Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Cenderamata (3)


__ADS_3

"Kotak kayu yang sangat indah. Ukiran nya sangat detail dan terkesan mewah. Pantas saja adikmu menyukainya" kata raja Gulfre.


"Aku juga berpendapat serupa ayahannda. Itulah mengapa aku tidak menaruh curiga sebelumnya" kata Pangeran Hurex


"Tapi dilihat dari ukiran nya, kotak kayu ini seharusnya berasal dari kerajaan Yard atau Fatma. Siapa kira kira pengirim nya?"


Pangeran Hurex mengambil sebuah kantong kertas, dan memindahkan potongan jari tangan itu kedalam nya satu persatu. Tiba tiba kening mengerut.


"Ada apa?" tanya raja Gulfre


"Tadi kata pelayan ada dua puluh dua. Tapi ini ada dua puluh tiga. Sebentar, sepertinya aku mengenal ini.... oh... tidak mungkin..." katanya ragu ragu.


"Apanya yang tidak mungkin Hurex? Kata kan kepada ayah"


Pangeran Hurex mengeluarkan salah satu jari tangan itu dan memberikan nya kepada raja Gulfre.


Raja Gulfre memandangnya dengan bingung sejenak, dan kemudian matanya terbelalak.


"Ini...ini..."


"Benar ayahanda. Ini jari tangan Progy. Semua yang jari tangan ini merupakan ibu jari. Hanya yang satu ini jari tengah. Dan dibungkus tersendiri serta ada cincinnya yang masih terpasang."


"Apa kau yakin dengan cincin itu pangeran?"


"Justeru karena cincin itu aku tahu itu jari Progy ayahanda. Aku sendiri yang memberikan cincin itu untuk nya"


Pangeran Hurex mengeluarkan semua isi kotak kayu itu. Dibagian dasar kotak ia menemukan sebuah kertas kecil berisi pesan .


Ia mengambilnya dan raut mukanya sedikit berubah.


"Ada apa?"


"Ayahanda, keterlibatan kita telah diketahui"


"Apa maksudmu"


"Ini..." kata pangeran Hurex sambil memberikan kertas kecil itu.


Raja Gulfre menerima nya dan membacanya.


"Anda ketahuan pangeran. Ini jari tangan orang yang dihukum mati, karena berani membantu anda. Kali ini anda dimaafkan. Jika anda masih berani melakukan nya lagi...he...he...Tunggu saja balasan dari kami. Anda akan kehilangan orang orang disekitar anda, satu persatu. Siapa kami? Tentu saja penggemar berat anda pangeran"


"....." Raja Gulfre menggaruk kepalanya


"Pantas saja dia tidak pulang pulang... padahal aku sudah memerintahkan untuk segera pulang setelah raja Tejza memberikan hukuman mati pada orang orang itu"


"Yang jadi masalah sekarang, pengirim paket ini siapa? Raja Tejza atau adakah orang lain..."


"Jika itu raja Tejza, berarti kita memulai perang..." kata pangeran Hurex mulai resah.


"Kau ini bagaimana... Bukankah kau yang berjanji jika keterlibatan kita tidak akan pernah diketahui? Mengapa ini menjadi kacau!"


"Ampun ayahanda.. aku juga tidak tahu bagaimana mereka mengetahui nya. Tapi sepertinya mereka tidak berniat untuk berperang. Dan juga, walaupun ini peringatan untuk kita, tapi ini bukan peringatan resmi kerajaan. Jadi..."


"Jadi apa! Apa lagi yang mau kau katakan! Karena bukan peringatan resmi kerajaan, kita boleh menyepelekan masalah ini. Begitu maksudmu!"'


"Ampun ayahanda... bukan itu maksud ku. Aku akan menyelidiki masalah ini. Aku sedikit tidak yakin jika ini dari raja Tejza. Karena dari sifat raja Tejza, tentu mereka akan mengumumkan perang kepada kita"


"Hurex...! Pemikiran mu sangat dangkal. Raja Tezja adalah raja yang cerdas. Apakah tidak pernah terpikirkan oleh mu mengapa walaupun secara militer prajurit kerajaan Fatma lemah, tapi tidak ada kerajaan lain berani menyerang mereka?"

__ADS_1


"Ampun ayahanda... mungkin karena hubungan baik mereka?"


"Karena secara ekonomi, kekuatan perdagangan mereka hanya setingkat dibawah Gordon. Memutuskan hubungan diplomatik dengan Fatma, berarti kau mematikan perdagangan yang paling menguntungkan untuk kerajaan mu. Tidak kah itu lebih mengerikan daripada perang yang menelan biaya yang sangat besar?"


"Ampun ayahanda, aku tidak berpikir sampai sejauh itu."


"Dasar puteraku yang bodoh. Pantas saja janda seperti Puteri Lorine saja tidak bisa kau dapatkan!"


"Ayahanda..."


"Aku akan meminta Ratu mencari isteri untukmu. Sudah saatnya kau menikah. Agar pikiran mu lebih dewasa dan bijaksana" kata Raja Gulfre dan pergi dari ruangan itu.


*****


Keesokan harinya.


Berita mengenai cendramata itu menyebar luas di masyarakat kota Kapur Putih.


"Aku tidak percaya puteri Resta sampai ketakutan seperti itu"


"Kau darimana tahu kabar itu? Jangan jangan itu hanya kabar angin"


"Itu sungguh benar. Saudara teman tetangga kakakku bekerja sebagai pelayan di istana Lingkar Awan. Dia bekerja dikediaman puteri Resta. Jadi kabar itu sudah pasti benar"


"Jika begitu, itu mungkin karma bagi puteri Resta. Dia kan terkenal sombong dan angkuh. Tidak pernah terbayangkan jika ia mendapat balasan nya"


"Benar juga. Itu pasti karma untuknya. "


Deep yang tengah menikmati sarapan pagi nya tersenyum.


"Itu baru tahap pertama istana Lingkar Awan. Jangan berpikir kalian bisa tenang setelah mengganggu orang orang disekitar ketua" gumamnya lirih.


*****


Beberapa hari kemudian.


Di rumah leluhur di kota Hinom.


"Salam tuan Puteri. " sapa seorang prajurit kepada Louisa yang tengah mengajari Lucio di ruang belajarnya.


"Ada apa ?"


"Ini ada sebuah surat yang dikirim kan kepada anda. Tadi diantarkan salah seorang pelayan pedagang Hem"


"Terimakasih. Kau bisa kembali" kata Louisa sambil menerima gulungan surat itu.


"Apa itu ibu? Bisakah aku melihatnya?"tanya Lucio penasaran.


"Ini hanya surat yang dikirimkan paman Deep"


"Memang nya paman Deep dimana?"


"Paman sedang ada pekerjaan di kota lain."


"Darimana mama tahu, mama belum baca suratnya"


"Karena mama yang menyuruh paman Deep kesana"


"Nanti kalau Lucio sudah besar, Lucio juga mau bekerja dikota lain. Seperti paman Deep"

__ADS_1


"Kenapa? Tidak mau bersama mama?"


"Biar nanti Lucio bisa kirim surat untuk mama juga, seperti paman Deep" katanya sambil tersenyum membayangkan.


"Ha...ha.... iya..nanti Lucio kirim surat pada mama ya. Sekarang kita belajar lagi sebelum kakek Shine menjemput untuk latihan"


"Iya mama" kata nya dengan wajah serius.


Louisa tersenyum melihat wajah putera nya.


..."Selain rambut dan matanya, semua seperti cetak biru dirimu Peter. Hanya sekali lihat, orang akan langsung tahu jika Lucio adalah puteramu. Adakah kau merasakan kehadirannya?" batin Louisa....


"Kenapa mama melamun, apa mama sakit? Atau mama rindu paman Deep? Kirim surat saja ma, suruh paman Deep pulang jika mama rindu"


Louisa terbengong mendengar apa yang disampaikan Lucio.


Margaret yang hendak masuk kedalam ruang belajar, mendengar apa yang dikatakan Lucio terkejut sesaat sebelum tertawa terbahak-bahak.


"Ha...ha...ha..." tawanya pecah tidak berhenti-henti. Setelah ia sedikit lebih tenang..


"Dengar itu Lorine, kirim surat jika rindu. Begitukan pangeran?" katanya sambil memasuki ruangan.


"Nenek Margaret.."


"Iya sayang ku. Belajarlah..."


"Siap nenek" kata nya dengan serius.


"Belajar apa tadi?"


"Ini lambang lambang yang dipakai di kerajaan Gordon. Mama bilang aku harus kenal gambar lambangnya dengan baik agar kelak saat jadi raja, tidak melakukan kesalahan"


"Rajin sekali cucu nenek. Sekarang lanjut belajarnya, nenek tidak akan mengganggu"


"Iya" kata Lucio kemudian melihat kembali buku tebal yang ada dihadapannya.


Margaret melihat kearah Louisa.


"Belum ada kabar dari Deep?"


"Sudah ibu. Ini suratnya baru sampai"


"Jadi kamu memikirkan apa?"


"Lucio... mengapa mereka begitu mirip?" kata Louisa lirih.


"Sayang, namanya ayah dan anak, sedikit banyak pasti ada kemiripan. Bukankah itu hal yang wajar?"


"Tapi apakah dia akan mengenal puteranya sendiri?"


"Jika ia tidak bisa mengenal puteranya sendiri, ia tidak pantas disebut seorang ayah"


*****


Diistana Gordon.


"Hachii... hachiii... kenapa aku bersin bersin. Perasaan aku tidak flu" kata raja Peter.


"Itu tandanya ada yang sedang membicarakan Yang Mulia" kata tangan kanannya acuh tak acuh sambil meneruskan pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2