
"Kau kira mengapa selama ini pihak istana lebih mementingkan pembangunan tembok perbatasan? Juga mengapa perekrutan prajurit kerajaan ditingkatkan terus menerus? Saya tahu kemarahan anda Kapten Leon. Tapi fokus utama kita mengatasi yang kecil dahulu. Sebelum menyatakan perang, kita harus yakin jika kita betul betul siap dengan semua konsekuensinya" kata Louisa tegas.
"Ampun Tuan Puteri jika saya sedikit gegabah. Terus terang, saya memang muak dengan sikap yang ditunjukkan kerajaan Lingkar Awan selama ini kepada kerajaan kita. Saya mendengar dari Jendral Lucky jika beberapa kali prajurit kita hampir terlibat konfrontasi dengan prajurit Lingkar Awan diperbatasan. Tapi mengacau di wilayah kita dan merekrut rakyat kita untuk membuat kerusuhan itu....huh.."
"Kita atasi masalah ini terlebih dahulu. Shine teruskan laporannya."
"Kami sudah menemukan kediaman mereka Ketua. Mereka menyewa sebuah rumah di kota sebelah Tenggara. Sepertinya mereka membagi tugas. Pine dan Rea, bertugas merekrut orang orang yang akan bergabung. Sementara tiga orang lainnya melatih dan mengarahkan rekrutmen."
"Kapan mereka ada dirumah? Jika memungkinkan, aku ingin kita menangkap mereka terlebih dahulu. Sedangkan untuk penduduk yang terlanjur mereka rekrut, kita buat penawaran seperti yang kita lakukan pada para bandit di kota Yuritz"
"Yang ditangkap Shadow dan Light?" tanya Marco
"Iya."
"Maksudnya Tuan Puteri?"
"Hukuman mereka adalah masuk jadi prajurit kerajaan. Jika setelah pelatihan kemampuan mereka tidak memenuhi syarat, mereka diatur menjadi penjaga kota"
"Berarti wajib militer. Itu bagus untuk mereka. Tapi bagaimana jika suatu saat mereka berhianat?"
"Itu masalah mudah , tidak perlu khawatir" jawab Light dengan tersenyum.
"Baiklah. Sekarang bagaimana strategi yang kita lakukan"
"
"Kita bagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, dipimpin Marco dan Shadow. Kalian bawa delapan puluh prajurit untuk menahan orang orang yang mereka rekrut."
"Kelompok kedua, Ketua, Saya, Deep, Light dan Kapten Leon serta dua puluh prajurit yang tersisa. Apakah ada masalah dengan pengaturan ini?"
"Saya setuju saja" kata Marco
"Tidak masalah" jawab Shadow
"Bagaimana Kapten?"
"Saya ikut saja Tuan Puteri "
"Marco, kamu dan Shadow bahas strategi yang sudah saya terangkan sebelumnya. Serta pembagian prajurit yang tepat untuk itu"
"Baik senior "
"Ini adalah denah lokasi rumah sewa mereka" kata Shine sambil mengeluarkan sebuah gulungan kertas.
__ADS_1
Mereka memperhatikan denah itu dengan serius.
"Kapten Leon akan memimpin dari pintu utama membawa sepuluh prajurit. Deep memimpin dari pintu belakang dengan lima orang prajurit. Ketua memimpin dari pintu sebelah kanan dengan lima prajurit. Saya dan Light akan menjaga sebelah kiri. Apa setuju dengan pengaturan saya?"
"Setuju"
"Light tugasmu siapkan mantera pengunci agar mereka tidak bisa melarikan diri. Mungkin secara kekuatan, mereka tidak bisa melawan kita. Tapi aku yakin, mereka pasti punya kartu yang tersembunyi yang belum kita ketahui"
"Aku juga berpendapat seperti itu. Tidak mungkin mereka hanya pasukan biasa di Lingkar Awan. Secara kekuatan tidak, tapi ilmu melarikan diri pasti mereka miliki dengan baik. Jika tidak, mereka tidak akan berani membuat kekacauan disini "
"Baik. Akan saya siapkan."
"Jadi kapan kita bergerak Tuan Puteri ?"
"Begitu matahari mulai terbenam. Tapi untuk memastikan keadaan disana, kirim beberapa prajurit untuk mengawasi keadaan."
"Baik Tuan Puteri. Akan saya persiapkan"
******
Sementara Louisa sedang berdiskusi tentang rencana penangkapan , di tempat lain di sebuah rumah.
"Kita harus bergerak cepat. Aku yakin pihak kerajaan tidak akan tinggal diam setelah kekacauan tadi malam" terdengar suara seorang perempuan.
"Mereka sepertinya lebih siap dibandingkan kota Leak. Mungkin karena kekacauan yang terjadi di kota Leaklah yang membuat mereka lebih waspada"
"Aku kira juga begitu. Tapi apa rencana selanjutnya?"
"Malam ini kita beraksi. Buat kekacauan di kota separah mungkin. Biar anggota kita mengacau, dan kita bakar sebuah rumah. Jika perlu, rumah ini saja kita bakar. Setelah itu, kita langsung pergi besok pagi sebelum matahari terbit"
"Tapi jika begitu, kita hanya melakukan dua serangan. Apa Yang Mulia tidak akan marah?"
"Lebih baik daripada kita tertangkap oleh prajurit Lembah Angin. Perkiraan saya, mereka akan tiba besok sore."
"Bagaimana dengan pion anda, nona? Tuan Pine.." tanya salah satu pria itu.
"Pion tetaplah pion. Tidak perlu dipikirkan. Kita tinggalkan saja dia disini. Paling jika tidak bisa menemukanku, ia bisa kembali ke kota Leak"
"Tadinya aku berpikir, kalau anda ingin membawa dia ke Lingkar awan"
"Hah...tidak mungkin. Bisa bisa aku ditertawakan seluruh bangsawan karena menikahi rakyat jelata."
"Kukira anda mencintainya?"
__ADS_1
"Aku mencintainya sebagai budak caturku. Jika tidak diperlukan lagi, tentu saja dibuang. Nanti cari lagi yang baru. Lagi pula Yang Mulia berjanji akan mengangkatku menjadi selirnya begitu aku kembali"
"Ha....ha..."
Mereka tertawa terbahak bahak, tanpa menyadari pembicaraan mereka didengarkan seorang pria dari balik pintu. Dia yang semula hendak masuk, mundur perlahan dan pergi meninggalkan rumah itu dengan perasaan kecewa.
"Ternyata aku hanya mainan untukmu. Padahal aku telah menghianati tanah air ku karena cintaku padamu." katanya dalam hati.
Wajahnya terlihat pahit saat Ia mengambil seekor kuda dan menungganginya. Kuda dipacu dengan kencang meninggalkan kota Score menuju kota Leak.
*****
Matahari mulai tenggelam. Satu persatu lampu lampu mulai dihidupkan. Di halaman Balai kota Score..
"Sesuai dengan pembagian yang sudah kita diskusikan, grup satu sudah bisa berangkat. Yves...." terdengar suara Marco.
"Siap pelatih..."
"Pimpin anggotamu..."
"Siap pelatih..."
"Sekarang berangkat.."
"Siap pelatih..." terdengar serempak suara sepuluh orang prajurit. Dengan segera menunggangi kuda masing masing dan berderap meninggalkan halaman Balai kota.
Untuk menghindari kepanikan penduduk, sengaja prajurit yang bertugas menyergap pengacau rekrutan bergerak terpisah. Sepuluh orang setiap kelompok dan berangkat setiap lima belas menit.
Sedangkan untuk kelompok yang akan menangkap mata mata dari Lingkar Awan, akan bergerak begitu kelompok satu sudah berangkat semuanya.
"Ketua, kami berangkat.." kata Shadow sebelum bergerak.
"Tetap hati hati. Jangan bertindak kasar jika mereka tidak melawan. Bagaimanapun juga mereka adalah penduduk kerajaan Lembah Angin"
"Kami mengerti, Ketua" jawab Marco dan Shadow. Sesaat kemudian keduanya telah menghilang dari tempat itu.
"Kita juga sudah bis bergerak"
"Baik Tuan Puteri "
Tidak lama, terlihatlah bayangan sejumlah orang bergerak dengan sangat cepat. Mereka melompat diantara atap atap rumah penduduk menuju Tenggara kota. Malam yang mulai merayap membuat gerakan mereka tidak terlihat orang orang yang berlalu lalang di jalan kota.
Sekitar sepuluh menit mereka berhenti. Sekitar seratus meter di depan, ada sebuah rumah yang cukup besar dengan halaman yang luas. Rumah itu tampak sunyi. Hanya pendar lampu yang keluar dari kisi kiri jendela menandakan ada yang tinggal disana.
__ADS_1