
Light berusaha memperpendek jarak dengan Lidya. Melihat gerakan Light yang mencoba mendekati nya, membuat Lidya merasakan firasat buruk.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku terlalu dekat. Aku harus menghindar" pikirnya sambil melompat mundur.
"Dasar beruang licik" pikir Light.
Akhirnya kejar kejaran pun terjadi. Asal Light berusaha mendekat Lidya pun akan lari sejauh mungkin.
"Jika dibiarkan terus menerus, hanya membuang buang waktu. Aku bukan anak kecil yang senang bermain kejar-kejaran" guman Light.
Light berhenti mengejar Lidya. Dia mengambil posisi duduk diatasnya rerumputan hutan.
Lidya masih terus berlari. Sesaat kemudian dia tersadar jika Light tidak lagi mengejarnya. Ia memeriksa keadaan sekitar, mula mula tidak menemukan keberadaan Light membuatnya lebih waspada.
"Jangan jangan ini jebakan" pikirnya.
Tapi sesaat kemudian pikirannya kembali berubah saat netranya menemukan keberadaan Light yang duduk diatas rerumputan.
"Pasti dia sudah kelelahan mengejar ku terus terusan. Ini kesempatan ku untuk menghabisinya. " gumamnya pelan sambil meraih busur serta anak panah nya.
Tiba-tiba angin berhembus sedikit kencang.
"Sial... dengan kecepatan angin seperti ini dan jarak sejauh ini takutnya tidak akan mengenai sasaran. Apalagi kesempatan ku hanya dua kali. Jika tidak kena, aku harus benar-benar lari. Aku akan mendekati nya" katanya pada dirinya sendiri.
Dia berjalan berlahan semakin mendekati Light yang duduk dengan posisi mata terpejam. Tanpa ia sadar, ia telah masuk jebakan Light.
"Dapat..." bathin Light.
"Kenapa tubuhku tiba tiba kaku dan tidak bisa digerakkan?" tanya Lidya dalam hati.
Light membuka matanya. Ia tersenyum dingin memandang Lidya.
"Sial.. ternyata ia telah menyiapkan jebakan untuk ku" batin Lidya.
Ia berusaha melepaskan diri, tapi sekeras apapun ia berusaha tetap saja tubuhnya tetap kaku.
Sebenarnya tindakan Light yang duduk adalah strategi yang telah ia siapkan. Ia bukanlah tipe penyerang langsung, tapi pertahanan nya memang luar biasa. Bahkan jika penyerang lapisan satu sekalipun yang menyerang nya belum tentu bisa menyentuh nya.
Jika disuruh berhadapan langsung dalam pertarungan jarak pendek, kekuatan nya hanya setara penyerang lapisan lima.
Tetapi jika ia menggunakan mantera dan menjebak lawan, jika kekuatan nya setara lawannya tidak akan bisa lepas.
Itulah yang dialami Lidya, pemanah Bear Arrow.
Bug...
Lidya terjatuh, seolah dipukul dengan keras. Ia langsung jatuh pingsan.
"Merepotkan saja" kata Light ia kemudian merapal mantera.
__ADS_1
Tanpa Lidya ketahui, kedua tangan nya telah terikat semacam tali khusus yang tidak bisa diputuskan oleh siapapun kecuali Light sendiri.
"Biarkan saja dia disana dahulu, aku mau lihat keadaan ketua dahulu" katanya sambil berlari kecil mencari keberadaan Louisa.
Sementara itu Marco masih berhadapan dengan lawan nya. Lawannya yang sempat bertabrakan dan jatuh juga sudah bangun. Sedangkan satu orang sudah tumbang dibuat Marco. Tinggal satu orang lagi. Dengan wajah yang beringas ia memandang Marco.
"Apa lihat lihat... Aku tahu aku tampan. Tapi aku tidak tertarik pada pria jelek seperti mu. Aku lebih suka wanita cantik" kata Marco
"Bangsat...kau kira aku apa!!" teriaknya marah.
"Hantu gantung..." kata Marco santai.
"Mati kau..." kata pria itu berlari sambil mengayunkan senjatanya.
Tapi karena terlalu marah, pria itu justru kurang waspada menyebabkan banyak celah dalam pertahanan nya.
Peluang itu tentu saja dimanfaatkan Marco dengan sebaik-baiknya.
Masih pada posisi nya sebelumnya, tanpa bergeser sedikitpun, ia menunggu serangan pria itu.
Saat pria itu yakin senjata nya mengenai Marco,..
Bug...! sebuah bogem mentah mendarat di dadanya.
"Aakkk..." teriaknya kesakitan.
"Jangan dipaksakan jika tidak mampu..." ejek Marco
"Aku lebih baik mati daripada menjadi badut bagimu. Hiat..." katanya kembali menghunus pedangnya.
"Jika itu maumu akan kukabulkan" kata Marco.
"Punho de fogo" katanya sambil mengarahkan tinjunya kedada pria itu.
Sekilas terlihat tangannya seperti diselubungi api sebelum menyentuh dada pria itu...
"Aaaakkkkhhh" teriak pria itu dengan lebih keras lagi.
Dadanya terasa seperti remuk dan sangat panas. Ia ambruk seketika, tubuhnya sempat bergetar hebat sebentar dan diam tidak bergerak lagi.
"Jangan salah kan aku. Kau yang minta mati, dan sudah kumatikan. Harusnya kau berterimakasih sudah mengabulkan permintaan mu" katanya pada mayat pria itu tanpa rasa bersalah.
"Ha...ha.... saatnya melihat keadaan ketua. Jangan sampai manusia bajingan itu menyentuh ketua. Kalau dia berani, akan kupotong jarinya satu persatu." kata Marco sambil meninggalkan tempat itu.
******
Deep masih saja melompat kesana kemari menghindari serangan Zaine. Tidak terlihat sedikit pun ia menanggapi serius serangan Zaine.
Sikapnya itu membuat Zaine pitam karena merasa dipermainkan.
__ADS_1
Sambil terus menyerang Deep, ia meracau tidak jelas.
"Monyet jelek, brengsek kemari kau. Biar kucincang tubuhmu" katanya sambil menyeramg Deep
"Lakukan kalau kau mau. Tapi pastikan dulu serangan mu mengenaiku. Kau menyerang seperti anak kecil... tidak bertenaga. Ha....ha..." ejek Deep
"Berhenti kau, terima serangan ku baru kau tahu bertenaga atau tidak!"
"Kau kira aku sama seperti mu. Bodoh..."
"Brengsek...!!!"
Zaine terus menyerang tanpa henti. Pada akhirnya ia kehabisan tenaga dan berhenti.
"Sudah selesai? Hanya seperti itu saya? Kukira bisa bermain main dengan mu sampai hari petang."
"Bajingan. Pengecut.. hanya bisa menghindar." maki Zaine.
"Kau ingin aku menyerang mu? Apa kau mampu menahan nya. Satu serangan cukup untuk menghajar mu. Dua serangan cukup untuk melumpuhkan mu. Tiga serangan bisa membunuhmu"
"Buktikan jika kau bisa, kau hanya pandai menggertak tapi tidak bisa bertindak!"
"Kau yang minta. Tapi kematian terlalu mudah untuk mu. Cukup dua serangan saja...faca voadora"
Seketika dua buah belati berwarna hitam legam melesat menuju Zaine. Zaine berusaha menghindar. Tapi kemanapun ia bergerak, belati itu selalu mengikutinya.
"Akan kuhadang ..." kata Zaine sambil mencoba menghadang belati itu dengan kapaknya. Tapi kecepatan kedua belati itu sangat luar biasa.
Slass... slass...
Tubuhnya penuh dengan luka sabetan kedua belati. Darah merembes keluar dengan cepat.
Achhkkk.... Belum selesai ia menikmati rasa sakitnya, kedua belati itu kembali beraksi. Jika tadi yang jadi sasaran adalah tubuh bagian atas, sekali ini tubuh bagian bawah yang menjadi sasaran.
Slasss...slasss..
Darah mengucur deras dari kedua kakinya.
Brukk... tubuhnya jatuh ke tanah berumput. Ia meringkuk kesakitan.
"Sekarang kau tidak bisa lagi berjalan. Walaupun kakimu utuh, tapi kau telah lumpuh. Ingat...kau yang meminta aku menyerang mu"
"Bunuh saja aku brengsek!"
"Sudah kubilang sebelumnya, jika kematian terlalu mudah untukmu. Nikmati lah dahulu penderitaan mu. Lagi pula jika kau mati sekarang, tidak ada nanti yang menemani temanmu Jhon Muel itu. Aku pergi dulu"
"Aaarrrrrhhhh...."
Deep pergi meninggalkan Zaine ditempat itu. Ia segera bergerak mencari Louisa.
__ADS_1