan pelan. Gerakannya terlihat sangat anggun. Sesampainya di depan leluhur Kendrick Alexander, ia berlulut. Kepalanya menyentuh lantai dan ia menangis sedih.


"Ampun leluhur... aku bersalah.. hiks...tidak bisa mengajari puteraku dengan baik... hiks... hukum saja aku leluhur. Aku pantas mendapatkannya... hiks...hiks... "


"Bangunlah Anita. Ini bukan salahmu.. aku juga tahu beratnya hari hari yang harus kau jalani setelah kematian Endrew. Dan betapa tidak berdayanya kau mempertahankan pernikahan puteramu"


Ibu suri Anita bangun dan berjalan pelan.


"Duduklah.." kata leluhur Alexander.


"Dan kau cicit anak tidak berguna, kau berlulut sampai kau kuijinkan berdiri kembali!" perintahnya pada Raja Peter

__ADS_1


"Iya leluhur " jawab Raja Peter pelan.


"Tahukah kau, aku yang memohon kepada leluhur Valley dan orang tua Bruswick agar mengizinkan kau menikahi cucu berharganya. Dan kau, hanya karena perempuan itu menceraikan gadis pilihanku!" kata leluhur Kendric Alexander dengan marah.


__ADS_2