Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Persiapan Pesta Pertunangan (3)


__ADS_3

"Memang nya tidak ada kabar untuk ibu mu?"


" Terakhir setahun yang lalu paman. Kakek cuma mengatakan di suratnya jika beliau dan nenek Eugine belum bisa kembali.Tidak tahu apa penyebabnya"


" Paman kira mungkin itu berkaitan dengan pengangkatan kepala keluarga Bruswick beberapa tahun yang lalu"


" Memang nya ada masalah apa paman?"


" Pamanpun kurang tahu, tapi pernah paman dengar desas desusnya jika ada sedikit keributan sewaktu pemilihan kepala keluarga beberapa tahun lalu. Mungkin masalah itu belum selesai"


"Ibu tidak pernah bercerita"


"Itu mungkin karena ibumupun tidak tahu. Memang nya untuk apa kamu bertemu tetua Bruswick?"


"Ada yang ingin kutanyakan pada kakek"


" Mengenai Louisa Balley kah?"


"Bagaimana paman tahu?"


"Itu sudah menjadi pengetahuan wajib bagi keluarga inti Bruswick. Setiap anak laki laki wajib mengetahui nya. Tapi untuk detailnya lebih baik kamu memang menunggu tetua Bruswick"


"Jika begitu, kami pamit dahulu paman. Ada banyak yang harus dipersiapkan sebelum pergi je istana Fatma. Sekalian, aku mengundang paman untuk datang ke acara pesta pertunangan nantinya"


"Pasti, pasti paman akan datang"


"Kami permisi paman. Mengenai kamarnya nanti anggota ini yang akan mengurusnya" kata Louisa sambil menunjuk Deep.


"Perkenalkan tuan, saya Deep"


"Salam kenal tuan Deep"


"Kami permisi paman"


"Hati hati di jalan. Salam untuk ayah mu"


Louisa hanya menganggukkan kepalanya, dan mereka kembali ke balai pengobatan.


Ternyata setelah Louisa pergi, di balai pengobatan semua keluarga yang hadir sepakat jika besok pagi mereka akan segera ke istana Fatma. Saat Louisa tiba...


"Kak Lorine, untung kamu sudah datang.." sambut Sola dengan antusias.


"Ada apa?"


"Besok kita sudah pergi ke istana. Jadi sore ini, seorang dari kita pergi terlebih dahulu ke istana untuk memberikan kabar ke istana Fatma mengenai kedatangan kita besok" jawab nenek Eliz.

__ADS_1


"Jika begitu, kakek Tanra saja." kata Louisa.


"Tidak bisa begitu, kakekmu tidak terlalu mengerti protokoler istana. Pilihan nya hanya kamu atau ayahmu"


"Lebih baik ayah saja. Aku masih terlalu muda, nanti takutnya kita dianggap tidak menghargai mereka karena mengirim seorang yang belum pantas. "


"Benarkan yang tadi kukatakan. Ternyata pemikiranku sejakan dengan Lorine. Lucky, Lorine sudah menolak. Kamu tidak ada pilihan lain"


"Baik jika sudah diputuskan demikian"


Sore itu Jendral Lucky pergi ke istana Fatma mengabarkan kedatangan keluarga besar kerajaan Lembah Angin. Kedatangan Jendral Lucky disambut gembira Raja Tejza, dan setelah Jendral Lucky pulang, Raja Tejza mempersiapkan penyambutan untuk rombongan kerajaan Lembah Angin untuk besok paginya.


******


Malam harinya di kediaman puteri Revaline.


Tok...tok ..


"Revaline, ini aku puteri mahkota Mindra. Boleh aku masuk?"


"Kakak ipar...?" terdengar langkah kaki terburu-buru membuka pintu.


"Masuk kak" kata Puteri Revaline sambil membuka pintu lebih lebar.


"Iya kak."


"Dimana pelayan mu?"


"Membantu ibu Selir kedua yang sedang mempersiapkan penyambutan untuk rombongan dari Lembah Angin besok pagi."


"Iya, aku dengar dari putera Mahkota jika tadi perwakilan dari kerajaan Lembah Angin datang"


"Ada apa kakak kemari?"


"Apa tidak boleh melihat adik ipar ku?"


"Bukan tidak boleh" kata Puteri Revaline panik. "Tapi tidak biasanya kakak ipar kemari" lanjut nya.


"Pertama aku memang sudah lama ingin berbincang denganmu, tapi karena tugasku cukup banyak aku tidak punya waktu. Kedua, karena disuruh kakakmu" katanya sambil tersenyum.


"Putera mahkota?"


"Iya. Beliau mencemaskan mu. Dia tahu yang dilakukan ibunda permaisuri. Tapi menentang ibunda permaisuri secara langsung bukanlah langkah yang bijaksana."


"Jadi maksud kakak ipar?"

__ADS_1


"Kakak tahu, jika untuk pesta pertunangan gaun yang akan adik Reva pakai sudah disediakan pihak pangeran Lark. Jadi kakakmu menitipkan ini untukmu. Agar ada sedikit perhiasan baru yang melekat di tubuhmu. " kata puteri Mahkota Mindra sambil memberikan sebuah kotak kecil.


Puteri Revaline tersenyum dan menerima nya. Ia membuka kotak perhiasan itu. Didalam nya ada sebuah kalung berhias permata yang sangat indah. Tetapi tetap tidak semewah yang dikirimkan Louisa kepadanya.


"Kakak ipar, kalung ini sangat indah. Tapi khusus untuk pesta Pertunangan, aku telah memiliki nya. Saat pangeran Lark datang melamarku, kerajaan Lembah Angin telah menyiapkan satu set perhiasan untuk kupakai saat pertunangan. Jadi ini tidak kuperlukan."


"Bagus sekali jika memang begitu. Tapi kamu simpan lah. Mungkin bisa kamu pakai lain kesempatan"


"Terimakasih kakak ipar"


"Sebenarnya kakak sudah lama ingin berbincang denganmu. Tapi selalu tidak ada kesempatan. Sekali ini ada kesempatan, tapi kamu tidak lama lagi tinggal disini. Selesai acara pertunangan, kamu akan ikut pangeran Lark pergi ke Hinom. Entah kapan lagi kita bisa bertemu" kata putri mahkota Mindra sedih.


"Kakak ipar jangan berkata seperti itu. Lihatlah sisi baiknya. Saat putera Mahkota naik tahta, kakak ipar akan menjadi permaisuri kerajaan Fatma. Sementara aku saat pangeran Lark menjadi Raja, aku akan menjadi permaisuri kerajaan Lembah Angin. Dengan hubungan kekerabatan, akan sangat banyak kerjasama yang bisa kita lakukan. Dan saat itu, kita masih punya banyak kesempatan untuk berbincang"


"Kamu benar. Mungkin aku yang berpikir terlalu banyak. Jujur saja adik ipar, kadang aku kesepian dan merasa sendiri tidak ada teman berbagi. Apalagi putera Mahkota sering pergi"


"Kita bisa saling berkirim kabar. Kakak ipar bisa bercerita apa saja padaku.. Oh ya, setelah aku pergi nanti, aku titip ibu pada kakak ipar ya."


"Baiklah. Adik ipar juga harus berjanji nantinya sering mengirim kabar kemari. Tentang ibu selir kedua, serahkan saja kepada ku"


"Terimakasih kakak ipar"


"Kakak masih ada beberapa urusan lain. Kakak pamit dahulu"


¹******


Keesokan paginya.


Istana Fatma terlihat sangat ramai. Suasana pesta sangat terasa kental. Padahal pesta pertunangan baru akan diadakan dua hari lagi.


Dikejauhan, tampak rombongan berkuda mengawal dua kereta kuda berlambang Lembah Angin, dan satu kereta kuda yang cukup mewah. Di belakang kereta kuda itu, masih ada satu lagi kereta barang mengiringi mereka.


Musik tradisional kerajaan Fatma terdengar berkumandang menyambut kedatangan rombongan itu. Kereta kuda berhenti didepan istana.


Disana telah menunggu keluarga besar istana Fatma.


Satu persatu penumpang kereta kuda turun. Termasuk Louisa yang naik salah satu kereta kuda juga ikutan turun. Sebenarnya ia lebih nyaman jika naik kuda sendiri, hal itu dilarang keras nenek Eliz karena Louisa memakai gaun pesta.


"Selamat datang di istana Fatma. Perkenalkan aku Raja Tejza, menyambut kedatangan saudara sekalian dari Lembah Angin"


"Salam jumpa Yang Mulia Raja Tejza. Aku Franklin Valley, kakek dari Putera Mahkota Lark dari kerajaan Lembah Angin. Dan mereka semua adalah keluargaku."


"Mari kita masuk dan berbincang didalam" kata raja Tejza lagi


"Terimakasih Yang Mulia." balas kakek Franklin.

__ADS_1


__ADS_2