
Wajah kedua penjaga itu pucat pasi setelah menyadari kesalahan mereka.
"Kami bersalah. Mohon dihukum.." kata keduanya dengan kepala tertunduk.
Kepala penjaga memandang Reneisme, seakan meminta pendapat.
"Jalankan sesuai hukuman yang berlaku untuk penjaga"
"Kalian diskors selama satu bulan, mencatat 1000 aturan istana sebanyak 100 kali dan yang ketiga kalian bisa memilih antara hukuman cambuk sebanyak lima puluh kali atau menjadi relawan penanaman pohon di bukit Cypress selama satu Minggu"
"Saya memilih hukuman cambuk kepala" kata penjaga kurus
"Saya juga memilih hukuman cambuk kepala" kata penjaga gemuk tidak mau kalah.
"Jika begitu, pergi ke ruang hukuman. Jumpai petugas disana" kata kepala penjaga, dan minta surat keterangan telah menjalankan hukuman dan serahkan kepada saya.
"Baik kepala"
"Saya akan menyaksikan hukuman mereka" kata Reneisme
"Silahkan Nyonya"sahut kepala penjaga
Ketika akan keluar dari ruang disiplin, tiba tiba Reneisme membalikkan badan.
"Oh ya kepala penjaga. Saya tidak melihat wakil kepala penjaga Thomas, dia tidak sedang cuti bukan?"
Thomas adalah salah satu penjaga kediaman permaisuri. Dia merupakan salah satu orang yang kepercayaan Permaisuri Lorine. Yang membuat Reneisme curiga, sudah tiga hari penjaga Thomas tidak kelihatan. Padahal baru sebulan yang lalu ia mengambil cuti.
"Dia ditugaskan menjadi pengawas di bukit Cypress selama satu bulan menggantikan pegawas Jordan yang cuti"
"Siapa yang memberikan perintah kepala?"
"Ibu Suri, Nyonya"
"Baiklah jika begitu. Tadinya saya mengira, penjaga Thomas sakit. Saya pamit"
Reneisme kemudian pergi dengan kedua penjaga yang akan menerima hukuman cambuk ke ruang hukuman.
*****
Di lorong istana
"Penjaga, kenapa kalian lebih memilih dicambuk dari pada menjadi sukarelawan?"
"Kami bukannya malas menjadi sukarelawan Nyonya. Tapi bagi kami, hukuman itu masih terlalu ringan dibandingkan dengan kesalahan kami" jawab penjaga gemuk.
" Dengan menjalani hukuman cambuk, setidaknya kami ikut merasakan rasa sakit yang dirasakan Permaisuri Lorine" sambung penjaga kurus.
__ADS_1
"Sudah berapa lama kalian manjadi penjaga?"
"Saya baru tiga bulan Nyonya" jawab penjaga gemuk. " Sementara dia sudah lima bulan" katanya lagi sambil menunjuk penjaga kurus.
"Tiga dan lima bulan. Bagaimana mungkin penjaga baru dijadikan penjaga kediaman permaisuri" batin Reneisme.
Di istana ada peraturan kelas penjaga. Untuk kediaman permaisuri sendiri, penjaga harus sudah bekerja setidaknya dua tahun di istana, atau tiga tahun menjadi prajurit kerajaan. Jika ada penjaga yang kurang dari dua tahun bekerja, maka harus didampingi penjaga yang setidaknya sudah bekerja selama lima tahun.
"Mengapa kalian bisa bertugas bersama? Bukankah harusnya ada penjaga senior yang mendampingi kalian?"
"Maaf Nyonya. Sebenarnya saya menggantikan senior Norman yang sore kemarin tiba tiba ditugaskan ke bukit Cypress"
"Sebenarnya kami dijadwalkan bertugas tiga orang. Tapi satu jam sebelum pergantian penjaga, senior Bernart tiba tiba sakit diare. Dia sampai gemetaran dan wajahnya sangat pucat, sehingga kami menyuruhnya pulang dan berobat. Sementara karena waktunya sudah tidak sempat lagi mencari penjaga pengganti kami memutuskan untuk berjaga berdua saja"
"Jadi begitu" kata Reneisme tersenyum. Tapi dalam hati sebenarnya ia sangat terkejut. "Sepertinya semua ini sudah diatur sedemikian rupa agar tidak ada yang curiga. Tinggal satu hal untuk memastikannya" batinnya
"Diantara semua hukuman yang kalian terima, hukuman mana yang paling berat bagi kalian?"
"Terus terang skors merupakan hukuman terberat Nyonya" jawab penjaga kurus.
"Mengapa demikian?"
"Karena dengan skors kami tidak bekerja Nyonya dan artinya kami juga tidak mendapatkan penghasilan"
"Kalian sudah berkeluarga?"
"Sudah Nyonya. Aku memiliki seorang putri, dan temanku ini memiliki dua orang putra. Tapi bagaimanapun kesalahan kami pada Permaisuri Lorine tidak sebanding dengan hukuman kami" jawab penjaga gemuk.
"Bagaimana mungkin Nyonya. Kami melakukan kesalahan, memang seharusnya dihukum, bukan malah diberi uang" kata penjaga kurus.
"Hanya perkiraan ku saja. Tapi jika perkiraan ku benar, maukah kalian memberi kabar padaku?"
"Apakah ini akan membantu Permaisuri?"
Reneisme menganggukkan kepalanya.
"Jika demikian, pasti kami beri kabar Nyonya"
Tanpa terasa mereka telah tiba di balai hukuman. Mereka menemui petugas disana.
"Beri mereka masing masing dua puluh kali hukuman cambuk" perintah Renesime.
"Nyonya..."kata kedua penjaga itu terkejut.
Reneisme memberi mereka kode agar diam saja. Setelah mendapat hukuman cambuk, mereka mendapat surat telah menjalani hukuman yang diberi cap petugas balai hukuman.
Saat keluar dari balai hukuman Reneisme menyuruh mereka langsung pulang. "Besok saja kalian serahkan suratnya, dengan luka lima puluh kali cambukan keadaan kalian akan terlihat terlalu baik"katanya dan mereka berdua menurutinya.
__ADS_1
*****
Besok paginya
"Semua sudah siap ibu Ren?"
"Sudah Nona" jawab Reneisme. Sejak bangun dari tidurnya kemarin, Louisa melarang Reneisme memanggilnya permaisuri lagi.
"Bahkan barang barang yang tersisa sudah kumasukkan semua kekotak kayu, agar nanti diangkat penjaga kedepan istana. Di depan telah menunggu kereta kuda yang dikirim oleh Jendral Lucky"
"Ibu ingat dengan pesanku bukan?"
"Tentu Nona. Tidak menceritakan kejadian kemaren kepada siapapun kecuali kepada tabib Kurd. Aku juga telah meminta hal serupa kepada kepala penjaga dan kedua penjaga itu"
"Baiklah.. Kita berangkat" kata Louisa. Louisa memakai gaun polos berwarna putih, dengan jubah kerajaan berwarna kuning emas. Saat membuka pintu mereka berdua terkejut, sepuluh pelayan, tiga koki, dan lima belas penjaga berdiri dengan posisi berbaris di sepanjang lorong istana. Beberapa pelayan bahkan menangis melihat kearah Louisa.
"Permaisuri..."kata mereka serempak dan membungkukkan tubuh memberikan penghormatan.
Louisa tersenyum..membungkukkan tubuh dan berlalu dari sana menuju balai sidang kerajaan.
*****
Di balai sidang kerajaan
Ruang balai sidang telah terisi oleh para dewan penasehat kerajaan, para menteri dan jendral. Dari total seratus kursi, hanya tersisa tiga kursi lagi yang masih kosong.
Ketiganya adalah kursi Raja Peter, Permaisuri Lorine, dan Ibu Suri Anita. Tiba tiba terdengar seorang moderator berteriak
"Yang Mulia Paduka Raja Peter Henry memasuki ruangan"
"Yang Mulia Permaisuri Lorine Valley memasuki ruangan"
"Yang Mulia Ibu Suri Anita Wales memasuki ruangan"
Mendengar itu, ruangan yang tadinya berisik tiba tiba hening. Semua mata memandang kepada ketiga orang yang baru memasuki ruangan. Setelah ketiganya duduk pada pisisinya masing masing, seorang pria tua yang bertindak sebagai ketua dewan penasehat berteriak lantang
"Dengan ini sidang putus cerai Yang Mulia Paduka Raja Peter Henry dengan Permaisuri Lorine Valley dinyatakan dibuka"
Tok!!Tok!!Tok!!
Sidang dimulai dengan pernyataan Raja Peter yang menginginkan perceraian dengan alasan yang diajukan karena Permaisuri Lorine disinyalir mengalami kemandulan. Ini diyakini dengan kenyataan setelah tiga tahun menikah Permaisuri Lorine belum juga memberikan ahli waris kerajaan.
Raja Peter mengemukakan keinginannya untuk menikah lagi untuk memperoleh seorang putra mahkota, tapi undang undang kerajaan Gordon melarang seorang raja menikah lagi selagi ia mempunyai seorang permaisuri.
"Karena itu, dengan berat hati saya Raja Peter Henry meminta kepada anggota dewan penasehat, para menteri serta para jendral untuk menyetujui permintaan putus cerai yang saya ajukan" katanya menutup pernyataannya.
Selanjutnya moderator meminta kepada Permaisuri Lorine mengajukan sanggahan pembelaannya.
__ADS_1
Louisa berdiri, ia memandang semua yang hadir.
"Hadirin yang terhormat, para anggota dewan penasehat, para menteri dan para jenderal. Saya Permaisuri Lorine Valley, dengan ini menerima tuntutan putus cerai yang diajukan Yang Mulia Raja Peter, dengan syarat pernyataan Yang Mulia Raja Peter tentang penyebab perceraian kami karena saya mandul tidak diikut sertakan. Karena sebagaimana yang dikatakan Paduka itu hanya asumsi beliau saja, tanpa bukti yang jelas"