
Ruangan itu kembali ribut. Semua orang saling berbisik dengan orang disebelahnya.
"Maaf kakak ipar, apakah..."
"Saudara Sidney, jika yang ingin anda bahas adalah putriku, setelah pertemuan ini kita berbicara bersama. Saya juga ada yang ingin saya bicarakan dengan anda" potong Jendral Lucky.
"Ayah, pertemuan ini sudah melenceng dari agenda. Silahkan diteruskan" lanjutnya.
"Baiklah. Karena agenda awal kita sudah selesai akan kita lanjutkan dengan satu pengumuman penting. Ini juga mungkin ada hubungannya dengan salah satu pernyataan nak Sidney tadi" kata kakek Franklin mengambil kendali acara.
"Selama berpuluh tahun, kita keluarga besar Valley berjuang untuk kesejahteraan masyarakat Lembah Angin atau distrik sembilan. "
"Setelah kerajaan Lembah Angin berdiri kembali, sampai tahun lalu kita masih ikut berkontribusi secara finansial."
" Dengan ini saya umumkan, bahwa terhitung tahun ini semua kontribusi wajib berupa uang yang selama ini kita bayarkan mulai saat ini ditiadakan."
"Saya sebagai leluhur Kerajaan Lembah Angin mengucapkan terimakasih kepada semua keluarga besar Valley"
"Sebagai bentuk terimakasih dari Kerajaan Lembah Angin, maka pihak kerajaan memberikan kedelapan keluarga inti masing masing wilayah mereka sendiri. Untuk lokasinya nanti akan dibuat surat resmi kerajaan berserta sertifikat pengesahannya"
"Dengan demikian pertemuan tahunan keluarga besar Valley kita tutup" kata kakek Franklin.
Semua orang berdiri, membungkukkan badan memberi hormat kepada kakek Franklin.
*****
Sesuai dengan permintaan Jendral Lucky, Sidney datang menjumpai Jendral Lucky.
Mereka bertemu di taman belakang rumah leluhur.
"Jendral.." panggilnya
"Kau sudah datang. Duduklah" kata Jendral Lucky.
Seorang pelayan datang membawa teh dan cemilan kecil.
"Silahkan tuan" kata pelayan itu.
"Terimakasih. Tolong panggil nona mudamu kemari" kata Jendral Lucky.
"Baik tuan" kata pelayan itu.
"Apa kabar paman Heng? Kenapa beliau tidak datang?" tanya jendral Lucky.
Paman Heng yang dimaksud Jendral Lucky adalah ayah dari Sidney.
"Kesehatannya sudah agak menurun. Makanya beliau tidak bisa datang. Sedangkan kakak pertama tidak bisa datang karena sedang merawat seorang bangsawan yang sedang sakit parah" jawabnya.
"Saudara Sidney sekarang tinggal dimana?"
"Saya di kota Kabut Putih"
"Kota Kabut putih? Kerajaan Lingkar Awan?"
"Benar Jendral"
"Aku ingin saudara Sidney menjawab dengan jujur. Semua informasi yang anda sampaikan saat pertemuan tadi, saudara dapatkan dari siapa?"
"Maksud Jendral?"
"Saudara Sidney.. Semua yang anda sampaikan tentang putriku, tidak bisa anda peroleh dengan mudah. Dan saya hanya merasa, untuk ukuran saudara, saudara Sidney tidak akan mau repot repot mencari tahu tentang putriku. Jadi katakan, informasi itu saudara peroleh dari siapa?"
__ADS_1
"Maafkan saya Jendral. Saya diberikan informasi oleh pangeran Hurex. Beliau jugalah yang menginginkan tambang itu"
"Apa imbalannya untuk saudara?"tanya Jendral Lucky.
"Menjadi tabib istana kerajaan Lingkar Awan dan pertunangan Nest dengan putri Wilow anak dari pangeran kedua" kata Louisa yang tiba tiba datang.
Sidney terkejut tidak percaya.
"Aku benar iya kan paman Sid?" tanya Louisa dengan wajah datar.
"Maaf tuan Putri." katanya sedikit gelisah.
"Apa begitu saudara Sidney?" tanya Jendral Lucky lagi.
"Ma..af Jendral. Tapi itu benar" katanya terbata.
"Huh.." kata jendral Lucky dengan suara berat . " Sepertinya banyak mata mata dari kerajaan lain disekitar kita"
"Paman Sidney, anda hanya dimanfaatkan pangeran Hurex. Dia ingin membuat kekacauan di Lembah Angin" kata Louisa.
"Tapi mengapa?"
"Karena aku menolak lamarannya. Dia adalah salah satu orang yang begitu keras kepala ingin menikahiku. Aku sudah menolaknya tiga kali paman Sid" kata Louisa.
"Ternyata apa yang ayah takutkan terjadi Lorine" kata Jendral Lucky.
"Aku akan mulai operasi pembersihan ayah. Sebenarnya ini adalah rencana lama. Dan sudah koordinasi dengan paman Matt. Satu pertanyaanku paman Sid. Apakah pangeran Hurex tahu tentang putraku?"
"Sepertinya tidak tuan Puteri. Dan aku juga baru tahu jika tuan Puteri sudah menikah lagi dan bahkan sudah punya seorang putra" katanya dengan polos.
"Ha...ha... "terdengar tawa Jendral Lucky bergema.
"Tentu saja paman Sid. Aku belum menikah sejak bercerai dengan Raja Peter. Lagi pula, aku tidak berminat untuk menikah lagi. Aku hanya ingin membuat kerajaan Lembah Angin menjadi kerajaan yang maju dan kuat. Dan mengenai puteraku, dia adalah putera mahkota kerajaan Gordon. "
"Bagaimana bisa?"
"Ini adalah rahasia. Sebenarnya delapan kepala keluarga inti sudah mengetahuinya. Dan di kota Hinom sendiri, hanya kalangan istana dan rumah leluhur yang mengetahuinya." kata Louisa
"Jadi apakah istana Gordon sudah mengetahuinya?"
"Belum. Akan ada saatnya nanti istana Gordon mengetahuinya. Dan itu bukan sekarang."
"Puteri, jika anda kembali ke Gordon apakah kedudukan permaisuri akan kembali ketangan anda?"
"Mungkin, tapi aku tidak akan kembali ke Gordon. Paman Sid, bagaimana jika anda menjadi kepala balai pengobatan di distrik tiga. Apakah anda bersedia?" tanya Louisa.
"Puteri ini..?"
"Paman pikirkan baik baik. Jika sudah mengambil keputusan, paman bisa sampaikan kepada pangeran Lark, karena balai pengobatan sekarang berada dibawah naungannya."
"Tapi keluarga ku semua ada di.."
"Bawa pulang. Bersama bangun Lembah Angin. Putera anda Nest bisa belajar dengan kakek Franklin. Jika nantinya menurut kakek sudah memenuhi syarat, maka jika anda tidak ingin menjadikannya sebagai pendamping anda, dia bisa diangkat menjadi kepala balai pengobatan di salah satu kota"
"Baik Puteri, saya akan memikirkannya"
"Saya sudah menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan. Silahkan lanjutkan perbincangan anda dengan ayah. Saya permisi" kata Louisa undur diri.
"Puteri..."
"Ada apa lagi paman Sid?"
__ADS_1
"Maafkan kelakuan dan perkataan saya sewaktu pertemuan tadi. Saya hanya manusia yang tidak tahu diri, yang hanya memikirkan keuntungan diri sendiri" katanya sambil membungkuk penuh hormat.
"Aku sudah memaafkan paman." kata Louisa dan segera berlalu.
Berjalan memasuki rumah, ternyata kedatangannya sudah ditunggu oleh Margaret.
"Apakah kau memaafkannya begitu saja Louisa?"
"Ibu, jika aku tidak memaafkan, haruskah aku memelihara dendam ibu? Atau membiarkan amarah tetap tinggal dihatiku, membuat hidupku tidak pernah tenang?"
"Tapi yang dia lakukan sudah keterlaluan Louisa" protes Margaret.
"Ia hanya manusia yang menjadi korban keserakahannya sendiri, sehingga begitu mudah dipengaruhi oleh orang lain. Mungkin juga karena perlakuan kakek Heng padanya dan pada paman pertama berbeda, sehingga ia berusaha mencari jalannya sendiri"
"Dan kau tidak ada niat membalasnya sedikitpun?" tanya Margaret tetap ngotot dengan pendapatnya
"Biarlah ibu. Yang ingin kuhukum adalah pangeran Hurex dari kerajaan Lingkar Awan, karena ingin membuat kekacauan di Lembah Angin"
"Bagaimana caramu?"
"Aku sudah mempersiapkannya. Minggu depan dia akan datang kemari membahas kerja sama dua kerajaan."
"Caranya?"
"Sama dengan yang dilakukannya pada paman Sidney. Ibu tunggu saja kabarnya"
Dari halaman depan terdengar gelak tawa, membuat Louisa tersenyum.
"Mama..nenek Ren curang. Hukum dia, jangan kasih manisan." kata Lucio datang bersama Reneisme dibelakangnya.
"Nenek tidak curang. Lucio yang kurang cepat"
"Lomba apa tadi sama nenek Ren?" tanya Louisa sambil memangku Lucio.
"Menangkap kupu kupu. Cio cuma dapat dua, nenek Ren dapat lima.." katanya sambil cemberut.
"Berarti Lucio harus berlatih lebih keras lagi pada kakek Shine"
"Iya, besok Cio akan bilang pada kakek Shine"
"Oke. Sekarang kita mandi dulu"
"Cio mandi sendiri, sudah besar"
"Nanti mama yang bantu gosok punggungnya ya..."
"Ngga mau..mandi sendiri. Kata kakek malu kalau mama yang mandiin"
"Jadi siapa yang bantu Cio gosok punggung?"
"Nenek Ren..." katanya dengan muka polos
.
.
.
..
... Jangan lupa like dan comment
__ADS_1