
Malam harinya diadakan pesta besar di kediaman Louisa. Dua ekor domba disembelih untuk merayakan kedatangan kedua tamu agung itu.
Saat semua orang yang diundang sudah berkumpul, dan acara makan akan dimulai Lucio berdiri dan berbicara selaku tuan rumah.
"Selamat malam untuk kita semua yang hadir disini. Acara ini merupakan pesta penyambutan atas kedatangan dua orang yang sangat penting. Yaitu leluhur Kendrick Alexander dan juga kakek buyut Bruswick di lahan pertanian kita. Mari kita makan sepuasnya..." katanya dengan kebanggaan seorang anak.
"Selamat makan..." sambut semua yang hadir.
Semua tampak bergembira ditambah beberapa orang membawa alat musik menambah kegembiraan suasana pesta.
Lucio sendiri menari bersama beberapa anak pekerja yang sebaya dengannya. Sedangkan kelima anggota Louisa berkumpul disekitar Tuan Bruswick yang merupakan Tuan pertama mereka.
Leluhur Kendrick, Hwak dan Lion menikmati pesta dengan gembira.
.
.
Pagi harinya, semua bersiap. Hari ini leluhur Kendrick Alexander dan dia pengawalnya akan berangkat meninggalkan kota Alma.
Tiket sudah berdiri dengan gagah di depan kediaman Louisa.
Lucio memeluk erat lengan leluhur Kendrick.
"Leluhur ingat sudah berjanji nanti akan datang berkunjung lagi. Tidak boleh bohong.." rengeknya.
"Iya. Setelah urusan leluhur selesai, kami bertiga pasti akan datang berkunjung kembali. Leluhur tidak akan berbohong" kata leluhur Kendrick sambil mengusap kepala Lucio.
"Bisakah nanti saat kembali, leluhur membawa ayahku juga?"
"Lucio..." kata Louisa pelan.
"Maksudku...maksudku jika ayahanda tidak sibuk mengurus kerajaan Gordon. Aku ingin bertanding melawan ayah berlari mengelilingi gunung Awan. Sewaktu melawan paman Deep atau kakek Shine aku selalu kalah. Mungkin melawan ayah, aku bisa menang" jelasnya dengan wajah tertunda takut dimarahi Louisa karena permintaannya.
"Saudara Kendrick, sampaikan saja jika anda kembali ke istana Gordon. Bahwa ada seorang anak muda yang menantang raja Peter untuk berlatih tanding berlari mengelilingi gunung Awan. Tapi jangan katakan siapa orangnya. Katakan saja anak muda itu merupakan seorang pengagumnya. Tapi kakek buyut dan juga keluhur yakin, ayahanndamu pasti akan sangat senang dan meluangkan waktunya untuk berlatih tanding denganmu" jawab Tuan Bruswick karena melihat wajah ragu leluhur Kendrick saat melihat Louisa.
Karena sebelumnya sudah ada kesepakatan antara mereka bertiga, jika kedatangan Raja Peter haruslah atas inisiatifnya sendiri. Bukan karena diminta pihak lain.
"Iya, leluhur. Katakan saja demikian saat leluhur kembali ke istana.." kata Louisa akhirnya saat melihat wajah Lucio yang penuh harap.
"Akhirnya kamu mengalah demi puteramu" batin Tuan Bruswick.
__ADS_1
"Baik. Akan leluhur sampaikan pada ayahmu. Tapi Lucio juga harus berlatih dengan sungguh sungguh. Juga menurut pada nenek Reneisme untuk belajar aturan istana. Agar nanti saat ayahanmu tahu, dia sangat sangat bangga pada Lucio" kata leluhur Kendrick setelah mendapat persetujuan dari Louisa
"Baik. Lucio berjanji.." kata Lucio dengan tegas.
"Lucio, saudara Bruswick, Louisa dan semuanya, kami berangkat dahulu. Perjalanan kami masih sangat panjang.." katanya Akhirnya.
"Selamat jalan..." jawab mereka serempak
"Leluhur hati hati..." kata Lucio dengan air mata menggenang di pelupuk matanya.
"Seorang putera mahkota tidak boleh cengeng.." kata Reneisme seolah menegur padahal maksudnya ingin menghibur Lucio.
"Jangan terlalu keras padanya. Cicitku masihlah kecil dan ini pertemuan pertamanya dengan keluarga Henry. Ikatan darah itu sangat kental Reneisme.." kata Tuan Bruswick sambil menggendong Lucio
"Iya Tuan besar" jawab Reneisme
"Sore ini kita kembali ke Hinom. Kalian berempat juga ikut." katanya kepada Shine, Deep, Marco, Shadow dan Light.
"Baik tuan" jawab keempat orang itu.
"Deep, Marco pergilah kepeternakan. Minta pekerja disana, memotong tiga ekor domba dan seekor kambing untuk kita bawa pulang ke Hinom. Kita telah bergembira disini, kediaman leluhur dan istana Hinom juga harus ikut menikmati kegembiraan yang sama" kata Louisa
"Mengapa tidak seekor sapi saja Louisa agar lebih praktis?" tanya Tuan Bruswick heran.
"Itu juga merupakan kebijaksanaan hidup.." kata Tuan Bruswick.
.
.
Sore harinya, dua buah kereta kuda dan sebuah kereta barang bergerak meninggalkan lahan pertanian Louisa. Satu kereta kuda terlihat sangat mewah sehingga kereta kuda yang lain jadi terlihat biasa saja padahal untuk ukuran normal kereta kuda itu juga sebenarnya tergolong mewah. Mereka dikawal beberapa orang yang menunggangi kuda.
Tiga jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di istana Hinom dan terus menuju kediaman leluhur Valley.
Kedatangan mereka disambut nenek Eliz dan nenek Eugine didepan pintu utama.
"Salam nenek Eliz, nenek Eugine" kata Louisa begitu turun dari kereta kuda.
"Aih... kau terlihat semakin matang sayangku. Nenek sangat bangga padamu." kata nenek Eugine menanggapi salam Louisa
"Tidak rindu padaku?" tanya Louisa cemberut.
__ADS_1
"Ha..ha... tentu saja rindu anak bodoh." katanya sambil memeluk Louisa erat.
"Dimana cicit kecilku. Aku ingin melihatnya... " katanya sambil melihat melihat kebelakang Louisa.
"Salam jumpa nenek buyut. Perkenalkan saya Lucio Patrick Valley Henry " kata Lucio sambil membungkukkan badannya.
"Ha...ha... tampannya cucuku..." katanya sambil menciumi Lucio tanpa henti. Kemudian mengangkatnya tinggi tinggi.
"Sayang, kau lihat cicit kita. Dia sangat tampan. Wajahnya sangat mirip Peter kecil, tapi mata dan rambutnya diambil dari Lorine kita" katanya seolah pamer pada Tuan Bruswick
"Tentu saja aku tahu, Eugine" kata Tuan Bruswick
"Hua...hiks...hiks..." tiba tiba Lucio menangis membuat semuanya bingung.
"Ada apa sayangku? Apa nenek buyut ini menakutimu?" tanya nenek Eugine cemas.
"Semua bilang..Cio mirip ayah.. tapi aku tidak pernah bertemu ayah... hiks...hiks..." katanya dengan sedih.
"Hei.. anak muda. Tapi kau tak kekurangan orang yang mencintaimu. Semuanya menyayangimu.." bujuk nenek Eliz.
Louisa sangat terkejut. Dia sangat dilema saat ini, rasa bersalah yang sangat besar dihatinya. Tapi dia juga tidak ingin Peter sangat mudah mendapatkan puteranya setelah semua yang dialaminya. Tapi ia juga tidak tega melihat puteranya.
"Sini sayang.." kata Louisa sambil meminta Lucio kepada nenek Eugine dan menggendongnya masuk kedalam rumah.
Membawanya kedalam kamar Lucio yang ada dirumah leluhur dan mendudukkannya di tempat tidur.
"Lucio sangat ingin bertemu Ayahanda?" tanya Louisa sambil menatap lekat wajah puteranya
Lucio menggelengkan kepalanya.
"Jadi..?"
"Lucio ingin melihat wajah Ayahanda.. apa benar mirip Cio atau tidak" jawabnya sambil tertunduk.
"Hmm... nanti kita buat lukisan ayahannda saja ya. Kita buat yang besar dan ditempatkan di kamar Lucio di Alma. Bagaimana?"
"Benar boleh, ma?" katanya dengan mata berbinar.
"Tentu. Nanti mama minta paman Marco mencari pelukis istana untuk melukis gambar ayahanda"
"Hore.. nanti Lucio boleh ikut paman Marco pergilah ma?"
__ADS_1
"Boleh. Tapi Lucio tidak boleh menangis lagi. Janji..?"
"Janji"