Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Alasan Diba Renzo 4


__ADS_3

Setelah selesai berbicara dengan Diba Renzo, Raja Peter segera menjumpai Pangeran Niko dan Count Desmo. Terlihat jejak lelah dan sedih dimatanya.


"Pangeran Niko, Count Desmo pembicaraanku dengan Diba Renzo telah selesai. Hubungan pribadi antara kami juga telah selesai. Silahkan kalian meneruskan untuk mencari tahu penyebab perubahan Diba. Aku tidak menemani kalian karena masih ada urusan lain. Setelah kalian selesai, prajurit akan mengantarkan kalian kekediaman kalian selama berada di istana Gordon" kata Raja Peter


"Baik Yang Mulia"


"Sampai jumpa saat jamuan makan malam." kata Raja Peter kemudian pergi dari sana diikuti beberapa prajurit pribadinya.


Count Desmo dan pangeran Niko memandang kepergian Raja Peter dengan iba.


"Ia sudah mengorbankan pernikahannya dengan permaisuri Lorine. Tapi yang didapatkannya hanya kebohongan yang pahit" kata Pangeran Niko


"Setidaknya ia masih memiliki dua selir lain disisinya" kata Count Desmo


"Walaupun tidak satupun setara dengan permasuri Lorine" lanjut Pangeran Niko lagi


"Mungkin nanti mereka bisa bersama kembali. Itu yang kudengar yang disampaikan leluhur tertinggi Kendrick kepada Yang Mulia Raja Clould " kata Count Desmo


"Permaisuri Lorine tidak akan mau. Dia sudah memiliki kerajaan Lembah Angin disisinya" bantah Pangeran Niko lagi


"Belum tentu. Sepertinya ada semacam rahasia antara leluhur Kendrick dengan Permaisuri Lorine yang bahkan Raja Peter pun tidak tahu"


"Menurut paman begitu?"


"Iya. Tapi sudahlah, ayo selesaikan urusan kita. Kita melihat dahulu Diba. Mungkin ia mau berbicara mengapa ia membunuh puteraku"


"Ingat apa yang dikatakan leluhur Kendrick. Mungkin patut kita coba"


"Tentang orang tuanya?"


"Iya."


"Baiklah"


Mereka mendekati pintu masuk istana sunyi.


"Pangeran Niko dan Count Desmo dari Kerajaan Kite tiba..." seru prajurit penjaga istana sunyi


.


.


Saat mendengar apa yang dikatakan Raja Peter, luruh seluruh tubuh Diba Renzo. Ia merosot di kursinya dengan lemah, lemah seolah tubuhnya tidak mempunyai tenaga sama sekali bahkan untuk sekedar menopang badannya.


Ia menangis terisak. Baru kali ini ia menyesal dengan sikapnya kepada puterinya sendiri.


Menyesal karena sikap impulsif dan cemburunya yang berlebihan terhadap orang orang disekitarnya. Iya, sebenarnya ia iri kepada semua orang. Iri melihat orang bahagia sehingga ia berulang kali menyebarkan racun infertilitas dipersediaan air minum kedua selir lainnya.


Ia menyesal merencanakan penyerangan kepada ibu suri Anita hanya karena cemburu keberpihakan ibu suri Anita terhadap selir utama Natasha.


Kegembiraan yang tidak pada tempatnya.


"Seharusnya aku sudah cukup puas atas perhatian dan kasih sayang Raja Peter kepadaku. Kenapa rupanya jika ibu suri tidak menyukaiku, tapi Yang Mulia menyayangiku. Atau kenapa aku cemburu kepada puteri kandungku sendiri, sedangkan Yang Mulia bahkan tidak mempermasalahkan Autum bujzn darah dagingnya."

__ADS_1


"Aku sungguh sangat buruk.. sangat buruk sebagai manusia sehingga tidak mampu melihat kebaikan disekelilingku. Hiks...hiks..." tangisnya pelan.


Tiba tiba ia mendengar prajurit penjaga berseru


"Pangeran Niko dan Count Desmo dari Kerajaan Kite tiba..."


Ia tersentak kaget.


"Habislah semua.. Mungkin langit benar benar ingin menghukumku sekaligus atas semua perbuatanku" katanya lirih.


Ia melirik sekeliling istana sunyi.


Walaupun namanya istana, itu tidak lebih dari sebuah penjara dengan ukuran yang layak untuk tempat tinggal. Satu kamar tidur, satu kamar mandi dan ruang utama yang juga berfungsi sebagai ruang tamu.


Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Dan walaupun ada pintu belakang yang menghadap ke taman kecil berukuran dua meter, ia tetap tidak bisa melangkah satu langkahpun keluar dari pintu.


Bukan ia tidak pernah mencoba, tapi begitu ia mencoba melangkahkan kakinya, ia seperti menabrak tembok tidak kasar mata.


Saat ia masih sibuk dengan pikirannya terdengar langkah kaki memasuki ruangan.


"Apa kabar Diba?" terdengar suara Count Desmo


"Ayah..." jawab Diba Renzo pelan.


"Kau terlihat kurang sehat.."


"Aku kesulitan tidur, ayah"


"Hmm..."


"Ayah hanya datang berdua dengan pangeran kedua ?"


"Tidak . Ibumu ikut"


"Dimana..?"


"Sedang bersama cucunya, puterimu"


"Autum"


"Iya. Diba katakan sebenarnya ada apa denganmu dan Eton? Apakah dia pernah berbuat jahat padamu sehingga setara dengan kematian?"


Diba Renzo diam, tidak menjawab. Ia hanya memandang meja yang ada didepannya dengan pandangan yang sulit dimengerti.


"Apakah kau tidak mencintainya?"


"Aku mencintainya" jawabnya singkat.


"Jika begitu, mengapa?"


Diba Renzo kembali terdiam.


"Apakah kau membencinya?" kali ini Pangeran Niko yang bertanya

__ADS_1


"Iya"


"Kamu mencintai sekaligus mencintainya?" tanya Count Desmo bingung


Lagu lagi Diba Renzo diam


"Mengapa kau membencinya?" tanya Pangeran Niko lagi.


"Karena ia berasal dari keluarga pembunuh..!" teriak Diba Renzo tiba tiba.


Reaksinya yang berubah tiba-tiba membuat Count Desmo dan pangeran Niko terkejut.


"Apa kau bilang?" tanya Pangeran Niko. Karena ia merasa jika Diba tidak mau berbicara dengan Count Desmo.


"Karena Eton berasal dari keluarga pembunuh. Keluarga Count Enland sudah membunuh kedua orang tuaku. Jangan kalian pikir aku tidak tahu. Walaupun aku tidak bisa membunuh orang tua itu setidaknya aku berhasil membunuh salah satu cucunya. Itu bayaran yang murah atas perbuatannya..!!" teriaknya lagi


Plak..


Plak..


Dua tampar melayang di wajah Diba Renzo. Pelakunya Countess Rery yang datang tiba tiba.


"Dasar manusia tidak tahu balas budi. Sifatmu persis seperti ibu dan nenekmu. Sejak awal, aku sudah tidak senang dengan hubunganmu dengan puteraku. Sama saat Ayah mertua menikahkan Renzo ku dengan perempuan iblis itu. Aku sudah tidak senang. Tapi tidak ada yang mendengar suaraku. Dasar brengsek.. Hiks... hiks...puteraku... bibi mataku.." isaknya dengan sedih.


"Bibi, tenanglah..." bujuk Pangeran Niko


"Pangeran.. kedua orang itu telah pergi. Keduanya telah mati.. mati Pangeran.. hiks.. dibunuh orang yang mereka cintai...hiks...hiks... puteraku... bibi mataku..." ratapnya sedih.


Diba Renzo tertegun. Ia memegang wajahnya..


"Renzo kan nama ayahku.." pikirnya. "Bukankah ia mati dibunuh count Enland?"


"Siapa yang membunuh ayahku?"


"Ibumu perempuan iblis..!" teriak Countess Rery


"Paman, bawa bibi keluar dahulu. Agar bisa menenangkan diri. Biar aku yang melanjutkan" kata pangeran Niko


"Baik Pangeran. Ayo sayang, tidak baik terlalu marah. Itu buruk untuk kesehatan dan kecantikanmu" bujuk Count Desmo


Countess Rery berjalan sambil sesekali terisak.


"Tadi kamu berjumpa dengan cucu kita?" tanyanya mengalihkan perhatian Countess Rery


Mendengar itu, Countess Rery tersenyum.


"Iya. Ia sangat cantik dan bijak. Saat kau melihatnya nanti kau akan seperti melihatku saat masih muda" katanya bertemu merah.


"Jika begitu, aku sungguh beruntung mendapatkan dua gadis cantik dirumahku nantinya. Kita harus merawatnya baik baik.." kata Count Desmo


"Kok dua?"


"Satu kamu Isteriku, dan satu lagi cucu kita"

__ADS_1


"Nanti dia menempati kamar ayahnya, Eton kita. Agar malam malam, ia tidak perlu takut. Sesekali baik aku atau kamu bisa mengeceknya saat tidur.." kata Countess Rery bersemangat


"Kamu atur saja sayang. Aku ikut saja, yang penting kamu kembali tersenyum."


__ADS_2