Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Mengunjungi keluarga Bruswick


__ADS_3

Akhirnya semua rombongan yang datang dari Hinom masuk kedalam balai pengobatan. Sungguh rombongan yang besar untuk ukuran balai pengobatan.


Tapi balai pengobatan yang berada di kota Malwa memang salah satu balai pengobatan terbesar keluarga Valley.


Mereka di bawa ke halaman belakang balai pengobatan yang telah ditata menjadi tempat jamuan yang besar.


Siang itu mereka semua menikmati jamuan dengan perasaan gembira.


Selesai jamuan..


"Ayah, aku pamit keluar sebentar." kata Louisa kepada Lucky


"Mau kemana?" tanya Jendral Lucky


"Rombongan kita terlalu banyak, tidak mungkin bermalam di balai pengobatan ini semua. Tempat tidak akan cukup. Saya ingin mencari tempat penginapan untuk para prajurit"


"Kau benar. Kita tidak bisa memberikan beban terlalu banyak untuk paman Tanra. Kalau begitu, pergilah. Coba cari penginapan keluarga kakekmu. Kalau ayah tidak salah ingat, tidak begitu jauh dari sini"


"Baik ayah. Aku pamit dahulu"


Louisa keluar membawa kelima anggotanya saja. Sementara ke lima puluh prajurit khusus kerajaan di minta tetap menunggu di balai pengobatan sampai Louisa kembali.


"Ketua, kota Malwa cukup indah ya.." kata Light.


"Iya. Kota perdagangan. Kerajaan Fatma merupakan salah satu kerajaan dengan perekonomian yang cukup maju. Tapi dari segi militer mereka tidak begitu kuat. Bukankah begitu Shine?"


"Benar ketua. Tapi karena karena perdagangan disini sangat menjanjikan, banyak kerajaan menjalin kerjasama dengan kerajaan Fatma tentunya untuk mendapatkan keuntungan yang sangat banyak. Dan tentu saja, karena itu membuat tidak ada kerajaan yang benar benar berani mengusik kerajaan ini"


"Maksudnya..?" tanya Light bingung.


"Sayang kamu harus lebih banyak belajar tentang perekonomian. Jika ada sebuah kerajaan mencari masalah dengan kerajaan Fatma, maka bukan hanya kerajaan Fatma yang memutuskan kerja sama dengan kerajaan itu. Tapi juga semua kerajaan yang menjadi mitra kerajaan Fatma. Bisa kau bayangkan yang terjadi pada kerajaan itu?"


"Ternyata cukup mengerikan juga kekuatan kerajaan Fatma. Tapi jika begitu, mengapa ketua kuatir dengan puteri Revaline? Bukankah tidak ada yang berani menyentuh nya?"


"Karena mungkin saja, orang itu menggunakan orang lain menjadi bonekanya. Jadi posisi dia tetap aman dibelakang layar"


Mereka terus berjalan sambil melihat lihat keadaan kota Malwa.


"Sepertinya itu yang diseberang jalan ketua" tunjuk Shadow.


"Benar. Itu penginapan nya" kata Louisa sambil melihat sebuah rumah makan yang terlihat cukup mewah.


Di pamplet rumah makan itu jelas tertulis Rumah makan dan penginapan Mawar Bruswick.


"Selamat datang tuan tuan dan nyonya di rumah makan Mawar Bruswick. Ada yang dapat kami bantu" sambut seorang pelayan di depan pintu masuk


"Kami mau pesan beberapa kamar. Apakah masih ada?" tanya Louisa


"Ada nyonya. Mari ikut saya"


Pelayan itu membawa mereka menuju sebuah meja. Di sana ada dua orang perempuan yang bertugas khusus untuk penginapan.


"Nona, tuan dan nyonya ini ingin memesan kamar"


"Terimakasih pelayan Rin, silahkan kembali bekerja. Biar kami yang melanjutkan" kata perempuan itu.


"Mau pesan berapa kamar nyonya?"

__ADS_1


"Ada berapa kamar yang tersisa?" tanya Louisa.


"Cukup banyak. Anda mau pesan kamar kategori apa? Disini ada tiga jenis kamar, ada kelas satu sampai kelas tiga. Kelas satu sederhana, kelas dua fasitas lengkap, kelas tiga kamar mewah"


"Bisa anda tunjukkan kamar kamarnya? Agar kami bisa memutuskan mengambil yang mana?"


"Mari tuan dan Nyonya ikut saya"


Mereka mengikuti perempuan itu ke lantai dua bangunan itu.


"Sebelah sini kamar kelas satu." katanya dan membuka sebuah kamar.


Louisa hanya melihat dari depan pintu.


"Hanya kamar standar" kata Louisa.


"Benar nyonya. Kita ke kelas dua" kata perempuan itu membawa mereka ke sisi berlawanan dari tempat tadi.


"Ini kamar kelas dua" katanya membuka salah satu kamar.


"Ini lumayan, bukan begitu Light"


"Benar ketua"


"Kamar kelas tiga dimana?" tanya Louisa


"Mari kita kelantai tiga" kata perempuan itu.


Mereka kembali menyusuri tangga naik ke kantai tuga bangunan itu.


"Semua yang berada di lantai tiga ini merupakan kamar kelas tiga. Ini nyonya" kata perempuan itu kembalu membuka sebuah pintu kamar.


"Kami akan memesan kamar kelas tiga. Ada berapa kamar yang tersedia?"


"Seluruhnya ada tiga puluh lima kamar. Tapi saat ini lima kamar sudah dipesan. Anda mau pesan berapa kamar?"


"Dua puluh tujuh kamar, selama seminggu. Berapa biaya yang harus kami keluarkan?"


"Dua puluh tujuh?"


"Benar. Apa ada masalah?"


"Tidak nyonya. Tapi karena ini jumlahnya cukup besar, saya bawa anda ke ruang manager kami. Bagaimana?"


" Boleh. Shine, Shadow, Marco kalian tunggu di bawah saja. Biar Light dan Deep yang menemaniku"


"Baik ketua"


Mereka bertiga turun ke lantai satu dan memesan minuman disana.


Perempuan yang membawa mereka akhirnya tahu jika Louisalah pemimpin rombongan itu. Ia membawa mereka bertiga ke sebuah ruangan yang berada di lantai tiga juga.


"Tok..tok...


"Masuk" terdengar suara dari dalam ruangan.


"Paman, Nyonya dan tuan ini ingin memesan kamar kelas tiga cukup banyak. Jadi saya membawa mereka kepada paman"

__ADS_1


"Silahkan duduk tuan dan nyonya. Kau panggil pelayan bawa minuman kemari"


"Baik paman" kata perempuan itu dan pergi dari sana.


"Anda pesan berapa kamar nyonya?"


"Dua puluh tujuh kamar tuan"


"Dua puluh tujuh kamar" katanya sambil menuliskan kesebuah kertas tulis. "Untuk berapa hari?"


"Satu minggu"


"Apa kalian datang untuk pesta pertunangan puteri Revaline?"


"Benar"


"Atas nama siapa saya buat pemesannya?"


"Puteri Lorine dari Lembah Angin" kata Louisa sambil melihat reaksi dari manager itu.


Benar saja, wajah pria yang menjadi manger itu berubah. Ia terlihat sangat terkejut. Ia memandang Louisa untuk waktu yang lama.


"Kau.. keponakan macam apa kau. Bukannya langsung memperkenalkan diri. Sengaja mau mempermainkan pamanmu ini ya..." katanya agak keras terlihat ada rasa haru di wajahnya.


"Lorine memberi salam pada paman" kata Louisa tersenyum.


"Ha...ha... Setelah bertahun-tahun akhirnya baru sekarang kita bertemu. Apa kabar ibumu?"


"Ibu sehat, tapi karena ada suatu hal, beliau tidak bisa ikut kemari"


"Tidak apa apa. Apa ayahmu ikut? Aku juga sudah sangat lama tidak bertemu kakak ipar"


"Ayah ikut. Beliau di balai pengobatan"


"Tidak apa apa. Aku tahu ia pasti sangat sibuk mengatur untuk acara pertunangan."


Saat mereka sedang berbincang, perempuan yang mengantar mereka tadi datang bersama seorang pelayan membawa makanan dan minuman ringan.


"Silahkan tuan dan nyonya" katanya tersenyum.


"Misly perkenalkan, ini sepupu jauhmu. Lorine, putri bibimu Margaret"


"Apa? Kakak sepupu.. salam kenal. Saya Misly"


"Salam kenal juga Misly."


"Kau tahu, aku dan ibumu saudara sepupu. Dan Misly anak dari kakakku"


"Paman, ada yang ingin aku tanyakan"


"Apa itu Lorine?"


"Kenapa kakek Bruswick belum belum kembali dari benua barat?"


.


.

__ADS_1


..


... Jangan lupa like dan comment


__ADS_2