Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Pria tua yang lain.


__ADS_3

Malam itu, acara makan berlangsung meriah. Kedatangan leluhur Kendrick disambut sukacita seluruh anggota the power of night senior minus Reneisme yang sudah menetap di kota Hinom. Leluhur Kendrick, Lion dan Hwak diminta bercerita tentang perjalanan panjang mereka.


Hari sudah begitu larut saat mereka akhirnya pergi tidur ke kamar masing masing.


.


.


Pagi masih gelap, Louisa masih tidur dengan lelap ketika sebuah kereta kuda yang sangat mewah memasuki lahan pertanian Louisa. Di sisi kereta kuda terdapat lambang pohon kelapa dengan tulisan Bruswick.


Kereta itu berhenti sejenak di gerbang khusus untuk pemeriksaan. Terlihat Reneisme membuka jendela kereta kuda, dan penjaga segera membuka gerbang agar kereta kuda bisa lewat.


Tidak lama kemudian kereta kuda berhenti didepan rumah Louisa. Petugas jaga malam langsung siaga melihat kedatangan kereta kuda yang tidak biasa. Mereka telah melihat kereta kuda kerajaan, tapi tidak semewah kereta kuda itu. Ini membuktikan jika yang datang bukan orang biasa dan mungkin sangat kaya.


Reneisme turun dari kereta kuda diikuti seorang pria tua berambut abu abu.


"Nyonya Reneisme... selamat datang" kata penjaga yang langsung mengenal Reneisme.


"Salam jumpa dan selamat pagi. Nona Louisa sudah bangun?"


"Belum Nyonya. Nyonya kedatangan tamu, mereka berbicara sampai larut malam baru pergi tidur" jawab penjaga itu.


"Tidak apa-apa. Kami masuk dahulu. Mari Tuan..." kata Reneisme sambil membuka pintu mempersilahkan pria rambut abu abu itu masuk.


"Tuan duduklah dahulu. Saya persiapkan dahulu seteko teh untuk diminum." katanya sambil bergerak ke dapur.


Di dapur ternyata beberapa pelayan sudah bangun dan tengah sibuk mempersiapkan sarapan pagi untuk seluruh penghuni rumah.


"Nyonya Ren, kapan datang?" sambut Jane yang melihat kedatangan Reneisme ke dapur.


Sebab seingatnya tadi malam saat makan bersama, Reneisme tidak ada disana. Walaupun ia pulang lebih awal, karena ia tidak tinggal di rumah utama semenjak menikah, tapi itu juga sudah cukup malam.


"Baru saja.. Tolong buatkan satu teko teh camomile, serta madu murni" perintahnya.


"Sebentar Nyonya, saya seduhkan.. Anda datang kemari apa karena kedatangan leluhur Kendrick juga?"


"Iya"


"Nyonya Margaret ikut juga?"

__ADS_1


"Tidak, tapi aku membawa Tuan Bruswick, ayah dari Nyonya Margaret "


"Bukankah beliau sedang pergi ke benua barat?"


"Beliau baru tiba beberapa hari yang lalu di kota Hinom."


"Ini tehnya Nyonya Ren. Untuk sarapan Tuan Bruswick ada permintaan khusus? Soalnya leluhur Kendrick hanya memakan kentang tumbuk. Mungkin tuan Bruswick ada juga hal khusus"


"Tidak ada. Asal jangan terlalu berminyak saja sudah bisa"


"Baik Nyonya.."


Reneisme membawa teh ke ruang tamu. Setelah menikmati teh, Reneisme membawa Tuan Bruswick berjalan jalan sekitar kediaman. Menikmati keindahan danau dipagi hari, dengan kabut yang masih menggantung belum sirna terkena sinar matahari.


Tidak jauh dari danau, sinar matahari mengintip dengan malas dari balik gunung Awan membawa kesan damai bahkan terasa magis.


Louisa bangun dari tidurnya dengan enggan. Sudah sangat lama ia tidak tidur selarut tadi malam. Tapi mengingat masih ada tamu didalam rumah, Louisa menurunkan kakinya dari tempat tidur.


Masuk ke kamar mandi. Satu ember air hangat sudah tersedia untuk digunakan yang diantar pelayan. Karena pelayan itu jugalah Louisa terbangun dari tidurnya.


Louisa mandi dengan cepat. Selesai mandi ia segera turun dan menuju dapur, melihat persiapan untuk sarapan pagi.


"Pagi Nyonya.."


"Nyonya, nyonya Reneisme ada disini" kata pelayan Jane.


"Ibu Ren?" tanya Louisa heran


"Iya. Beliau tiba saat hari masih gelap dan datang bersama Tuan Bruswick..." kata pelayan Jane yang terbengong melihat Louisa tiba tiba berlari keruang tamu sebelum menyelesaikan kalimatnya.


Tak lama Louisa kembali lagi.


"Mereka pergi kemana? Tidak ada orang diruang tamu" kata Louisa.


"Makanya dengar dulu saya menyelesaikan kalimatnya, Nyonya. Anda langsung lari belum selesai mendengar.." gerutu pelayan Jeni


"Maaf.. Baik katakan dimana mereka sekarang ?"


"Mereka jalan jalan keluar, melihat pemandangan sekitar. Nyonya Reneisme tadi berpesan agar mereka dipanggil saat waktu sarapan tiba"

__ADS_1


"Aku mau menyusul mereka. Nanti jika Lucio sudah bangun, minta dia memanggil kami ke danau" katanya sambil berlalu


"Baik Nyonya"


Louisa berjalan keluar rumah. Ia bertanya pada penjaga, dan penjaga menunjuk kearah gajebo yang dibangun didekat danau.


Tampak seluit dua orang sedang duduk disana.


Louisa berjalan mendatangi mereka.


"Kakek... ibu Ren..." panggilnya.


Tuan Bruswick menoleh dan berdiri. Ia memandang Louisa dengan lekat.


"Kau sudah sangat dewasa cucuku.. kemarilah. Biarkan kakek memelukmu" katanya sambil tersenyum.


Louisa berjalan mendekati Tuan Bruswick. Ia memandang lekat wajah Tuan Bruswick. Sekilas sebuah wajah yang sangat dikenalnya terbayang dipelupuk matanya.


" Kakek Johanes Bruswick mempunyai wajah yang sangat mirip dengan Paman Bruswick Balley. Mungkinkah beliau renkarnasinya juga?." batinnya.


Walaupun belum pernah bertemu dengan Johanes Bruswick sebelumnya di kehidupan yang sekarang , tapi entah kenapa ada kerinduan yang sangat dalam dihati Louisa saat memandang wajah pria tua itu. Seolah jiwa Louisa saat renkarnasi keduanya bangkit kembali, memandang wajah pamannya penuh kerinduan.


Louisa berlari kepelukan pria tua itu, memeluknya dengan erat dan... menangis.


Tangisan yang Louisa sendiri tidak mengerti. Di pelukan kakeknya entah mengapa ia merasakan cinta yang begitu tulus, begitu tidak terbatas. Sungguh cinta yang murni.


Seakan seberapa beratpun kehidupan yang dijalaninya, ia akan senantiasa didukung dan pelukan pria tua itu adalah tempat yang paling aman dan nyaman baginya. Segala rasa kecewa tiga kehidupannya berputar kembali dipikirannya, di hatinya dan menguap melalui air mata yang keluar terus menerus.


"Tenanglah cucuku. Kau telah menjalani kehidupan yang berat dan pahit. Mulai sekarang kau akan menerima semua kebaikan dari langit. Kakek ada disini... kakek ada disini.." katanya sambil mengelus kepala Louisa dengan sayang.


Louisa menangis seperti anak kecil yang bertemu orang tuanya setelah sekian lama. Melepaskan semua beban dihatinya. Seolah dengan tangisannya ia menceritakan tiga kehidupan yang dijalaninya.


Ia tidak pernah menangis seperti ini sebelumnya, bahkan didepan Margaret ibu dua kehidupannya, ia berusaha menutupi rasa dihatinya. Tapi didepan pria tua itu, segalanya menjadi terbuka.


Mungkin ini juga berhubungan dengan kedatangan leluhur Kendrick Alexander. Dan banyak kisah hidupnya yang sebelumnya tidak dia ketahui sebelumnya menjadi terkuak, termasuk kegagalan renkarnasi yang direncakannya. Walaupun hubungannya dengan leluhur Kendrick cukup dekat, tapi tetaplah ada sekat tidak terlihat diantara mereka.


Sungguh berbeda dengan kakeknya sendiri, dimana didalam tubuhnya mengalir darah yang sama. Dan kisah mereka sendiri sudah dimulai di kehidupan sebelumnya.


Melihat tangisan Louisa, Reneisme ikutan menangis sedih. Karena ia sangat jarang melihat Louisa menangis, kecuali terakhir kali di Gordon Empire city. Dan itu sudah bertahun tahun yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2