
"Siapa putriku? Selir Agung Louisa Balley?'"tanya Margaret
"Benar ibu. Ibu mengetahuinya?"
"Kenapa tidak kamu tanya kepada Reneisme?"
"Sudah ibu. Mana tahu ibu punya cerita yang sedikit berbeda..."
"Tidak putriku. Kamu harus tahu, leluhur keluarga Albert merupakan pelayan setia dari Selir agung Louisa Balley. Jadi cerita mereka tidak diragukan kebenarannya"
Louisa terkejut, ia melihat ke arah Reneisme yang juga terlihat sedikit bingung.
"Mengapa ibu Ren tidak bercerita sebelumnya? Jangan bilang ibu Ren juga tidak mengetahuinya"
" Anda benar permaisuri, hamba juga baru mengetahuinya. Tapi kini hamba mengerti mengapa nenek leluhur sampai rela menempuh perjalanan jauh mengunjungi para cucu dan cicit perempuannya hanya untuk menceritakan selir agung"
"Ibu, kami pulang dulu ke istana"
"Baiklah putriku. Ingat putriku jika kau sudah kuat lagi, masih ada kami orang tuamu tempatmu bersandar"
"Aku mengerti ibu, ayah"
"Ren.."
"Saya tuan"
"Jaga putriku, dan segera kabari aku jika terjadi sesuatu"
"Baik tuan, nyonya. Kami berangkat"
Louisa segera naik ke atas kereta kuda, kemudian di ikuti oleh Reneisme. Kereta kuda bergerak meninggalkan kediaman Jendral Lucky.
******
Di atas kereta kuda
"Ibu Ren, apakah lukisan Selir Agung Louisa Balley pernah dibuat?"
"Setau hamba, lukisan Selir Agung Louisa Balley ada satu di istana"
"Tapi mengapa aku tidak pernah melihatnya ibu Ren?"
__ADS_1
"Karena lukisan itu di pajang di ruang leluhur istana, bukan di ruang aula tahta raja"
"Benar juga. Bagaimanapun juga beliau hanya seorang Selir Agung, bukan seorang raja. Dan hanya seorang raja yang layak lukisannya di pajang di ruang tahta raja. Aku mengerti sekarang ibu Ren."
Louisa terdiam sejenak. Setahunya ruangan leluhur hanya bisa dimasuki kalangan terbatas. Bahkan pelayan yang bertugas membersihkan ruangan itu, benar benar pelayan pilihan..
"Tapi bagaimana ibu Ren tahu lukisan beliau ada di ruang leluhur, apa ibu pernah masuk ke dalam?"
"Hamba pernah menemani ibu Suri mengambil jubah Resmi Permaisuri ke dalam ruang leluhur. Itu seminggu sebelum pernikahan Yang Mulia Raja dengan Permaisuri. Ibu Suri sendiri yang menunjukkan lukisan Selir Agung ke pada hamba, mungkin ibu Suri tahu kalau keluarga Albert merupakan pelayan setia Selir Agung Louisa Balley, sehingga merasa kalau hamba perlu tahu"
Louisa mengangguk anggukkan kepalanya. Dia mulai tahu siapa yang perlu dijumpai agar bisa memasuki ruang leluhur.
Tanpa terasa kereta yang membawa mereka telah sampai didepan istana. Reneisme turun, diikuti oleh Louisa. Karena hari sudah begitu larut, selesai membersihkan diri dan mengganti baju Louisa segera beristirahat.
*****
Pagi telah datang. Saat ini Louisa sedang duduk dimeja makan sambil menikmati sarapan paginya ditemani Renesme dan seorang pelayan.
"Ibu Ren, sidang putus ceraiku akan di laksanakan sepuluh hari lagi. Selama sepuluh hari kedepan aku akan sangat sibuk. Ada begitu banyak orang ingin aku temui"
"Apa yang bisa hamba bantu permaisuri?"
"Tolong sortir barang barang dan pakaianku. Pilih lima saja pakaian yang agak mewah untuk kupakai menjumpai orang orang berpengaruh, sisanya tolong masukkan ke kotak penyimpanan dan kirim ke rumah ayah. Untuk sehari hari, pilih pakaian yang polos dan sederhana saja"
"Itu tidak perlu ibu Ren. Jubah itu harus tetap kupakai selama posisi permaisuri masih ditanganku. Dan jubah itu akan diambil kerajaan kembali pada saat pencabutan gelar permaisuri"kata Louisa dengan pelan.
Reneisme memandangnya dengan raut muka yang yang sedih, begitu juga dengan pelayan yang menemani mereka.
"Hei .... mengapa kalian begitu bersedih. Aku masih disini sebagai permaisuri, walaupun tinggal sepuluh hari lagi"kata Louisa setengah bercanda bermaksud menghibur kedua pelayannya.
"Permaisuri, anda begitu baik kepada semua orang di istana. Selalu ringan tangan menolong siapapun yang kesusahan tanpa memandang status dan kedudukannya. Tapi saat anda kesusahan seperti sekarang, kami bahkan tidak bisa sekedar membantu yang mulia" kata pelayan itu sambil menangis
Louisa terharu mendengarnya, tidak pernah dia sangka kalau Permaisuri Lorine sangat disayangi begitu banyak orang. Bahkan orang orang itu turut menangis untuknya.
Dia berdiri dari kursinya, kemudian memeluk pelayan itu sebentar kemudian melepasnya.
"Terimakasih untuk cinta kalian untukku. Aku menolong kalian, karena bagiku kalian adalah keluargaku juga. Ada yang kuanggap sebagai ibuku, seperti pelayan Reneisme, ada yang ku anggap paman seperti penjaga Thomas, atau kakak seperti pelayan Jen"kata Louisa sambil tersenyum.
Pelayan Jen yang mendengar hal itu tersenyum. Tidak mengira junjungannya akan berkata seperti itu.
"Terima kasih permaisuri"katanya sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
"Jadi setelah ini tolong bantu ibu Ren membereskan barang barang ku ya kakak"kata Louisa sambil mengedipkan sebelah matanya, yang diikuti tawa Reneisme dan pelayan Jen.
"Aku mau menjumpai ibu suri, sebelum tengah hari aku akan kembali"
"Ingat permaisuri, anda ada janji makan siang bersama Arduchess...."
"Aku tahu"potong Louisa sebelum Reneisme menyelesaikan kalimatnya
Louisa berjalan keluar menuju istana mawar, kediaman ibu suri Anita. Tidak lama ia segera sampai disana.
Ibu Suri sedang duduk ditaman menikmati sinar matahari pagi tidak melihat kedatangan Louisa.
"Salam Ibu Suri..."sapa Louisa
Ibu suri Anita menoleh ke arah Louisa dan tersenyum.
"Selamat datang di kediamanku menantuku"jawabnya sambil merentangkan kedua tangannya.
Louisa mendekat dan kemudian memeluk ibu suri sebentar kemudian melepaskannya.
"Sudah lama sekali putriku kamu tidak datang kemari. Terakhir kamu datang setelah putra bodohku membuat keputusan.. hah..." katanya dengan nada yang terdengar kesal
"Sudahlah ibu. Bagaimanapun, ibu tetaplah ibuku walaupun nantinya aku harus berpisah dengan putramu yang bodoh itu" kata Louisa ikut ikutan mengatakan Raja Peter bodoh
"Ha...ha... Peter yang bodoh itu memang tidak pantas untukmu putriku. Bagus juga kalau kamu berpisah darinya"kata Ibu Suri Anita lagi
Louisa ikut tertawa mendengar perkataan ibu suri.
"Ayo kita minum secangkir teh di ruanganku. Baru tiba dua hari yang lalu dari Gunung Teh Hijau. Aku belum sempat mencobanya. Anggap saja teh itu memang menunggumu"kata ibu Suri Anita
Mereka berjalan masuk kedalam kediaman ibu suri. Sebelum raja Peter memutuskan akan menceraikan permaisurinya, hubungan Ibu Suri dengan Permaisuri Lorine memang sangat akrab layaknya dua orang sahabat. Mereka kerap melakukan banyak hal bersama, dan minum teh merupakan rutinitas yang tidak pernah mereka lewatkan jika bertemu.
Dan keputusan raja Peter, sedikit mempengaruhi hubungan keduanya ditambah yang berdiam ditubuh Lorine semenjak dia jatuh
dari balkon istana adalah Louisa.
"Silahkan dicoba putriku"
"Ini benar benar enak ibu"kata Louisa setelah mencecap tehnya.
"Maafkan ibu, tidak bisa merubah keputusan putraku Lorine"katanya dengan nada bersalah
__ADS_1
"Tidak mengapa ibu. Ibu tidak bersalah, aku juga turut andil karena memang kenyataan belum bisa memberikan seorang putra untuk Peter."