Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Rahasia Louisa


__ADS_3

Setelah Jen keluar kamar, Louisa mengunci pintu dan mengambil sebuah kunci dari lemari kemudian merapal mantra.


Kotak penyimpanan yang semula tidak mempunyai lobang, tiba tiba memunculkan lobang untuk memasukkan anak kunci.


Kunci diputar Louisa, dan kotak itupun terbuka menampilkan sejumlah koin emas dan permata didalamnya. Louisa mengambil sejumlah kantong penyimpanan uang, dan memasukkan koin koin emas itu kedalamnya sampai kantong kantong itu penuh.


Kemudian mengambil tiga kantong penyimpanan uang yang lebih kecil dan mengisinya dengan sejumlah permata. Sebelum menutup kembali kotak penyimpanan itu, ia mengambil sebuah Tiara berwarna merah muda yang sangat indah dan sebuah mahkota bertahtakan berlian.


Kemudian meletakkan keduanya diatas tempat tidur.


Tok..tok..


"Siapa?"


"Saya nona, Jen"


Louisa membuka pintu yang tadi dikuncinya.


"Nona, saya membawa dua buah kotak yang berbeda ukuran. Nyonya besar bilang biar nona memilih sendiri."


"Kebetulan sekali, aku membutuhkan keduanya. Kau memang terbaik Jen"


"Untuk apa keduanya nona....?" tanya Jen yang tiba tiba terkejut saat melihat Tiara dan mahkota yang terletak di tempat tidur.


"Oh..indahnya. Mahkota penobatan kah nona?"


"Benar, tapi ini rahasia kita bertiga"


"Satu lagi siapa nona?"


"Ibu Ren. Beliau yang memesannya pada seorang pengerajin perhiasan di kota Gem."


"Ayo bantu aku menghitung uang uang ini sebelum memasukkannya kedalam kotak yang kecil. Kotak yang lebih besar biar jadi tempat Tiara dan mahkota itu. Kita memakai kotak yang kecil itu saja sebagai tempat uangnya."kata Louisa menyodorkan sebuah kantong penyimpanan yang telah diisi uang oleh Louisa terlebih dahulu.


Sekitar dua jam kemudian mereka selesai menghitung uang uang itu.


"Semuanya dua ratus sembilan puluh lima ribu koin emas nona."


"Tolong pisahkan lima ribu koin emas."


Sementara Jen memisahkan sejumlah uang yang diminta Louisa, Louisa sendiri menghitung sejumlah permata dan memasukkannya kembali kedalam kantong uang. Ia memisahkan sebuah kantong penyimpanan.


"Ini nona. Dalam kantong ini jumlahnya lima ribu koin emas.

__ADS_1


Louisa meraih kantong itu mengambil lima puluh koin emas dari dalamnya.


"Ini beli rumah untuk orang tuamu. Walau tidak mewah, tapi dengan uang itu kukira sebuah rumah sederhana sudah bisa kau beli."


"Tapi nona..."


"Kenapa kurang banyak?"


"Terlalu banyak nona. Butuh berapa lama aku untuk melunasinya..."


"Tidak usah dibayar. Aku tahu kamu sedikit resah meninggalkan orang tuamu di Gordon Empire, belilah rumah untuk orang tuamu. Agar hatimu tenang. Sisanya jadikan modal usaha untuk adikmu berdagang, agar tidak usah bekerja pada orang lagi dan juga bisa menjaga orang tuamu"


"Nona terima kasih. Nanti akan saya kabari adikku tentang ini. Aku yakin dia akan sangat senang."


"Sekarang simpan dulu uangmu, setelah itu tolong panggil Ibu Ren kemari sebentar."


"Baik nona"


Pelayan Jen berlalu dengan wajah senang. Louisa tersenyum melihatnya. Ia kemudian mengambil kotak yang masih kosong, dan menempatkan Tiara dan mahkota itu didalamnya kemudian menutupnya.


Ia memindahkan kedua kotak yang berisi uang serta mahkota itu keatas sebuah meja. kemudian merebahkan tubuhnya keatas tempat tidur.


"Kuharap ini bisa membuat mereka lebih tenang. Uang dan permata itu setidaknya berjumlah satu juta Koin emas. Untuk sebuah kerajaan kecil yang baru berdiri, itu sudah cukup membuat mereka kaya. Aku tidak percaya Lorine telah mempersiapkan segalanya"gumamnya.


"Sayang sekali ia telah menghilang dan tidak bisa kutanya" tanpa sadar berbicara sendiri.


Tok..tok..


"Siapa?"


"Saya nona, Reneisme"


"Masuk Bu"


"Pelayan Jen bilang nona memanggil saya"


"Benar Bu."kata Louisa sambil bangun dari tidurnya


"Ibu sibuk?"


"Sedikit. Ada apa rupanya?"


"Tutup dulu pintunya. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan ibu."

__ADS_1


"Serahasia itukah?"


"Mungkin"


Reneisme menutup pintu, dan duduk disamping Louisa.


"Ada apa?"


"Sebenarnya aku belum siap menceritakan ini. Tadinya aku mau me berbicara terlebih dahulu dengan kakek dan nenek dari keluarga Bruswick. Tapi beliau berdua sedang tidak ada. Dan aku takut jika kedepannya aku akan semakin kesulitan"


"Apa berkaitan dengan mantra tornado yang membuat nona pingsan waktu melawan bandit?"


"Bukan ibu. Apakah ibu percaya renkarnasi?"


Reneisme terdiam sejenak dan memandang Louisa kemudian tersenyum.


"Tentu aku percaya Selir Agung" katanya dengan hormat.


Louisa terkejut. Sungguh sungguh terkejut. Mulutnya sampai terbuka tanpa ia sadari.


"Ba...bagaimana ibu tahu?"


"Dari sikap Selir Agung tentunya. Ananda Lorine orang berkepribadian yang sangat ceria, sedang Selir Agung orang yang cenderung serius menganggapi setiap hal. Kedua sikap Selir Agung terhadap Raja Peter. Ananda Lorine sangat terpukul sejak diberitahukan tentang perceraiannya. Tapi Selir Agung terlihat biasa saja walaupun hamba ada melihat raut kesedihan diwajah anda.


"Dan yang paling membuat hamba" yakin, setelah tragedi malam itu. Selir Agung terlihat sangat terpukul, dan tidak bisa menerima itu bahkan Anda melarang hamba memanggil anda dengan panggilan permaisuri. Sedang jika itu adalah ananda Lorine, hamba yakin ia tidak akan mempermasalahkannya"


"Hamba hanya tidak yakin, kapan terjadi perubahan itu"


"Oh ibu Ren. Jangan memanggilku dengan Selir Agung lagi. Aku bahkan tidak mengingat kehidupanku ketika menjadi selir agung."


"Jadi dari mana nona tahu jika kalian adalah orang yang sama?"


"Pertama nama kami sama. Kedua dari lukisan di ruang leluhur istana Gordon. Sebelum berenkarnasi menjadi Lorine, sebelumnya aku sudah berenkarnasi dengan nama yang sama dengan selir agung. "


"Oh ya. Anda hidup dibenua mana nona?"


"Kami menyebutnya benua eurasia, dan itu kehidupan yang jauh lebih maju dari jaman sekarang. Dimana segala sesuatu berlangsung sangat cepat. Jarak dari Hinom city ke Gordon bisa ditempuh hanya dalam waktu hitungan jam. Mengirim pesan, sekarang dikirim detik berikutnya sudah sampai pada orang yang dituju. Atau jika hendak berbicara dengan seseorang kita tinggal mengambil smarphone, menekan tombol bukan hanya suara yang bisa kita dengar tapi kita juga dapat melihat wajah orangnya secara langsung"


"Itu sangat hebat nona" kata Reneisme terkagum kagum. " Tapi hubungannya dengan lukisan di ruang leluhur?"


"Saat melihat lukisan itu, aku teringat sekali waktu saat itu aku meminta dilukis seorang pelukis jalanan. Ia bersedia, tapi dengan syarat aku memakai pakaian yang disediakannya. Aku masih ingat pakaian itu, pakaian kerajaan lengkap dengan mahkotanya. Dan dia meminta aku memakai rambut palsu berwarna kecoklatan yang juga disediakannya."


"Memangnya rambut Anda berwarna apa nona?"

__ADS_1


"Merah kehitaman. Lukisan itu tidak selesai hari itu, dan pelukis itu meminta agar aku mengambil keesokan harinya. Tapi dia menghilang, selama berminggu minggu setiap pulang bekerja aku mencarinya dibeberapa tempat yang biasanya dipakai orang untuk melukis. Bahkan aku juga bertanya pada para pelukis jalanan yang lain, tapi tidak ada yang mengenalnya" kata Louisa sambil menghela nafas.


__ADS_2