Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Mimpi yang aneh


__ADS_3

Shadow turun dengan perlahan. Penuh konsentrasi karena harus sambil merapal mantera. Pecah konsentrasi sedikit ruang goa itu akan hancur.


Dalam keadaan normal, atau jika dalam keadaan pertempuran Shadow yang merupakan perapal energi angin, dapat membuat tubuhnya melayang diudara. Tapi itu akan menyebabkan keadaan sekitarnya menjadi kacau karena besarnya tekanan angin yang seperti tornado.


Jika Louisa merapal mantera tornado untuk mengangkat dan membanting lawan, berbeda dengan Shadow yang menggunakannya untuk mengangkat tubuhnya sendiri dan membawa angin itu bersamanya. Seolah olah di adalah tornado itu sendiri.


Karena mereka berada diruang tertutup yaitu goa, agar tidak hancur Shadow membutuhkan bantuan Light yang merupakan perapal cahaya untuk menyeimbangkannya kekuatannya.


Begitu menapak kaki didasar goa, Shadow segera bergerak menuju ke arah Louisa. Sejenak ia memejamkan mata mengukur kekuatan dasar goa. Ia tidak mau bertindak gegabah, yang mungkin akan menyebabkan petaka selanjutnya.


"Nona...nona Louisa" kata pelan memanggil Louisa.


Ia memeriksa keadaan Louisa sekilas. Setelah melihat tidak ada tanda tanda luka, ia mengambil botol obat yang sebelumnya diberikan oleh Light.


Mengeluarkan isinya dan mengoleskannya dikedua kening Louisa. Kemudian mengambil botol yang satu lagi dan didekatkan kearah hidung Louisa.


"Ketua...ketua bangun. Anda harus bangun..." katanya lagi sambil menepuk lengan Louisa dengan pelan.


"Shadow, bagaimana keadaannya?" terdengar teriak Shine dari atas.


"Ketua hanya pingsan, mungkin karena terkejut. Tapi sejauh ini keadaannya baik baik saja, tidak ada luka!" jawab Shadow yang juga berteriak.


" Jaga ketua, tunggu kami turun!" teriak Shine lagi.


Bagaimanapun dialah penanggung jawab utama keselamatan Louisa. Dan baginya Louisa sudah seperti anak sendiri. Jika Louisa benar benar dalam keadaan bahaya maka akan sangat banyak orang yang harus dihadapinya mulai kakek Bruswick, keluarga Valley bahkan mungkin seluruh rakyat Kerajaan Lembah Angin.


Bahkan mungkin Raja Peter juga, karena Shine tahu diam diam Raja Peter selalu mengawasi keadaan Louisa terutama setelah berita Louisa menolak lamaran dari beberapa raja dan pangeran kerajaan lain.


******


Marco dan dua anggota Climb naik keatas goa secepat yang mereka bisa. Setelah mengambil tali yang telah dibuat seperti tangga gantung yang panjangnya sepuluh meter, mereka memastikan tali itu sudah diikat dengan benar benar baik.


Tugas terberat adalah melepas tali sebelumnya yang telah terikat pada tiang pancang dan memasang tali baru serta memastikan jika telah diikat dengan benar. Sebab keselamatan mereka saat turun dan naik kembali tergantung pada kekuatan tali itu.


"Coba dites.." kata Marco.


Kedua orang itu berusaha menariknya dengan sekuat tenaga, setelah dipastikan tidak terlepas baru tangga tali dilepaskan turun masuk kedalam goa.


"Ok.. kita turun" kata Marco sambil membawa dua bilah besi untuk dijadikan tiang pancang didalam goa.


"Senior, ini talinya dan ini kami juga membawa dua besi untuk jadi tiang pancangnya." kata Marco pada Shine.


"Bagaimana Climb. Apa bisa kita pasang tiang pancang?" tanya Shine.


"Biar aku periksa sebentar" katanya berjalan sambil mengetuk ngetuk lantai goa.


"Disini, memang cukup jauh. Tapi disini posisi paling aman."

__ADS_1


Akhirnya mereka memasang tiang panjang ditempat yang disarankan Climb. Setelah dirasa cukup, talipun diikat dan tangga tali diturunkan.


Light turun dengan tidak sabar. Begitu kakinya menyentuh dasar goa, dia dengan tergesa berjalan kearah Louisa.


"Ketua..ketua.." panggilnya pelan sambil menepuk pipi Louisa pelan.


Louisa tidak bergeming, belum ada tanda tanda ia segera sadar dari pingsannya.


Light memeriksa tubuh Louisa lebih seksama. Setelah merasa cukup dan tidak menemukan sesuatu yang--o membahayakan nyawa Louisa, b-----aru Light bisa bernapas lega.


"Bagaimana keadaan ketua?" tanya Shine yang sudah mendekati mereka.p


"Kurasa ketua syok hingga pingsan. Selebihnya tidak apa apa. Tapi jika setengah jam lagi ketua tidak bangun, aku menggunakan mantera juntuk menariknya keluar dari sana."


"Baiklah kita akan menunggu"


Sambil menunggu Louisa siuman, mereka memeriksa keadaan goa tersebut. Setengah jam telah berlalu, tapi Louisa belum juga tersadar. Tidak ingin mengambil resiko, akhirnya Light merapal mantera untuk membangunkan Louisa.


"volte para a luz...volte para a luz..." rapal Light berulang ulang sambil menempelkan telapak tangannya dikening Louisa.


Tampak cahaya putih keemasan berpendar ditelapak tangannya.


*****


Saat lantai goa retak dan ambruk, Louisa tidak bisa merasakan pijakan pada kakinya, secara reflek tangannya berusaha menggapai apapun yang ada disekitarnya. Tapi lantai yang menjadi pegangannya turut ambruk membawa Louisa ikut jatuh.


Ntah kenapa, Louisa merasa pernah mengalami hal ini. Jatuh dari suatu tempat yang cukup tinggi.


..."Apakah waktu Lorine jatuh dari atas balkon istana? Bukan, itu lebih dari sekedar balkon. Itu lebih tinggi lagi" pikirnya sambil memejamkan mata....


..."Saat dibunuh Jhon Muel dan didorong ke dalam jurang? Hampir sama tapi berbeda" bantahnya sendiri....


Tapi sesaat ia seperti dibawa kesuatu peristiwa. Seorang wanita paruh baya nampak membujuk seorang wanita muda yang mencoba bunuh diri dengan melompat kedalam tebing.


..."Louisa, tolonglah nak. Ibu mohon, jangan menyerah"...


..."Maafkan Louisa ibu.. Aku tidak bisa menerimanya. Ia menuduhku berselingkuh dengan pria brengsek itu . Dan wanita sialan itu menyebarkannya ke masyarakat. Padahal mereka bekerja sama, pria brengsek itu sahabat wanita sialan itu"...


..."Ia melakukannya untuk membuatmu malu. Tapi lambat laun orang orang pasti menyadarinya"...


..."Semua sudah terlambat ibu. Aku tidak mau lagi. Suamiku sebenarnya tahu ibu, jika itu hanyalah kebohongan. Tapi ia pura pura tidak tahu untuk menutupi perselingkuhannya dengan wanita sialan itu"...


..."Nak, dengarkan kata peramal itu. Kau harus merelakannya agar kau bisa bahagia"...


..."Tidak ibu, dikehidupan yang akan datang akan kubalas perbuatan mereka semua. Itu sumpahku demi langit dan bumi" kata wanita itu sambil melompat kearah tebing....


..."Louisa!! Kau harus merelakannya!!"teriak wanita paruh baya itu....

__ADS_1


Louisa tersentak kaget melihat itu, apa lagi wanita yang melompat ketebing itu wajahnya sangat mirip dengannya. Tapi wajah wanita paruh baya itu entah kenapa tidak bisa diingatnya dengan jelas.


Hanya kata kata wanita paruh baya itu terngiang di telinganya.


"Aku telah merelakannya ibu.." katanya tanpa sadar.


Pandangannya tiba tiba terasa gelap. Tapi samar samar ia bisa mendengar suara memanggil manggilnya.


"Ketua..ketua...."


Ia seperti kehilangan arah, sampai melihat sebuah cahaya. Ia berlari mengejarnya dan perlahan ia merasa ada yang menepuk pipinya pelan.


"Ketua... sadarlah. Tuan muda Lucio menunggu anda" kata seorang


"Lucio...anakku" kata Louisa sambil membuka matanya dan melihat tujuh orang mengelilinginya dan memandangnya dengan cemas.


"Syukurlah anda sudah bangun" kata Light sambil membantu Louisa duduk.


Ia mengambil air minum dan memberikannya pada Louisa.


"Adik kecil, kau membuat jantungku copot. Kau harus bertanggung jawab" kata Climb yang diikuti tawa yang lain.


"Kakak, kalau jantungmu sudah copot tinggal dipasang lagi. Dimana kakak tadi meletakkannya biar kujahitkan" balas Louisa.


"Sudah... bagaimana keadaan ketua? Apa ketua sanggup naik keatas?" tanya Shine.


"Aku sudah lebih baik. Kukira aku masih sanggup memanjatnya" kata Louisa.


"Ketua jika tidak sanggup nanti aku bantu" kata Light.


"Terimakasih Light. Tapi aku baik baik saja."


Mereka segera naik keatas permukaan. Hari telah siang, mereka memutuskan memakan bekal makanan yang telah dibawa dari Rock city.


"Sekarang kita kemana? Ke Rock city atau langsung ke Hilton?" tanya Shine.


"Kita singgah ke rumah kepala desa dahulu. Mungkin beberapa hari ini akan datang beberapa prajurit untuk mengamankan bukit ini, agar tidak dimasuki orang secara sembarangan."


"Prajurit dari mana ketua?" tanya Marco.


"Dari Hinom. Sewaktu di Rock city kemarin aku sudah mengirim pesan kepada ayah agar mengirim satu komandan lengkap untuk pengamanan disini"


"Apa penjaga kota saja tidak cukup ketua?" tanya Shadow.


"Nanti juga ada penjaga kota jika proyek pertambangan sudah dimulai"


"Baiklah kita berangkat sekarang" kata Shine.

__ADS_1


Mereka bergegas menunggangi kudanya masing masing menuju pemukiman desa Tov.


__ADS_2