
Malampun tiba.
Louisa dan Light sudah berpakaian seperti laki laki. Rambut keduanya diikat rapi. Dua orang pengawal kota mengikuti mereka dari kejauhan. Ini karena Kepala kota mendesak mereka harus membawa pengawal.
Mereka berkeliling kota sambil memperhatikan keadaan sekitar mereka. Barangkali ada sesuatu yang terasa aneh atau janggal.
Berjam jam berkeliling tapi mereka tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Sampai tengah malam tiba, merekapun memutuskan untuk kembali ke kediaman Kepala kota.
"Berarti mereka memang fokus pada tembok perbatasan. Sekitar kota tampak aman" kata Louisa.
"Apa perlu kita menyusul ke tembok perbatasan, Ketua ?"
"Tidak usah. Keberadaan mereka ber empat sudah cukup. Apa lagi yang di hadapi adalah penduduk kita sendiri"
"Jika menurut Ketua seperti itu, kita kembali"
Dengan langkah santai mereka berjalan kembali kediaman Kepala kota di tengah kota yang sunyi. Maklum sudah lewat dini hari. Tiba tiba Light menjadi waspada..
"Hati hati, Ketua..."
"Ada apa?"
"Aku seperti mendengar suara orang tengah berlari"
"Dimana ?"
"Mereka belum tiba"
Dua penjaga kota yang mengikuti dari kejauhan juga lari mendekati mereka.
"Tuan Putri.."
"Ada yang mendekat kemari. Hanya saja kita belum tahu siapa yang datang"
"Apa yang harus kita lakukan Tuan Puteri ?"
"Kita menunggu disini "
"Baik"
Tidak berapa lama dikejauhan tampak enam orang berlari kearah mereka. Mereka tampak ketakutan.
"Berhenti!" teriak pengawal kota menghentikan langkah mereka.
Sontak keenam orang itu berhenti dan ketika melihat yang menghentikan mereka pengawal kota, mereka terlihat sedikit terkejut tapi kemudian tenang kembali.
__ADS_1
"Siapa kalian? Mengapa berkeliaran ditengah malam?"
"Maaf penjaga kota. Kami lari karena takut.." jawab salah seorang diantara mereka.
"Takut apa? Kalian siapa?"
"Kami baru dari tempat pembangunan tembok perbatasan. Niatnya tadi mau menjumpai pengawas yang disana untuk meminta pekerjaan. Tapi sebelum kami sempat bertemu dengan tuan pengawas, tiba tiba terjadi keributan"
"Keributan apa?"
"Terjadi perkelahian antara penjaga kota dan pekerja sepertinya. Jadi kami melarikan diri "
Louisa dan Light saling berpandangan dan mengangguk.
"Kalian berenam, ikut ke Balai kota agar bisa memberikan keterangan resmi." kata Light.
"Maaf penjaga kota, aku harus pulang. Ibuku sakit dirumah. Tidak ada yang menjaga" kata yang satu
"Aku juga penjaga kota. Kami punya bayi di rumah. Dia sedang demam. Isteriku pasti akan ketakutan jika demamnya tinggi lagi. Jadi aku juga harus pulang.." lanjut yang lain.
"Iya penjaga kota. Aku ada saudara yang baru datang dari luar kota, tadi kutinggal ia sedang tidur. Takutnya nanti ia bangun tidak ada orang dirumah. ia ketakutan" sahut yang lain.
Light dan Louisa kembali saling berpandangan, semakin yakin dengan kecurigaan mereka.
"Begini penjaga kota. Ayamku baru menetas dan perlu dipindahkan. Jadi aku tidak bisa ikut"
"Oh...kau kucingmu baru beranak. Jadi harus pulang untuk melihatnya dan kau dirumahmu sedang banyak nyamuk jadi harus pulang untuk memukulnya" jawab salah satu penjaga kota yang mengawal Louisa.
"Benar...benar penjaga kota" jawab dua orang terakhir bersamaan membuat Louisa dan Light tertawa.
"Tidak ada alasan. Kalian berenam ikut ke Balai kota memberi keterangan resmi. Jika memang kalian tidak bersalah, tidak usah takut. Beri keterangan dan pulang.." kata Louisa.
Ke enam orang itu saling berpandangan.
"Jangan ada yang mencoba melarikan diri. Walaupun kalian ada enam orang, cukup aku seorang yang melumpuhkan kalian jika mencoba melarikan diri. Dan aku tidak main main" kata Light tegas.
Keenam orang itu tampak ragu ragu.
"Jika tidak percaya, silahkan mencoba. Tapi ingat, jika aku sudah bertindak artinya kalian tidak akan baik-baik saja" lanjut Light.
"Algemas" rapal Light.
Seketika ada rune rune yang berpendar disekitar keenam orang itu dan tiba-tiba tangan keenam nya terikat seperti di borgol dan terhubung seutas tali yang sedikit berpendar. Keenamnya ketakutan, dan bahkan kedua penjagapun terkejut.
"Perapal mantera" kata salah satu penjaga tanpa sadar.
__ADS_1
"Itu tidak akan terlepas bahkan jika kalian berusaha memotongnya, jika aku tidak melepaskan. Dan itu baru awal jika ada penolakan lagi. Sekarang ikut ke Balai kota!" perintah Light
Keenam orang itu tidak lagi berani menolak.
"Kalian berdua, bawa keenam orang ini ke Balai kota. Mereka tidak akan bisa melarikan diri. Tali yang mengikat mereka sudah kuberi mantera penuntun yang akan memaksa mereka ke Balai kota."
" Baik Nona. Tapi kalian hendak kemana?"
"Kami ingin melihat kondisi tembok perbatasan dahulu" kata Louisa.
"Tapi Tuan Puteri, jarak dari sini ke tembok perbatasan cukup jauh. Apa tidak sebaiknya pulang ke Balai kota mengambil kuda terlebih dahulu untuk menghemat waktu dan tenaga?" tanya penjaga itu
" Tidak perlu khawatir. Kami punya cara sendiri agar cepat sampai di sana. Dan tempatkan keenam orang itu di satu ruangan. Tidak usah di penjara. Hanya saja pastikan ada yang mengawasi mereka"
"Baik Tuan Puteri" jawab ke dua penjaga kota itu.
"Tuan...Puteri..." kata ke enam orang itu terkejut. Mereka tidak percaya jika yang menangkap mereka adalah Puteri Lorine, sang Puteri kerajaan.
"Tuan Puteri kami berangkat..."
Louisa hanya menganggukkan kepalanya dan melihat Light.
Melihat penjaga kota sudah bergerak bersama keenam orang itu, Louisa dan Light pun ikut bergerak. Dengan sedikit merapal mantera, mereka berlari dengan kecepatan tinggi dan seketika itu menghilang dari sana.
"Tuan Pu... Sudah hilang... cepat sekali" kata penjaga kota yang ingin bertanya tentang introgasi keenam orang itu.
"Pantas saja walaupun mereka hanya berdua, mereka tidak khawatir sedikitpun. Nona Light ternyata seorang perapal mantera yang hebat" kata salah satu penjaga.
"Bukan cuma Nona Light. Aku pernah dengar, jika Tuan Puteri Lorine pun seorang perapal mantera juga. Juga ahli menggunakan panah. Tapi selama ini aku kira itu hanya cerita yang dilebih lebihkan. Tapi sepertinya benar cerita itu benar" sahut penjaga yang satunya.
"Tuan penjaga..." panggil salah seorang dari keenam orang itu.
"Ada apa?"
"Itu tadi apa benar Puteri Lorine?"
" Benar. Memangnya kenapa?"
"Jika aku tahu tadi itu Tuan Puteri, aku tadi langsung menurut. Tidak berani buat alasan" katanya.
"Kenapa? Karena beliau Puteri kerajaan?"
"Bukan. Aku lama tinggal di Gordon. Bahkan sebelum Puteri Lorine menjadi Permaisuri Gordon. Disatu kesempatan, aku pernah melihat Puteri Lorine bertempur melawan pemberontak di salah satu wilayah Gordon. Dan ketika ada pemberontak yang membunuh salah satu penduduk biasa, beliau mengamuk. Dan tiba-tiba angin kencang datang seperti tornado menyapu bersih para pemberontak itu sebelum menghempaskannya ke tanah" katanya membuat bukan hanya kelima temannya terkejut bahkan kedua penjaga juga seperti tidak percaya.
"Hah...beliau memang orang yang luar biasa. Lihatlah kerajaan kita, hanya beberapa tahun berdiri tapi sudah membuat kemajuan yang pesat"
__ADS_1
"Iya...bahkan kota kita ini dulunya hanya desa kecil yang miskin. Sekarang berubah menjadi kota yang lumayan ramai..." sahut yang lain.
Mereka terus berjalan menuju Balai kota sambil berbincang tentang kemajuan yang dicapai kerajaan Lembah Angin.