Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Akhir Dendam Empat Kehidupan (3)


__ADS_3

Malam belum terlalu tinggi. Hujan gerimis yang turun menjelang malam dan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, membuat orang enggan bergerak dari kediaman nya.


Tampak tiga orang berpakaian serba hitam bergerak cepat. Hujan gerimis dan malam yang gelap tanpa sinar bulan benar-benar mampu membuat ketiganya hampir tidak terlihat.


"Dimana?"


"Kompleks depan"


"Yang mana rumah nya?"


"Nomor dua sebelah kiri"


"Bagaimana cara kita masuk?"


"Sebentar, biar kuperiksa


dahulu keadaan didalam rumah" kata Shadow.


Ia kemudian merapal mantera.


"Dugaan ketua benar. Perempuan itu telah dibunuh."


"Bagaimana kau tahu?"


"Didalam rumah ada mayat seorang perempuan tergelak dilantai. Dan pria itu tidak ada didalam rumah."


"Mari kita cek"


Mereka bertiga berjalan kearah pintu rumah.


"Pintunya terkunci"


"Aku punya kuncinya" kata Shadow sambil membaca mantra dan pintu itupun terbuka.


Mereka kemudian segera masuk kedalam rumah itu .


"Ikuti aku" kata Shadow yang memberikan kode dengan tangan nya.


Deep dan Marco mengikuti Shadow. Mereka menuju sebuah ruangan kecil. Ketika pintu ruangan terbuka, tampaklah tubuh sesosok perempuan tergeletak dilantai.


Ditubuhnya terlihat adanya tanda tanda tindak kekerasan sebelumnya.


"Brengsek..." kata Deep.


"Ada apa?" tanya Marco dan Shadow bersamaan.


"Lihat itu!" kata Deep.


"Tampak nya ada yang mencoba melecehkan dia. Dan dia melawan. Tapi akibat nya justeru ia dibunuh karena itu"


"Bagaimana dengan mayatnya? Kita bawa keistana?"


"Biarkan saja disini. Kita laporkan kepada ketua dahulu. Biar ketua yang mengambil keputusan"


"Jadi apa yang bisa kita bawa pulang sebagai bukti?"


Shadow memperhatikan sekeliling kamar itu. Juga melihat lagi mayat perempuan itu.


Ia berjongkok didepan mayat perempuan itu. Dan melepaskan sebuah cincin yang melingkar dijari perempuan itu.


"Deep dilaci meja itu ada sebuah kalung. Ambillah agar kita bawa pulang."


Deep membuka laci meja rias yang terdapat di kamar itu. Dan benar saja, ada sebuah kalung dengan liontin berupa huruf J dan R yang saling menempel.


"Kukira kedua barang saja sudah cukup" kata Shadow


"Baik. Kita kembali"


Mereka keluar dari rumah rumah dengan perlahan. Menutup kembali kamar itu dan sekali lagi menutup pintu rumah itu.


Setelah mereka meninggalkan rumah itu sejauh lima ratus meter...

__ADS_1


"Dia kembali.." kata Shadow


"Pria itu?"tanya Deep


"Iya. Apa perlu kita menangkap nya?" tanya Shadow


"Tidak usah. Ketua hanya meminta kita mencari perempuan itu"


"Marco benar. Kita tunggu perintah dari ketua saja"


"Mantramu apakah tidak bisa mengecek keadaan rumah itu besok?"


"Mantra yang kupasang hanya untuk sekali pakai"


"Kita pulang dahulu."


Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke istana, menunggu hari pagi sebelum melapor kepada Louisa


Hal yang kemudian membuat ketiganya kena marah.


*****


Pagi hari.


Louisa baru mengganti pakaiannya. Bersiap untuk pergi sarapan.


Tok...tok...tok...


"Puteri, tuan Deep dan lainnya meminta ijin untuk bertemu"


"Suruh mereka menunggu di ruang makan. Aku segera kesana"


Louisa bergegas ke ruang makan. Disana sudah ada kakek Franklin dan nenek Eliz. Juga Jendral Lucky, Sola dan Norbert. Dan tentu saja kelima orang anggota Louisa. Sementara pangeran Lark dan Puteri Revaline ikut sarapan dengan keluarga istana Fatma.


"Selamat pagi semua" sapa Louisa.


"Selamat pagi juga"


"Sarapan dahulu. Nanti saja dibahas" potong kakek Franklin.


"Baik tuan" kata Marco


Pagi itu semua sarapan dengan tenang.


"Apa kita ikut pergi ke balai sidang kerajaan Fatma?" tanya nenek Eliz.


"Tentu isteriku. Bagaimana pun cucu kita juga ikut diserang. Ayo, kita bersiap. Kalian lanjutkan obrolan kalian"


"Baik ayah" kaya Jendral Lucky.


"Iya kakek" kata Louisa dan Sola bersamaan.


Setelah kakek Franklin dan nenek Eliz pergi dari ruang makan itu..


"Biasanya kakek tidak melarang kita berbicara saat sedang makan. Kenapa hari ini berbeda?" tanya Norbert.


"Karena topik pembicaraan nya lumayan berat. Kakek kalian hanya tidak ingin semua pembicaraan kita nantinya menjadi beban pikiran bagi nenek kalian" jawab Jendral Lucky.


"Sekarang laporan kalian" kata Louisa


Marco kemudian menceritakan pekerjaan mereka malam sebelumnya. Tentang mayat seorang perempuan, juga dua barang yang mereka ambil.


"Mana barang nya?" tanya Louisa.


"Ini ketua" kata Deep sambil menyerahkan kalung dan cincin yang mereka ambil.


"Ini memang miliknya. Kalian bilang orang itu tidak ada di tempat sewaktu kalian datang?"


"Benar ketua. Tapi setelah kami pergi, aku merasakan jika ia kembali" kata Shadow.


"Terus kenapa kalian tidak menangkap nya?"

__ADS_1


"Ini salahku, ketua. Sebenarnya Shadow sudah mengusulkan hal itu, tapi karena ketua hanya meminta mencari perempuan itu, aku kita kebih baik melaporkan hal itu kepada ketua dahulu"


"Bodoh! Bagaimana jika kalian sudah ketahuan masuk kedalam rumah. Karena itu ia melarikan diri. Atau menyembunyikan mayat perempuan itu! Huh... Apa yang bisa kita katakan kepada raja Tezja" kata Light marah


"Sudahlah. Sudah terjadi. Aku akan melaporkan hal ini kepada raja Tejza. Biar prajurit kerajaan Fatma yang mengambil mayat perempuan itu. Aku yakin orang itu pasti aka hadir di persidangan Jhon Muel. Kalian awasi dengan seksama. Tangkap jika ditemukan. "


"Baik puteri"


"Tapi ingat, usahakan secara diam diam. Jangan buat keributan!" kata Jendral Lucky mengingatkan.


"Aku mau menjumpai Jhon Muel sebelum sidang. Setahuku, begitu hukuman dijatuhkan balai sidang maka hukuman segera dilaksanakan. "


"Untuk apa lagi kak Lorine?" tanya Sola


"Mengambil hadiah untuk pangeran Hurex."


"Hah...kakak serius?" tanya Sola terkejut.


"Isteriku, maksud kakak ipar barang untuk memberikan peringatan kepada pangeran Hurex. "


"Oh begitu"


"Aku ingin kalian berdua menemani kakek dan nenek"


"Baik paman"


Louisa ditemani Light dan Shine pergi ke penjara untuk menjumpai Jhon Muel.


"Kepala, bisakah kami bertemu dengan Jhon Muel sebentar?" tanya Louisa kepada kepala penjara.


"Silahkan tuan Puteri. Mari saya antarkan" kata kepala penjara itu sambil memimpin jalan.


Mereka berhenti di depan sebuah ruangan kecil.


"Silahkan tunggu sebentar puteri. Saya akan memanggil orangnya"


Kepala penjara itu pergi, dan tidak berapa lama dia kembali membawa Jhon Muel bersama nya.


"Louisa.."


"Duduk!"


"Apa ada kabar tentang isteriku?"


"Pak kepala, bisakah tinggalkan kami sebentar. Ada hal yang ingin aku tanyakan kepada tahanan ini. " kata Louisa sopan


"Baik tuan Puteri. Jika sudah selesai, panggil saja penjaga yang disana" kata kepala penjara dan pergi meninggalkan mereka.


"Terimakasih kepala penjara" kata Louisa.


"Sebelum aku menjawab pertanyaan mu. Jawab dahulu pertanyaan ku. Apa barang bukti yang bisa kubawa sebagai bukti keterlibatan pangeran Hurex?"


"Aku tidak bisa melakukan itu Louisa. Bukankah jau sendiri yang mengatakan jika hal ini terbongkar bisa menyebabkan perang tiga kerajaan?"


"Aku tidak akan menyerahkan bukti itu kepada kerajaan Fatma. Aku punya rencana sendiri. Jadi apakah kau punya bukti?"


"Apakah ini sepadan dengan informasi yang kau bawa?"


"Sangat sepadan"


"Digedung Serikat Pekerja Sorka, dilantai dua. Dirak buku paling bawah, angkat buku berwarna biru. Dibawahnya ada semacam laci kecil, didalam ada bukti yang kalian perlukan." kata Jhon Muel sambil membuka cincinnya.


"Ini kunci untuk membuka laci itu. Dan ini token pribadiku, tolong berikan kepada pria tua yang berjaga didepan rumah " katanya sambil menyerahkan kepada Louisa.


"Shine ambil. Apakah pria itu tetua keluarga Muel?"


"Benar. Mulai saat ini, agar dia mengurus seluruh keluarga besar kami. Bagaimana pun akulah yang menghancurkan keluarga ini. Tolong sampaikan maafku kepada beliau"


"Akan aku sampaikan" kata Shine.


"Jadi bagaimana kabar isteri ku?"

__ADS_1


__ADS_2