Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Cendramata (1)


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


"Ada apa? Masih memikirkan mimpi itu?" tanya Margaret.


"Tidak bu. Hanya sedang berpikir, apakah Deep berhasil memberikan cendramata itu?" kata Louisa.


"Bukannkah seharusnya kemarin dia sudah sampai di kapur putih?"


"Seharusnya begitu. Kita tunggu kabar darinya. Oh ya bu, aku ingin menikahkan ibu Ren dengan paman Willy. Bagaimana menurut ibu?"


"Bukankah kita sudah pernah membahasnya? Ren bilang menunggu kakekmu datang"


"Entah kapan kakek baru datang" kata Louisa lesu.


"Apa kamu begitu merindukan kakekmu?"


"Entah ibu. Aku hanya ingin bertemu. Ada begitu banyak yang ingin aku tanyakan pada kakek"


"Lorine, semenjak pulang dari kota Malwa, ibu perhatikan kamu banyak melamun. Ayahmu bilang, sewaktu eksekusi Jhon Muel kamu tiba tiba pingsan. Apa sebenarnya terjadi padamu?"


"Oh, ibu. Ada begitu banyak ingatan kehidupanku yang dulu masuk kedalam pikiranku ibu. Dan saat melihat kematian Jhon Muel, walaupun akhirnya aku bisa mengingat kembali semua kehidupan pertamaku, tapi aku sungguh sungguh selalu bertanya dalam hati."


"Mengenai apa puteriku?"


"Apakah balas dendam ibenar benar harus kulakukan untuk melepaskan sumpah darah itu? Mengapa saat melihat kematian Jhon Muel, selain ingatan lama kembali juga hati semakin tidak tenang?"


"Puteriku jika kamu memutuskan untuk melepaskan dendammu, mungkin kamu bisa lepas dari sumpah darah itu."


"Aku takutnya tidak sesederhana itu ibu. Dua orang telah mati dengan cara tragis. Masih ada dua orang lagi. Peter sudah kumaafkan demi puteraku Lucio. Tapi Marry aku tidak tahu keberadaannya. Apakah benar ia adalah Diana Cornor? Aku rasa jika benar mereka adalah orang yang sama, maka akan sulit untukku memaafkannya. "


*****


Ditempat lain, kota Kapur Putih.


"Untung paket cendramatanya sudah sampai. Aku tinggal menunggu kehebohan istana Lingkar Awan. Ha...ha..." kata seorang kakek tua sambil berjalan santai meninggalkan istana Lingkar awan.


Sampai ditempat yang sepi, tiba tiba kakek tua berubah menjadi anak muda yang gagah. Jika orang melihat dari caranya berpakaian maka orang tidak akan ragu jika ia berasal dari keluarga bangsawan kerajaan Mordan.


Dia adalah Deep. Saat mengantarkan kotak berisi peringatan kepada istana Lingkar Awan, ia menyamar menjadi kakek tua.


Dengan langkah pasti ia berjalan menuju sebuah penginapan mewah. Dilobi penginapan seorang pria muda menyambut kedatangan nya dengan gembira.


"Sudah sangat lama tidak berjumpa dengan mu saudaraku. Apa kabar mu?"


"Aku sangat sehat . Ternyata usahamu lumayan maju. Sudah sangat pantas disebut tuan muda. Ha...ha..."


"Ha...ha.. Biasa saja saudaraku. Apa kamu masih bekerja pada tuan Bruswick?"


"Tentu. Memang nya saudaraku mau mempekerjakan orang seperti ku?"


"Ha...ha.... Aku tidak sanggup membayar saudaraku. Bersaing dengan pedagang yang menguasai seluruh benua itu sangat mengerikan. Aku tidak lebih seperti seekor semut di hadapannya. "


"Ha...ha..." keduanya tertawa lepas.


"Ada perlu apa saudara Deep datang ke kota Kapur Putih?"

__ADS_1


"Aku ada sedikit pekerjaan yang disini"


"Berapa lama saudara disini?"


"Tidak terlalu lama. Tergantung kapan selesai pekerjaannya."


"Jika begitu, nanti malam aku mengundang saudara untuk makan malam dirumahku. Sekalian memperkenalkan saudara ipar mu"


"Tentu tentu"


*****


Di istana Lingkar Awan


Tok...tok...


"Masuk"


Tidak berapa lama seorang pelayan masuk membawa sebuah kotak kayu dengan ukiran yang indah masuk.


"Apa ini?"


"Pangeran, ini tadi dititipkan seorang kakek tua. Katanya ini cendramata khusus yang dipesan oleh pangeran" kata pelayan itu.


"Letak kan saja dimeja itu!"


"Saya permisi pangeran" kata pelayan itu undur diri.


Pangeran Hurex hanya melambaikan tangan nya, tanda menyuruh pelayan itu pergi. Tanpa dilihat oleh sang pangeran, pelayan itu tersenyum saat meninggalkan ruangan itu.


"Cendramata pesanan? Seingatku aku tidak ada memesan apapun. Biarkan saja disitu" gumamnya kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Tidak lama seorang perempuan cantik masuk kedalam ruangan itu.


"Kakak, kamu dimana? Ibunda mengundang mu untuk makan malam bersama" katanya.


"Iya tunggu" terdengar suara dari dalam kamar mandi.


"Indah sekali kotak kayu ini.. bisa digunakan untuk tempat perhiasan ku" gumam perempuan itu.


"Kak, kotak kayu yang dimeja ini untuk ku ya." katanya sambil membawa kotak itu pergi tanpa menunggu jawaban dari pangeran Hurex.


Pangeran Hurex yang baru keluar dari kamar mandi hanya menggeleng gelengkan kepala dengan kelakuan perempuan itu.


"Kamu selalu saja seenakmu sendiri Resta. Bukan nya menunggu ku biar sekalian ke istana, malah pergi begitu saja membawa kotak kayu nya" kata pangeran Hurex.


Sementara itu perempuan itu berjalan dengan gembira sambil membawa kotak kayu itu.


"Biar hamba saja yang membawanya tuan Puteri" kata pelayan yang mengikuti nya.


"Tidak perlu. Nanti kau buat rusak kotak kayu seindah ini" kata puteri Resta sambil berjalan menuju istana.


Dibelakang nya beberapa pelayan mengikuti nya dengan patuh. Saat menuju kediamannya, tidak sengaja ia berpapasan dengan ibunya, sang ratu kerajaan.


"Kamu terlihat begitu gembira puteriku. Apa yang kamu bawa?" sapa sang ratu.

__ADS_1


"Kotak kayu, ibunda. Aku mengambilnya dari kediaman kakanda Hurex. Indah bukan?" kayanya setengah memamerkan kepada ibunya.


"Sangat indah."


"Aku ingin menggunakan nya sebagai tempat perhiasan ku. Aku pergi dahulu ibunda" kayanya sambil melambaikan tangannya.


"Kamu sudah beritahu kakandamu tentang jamuan makan malam?"


"Sudah bunda" jawabnya singkat tanpa menoleh.


Ratu hanya menggeleng kan kepalanya melihat kelakuan puteri Resta.


Puteri Resta dengan senang hati membawa kotak itu kedalam kamarnya.


"Kalian tidak usah masuk. Nanti jika ada perlu aku panggil" titahnya kepada para pelayan yang mengikutinya.


"Baik tuan Puteri"


Setelah menutup pintu kamar, puteri Resta meletakkan kotak kayu itu diatas meja riasnya. Ia kemudian mengambil kotak tempat perhiasan.


"Kamu sebentar lagi tidak diperlukan, karena aku sudah mendapatkan penggantimu yang jauh lebih indah" katanya kepada kotak perhiasannya.


Ia membongkar semua perhiasannya. Memilahnya kemudian menyusun nya diatas meja rias nya.


Ia mengambil kotak kayu itu dan membukanya dengan gembira. Saat membuka kotak itu, ia melihat dibagian paling atas ditutupi secarik kain berwarna merah dan ketika kain merah itu diangkat didalamnya ada sesuatu yang dibungkus dengan rapi.


"Apa ini? Aku lupa bertanya pada kak Hurex" gumamnya.


Tapi rasa penasaran menguasai pikirannya. Perlahan ia mengangkat bungkusan itu dan membuka isinya. Tiba tiba...


"Aaaaaa.....!" teriaknya sambil melemparkan bungkusan itu membuat semua isi bungkusan itu berhamburan di meja riasnya dan lantai kamar.


Ia sendiri terjatuh dilantai.


Mendengar suara teriakan dari dalam kamar, pelayan mendobrak pintu kamar.


"Tuan Puteri...!" seru mereka bersamaan.


Putri Resta pucat pasi.


Salah satu pelayan berlari keluar memanggil ratu mereka.


"Ratu...ratu....!"


:::::(((


.


..


..


.... Hallo readers. Maaf ya, musim keduanya terlambat sedikit.


.... Tetap dukung dengan like dan comment. Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2