
Setelah puas menangis, Louisa duduk disamping kakek Bruswick. Memegang erat lengannya dan kepala disandarkan pada bahu pria tua itu.
"Kamu sekarang seorang ibu, tapi di mata kakekmu ini, kamu tetaplah bayi kecil kami. Maafkan kakek terlalu lama pergi meninggalkanmu.."
"Kakek..."
"Tidak usah bicara, Reneisme sudah menceritakan semuanya. Juga tentang Lucio puteramu, Ren sudah menceritakannya..."
"Jangan lagi menyalahkan masa lalu. Segala sesuatu ada sebab akibatnya. Kamu sudah bicara dengan leluhur Kendrick, tentang jiwamu dan Lorine?"
"Sudah, kakek"
"Kakekmu Franklin pasti juga sudah pernah berbicara tentang kondisi kesehatan Peter yang buruk, bukan?"
"Iya"
"Tapi mungkin tidak terpisahkan oleh beliau alasan mengapa justeru diperpisahanmu dengan Peter justeru kalian mendapat anugerah seorang putera. "
Louisa memandang wajah kakeknya.
"Alasannya sederhana Louisa, karena Lorine bukan pemilik tubuh yang asli. Jadi saat jiwamu kembali, saat itulah puteramu hadir. Jadi maafkanlah Peter.. dan Anita"
"Sudah jauh jauh hari kakek. Sebenarnya terkadang aku merasa bersalah kepada Lucio, tidak bisa memberikan keluarga yang utuh kepadanya. Dia dipaksa dewasa sebelum waktunya, dipaksa mengerti keadaan orang tuanya. Walaupun ia terlihat baik-baik saja, tapi saat membicarakan tentang ayahnya, jelas terlihat kerinduan dimatanya. Apalagi saat melihat hubungan Lark dan puteranya, jelas terlihat ada rasa iri yang kentara dimatanya"
"Jadi apa rencanamu? Kamu mau kembali kepada Peter?"
"Hah, aku belum pernah terpilih tentang diriku sendiri. Aku hanya berencana, mengantarkan Lucio kembali ke Gordon setelah berusia lima belas tahun"
"Setelah diantar ke istana Gordon, apa kamu ingin melepaskannya begitu saja?"
"Aku belum tahu, kakek. Apakah aku tetap mendampinginya untuk sementara, atau melepaskan dia sepenuhnya dibawah pengawasan ayahnya. Atau mengaturkan seseorang agar menjadi pendampingnya"
"Louisa, apakah kamu tidak terpilih untuk menikah lagi?"
"Tidak kakek "
"Dengarkan kakek, sayangku. Kakek sudah beberapa hari tinggal di Hinom. Berbicara dengan kakek dan nenekmu. Bicara dengan ayah dam ibumu. Intinya mereka berharap jika kau akan menikah lagi walaupun tidak mengatakannya secara langsung"
"Tapi kakek..."
"Terutama ayahmu. Kakek kira, kamu paling mengenal sifat ayahmu. Ayahmu, pria berhati paling baik yang kakek kenal. Bahkan kakek tidak sebaik ayahmu. Pria yang tidak pernah menuntut apapun untuk dirinya sendiri. Selalu memikirkan yang terbaik untuk orang disekitarnya."
"Iya, ayah memang seperti itu"
__ADS_1
"Ayahmu berkata, harapannya saat Lucio diantar ke istana Gordon, kamu kembali menjadi seorang permaisuri Gordon. Walaupun Peter menyakitimu dengan penghianatannya, ayahmu berharap Lucio bisa mengembalikan rasa cinta dan kasih sayang diantara kalian. Apalagi ayahmu tahu jika Peter sudah sangat menyesali perbuatannya"
Louisa termangu mendengar penuturan kakeknya. Tidak pernah ada dibayangannya, jika ayahnya Jendral Lucky punya harapan seperti itu.
"Pikirkan pelan pelan.. Walaupun ini harapan ayahmu, tapi kembali kamulah yang akan menjalaninya. Mungkin ayahmu hanya kwatir. Kamulah satu satunya Puteri mereka. Kami sudah tua, tidak tau kapan waktunya beralih dunia. Bila saatnya tiba, kami hanya berharap kamu tidak sendirian. Ada bahu tempatku bersandar. Kamu memang ada sepupu Lark, tapi ia juga punya keluarganya sendiri. Atau anak buahmu, tapi kamu sendiri yang menginginkan agar mereka berumah tangga."
"Aku mengerti kakek. Akan kupikirkan baik baik. Tapi untuk saat ini, aku hanya ingin fokus menghadapi bencana kemarau."
"Bukankah persiapan panganmu sudah sangat baik?"
"Sebenarnya masih ada yang menjadi beban pikiran kakek. Light dan Shadow tidak bisa membantu. Tapi mungkin kakek bisa" kata Louisa penuh harap.
"Apa itu sayang?"
"Sayuran hijau. Selama ini solusi yang kami buat adalah dengan cara mengasinkannya. Itu memang tahan lama tapi tidak segar. Mungkinkah kakek ada cara lain ?"
"Hmm... ada beberapa mantera yang bisa digunakan. Tapi tidak bisa untuk gudang besar. Dan setiap beberapa minggu, manteranya harus dibuat ulang serta manteranya bersifat sekali pakai. Jadi begitu gudang dibuka, harus dibuat mantera baru "
"Apakah manteranya bisa dibuat di gulungan kertas?"
"Tentu. Nanti kakek mengajarkan pada Light dan Shadow cara membuatnya. Karena pembuat kertas mantera ini harus tetaplah seorang perapal mantera "
"Terima kasih kakek. Kakek datang sendiri? Nenek dimana?"
"Iya, aku memang mengirim pesan pada ayah"
"Mengapa kakek sangat lama di benua barat ? Apakah ada masalah?"
"Iya. Ada masalah di keluarga Bruswick kita. Semacam penyakit keturunan ...." katanya dengan senyum.
"Penyakit apa kakek?" tanya Louisa heran
"Tidak ada yang mau menjadi pemimpin. Selama ini pamanmu yang memegang pimpinan keluarga, tapi karena kesehatannya menurun jadi dia ingin beristirahat. Karena itulah seluruh keluarga diundang pulang. Tapi tidak ada yang berminat mengambil jabatannya."
"Jadi sekarang bagaimana ?"
"Kamu tidak akan percaya Louisa, jika sekarang pimpinan keluarga Bruswick adalah seorang anak berusia lima tahun. Ha....ha...." kata Tuan Bruswick sambil tertawa.
"Ha... bagaimana...bisa..?"
"Dia keponakanmu. Cucu pamanmu.. Begitulah keputusan keluarga besar jadinya. Huh..." katanya dengan sedikit rasa lelah terlihat dimatanya.
"Bagaimana..."
__ADS_1
"Sepupumu yang merupakan ayahnya menjadi asisten, dan pamanmu menjadi gurunya.."
"Mengapa bukan sepupu?"
"Ia tidak punya sifat kepemimpinan Louisa. Tapi ia mau bekerja. Saat ini, itu saja sudah cukup"
Mereka terus bercerita sampai sebuah suara terdengar memanggil..
"Mama... sarapan sudah siap..!"
Louisa menoleh, demikian juga Tuan Bruswick dan Reneisme.
"Nenek Reneisme anda disini juga? Apa kabar? Dan ini..."
Tuan Bruswick dan Louisa berjalan mendekati Lucio.
"Lucio beri salam pada kakek buyut Bruswick" kata Louisa
Lucio sedikit terkejut.
"Salam kenal kakek buyut. Perkenalkan saya Lucio Patrick Valley Henry. Mama dan nenek sering bercerita tentang anda, tapi baru ini kita bertemu. Senang bertemu keluarga baru lagi" katanya dengan sikap sopan.
"Ha...ha..." kata Tuan Bruswick dengan tertawa.
Sesaat kemudian dia mengangkat tubuh Lucio tinggi tinggi membuat Lucio sedikit tersentak tapi juga sangat senang.
"Cicitku sangat tampan... Louisa tidakkah kau bangga melihat puteramu ini? Ia akan menjadi bintang paling terang disepanjang sejarah Gordon... aku telah melihatnya... aku telah melihatnya... ha...ha..." katanya sambil membawa Lucio berputar putar.
"Ha...ha... "Lucio juga tertawa.
Reneisme dan Louisa hanya tersenyum melihat keduanya.
"Tuan, kita sarapan dahulu.." kata Reneisme mengingatkan.
"Iya..." katanya sambil menggendong Lucio.
"Sejak kapan Tuan muda ini menjadi kecil kembali sehingga harus digendong pulang?" sindir Louisa.
"Sejak kapan mamaku yang terkenal kuat, berani dan bijaksana menangis seperti anak kecil?" jawabnya membalas Louisa membuat Louisa dan Reneisme terkejut.
"Darimana Tuan muda ini tahu mama tadi menangis?" tanya Louisa
"Dia sebenarnya tadi sudah datang, tapi melihatmu menangis, dia kembali lagi karena tidak mau mengganggu" kata Tuan Bruswick
__ADS_1