Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Blue Topaz


__ADS_3

"Ketua, aku pergi ke toko peralatan dulu. Biar kupersiapkan alat yang mungkin untuk keperluan besok" kata Shine.


"Baik. Kami langsung ke penginapan. ."


"Nanti aku menyusul."


Sesampainya di penginapan setelah kamar pesanan mereka tersedia, Louisa langsung masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri. Selesai membersihkan diri, Louisa menulis sebuah pesan singkat untuk ayahnya Jendral Lucky, kemudian menggulung surat itu dan memasukkannya ke dalam sebuah tabung kecil.


Louisa membuka jendela kamarnya, kemudian merapal mantera sedikit. Seekor burung hantu terbang dengan cepat kearah Louisa dan bertengger di jendela. Ia mengambil tabung kecil berisi pesan tersebut dan mengikatnya dikali Strix.


"Strix, bawa pesan ini ke ayahku ya. Jika tidak ada hal penting, tinggallah di Hinom. Aku segera kembali." kata Louisa kepada burung hantu itu sebelum melepasnya pergi.


Setelah burung hantunya pergi, Louisa keluar dari kamarnya untuk makan malam.


Saat melewati meja resepsionis, ia terkejut saat melihat seorang pria berusia empat puluhan sedang memesan kamar.


"Berdasarkan ingatan Lorine, pria ini seharusnya kakak angkat Climb" batin Louisa.


Louisa mendekat ke meja resepsionis.


"Selamat datang di Lembah Angin kakak angkat" sapa Louisa dengan hangat.


Sejenak pria itu terkejut, karena tidak mengenal perempuan bercadar yang menyapanya.


"Maaf...siapa anda? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya sopan.


"Haruskah kubuka cadarku agar kakak angkatku mengenalku?" tanya Louisa balik.


Pria itu terdiam sejenak.


"Adik kecil, sejak kapan kau pakai cadar? Buat susah kakak angkatmu ini mengenalmu. Ha...ha..." katanya setelah sadar jika perempuan bercadar itu adalah Louisa.


" Kakak saja yang payah, masa suara adikmu ini tidak kau kenali?"


"Kita sudah lama tidak bertemu, tentu kakakmu ini sedikit lupa. Nah, apa kabarmu?"


"Sehat kak. Kakak juga sehatkan?"


"Tentu. Kau mau kemana? "


"Mau makan malam. Kakak ikut?"


"Adik duluan saja. Nanti kakak menyusul. Kakak mau mandi dulu"

__ADS_1


"Jika begitu aku pergi ya kak. Shine pasti senang bertemu kakak nantinya." kata Louisa sambil berlalu dari sana.


Sekitar lima belas menit kemudian, Climb datang bergabung dengan Louisa dan rombongan.


"Apa kabar senior?" tanya Climb saat baru tiba di meja mereka.


"Lapar." jawab Marco singkat.


"Kami semua baik baik saja. Saudara dan keluarga juga sehat?" jawab Shine mewakili mereka.


"Tentu"


Saat mereka tengah berbincang, beberapa orang pelayan datang membawa nampan berisi makanan.


"Pesanan sudah datang mari kita makan dahulu, sebelum ada yang bilang lapar lagi " kata Louisa sambil melihat kearah Marco yang diikuti tawa yang lain.


Setelah selesai makan mereka membicarakan tentang rencana esok hari.


"Berapa jarak dari sini ke bukit itu?" tanya Climb.


"Tidak begitu jauh kak Climb. Tapi mengapa kakak datang sendiri, dan bukannya kakak bilang baru tiba besok?"


"Besok pagi dua anggota kakak yang lain akan tiba. Kakak meninggalkan mereka di Hilton city. Karena mereka ada urusan pribadi dan kakak tidak mau ikut campur, makanya duluan kemari."


"Cukup ketua"


"Shadow, kau punya mata yang hebat. Menurutmu berapa lama tambangnya bisa berjalan?"


"Aku tidak bisa melihat terlalu dalam senior. Tapi jika dipermukaan saja cukup untuk dua puluh lima sampai empat puluh tahun, aku tidak tahu yang didalamnya"jawab Shadow.


"Tapi adik kecil bilang hanya sebuah bukit yang tidak terlalu besar."


"Kan tadi aku sudah bilang, jika dipermukaan ya saja senior. Aku memprediksi semua batu yang ada di bukit itu mengandung batu mulia. Tapi jika senior kurang yakin tinggal senior lihat besok"


"Jika kau sudah berkata seperti itu, aku tidak akan berkomentar lagi"


"Senior, disana sangat banyak cahaya. Bahkan mataku bisa dengan mudah melihatnya hanya dengan sedikit mantera. Aku yakin sebagai seorang penambang bertahun tahun, senior pasti akan takjup melihatnya" timpal Light.


"Jika itu benar, maka kejayaan Lembah Angin segera tiba. Adik kecil, kau harus mempersiapkan diri dan kerajaanmu jika itu benar. Kurasa kau sendiri tahu resikonya. Baik itu ancaman dari dalam maupun dari luar. "


"Aku mengerti kak. Tapi kakak tahu, Kerajaan Lembah Angin belum bisa berbuat banyak saat ini. Saat ini fokus kerajaan masih soal pangan dan pendidikan. Karenanya aku berusaha agar bisa mendapatkan sumber tambahan untuk pemasukan kerajaan."


"Jika demikian, saat proyek ini sudah berjalan, utamakan wilayah yang berbatasan langsung dengan kerajaan lain. Aku mendengar rumor tentang penolakanmu terhadap beberapa pangeran dan raja. Aku kawatir nantinya itu tidak akan berakhir baik adik kecil"

__ADS_1


"Aku juga sudah berpikir demikian kak. Mungkin tahun depan hal ini mulai bisa dilaksanakan" kata Louisa.


"Sudah malam. Istirahatlah.."


"Baik kak. Ayo Light kita istirahat"


Louisa dan Light meninggalkan tempat itu dan memasuki kamar masing masing.


Louisa berpikir apa yang dikatakan Climb ada benarnya. Berarti rencana pembangunan benteng benteng disekitar perbatasan harus dipercepat.


"Ah..terlalu banyak yang harus diurus. Sedangkan paman Landen masih konsentrasi untuk program pangan dan pendidikan yang juga memerlukan dana dan perhatian yang tidak sedikit. Apa lagi saat ini yang baru benar benar mandiri pangan baru distrik satu dan empat." gumam Louisa sendiri.


"Aku merindukanmu pangeran kecilku. Saat kau ada di pelukanku, aku merasa tidak punya beban apapun" batin Louisa sambil membayangkan wajah putera kecilnya.


*****


Pagi baru beranjak.


Dijalan yang berbatu tampak delapan ekor kuda berlari dengan kecepatan sedang menuju desa Tock.


Dari kejauhan mereka sudah melihat bukit yang menjadi tujuan mereka.


"Saudara Climb, itu bukitnya. Apa pendapatmu?" tanya Shine ketika jarak mereka dengan bukit madih sekitar tiga kilometer lagi.


Dia tidak memanggil Climb senior karena mereka memiliki umur yang relatif sama. Berbeda dengan Shadow, Light dan Marco yang berusia lebih muda.


"Luar biasa Shine. Bahkan jalan yang kita lalui juga luar biasa." katanya membuat semuanya terkejut mendengarnya dan menoleh ke arah Climb.


"Kita berhenti untuk memastikannya jika kalian tidak percaya." katanya sambil menghentikan laju kudanya dan melompat turun.


Gerakannya diikuti oleh yang lain.


Shadow yang sebelum tidak terlalu memperhatikan juga ikut terkejut. Louisa berjongkok di pinggir jalan dan memperhatikan batu batu yang tersebar. Seorang anggota Climb turut berjongkok disampingnya dan memungut sebuah batu berbentuk bulat seukuran telur ayam membersihkannya sedikit dan menunjukkannya kepada Louisa.


"Nona, coba lihat ini. Aku bisa merasakan jika didalamnya terdapat sebuah batu Jamrud atau topaz. Kerajaan anda sangat kaya, hanya kalian terlalu lama menyadarinya." katanya sambil merogoh ke dalam tasnya. Dan dia mengeluarkan sebuah kotak dari sana.


Batu yang diambilnya dimasukkan kedalam kotak itu dan ia menggerakkan sebuah tungkai yang ada disana.


Terdengar suara desing sedikit. Ketika suara desingan berhenti, ia membuka kotaknya dan tampak batu itu telah terbelah dua menampilkan sebuah inti batu berwarna kebiruan.


Ia menyerahkannya kepada Louisa dan berkata,


"Ini adalah blue topaz. Aku tidak mengerti kenapa daerah ini sangat kaya dengan batu batu mulia. Mungkin nona tahu sedikit sejarah tempat ini?"

__ADS_1


__ADS_2