Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Bertemu Ibu Suri


__ADS_3

"Orang tua? Maksud ayah Yang Mulia Leluhur Tertinggi?" tanya Hubert


"Iya."


"Jika Yang Mulia Leluhur Tertinggi pulang, mungkin akan banyak kejutan terjadi di istana. Aku sungguh menantikannya. Tapi mengapa baru sekarang ayah meminta beliau pulang?"


"Maksudmu, mengapa tidak sewaktu Raja Peter menceraikan Permaisuri Lorine ?"


"Iya, ayah"


"Ayah lupa...ha...ha... Ini saja karena usul dari Lorine baru ayah ingat"


"Apa kedatangan Dutchess Lorine ke Gordon city sekali ini terkait isu ini?"


"Ah bukan. Aku justeru baru tahu tentang kekacauan harem istana setelah sampai di sini. Selain ingin memperkenalkan Lucio tentang istana, tapi ada hal yang lebih penting. Aku memesan beberapa alat pompa air untuk digunakan di beberapa wilayah Lembah Angin"


"Alat pompa air? Apa memang keadaan Lembah Angin begitu kesulitan air?"


"Saat ini sebenarnya masih bisa ditangani. Tapi itu mempersiapkan Lembah Angin untuk beberapa tahun yang akan datang"


"Apa keadaan Lembah Angin beberapa tahun kedepan akan makin kesulitan air dutchess? Dari yang aku dengar, kerajaan Lembah Angin mengalami kemajuan yang luar biasa"


"Bukan hanya Lembah Angin yang akan mengalami kesulitan air beberapa tahun kedepan, tapi seluruh benua tengah Hubert"


"Kenapa kakek? Bukankah air di Gordon sangat melimpah"


"Ada suatu bencana yang akan terjadi beberapa tahun ke depan. Istana belum ada pengumuman tentang itu. Tapi sebelum istana membuat pengumuman, kita harus bersiap. Sepuluh hari lagi kita akan mengadakan pertemuan keluarga besar. Ayah akan membicarakan persoalan ini saat pertemuan"


"Apa ini sungguh gawat ayah?"


"Paman Hubert bisa membayangkan benua tengah mengalami kemarau panjang selama satu sampai dua tahun. Menurut paman, apa yang bisa terjadi?" tanya Louisa


"Kemarau satu sampai dua tahun. Itu akan mengerikan. Kelaparan.... itu tidak bisa di elakkan. Tapi bagaimana anda tahu itu akan terjadi?"


"Ada dicatatan istana. Tepatnya perpustakaan dalam. Menurut catatan, bencana kemarau akan terjadi setiap dua ratus tahun sekali. Dan kebetulan, itu sekitar dua sampai empat tahun lagi"


"Persiapan Lembah Angin selain air apa saja?"


"Kami sudah siap. Terutama dari segi pangan" jawab Louisa


Mereka meneruskan perbincangan seputar bencana kemarau.


Sementara itu, Lucio sudah dibawa berkeliling kompleks istana oleh Rey dan Kim. Mereka memperkenalkan Lucio tentang bagian bagian istana beserta fungsi fungsinya.


"Ternyata sangat luas paman. Aku lelah.."


"Kita istirahat disana saja Tuan muda" kata Kim sambil menunjuk sebuah taman bunga yang tidak terlalu besar.


"Apa nanti kita tidak masalah paman? Soalny mama sudah memperingatkan jangan buat masalah" kata Lucio


"Taman itu memang ditujukan untuk pengunjung Tuan muda. Jadi tidak perlu khawatir kita menyalahi aturan istana" jawab Rey

__ADS_1


"Oke, ayo pergi paman"


Ketiganya duduk di bangku panjang yang ada teman itu, sambil meminum air yang dibawa Rey sebelumnya.


Setelah beristirahat selama setengah jam, Lucio mengajak keduanya kembali.


"Ayo paman Kim, paman Rey kita kembali. Aku takut nanti mama cemas jika kita terlalu lama"


"Baik tuan muda"


"Tapi kita mengambil jalan dari alun alun istana saja saudara Rey. Sekalian bisa kita tunjukkan kepada Tuan muda Lucio."


"Aku setuju saudara Kim. Apa Tuan muda setuju?"


"Boleh paman. Tapi mengapa alun alun ada di belakang istana. Bukankah biasanya di bagian depan?"


"Sebenarnya ada di bagian depan Tuan muda. Tapi tadi sepertinya Tuan muda datang dari gerbang Timur, gerbang yang paling dekat dengan gedung departemen keuangan"


"Oh begitu." kata Lucio manggut manggut.


Mereka kembali berjalan, sambil Kim dan Rey secara bergiliran menjelaskan lingkungan yang mereka lewati.


Saat mereka meninggalkan alun alun, tanpa sengaja mereka bertemu ibu suri Anita yang tengah berjalan di ikuti beberapa beberapa orang pelayan Istana.


Kim dan Rey menarik tangan Lucio dan berisik pelan di telinganya, sambil membungkukkan badan memberi hormat pada ibu suri.


"Salam Yang Mulia ibu suri.." kata mereka serempak.


Tapi tatapan matanya seketika terhenti saat melihat Lucio, entah mengapa ia merasa sedikit akrab.


"Siapa Tuan muda ini?"


"Hamba Lucio ibu suri" kata Lucio hormat.


"Siapa dia?" tanya ibu suri Anita melihat Rey.


"Tua muda Lucio, cicit dari dutch Norwey ibu suri. Tadi datang bersama dutch Norwey dan juga ibu Tuan muda Lucio. Mungkin karena ada hal penting yang ingin mereka bahas dengan tuan Hurbert, kami diminta membawa Tuan muda Lucio berkeliling istana"


"Oh... cicit dutch Norwey..." pikir ibu suri. Ada rasa iri dihatinya, mengingat ia bahkan belum punya seorang cucu sementara dutch Norwey telah mempunyai cicit yang cukup banyak


"Tuan Muda Lucio, bagaimana jika berkunjung ke istana ku untuk memakan sepotong roti dan minuman segelas teh" kata Ibu suri Anita kepada Lucio.


"Itu pasti menyenangkan ibu suri. Tapi maaf, ibuku sedang menunggu. Kami sudah pergi cukup lama. Aku takut beliau akan cemas. Tapi mungkin lain kali aku bisa mengajak ibuku untuk mengunjunginya anda ibu suri" jawab Lucio.


"Iya .... ya... Pergilah, jika bisa ajak ibumu datang minum teh bersama ku."


"Tentu ibu suri. Kami permisi." kata Lucio sambil membungkukkan badannya diikuti oleh Kim dan Rey.


.


.

__ADS_1


"Mama, kami datang...!" seru Lucio sambil masuk ke dalam ruangan.


"Puas kelilingnya..?" tanya Louisa yang sudah kembali mengenakan cadarnya.


"Hmm... sini, ma. Ada yang Cio mau bisikkan ke mama"


"Apa itu?"


Lucio berisik pelan di telinga Louisa. Wajah Louisa sedikit terkejut tapi segera pulih kembali.


"Ada apa? Ada masalah ?" tanya dutch Norwey


"Tidak kakek. Hanya saja mereka bertemu Ibu Suri Anita " jawab Louisa


"Apa benar Kim, Rey?" tanya Hubert


"Benar Tuan. Malah sempat mengajak Tuan muda Lucio untuk minum teh bersama" jawab Kim dan menceritakan pertemuan mereka juga ajakan ibu suri Anita agar mengajak Louisa juga ikut.


Hubert dan Dutch Norwey saling berpandangan. Louisa hanya tersenyum dibalik cadarnya.


"Perkenalan yang bagus. Ayo kita pulang" kata dutch Norwey kemudian.


Louisa dan Lucio kemudian berpamitan kepada Hubert dan Merad. Tidak lupa berterima kasih kepada Kim dan Rey karena telah bersedia mengantarkan Lucio keliling istana.


"Jika paman Kim dan paman Rey ada waktu, datanglah ke kota Alma di kerajaan Lembah Angin. Katakan Lucio, putera Louisa mengundang anda. Semua orang pasti dengan senang hati akan membawa paman berdua ke kediaman kami" kata Lucio.


"Tentu. Jika ada waktu kami pasti berkunjung" jawab Kim.


"Ini sedikit oleh oleh yang kami bawa dari kota Alma. Maaf tadi lupa memberikannya" kata Lucio sambil memberikan masing masing satu kepada mereka.


"Kakek dapat juga?" tanya Hubert.


"Tentu kakek. Leluhur dan leluhur Puteri juga dapat" jawab Lucio.


"Terima kasih Tuan muda dan Nyonya Louisa " jawab Kim dan Rey


Sepeninggal Louisa,Lucio dan dutch Norwey, masing masing mereka membuka hadiah yang diberikan Lucio.


"Ini...sangat mahal" kata Kim sambil menunjukkan sebuah pin dengan hiasan batu Alexandrite.


"Aku juga" kata Rey dan Mured.


Hubert tersenyum melihat mereka.


"Ayah diberikan apa? Punya ayah kotaknya lebih besar" kata Mured.


"Ini untuk ibumu. Ini pasti dipersiapkan sepupumu. Sebuah kalung dan gelang "


"Apa beliau sekaya itu, ayah?"


"Sepupumu memang sudah kaya sejak dahulu. Ingat ibunya berasal dari keluarga pedagang yang sukses. Dan beliau sungguh sungguh mewarisi bakat mereka. Total kekayaan pribadinya lebih besar dari pada kekayaan pribadi raja Peter."

__ADS_1


__ADS_2