Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Batu Alexandrite


__ADS_3

Mereka melanjutkan perjalanannya kembali. Sekitar lima belas menit kemudian mereka tiba di bukit berbatu.


Tidak menunggu lama Shadow mengajak mereka kesuatu tempat.


"Senior Climb, coba anda lihat ini." kata Shadow menunjuk kesebuah lubang berdiameter sekitar tujuh puluh centimeter yang terdapat pada dinding batu.


"Kira kira berapa kedalamannya?" tanya Climb .


"Tidak terlalu dalam. Perkiraanku sekitar tujuh sampai sembilan meter. Yang menjadi masalah bukan dikedalamannya. Tapi sepertinya permukaannya tidak rata"


"Jika begitu, biar aku saja yang turun duluan. Jika didalam aman, baru kalian turun." kata Climb.


"Kakak harus hati hati" kata Louisa.


Shine membawa tali yang telah dibentuk menjadi tangga gantung. Panjang tali itu lima belas meter, sehingga memungkinkan untuk turun kedalam gua. Tali dipasang pada tiang pancang yang sebelumnya telah ditanam sekitar dua meter dari lubang.


Perlahan Climb turun kedalam lubang itu. Tidak berapa lama terdengar teriakannya dari dalam lobang.


"Aman.."


Mendengar itu satu persatu mereka mulai turun kedalam. Ternyata lubang itu sebuah goa sangat luas. Angin yang masuk dari lubang diatasnya memberikan irama musik yang terdengar magis.


"Sangat indah.." kata Light yang terdengar bergema diseluruh goa.


"Tetap hati hati melangkah. Karena aku curiga, dibawah kita masih ada lubang lainnya" kata Shadow.


"Maksudnya? Goa di dalam goa?"


"Benar. Tapi aku belum menemukan tempat masuknya."


Mereka berjalan menyusuri goa sambil memperhatikan langit langit goa. Keadaan goa sendiri sedikit temaram, karena cahaya yang masuk hanya dari atas lubang .


"Benar benar luar biasa.. Seluruh langit langit goa mengandung kekayaan yang tidak terhitung" kata anak buah Climb.


"Coba kalian perhatikan lantai yang kalian pijak" kata Climb


Mereka yang tadi sibuk melihat langit langit goa, akhirnya memperhatikan lantai goa.


"Sebaran batu Rubi yang tidak terhitung jumlahnya." kata anak buah Climb yang lain.


"Lihat disana ada seperti lorong, tapi sempit" kata Shadow menunjukkan ke salah satu dinding goa.


"Apa muat untuk dilalui?" tanya Marco.


"Kita coba" jawab Shine


Shine mencoba masuk dengan pelan pelan..


"Cukup sempit, tapi masih bisa dilalui " katanya.


Mereka kemudian mengikuti dari belakang. Semakin dalam keadaan semakin gelap, sehingga mereka hanya bisa meraba dinding lorong itu sambil berjalan. Tapi dapat dirasakan jika lorong yang mereja lalui semakin menurun.

__ADS_1


"Sangat gelap. Tunggu sebentar.." tiba tiba Shine berhenti.


Dalam keadaan gelap ia merogoh kedalam tasnya sesuatu berbentuk selinder yang terbuat dari kaca. Seketika lorong itu lebih terang walaupun masih sedikit remang. Sebab bagaimanapun selinder kaca itu hanya mampu menerangi sejauh tiga meter.


Setelah berjalan sejauh tiga meter lagi mereka tiba disebuah ruangan lagi. Ruangan itu tidak seluas ruang goa sebelumnya, hanya sekitar empat meter. Tapi dibawah sinar lampu yang dibawa Shine, pemandangan luar biasa lain terpampang disekitar mereka.


Pendar cahaya hijau lembut mengelilingi ruangan itu.


"Shine bisa kau matikan lampumu. Aku ingin memastikan sesuatu" kata Climb.


Shine mematikan lampunya seperti yang diminta Climb. Seketika cahaya yang tadinya berwarna hijau lembut, berubah menjadi kemerahan.


"Tidak salah lagi. Ini adalah alexandrite. Salah satu batu mulia yang sangat mahal." kata Climb.


"Bos, tadinya aku mengira itu adalah Jamrud" kata salah satu anak buah Climb.


"Aku juga tadi berpikiran sama. Tapi aku mulai curiga saat disalah satu sudut gelap itu, yang tidak terkena cahaya lampu Shine karena terhalang Shadow justru berpendar kemerahan" jelas Climb.


"Nona, coba lihat batu yang kita temukan di jalan tadi. Apakah juga bersinar ditempat ini?"pinta anggota Climb yang tadi memungut batu dijalan dengan Louisa.


Louisa mengeluarkan batu itu, dan benar saja batu itu juga berubah menjadi berpendar kemerahan.


"Berarti bukit ini tambang alexandrite. Walaupun ada kemungkinan terdapat bebatuan lain" kata Climb.


Apa kita melanjutkan penjelajahan goanya kak?" tanya Louisa.


"Kukira sudah cukup. Kita sebaiknya kembali dan menyusun rencana" kata Climb.


Shine kembali menghidupkan lampunya.


Louisa berjalan ke salah satu dinding goa, dan menarik sebuah batu yang berwarna kehijauan. Tepat saat ia menyimpannnya kedalam tas, tiba tiba lantai yang ia pijak retak dan ambruk.


"Aaa..." Louisa berteriak terkejut dan berusaha menggapai apa saja untuk bertahan.


Tapi lantai yang dijadikan pegangan turut runtuh bersama Louisa masuk kedalamnya.


Semua panik berusaha menolongnya.


Light tiba tiba merapal mantera, dan dari tangannya keluar seberkas cahaya yang masuk kedalam reruntuhan. Cahaya itu berusaha menahan laju turunnya Louisa.


Tidak berapa lama terdengar suara dentuman keras akibat jatuhnya lantai gua menimpa lantai lain dibawahnya.


Light dapat merasakan jika Louisa juga telah menyentuh lantai gua.


Shine berlari kearah reruntuhan tapi tubuhnya dihalangi Climb.


"Aku tahu kau cemas. Tapi jangan gegabah. Niatmu menolong bisa jadi bumerang jika tidak hati hati." katanya


"Jadi kita harus bagaimana?"


"Kita akan menolongnya. Aku akan mencoba melihat keadaannya" katanya sambil berjalan mendekati lubang reruntuhan dengan perlahan.

__ADS_1


Ia mengintip kedalam reruntuhan dibawahnya.


"Adik kecil... apa kau mendengarku?" teriaknya.


Ia berusaha mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Louisa.


"Disana... Sepertinya ia pingsan. Shine kau bisa mendekat dari sisi yang lain."


Memutari lubang reruntuhan itu dan berjalan dari sisi seberang Climb.


"Ketua...ketua... bangun. Kau bisa mendengarku. Jawab aku..." teriaknya.


"Shine, apa kalian punya tali lainnnya? Kita harus turun"


"Berapa meter kira kira senior?" tanya Shadow.


"Sekitar lima belas meter."


"Masih ada sepuluh meter diatas" kata Shadow


"Jika begitu, kita tukar tangga talinya. Marco, dan kalian berdua naik keatas. Tukar tangga talinya" kata Shine memberi perintah.


Marco dan dua anggota Climb naik kembali kepermukaan. Sementara Shadow berjalan mendekati reruntuhan.


"Senior, kukira aku bisa turun. Light kau bantu aku menjaga keseimbangan" kata Shadow.


"Lebih baik aku yang turun terlebih dahulu. Jika kau turun, kau tidak bisa berbuat apapun. Aku bisa mengobatinya" kata Light.


"Tapi aku tidak bisa menahan tubuhmu sedalam itu. Aku hanya bisa meringankan tubuhku sendiri" bantah Shadow.


"Uuh... baiklah. Aku akan membantumu turun. Sampai dibawah kau harus pastikan keadaan ketua. Olehkan obat ini di kedua keningnya, dan ini dekatkan kehidungnya agar beliau cepat sadar." kata Light memberikan dua botol kecil kepada Shadow.


"Jika ia terluka?"


"Nanti aku yang akan memeriksanya jika tangga tali sudah dibawa turun. Tapi aku yakin ketua tidak terluka parah, karena tadi aku sudah berusaha menahan tubuhnya."


"Baiklah. Bersiap bantu aku"


Shadow berdiri tegak, kemudian merapal mantera yang cukup panjang. Seketika hembusan angin dingin terasa didalam goa itu, dan saat angin mulai terasa Light juga merapal mantera dan seberkas cahaya yang sama seperti yang menolong Louisa keluar dari telapak tangannya.


Kali ini cahaya itu membungkus tubuh Shadow dan perlahan Shadow berjalan kedalam lobang reruntuhan.


Dia seperti berjalan diatas angin, perlahan tubuhmu mulai turun kedalam lubang itu.


Mulut Climb ternganga melihat hal itu. Seumur hidup baru kali ini ia melihat ada orang bisa berjalan di udara seperti menuruni tangga..


Note : Batu Alexandrite merupakan batu permata yang memiliki keistimewaan yaitu mampu berubah warna sesuai cahaya yang diterimanya. Jika terpapar cahaya, maka alexandrite akan berwarna hijau seperti zamrud, namun di kegelapan, permata ini akan berubah warna menjadi merah selayaknya rubi.


.


..

__ADS_1


...


> Stt...jangan lupa like dan comment ya.


__ADS_2