Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Persiapan Pertunangan (1)


__ADS_3

Di desa Alma


"Tuan muda Lucio... Cepat bangun. Kita akan ke rumah kakek buyut" kata Louisa membangunkan puteranya.


"Ngantuk ma. Bentar lagi Cio tidurnya.."


"Nanti mama tinggal ya. Cio disini saja sama ibu Jen ya.."


"Ngga mau. Cio ikut"


"Kalau tuan muda mau ikut, cepat bangunnya. Kakek Shine sudah menunggu di depan" kata Reneisme yang menyusul ke kamar Lucio.


"Nenek Ren.. Iya tuan muda ini bangun."


"Nona bersiap saja. Tuan muda biar saya yang urus."


"Baik ibu Ren. Aku bersiap dahulu" kata Louisa keluar dari kamar Lucio.


Setelah bersiap beberapa menit, akhirnya Louisa, Lucio dan Reneisme keluar dari rumah. Di depan rumah telah menunggu sebuah kereta kuda untuk mereka.


"Jen, kami pergi dahulu. Semua urusan disini aku serahkan kepada mu. Jika terjadi sesuatu ingat langsung beri kabar ke Hinom"


"Baik nona. Nona.."


"Ada lagi?"


"Aku titip surat..." kata pelayan Jen sambil menyerahkan sebuah gulungan surat kepada Louisa.


"Untuk George kan? Nanti aku sampai kan langsung ke dia"


"Terimakasih nona"


"Sama sama" kata Louisa sambil naik keatas kereta kuda.


Kereta mulai bergerak lambat selama berada di lahan pertanian. Tapi begitu keluar dari kompleks kawasan pertanian kereta kuda itu bergerak lebih cepat.


Hari masih pagi pagi benar. Matahari masih terlihat malu malu di balik gunung Awan. Warga desa terlihat satu satu sudah keluar rumah. Ada yang sekedar duduk duduk di depan pintu rumah. Ada juga berjalan ke warung untuk membeli sesuatu.


Menjelang hari siang kereta kuda memasuki kota Hinom. Kereta kuda terus berjalan menuju kawasan istana Lembah Angin.


Kompleks istana Lembah Angin memiliki wilayah yang luas. Di bagian depannya merupakan bangunan istana dan alun alun kerajaan. Sementara, di bagian belakangnya terdapat berbagai area pelatihan.


Mulai dari area pelatihan prajurit kerajaan dan pengawal kota yang lengkap dengan baraknya, area pelatihan pengobatan dasar, juga beberapa pelatihan khusus seperti pelatihan administrasi kerajaan, kerajinan dan lain sebagainya.


Sementara di kawasan terlarang istana, tidak ada bangunan baru. Yang ada hanya pengalihfungsian beberapa bangunan yang sebelumnya tidak begitu berguna. Jadi walaupun ada pelatihan pengobatan tingkat menengah dan tingkat tinggi yang baru beberapa bulan dilakukan, tidak mengubah susunan bangunan yang ada di kawasan terlarang.


Kereta kuda terus melaju melewati kawasan istana, dan terus masuk ke kawasan terlarang. Dan berhenti tepat di depan rumah leluhur.


Nenek Eliz yang sudah menunggu mereka dari pagi tersenyum sumringah menyambut kedatangan mereka.


"Cucu kecilku, selamat datang. Nenek buyut ini sangat merindukan mu"


"Nenek buyut. Lepaskan Cio...Cio sudah besar. Malu dilihat orang"

__ADS_1


"Apa..! Ha...ha... Cio sudah besar ternyata. Nenek buyut lupa. Cio ada rindu atau tidak pada nenek buyut?"


"Rindu. Sama kakek buyut juga" katanya sambil tersenyum.


"Ayo kita jumpai kakek buyut..." kaya nenek Eliz sambil menuntun Lucio masuk kedalam rumah.


******


Malam harinya .


"Paman, bibi, sepupu kalian sudah datang. Ayo masuk." sambut Louisa melihat kedatangan keluarga Landen.


"Kapan kalian sampai, Lorine?" tanya bibi Sofia.


"Tadi siang bibi. Cuma tadi belum sempat ke istana, karena langsung beristirahat"


"Tidak apa-apa, sayang. Yang penting kita sudah bertemu"


"Jangan ngobrol saja. Ayo duduk, biar kita makan bersama. Sudah lama kita tidak makan bersama" kata kakek Franklin.


"Sayangnya Margaret tidak ada. Kalau tadi ada, lengkap sudah" kata nenek Eliz menimpali..


"Memang kakak Margaret belum pulang kak?"


"Belum. Mungkin empat atau lima hari lagi" jawab Lucky


"Memang nya ibu pergi kemana ayah?" tanya Louisa


"Memang nya ada masalah apa disana Lucky?"


"Manager yang di Agriweba meninggal dua bulan yang lalu. Jadi posisi manager kosong. Selama ini posisi digantikan oleh putra keduanya yang memang telah banyak membantu sebelum manager itu meninggal."


"Berarti tinggal mensahkan posisi nya saja kan? Berarti bukan hal yang berat"


"Tapi masalah nya sekarang putera tertua dan putri ketiganya menginginkan posisi itu. Padahal sebelumnya ayah mereka meninggal, mereka sama sekali tidak peduli pada rumah makan itu"


"Kadang kadang hanya karena harta dan kekuasaan kita melupakan persaudaraan. Sudah kita makan dahulu, nanti lagi mengobrolnya, sebelum makanan nya dingin." kata nenek Eliz menengahi obrolan itu.


Akhirnya mereka makan bersama dengan gembira.


******


Di kota Agriweba.


"Memang nya tuan muda pertama pernah menjalankan rumah makan dan penginapan?" tanya Margaret pada pria berbaju merah itu.


"Rumah makan memang belum pernah Nyonya. Tapi saya biasa berdagang. Saya kira tidak akan jauh berbeda"


"Memang jika mau belajar pasti akan bisa. Tapi itu akan membutuhkan waktu. Sementara saya tidak punya waktu bolak balik Hinom dan Agriweba hanya untuk mengontrol manajer baru"


"Tentu anda tidak perlu bolak balik nyonya. Nanti setiap bulan saya akan mengirimkan laporan ke kota Hinom"


"Haih...kamu tidak mengerti maksudku. Begibi saja, kamu sebelumnya berdagang apa?"

__ADS_1


"Saya membuka toko kain dan pakaian nyonya. Tapi keadaan belakangan ini tidak begitu bagus. Harga kain sutera yang menjadi komoditi utama kami, naik dengan harga tinggi. Jadi sangat sulit bagi kami memperoleh barang untuk dijual"


"Hmn ..jadi disana persoalan nya. Jika boleh jujur, jika anda diminta memilih antara menjalankan rumah makan atau berdagang kain seperti sebelumnya. Mana yang akan anda pilih"


"Saya tentu memilih berdagang kain Nyonya. Tapi saat ini sangat sulit mendapatkan Kain sutera dari kerajaan Kite yang menjadi pemasok kami selama ini. Makanya saya meminta kepada adik ke dua agar saya saja yang mengelola rumah makan ini"


"Jika anda berlaku seperti itu, tentu saja tuan muda kedua menolaknya. Sama seperti anda yang bertahun-tahun berdagang kain, adik anda selama bertahun-tahun membantu ayah kalian mengelola rumah makan dan penginapan ini."


"Saya tahu ini tidak adil untuk nya, tapi saya punya tanggung jawab Nyonya. Ada isteri dan tiga anak kami yang harus saya biayai hidupnya . Sedangkan adik kedua, dia masih lajang"


"Itu tetap bukan alasan. Baiklah, saya punya solusi untuk anda. Anda tetap berdagang kain sutera. Pemasoknya dari kerajaan Lembah Angin. Kualitas kain sutera Lembah Angin tidak kalah dari kain sutera kerajaan Kite. Saya akan mengurus semuanya untuk anda. Bagaimana?"


"Tentu saja saya mau Nyonya. Terimakasih"


"Nanti biar orang orang saya yang menghubungi anda, tuan muda pertama"


"Terimakasih Nyonya"


"Sekarang tolong panggil adik ketiga anda kemari"


"Segera saya panggil kan Nyonya" kata tuan muda pertama itu dan keluar ruangan.


Tidak berapa lama, seorang perempuan berpakaian mewah memasuki ruangan itu.


"Salam Nyonya Margaret"


"Salammu saya terima Selin. Duduklah"


"Terimakasih Nyonya"


"Saya langsung saja ke intinya. Ayah kalian merupakan orang kepercayaan ku. Jauh jauh hari dari kalian bertiga, beliau paling mengkuatirkan mu. Beliau pernah memohon, jika suatu saat nanti beliau tidak ada lagi, maka saya yang harus menjaga mu sampai kamu menikah"


"Ayah berpikir seperti itu?" gumamnya pelan


"Iya, beliau berkata begitu. Disini kamu tidak ada pekerjaan, bagaimana pun manager rumah makan ini kupercayakan kepada kakak keduamu. Jadi Selin, kamu ikut aku ke Hinom. Aku baru membuka sebuah toko cendramata disana. Aku ingin kamu mengelola nya. Apa kamu mau?"


"Toko cenderamata? Aku mau Nyonya" katanya penuh semangat.


"Jika begitu, segera bersiap. Kita berangkat besok pagi-pagi benar"


"Kenapa kita begitu terburu buru Nyonya?"


"Keponakanku akan bertunangan, tugasku menyediakan hadiah yang akan dibawa kepada pihak perempuan. Aku sudah sangat terlambat karena waktunya tidak banyak lagi"


"Jika boleh tahu, Siapa pihak perempuan nya Nyonya?


"Istana kerajaan Fatma"


"Seorang putri raja..?"


.


.

__ADS_1


__ADS_2