
"Yang kedua, adinda Resta sudah kembali"
"Apakah dia baik baik saja?"
"Tentu ibunda. Tapi ia sedikit kesal karena saat ia pulang, ibunda tidak ada diistana."
"Ha...ha... selalu manja seperti biasanya. "
"Katanya ia kesal karena sebelumnya ibundalah yang menyuruhnya cepat cepat pulang. Tapi saat ia pulang ibunda justru tidak ada"
"Iya, aku memang lupa jika ingin kemari dengan ayahandamu. Tepat setelah surat terkirim, selir kedua mengingatkan untuk mempersiapkan keperluan keberangkatan ke istana ini. Haih..ia pasti merajuk jika bertemu denganku nanti"
..."Biarkan saja, jangan terlalu memanjakan dia. Dia sudah dewasa. Bagaimana dengan tugas yang diberikan kepadanya?"...
"Itulah yang ketiga ayahanda. Adik Resta gagal melakukannya"
"Apa? Apa adikmu tidak cukup cantik untuk melakukannya? Membuat pangeran itu jatuh hati padanya? Sepertinya kau harus lebih banyak mengajarinya cara merayu pangeran itu Ratu"
"Seharusnya tidak masalah suamiku. Hurex, apa alasan ke gagalan adikmu?"
"Sebenarnya itu bukan kesalahannya ayahanda, ibunda. Tapu karena ia memang tidak punya kesempatan melakukannya. Kedatangan adik ke Lembah Angin, tidak datang diwaktu yang tepat"
"Maksudmu?"
"Pangeran itu pergi dari kota Hinom dua hari sebelum adinda Resta tiba disana. Dan mereka berselisih jalan saat adinda Resta pulang ke Kapur Putih. Itulah sebabnya adinda Resta kesal pada ibunda. Sebab sebelumnya permaisuri Sofia sudah menahan adinda Resta agar tidak pulang dahulu, tinggal beberapa hari lagi. Tapi karena surat ibunda tiba, dengan terpaksa ia segera pulang dan tidak sempat berjumpa dengan pangeran Lark."
"Sayangnya.. pasti benaran merajuk ia sekali ini. Ini memang salahku kurang pertimbangan. Tapi nanti aku akan membujuknya. "
"Hanya itu saja?"
"Itu bukan persoalannya ayahannda, ibunda. Persoalan sebenarnya, menurut adinda Resta, kepergian pangeran Hurex sebenarnya untuk mengurus tentang pertunangannya dengan Puteri Revaline dari Fatma"
"Huh..ini benar benar jadi masalah jika kita ingin menguasai Lembah Angin. Apa kau ada cara mengurus ini pangeran?"
"Aku ada cara ayahannda. Tapi tidak tahu apakah ayahanda setuju dengan ini atau tidak. Makanya aku minta pendapat ayahanda dan ibunda dahulu"
"Apa itu? Biar nanti kami pertimbangkan"
"Membunuh Puteri Revaline"
"Kau gila pangeran! Hubungan kita dengan Fatma cukup baik sejauh ini. Jika kau ketahuan, bukan hanya Fatma, Lembah Angin juga akan langsung memusuhi kita. Dan perang tidak akan terelakkan."
"Aku tidak mengatakan turun tangan sendiri ayahannda. Aku mengenal seseorang di kota Malwa. Dia seorang ketua sebuah organisasi pengawalan dan pekerja. Tapi yang kutahu, secara diam diam juga ia mempunyai pembunuh bayaran yang sangat profesional. Kalaupun tertangkap, mereka tidak akan mau membocorkan siapa penyandang dana mereka"
"Lagi pula, kerajaan Fatma memang maju secara ekonomi. Tapi lemah bidang pertahanan dan keprajuritan. Aku yakin tidak akan sesulit itu"
"Siapa dia?"
"Pimpinan serikat pekerja Sorka, namanya Jhon Muel. Dia orangnya hanya tahu uang. Jika aku memberi uang yang cukup, aku yakin ia bisa mengaturnya untuk kita."
__ADS_1
"Apa kau yakin dia dapat dipercaya?"
"Pasti ayah. Aku jamin, ia tidak akan dapat menghianatiku. "
"Jika demikian, lakukan dengan hati hati. Pastikan satu hal, ia tidak membocorkan keterlibatan kita"
"Baik ayahanda. Jika begitu, aku pamit ayahanda, ibunda"
"Hati hati dijalan. Bilang pada adikmu9 kami pulang dua atau tiga hari l"
"Baik ibunda"
Pangeran Hurex dengan cepat keluar dari istana itu. Para pengawalnya segera bergegas menunggangi kuda mereka masing masing begitu melihat pangeran Hurex keluar dari dalam istana.
"Kita pulang..."
"Baik pangeran"
Tidak menunggu lama segera rombongan itu kembali ke kota Kapur Putih.
Mereka kembali menempuh perjalanan panjang. Menjelang sore, akhirnya mereka tiba kembali ke kota Kapur Putih
Pangeran Hurex segera mengusun sebush rencana. Bagaimanapun pembunuhan Puteri Revaline harus benar benar rapi. Tidak boleh ada kesalahan sedikitpun yang akan mempengaruhi hubungan ttiga kerajaan.
Secara ekonomi, diantara tiga kerajaan Fatma merupakan kerajaan yang paling kuat untuk saat ini. Sedang dari segi militer, mereka merupakan kerajaan yang terlemah
Hurex tidak menyia-nyiakan waktu lagi. Ia segea menulis sebuah surat, begitu surat selesai ia memanggil pelayannya.
"Baik pangeran"
Tidak berapa lama seorang pria bertubuh tinggi memasuki ruangan.
"Pangeran memanggilku?"
"Iya. Aku ada tugas khusus untukmu. Apa kau siap?"
"Selalu pangeran"
"Bagus. Bawa surat ini ke Malwa. Berikan kepada pimpinan serikat pekerja Sorka. Namanya Jhon Muel. Kau kenal dia?"
"Baik pangeran, saya mengenalnya"
"Ini bawa sekantong uang untuknya. Katakan padanya ini adalah uang muka. Begitu pekerjaan selesai, ia akan mendapatkan sisanya dengan jumlah yang sama. Syaratnya harus ia penuhi"
"Tidak boleh ketahuan penyandang dana kan pangeran?"
"Benar. Kamu berangkat sekarang"
"Hamba pangeran"
__ADS_1
Hide segera berlalu dari ruangan itu. Mengambil kuda tunggangannya dan melaju menuju Kota Malwa kerajaan Fatma.
*****
Di istana Fatma, kota Malwa.
"Kata ibu kedua, kakak mendapat cincin dari pangeran Lark sebagai tanda kasih. Bisa tunjukkan kepada kami kak Reva?" tanya putri ketiga.
"Boleh. Kenapa tidak adik ketiga. Ini lihat dijariku. Hanya sebuah cincin sederhana" kata Puteri Reva sambil menunjukkan cincin di jari manisnya.
"Cantik sekali kakak. Apa ini cincin pertunangan kalian?" tanya Puteri keempat.
"Bisa dibilang seperti itu"
"Hanya cincin sederhana seperti itu. Nanti cincin pertunanganku dengan pangeran Nathan lebih indah dari itu" kata Puteri Serly tidak mau kalah. Di dalam hatinya dia betul betul iri dengan keberuntungan Puteri Reva.
"Jika begitu, aku juga harus mencari pangeran yang lebih kaya juga" kata Novaline Puteri ketiga.
"Bagaimana caramu mencari yang lebih kaya kakak. Bukankah kamu belum ada yang melamar?" tanya Puteri Lidya Puteri keempat.
"Justru karena belum ada yang melamar, aku masih punya kesempatan mendapatkan tangkapan lebih besar dari kakak perempuan pertama dan kedua"
"Itu sangat sulit adik ketiga. Kekayaan calon tunangan kakak Reva mungkin tidak seberapa karena berasal dari kerajaan miskin, sedangkan calon tunanganku pangeran Nathan berasal dari kerajaan yang sangat kaya. Kau akan sangat sulit untuk melampauinya. Ha...ha... kakak Reva, aku kembali ke kamarku dahulu. Ha...ha." kata Puteri Serly sambil berlalu dari kamar Puteri Reva
"Jangan diambil hati adik ketiga. Aku yakin kamu juga akan mendapat pangeran yang lebih kaya dariku. "
"Puteri Serly memang sangat sombong. Hanya karena ia anak ibu permaisuri, ia selalu memandang rendah semua orang. Ibu permaisuri juga selalu pilih kasih." kata Puteri Lidya.
"Itu tidak begitu penting, yang penting Ayahannda tidak pernah membeda bedakan kita. Putera Mahkota juga, walaupun anak ibu permaisuri tapi ia seperti ayahannda sangat perhatian pada kita semua" kata Puteri Reva.
"Kakak Reva, kami kembali dahulu. Aku ada janji dengan ibu ketiga" kata Puteri Novaline.
"Silahkan.."
Puteri Novaline dan Puteri Lidya keluar dari kamar Puteri Reva.
"Adik keempat, aku pergi dahulu menjumpai ibu. Ada yang ingin kubicarakan dengan beliau"
"Silahkan kakak. Aku sendiri ada urusan keluar istana. Salam untuk ibu"
"Hati hati selama diluar istana"
"Baik kakak"
.
..
... Belum muncul ya tokohnya? Masih namanya saja yang keluar. Sabar... tidak perlu buru buru.
__ADS_1
.... Masih banyak konflik disekitar Puteri Revaline. Mau tahu? Tunggu chapter berikutnya.
.... jangan lupa like dan comment ya.