Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Serangan pertama


__ADS_3

"Jangan langsung menyerah ketua. Ini memang jenis pertahanan tingkat tinggi. Tidak mungkin bisa dikuasai dalam sekali latihan. Kita istirahat dahulu setengah jam. Setelah itu, kita latihan menyerang" kata Shadow.


Setelah beristirahat setengah jam, akhirnya latihan dilanjutkan kembali. Kali ini melatih tekhnik menyerang.


Louisa, Shadow maupun Light merupakan jenis penyerang jarak jauh. Walaupun demikian, jika kemampuan musuh berada dibawah mereka, mereka bisa melakukan serangan jarak pendek.


Ini seperti yang dilakukan Shadow dan Light ketika di kota Yuritz. Karena kemampuan para bandit waktu itu berada dibawah mereka, sehingga mereka dengan mudah melakukan serangan jarak pendek.


Tapi jika mendapat musuh dengan kekuatan setara atau lebih tinggi, mereka akan lebih di untung kan jika melakuan serangan jarak jauh untuk menghindari resiko kekalahan.


Mereka berlatih sampai hari mulai gelap dan setelah itu kembali ke rumah.


*****


Pagi harinya, saat matahari baru terbit Louisa dan Lucio bersiap untuk latihan di pagi hari. Shine telah menunggu mereka di halaman rumah. Reneisme mengikuti Louisa dan Lucio dari belakang.


"Kakek Shine, hari ini kita masih berburu ayam lagi?" tanya Lucio tanpa ia lihat jika Reneisme dibelakang nya sudah berkacak pinggang sambil matanya melolot melihat kearah Shine.


"Ha...ha... hari ini kita libur berburu ayam tuan muda. Hari ini latihannya menangkap kupu kupu di ladang kedelai."


"Tapi kan kupu-kupu tidak bisa dimakan kakek Shine. Itu kurang seru"


"Tentu seru tuan muda. Kalau berburu ayam, kita hanya perlu mengejarnya. Jika berburu kupu kupu kita perlu pakai taktik. Dan kadang kita harus melompat untuk menangkap nya. Dan nanti, kita bisa pulang membawa kedelai muda untuk rebus pelayan Jen"


"Ha...ha... kakek benar. Ayo berangkat.. mama juga ikut menangkap kupu kupu?"


"Tidak sayangku. Mama ada latihan sendiri" kata Louisa.


Saat mereka bersiap berangkat, seekor burung elang emas terbang mendekat kearah mereka. Dia bertengger di sebuah dahan kayu yang sudah mati yang ada di halaman rumah.


Kayu ini memang sengaja di buat di halaman untuk burung burung pengantar pesan mereka.


"Glee..? Coba kita lihat ada pesan apa dari kakekmu Lucio"


Sementara Louisa membuka pesan kecil yang diikat pada kaki Glee, Reneisme masuk kembali ke dalam rumah mengambil sepiring kecil daging ayam segar yang telah dipotong potong dengan ukuran keci untuk makanan Glee.


"Hmm.. Kita diminta pulang Shine."


"Apa terjadi sesuatu ketua?"


"Tanggal pertunangan putera mahkota Lark telah ditentukan. Kita diminta untuk membantu persiapan keberangkatan ke kota Malwa"


"Jadi kapan kita berangkat ketua?"

__ADS_1


"Latihanku dengan Shadow dan Light belum rampung. Semoga dua hari ini cukup untuk menyempurnakannya. Kita pulang tiga hari lagi"


"Baik ketua. Pengawasan disini bagaimana?"


"Tetap serahkan kepada Brandy"


"Baik ketua"


"Kalian pergilah dahulu ke tempat latihan. Aku akan menulis balasan pesan untuk ayah"


"Baik ketua. Tuan muda, kita pergi dahulu. Nanti mama menyusul"


"Baik kakek Shine. Mama, Lucio pergi duluan. Nanti mama datang lihat Lucio tangkap kupu kupu"


"Iya tuan muda. Nanti mama datang"


Shine, Lucio dan Reneisme berangkat dengan mengendarai kuda. Lucio ikut di kuda yang ditunggangi Shibe, sementara Reneisme naik kudanya sendiri sambil membawa minuman dan makanan ringan untuk Lucio.


Sementara Louisa kembali kedalam rumah untuk menulis balasan surat. Dia mengabari bahwa mereka baru akan pulang tiga hari kemudian.


Kemudian menggulung surat itu, dan mengikat surat itu di kaki Glee.


"Sudah, sana pulang." katanya kepada burung itu.


******


Di kota Malwa.


Seperti kebiasaan puteri Revaline, dia sangat suka berjalan jalan di pasar yang ada di kota Malwa.


Biasanya dia hanya ditemani seorang pelayan nya saja. Tapi karena mengingat ia segera bertunangan dan peringatan dari raja Tejza, akhirnya dia membawa dua orang pelayan bersamanya, juga empat orang prajurit istana besertanya.


"Pelayan Mar, kita sarapan di sana saja ya" katanya menunjuk sebuah restoran kecil.


"Baik tuan Puteri."


Puteri Revaline menuju ke restoran itu. Dia memang sering makan di restoran itu jika pergi ke pasar.


Hanya sebuah restoran sederhana, tapi sup ikan yang ada di restoran itu sungguh menggugah selera. Membuat puteri Revaline tidak ragu untuk makan disana.


"Selamat datang tuan puteri. Silahkan masuk." kata pelayan yang menyambut mereka.


Puteri Revaline duduk di sebuah kursi. Meja mereka berhadapan langsung dengan taman yang ada di sebelah restoran. Ini merupakan meja favorit puteri Revaline.

__ADS_1


Puteri Revaline duduk dengan kedua pelayannya, sementara keempat prajurit duduk dimeja yang ada disebelah mereka.


Pelayan restoran sibuk menyiapkan pesanan mereka. Sementara mereka sibuk menyiapkan makanan dan minuman, seorang wanita muda masuk kedalam restoran dan mengambil tempat duduk tidak jauh dari mereka.


Saat pelayan datang membawa makanan dan tepat disamping wanita muda itu, ia tiba tiba berdiri dan melambaikan tangan seolah memanggil orang dari luar. Gerakannya yang tiba tiba, membuat makanan yang dibawa pelayan hampir saja tumpah.


Segera wanita muda itu, meminta maaf.


"Maafkan saya. Tadi saya seperti melihat suamiku diluar, rupanya bukan. Kami sudah berjanji akan sarapan pagi disini." katanya dengan wajah bersalah.


"Tidak apa apa Nyonya. Tapi lain kali saya harap anda lebih hati-hati." kata pelayan.


Segera pelayan menghidangkan makanan untuk puteri Revaline dan orang yang bersama nya.


Saat puteri Revaline mengangkat cangkir nya untuk minum, tiba tiba gelas itu pecah membuat minuman yang ada didalam nya menjadi tumpah dan membasahi gaun yang dikenakannya.


"Kenapa bisa pecah? Membuat terkejut saja" kata Puteri Revaline.


"Tidak apa tuan Puteri. Biar saya ganti" kata pelayan dengan cepat, setelah terlebih dahulu memberikan sebuah handuk kecil untuk digunakan Puteri Revaline membersihkan gaunnya.


Setelah minumannya diganti, mereka melanjutkan acara makan mereka yang sempat terganggu karena insiden pecah nya cangkir itu.


Wajah Puteri Revaline tenang seperti biasa. Tanpa ia sadari wajah wanita muda yang sebelumnya duduk tidak jauh dari mereka, terlihat sangat tidak senang.


Sementara, ada empat orang yang duduk di sudut ruangan tersenyum melihat kejadian itu.


"Apa perlu kita mengambil tindakan terhadap gadis cantik itu?"


"Untuk sementara tidak perlu. Kita hanya diperintahkan untuk melindungi Puteri." kata salah seorang diantara mereka.


"Apa perlu kita mencari tahu siapa penyandang dana nya?"


"Itu mungkin perlu. Ketua pasti akan menanyakan itu"


"Jadi bagaimana?"


"Kalian berdua ikuti si gadis cantik. Lihat kemana ia pergi. Ingat hanya mengamati, jangan langsung ambil tindakan. Karena aku curiga, penyandang dana nya orang orang disekitar tuan Puteri sendiri"


"Baik senior"


"Kami akan melindungi tuan Puteri kembali ke istana. Setelah kalian menemukan sesuatu, segera kabari kami"


"Siap senior"

__ADS_1


__ADS_2