
Catt author: Seharusnya dua chapter ini di terbitkan dengan tiga chapter sebelumnya. Tapi entah apa masalahnya dua chapter terakhir tidak bisa terkirim. Sudah dicoba berulang kali tapi tidak bisa juga. Terakhir, dua chapter di copy dan dibuat di draf yang baru. Dan di coba, baru bisa diterbitkan. Happy reading
--------------‐--‐-----------------------
"Aku masih bisa menunggu beberapa tahun lagi tuan besar. Aku sudah membahas hal ini dengan Kepala Kota, dan beliau sudah setuju jika aku dan puterinya baru akan menikah setelah bencana kemarau selesai." kata Marco
"Tidak bisa begitu, Marco. Setelah upacara pernikahan Shadow dan Light, kita akan melamar nona Mila untukmu. Tidak ada penundaan. Jangan terbiasa menggantung harapan seorang gadis"
"Bukan menggantung Tuan besar. Adik Mila masih sangat muda, masih enam belas tahun.. kupikir menunggu tiga atau empat tahun lagi masih usia yang tepat untuknya"
"Terlalu muda? Aku menikah dengan Peter saat usia enam belas tahun, Marco. Kau membuatku tersinggung" kata Louisa
"Maaf Ketua. Bukan maksudku begitu, kita tidak tahu apa yang akan terjadi saat kemarau panjang datang. Aku yakin, jika kemungkinan besar kita harus bersiap untuk berperang untuk melindungi Lembah Angin. Saat itu terjadi, aku tidak bisa membagi konsentrasiku antara perang dan melindungi anak serta isteriku. Mila tidak sama seperti Light yang bukan hanya bisa melindungi diri sendiri, tapi juga bisa melindungi orang lain. Tapi hanya gadis manis yang kuharapkan bisa mengurus keluarga" jelas Marco dengan sungguh sungguh.
"Ha...ha... " terdengar gelak tawa seketika mendengar perkataan Marco.
"Kau terlalu meremehkan perempuan Marco" kata nenek Eugine akhirnya bicara. "Perempuan apalagi seorang ibu, bisa luar biasa kuat jika itu menyangkut anak dam suami yang dicintainya. Tidak perlu mengkhawatirkan hal hal yang tidak perlu. Jika kamu takut terjadi sesuatu padanya jika terjadi perang, aku yang akan menjaganya. Kami sudah membeli rumah di kota, saat ini sedang direnovasi. Dan itu cukup luas, kalian bisa tinggal disana kapan saja. Lagi pula bukankah aku yang menjadi ibumu disini? Sudah sewajarnya anak lelakiku membawa menantu perempuanku untuk tinggal denganku. " lanjutnya.
Marco tertegun, matanya memerah.
"Iya, ibu. Aku akan menurut" katanya terharu.
"Sudah seharusnya begitu, anak baik" kata nenek Eugine.
Tuan Bruswick tersenyum, demikian juga yang lain. Louisa merasa beban yang ada di pikirannya selama ini sudah terangkat. Semua orang kepercayaanya sudah punya tujuan selain melindungi dirinya.
"Dan untukmu Louisa. Sudah saatnya kau berbicara dengan ayahmu. Ingat apa yang kukatakan saat di kota Alma "
"Baik kakek. Aku akan mencari waktu untuk berbicara dengan ayah"
"Dan kau Shine? Apa rencanamu selanjutnya? Tidak ingin berumah tangga lagi?"
"Tuan besar, aku sudah pernah menikah, memiliki seorang anak laki laki. Aku sudah puas. Umurkupun sudah tidak lagi muda. Biarkan aku tetap melayani nona besar seumur hidupku."
"Bagaimana kabar puteramu?"
"Hendrikus sudah mengembangkan the power of night dengan sangat baik di Gordon. Jangkauannya juga sudah semakin luas. Kerjasama dengan istana Gordon juga masih berjalan."
"Bukan pekerjaannya yang aku tanya Shine ?"
"Ia sudah bertunangan dengan Puteri dutch Lenox dari distrik dua. Mereka merencanakan pernikahan tahun depan"
"Bagus bagus. Aku senang mendengarnya" kata Tuan Bruswick
"Mulai sekarang kita akan sangat sibuk. Light sini, duduk dekat denganku." kata nenek Eugine
__ADS_1
"Iya Nyonya " kata Light.
"Jangan panggil Nyonya lagi. Disini Shadow adalah puteraku, karena orang tuanya tidak ada disini. Sedangkan kau punya Shine yang menjadi walimu. Jadi mulai sekarang kau adalah menantuku. Panggil aku ibu, dengar kataku.." kata nenek Eugine
"Iya ibu " kata Shine yang diikuti tawa semuanya.
.
.
Malam harinya
Tok.. tok..
"Ayah, mama ini Lorine.."
"Masuk sayang.." terdengar suara dari dalam kamar
Louisa perlahan membuka pintu dan masuk ke dalam kamar, terlihat Jendral Lucky dan Margaret sedang bersantai sambil meminum teh.
Margaret tersenyum melihat kedatangan Louisa.
"Duduk" katanya dan menuang secangkir teh untuk Louisa
"Terimakasih ma." kata Louisa sambil mengecap tehnya.
"Hmm.."
"Ada apa ini? Sudah sangat lama kamu tidak mendatangi kami di kamar " kata Jendral Lucky
"Sudah bertahun tahun" sahut Margaret
"Ada yang ingin aku diskusikan dengan kalian berdua"
"Tentang apa sayang?"
"Ayah.." kata Louisa. Hatinya terasa berat, air mata sudah ada di pelupuk matanya.
"Hei.." kata Margaret
"Ayah maafkan Lorine. Maafkan Lorine...hiks.." kata Louisa. Tubuhnya berguncang hebat menahan tangisnya.
Jendral Lucky bangun dan memeluk Louisa erat.
"Jangan menangis lagi. Semua hal bisa dibicarakan dengan tenang. Tangisan tidak akan mengubah apapun. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu" hibur Jendral Lucky.
__ADS_1
Dari tangisan Louisa, ia sudah menduga masalahnya. Ditambah ia mengetahui pembicaraan Tuan Bruswick dengan kelima anggota Louisa.
"Lorine sudah mengecewakan Ayah.. hiks..hiks..."
"Sudah... jangan menangis lagi"
"Minum dahulu sayang, biar hatimu tenang" kata Margaret
Setelah meminum tehnya, hati Louisa terasa lebih baik lagi.
"Ayah sudah tahu apa yang ingin kamu bicarakan. Dengarkan Ayah. Keinginan setiap orang tua adalah sama. Ingin anak anaknya mendapatkan hal terbaik dalam hidupnya. Untukmu, kamu sudah mendapatkan banyak hal terbaik. Tapi juga mendapatkan hal buruk disisi lain juga tidak bisa kita prediksi dalam hidup.
Keinginan Ayah agar kamu menikah lagi sangat sederhana sayang. Ayah dan ibu semakin lama akan semakin tua. Dan akhirnya kami akan berangkat pergi meninggalkanmu" kata Jendral Lucky
"Ayah.." kata Louisa
"Itu kenyataan hidup, puteriku. Akhirnya semua yang melindungimu selama ini akan pergi karena sudah tiba waktunya. Kakekmu Franklin, nenekmu Eliz, kakek Bruswick, Nenek Eugine, ayah, ibu, pamanmu Landen, bibimu Sophia. Saat itu tiba, alangkah tenangnya hati kami jika ada seseorang disampingmu, mendampingimu"
"Aku punya Lucio disisiku"
"Lucio memang puteramu, anakku. Tapi ada saatnya nanti, ia akan punya tanggung jawabnya sendiri. Menjaga kerajaannya, istananya, anak dan istrinya. Mendampingimu? Sekarang kau lihat dirimu sendiri. Bukan maksud ayah agar kamu berkecil hati, tapi berapa banyak waktu yang bisa kamu sediakan untuk ayah dan ibumu? Mungkin lebih sedikit lagi waktu yang bisa diberikan puteramu kelak."
"Ayahmu benar, sayang. Kami tahu, kamu sudah nyaman dengan kesendirianmu. Tapi lihat ayah dan ibu, kedua kakek dan nenekmu. Walaupun anak anak tidak selalu mendampingi, tapi setidaknya kami masih ada satu sama lain. Ibu tahu sayang, ibu juga bukan ibu yang baik bagimu. Tahun tahun awal hidupmu, bahkan lebih banyak waktu yang kau habiskan bersama Reneisme daripada ibu. Ibu minta maaf sayang" kata Margaret
"Ibu, jangan berkata seperti itu. Ibu melakukannya karena terpaksa, untuk membantu distrik sembilan waktu itu. Jangan merasa bersalah, aku sangat bangga pada kalian berdua. Mengenai pernikahanku lagi, jika aku bertanya padamu ayah. Siapa yang ayah inginkan mendampingiku?"
Jendral Lucky dan Margaret saling berpandangan.
"Jika kembali bersama Peter apakah kamu keberatan sayang?" tanya Margaret hati hati.
"Bersama Peter kembali sangat banyak yang harus kupikirkan ibu. Terus terang, aku ingin memiliki suamiku sendiri, tanpa berbagi. Sedangkan Peter, sudah memiliki tiga orang selir disisinya, walaupun sekarang mungkin tinggal dua lagi"
"Tinggal dua?"
"Perempuan jahat itu, mungkin sudah dijemput paksa keluarganya untuk diadili"
"Siapa maksudmu sayang?"
"Diana Cornor. Dia melakukan kejahatan di tempat asalnya, dan melarikan diri. Setelah itu menjebak Peter, membuat kekacauan dalam pernikahan kami."
"Dari mana kau tahu sayang?" tanya Margaret penasaran.
"Lorine punya jaringan informan diseluruh benua tengah. Tidak perlu kau pertanyakan itu, isteriku. Apa untuk itu kedatangan leluhur Kendrick menjumpaimu?" tanya Jendral Lucky
"Iya Ayah. Akulah yang mengundang beliau untuk datang"
__ADS_1
"Jika begitu, satu masalah sudah selesai. Jadi bagaimana keputusanmu?"