
"Jadi mengenai distrik delapan bahkan anda tidak diberi tahu?" tanya Jendral Dicky lagi penasaran
"Tidak. Aku juga baru tahu. Tapi aku yakin putriku sudah memikirkannya dengan matang apa yang dilakukannya"
Mereka semua bingung karena dua wilayah yang diminta permaisuri merupakan dua wilayah miskin yang selama ini bertahan karena bantuan dari kerajaan Gordon. Walau mereka tahu keluarga inti Valley mempunyai harta yang tidak sedikit dengan bisnis penginapan dan balai pengobatan yang tersebar dibeberapa kota, tapi untuk membiayai sebuah kerajaan masih akan sulit. Bagaimana cara mereka mengatasi hal itu?
"Permaisuri, apa Yang Mulia sudah memikirkan ini dengan baik? Karena kita semua tahu benar kondisi dua wilayah yang permaisuri minta" kata ketua dewan penasehat.
"Baiklah. Yang Mulia Raja Peter, dan dewan penasehat yang terhormat. Segala keputusan yang kubuat telah kupikirkan secara matang, baik buruk serta solusinya. Dan didepan semua anggota sidang aku bersumpah tidak akan menyengsarakan rakyatku sendiri"kata Louisa lantang.
Sekali lagi aula hening, sebelum pengambilan keputusan.
"Baik, karena permaisuri telah mengambil sikap maka saatnya memutuskan. Tulis keputusan kalian pada kertas tulis yang disediakan" kata ketua dewan penasehat
Semua mengambil alat tulisnya dan sekali lagi membuat keputusan yang akan mempengaruhi kehidupan banyak orang. Kertas kertas dikumpulkan dan kemudian dibacakan oleh moderator.
Semuanya setuju memberikan wilayah yang diminta Permaisuri.
"Sekarang keputusan dari Yang Mulia Raja Peter Henry"
"Aku Raja Peter Henry, menerima permintaan Permaisuri Lorine dengan melepaskan wilayah distriks delapan, distriks sembilan dan ditambah wilayah distriks dua puluh menjadi wilayah Kerajaan Lembah Angin sebagai imbalan atas pengabdian dari Permaisuri Lorine pada Kerajaan Gordon. Segala yang berhubungan dengan administrasi akan diurus oleh menteri wilayah dan kependudukan"
Tok!!Tok!!Tok!!
Palu diketuk sebanyak tiga kali, sebagai tanda disahkannya segala keputusan yang telah disepakati.
Begitu palu selesai diketuk mereka keluar menuju alun alun istana. Hari telah sore. Di alun alun telah dihadiri ribuan rakyat yang telah menanti dari pagi.
"Yang Mulia Raja Peter Henry telah tiba..."
"Yang Mulia Permaisuri Lorine Valley telah tiba..."suara ketua dewan penasehat kerajaan terdengar lantang.
Semua yang hadir segera berdiri, dan kemudian membungkukkan badan memberi hormat .
__ADS_1
"Sesuai dengan keputusan sidang putus cerai yang telah dilakukan dengan ini saya Ketua Dewan Penasehat Kerajaan Gordon Ducth Max Beaton mengumumkan bahwa Yang Mulia Raja Peter Henry dinyatakan resmi bercerai Permaisuri Lorine Valley. Dengan ini upacara pelepasan gelar permaisuri akan dilaksanakan"
Gong!!!!!Gong!!!!Gong!!!!
Sebuah gong raksasa dipukul sebagai tanda dimulainya upacara pelepasan gelar permaisuri
Louisa berjalan ketempat yang telah disediakan dan berlutut disana. Raja Peter berdiri didepan nya sambil mengacungkan sebilah pedang pusaka kerajaan diatas kepala Louisa.
"Saya Raja Peter Henry dengan ini mencopot gelar permaisuri darimu Lorine Valley dan menganugrahimu gelar Arduchess"
Gong!!Gong!!!Gong!!!!
Sekali lagi gong dibunyikan tanda upacara pelepasan gelar permaisuri telah berakhir.
Ibu Suri Anita datang, dan melepaskan jubah permaisuri dari tubuh Louisa dan memberikannya kepada seorang pelayan yang mengikutinya. Reneisme datang membawa sebuah jubah berlambang Kerajaan Lembah Angin dan memakaikannya pada Louisa.
Louisa berdiri, kemudian menghadap Raja dan Ibu Suri kerajaan Gordon membungkukkan badannya memberi hormat. Hal serupa juga ia lakukan saat memutar tubuhnya menghadap anggota dewan penasehat kerajaan, para mentri dan jendral.
Terakhir, ia menghadap masyarakat kemudian berlutut dan membungkukkan tubuhnya sebanyak tiga kali. Setelah semuanya itu, ia berjalan turun dari panggung alun alun. Ketika akan melewati Raja Peter ia memalingkan muka sambil terus berjalan, membuat sang raja terkejut.
Louisa berhenti.
"Maafkan aku. Seperti yang kukatakan sebelumnya, setelah aku mendapatkan seorang putra aku akan menjemputmu pulang" ucapnya pelan
"Yang Mulia, aku masih belum lupa dengan penghinaan yang anda lakukan kemaren malam. Selain itu, sepertinya Anda melupakan siapa aku. Informan terbaik kerajaan Gordon, jadi jangan Yang Mulia mengira aku tidak tahu apa yang anda sembunyikan di istana bambu hitam"jawab Louisa setengah berbisik di telinga Raja Peter.
Raja Peter membeku mendengar perkataan Louisa yang telah berlalu dari hadapannya.
Sebuah kereta kuda telah menunggu didepan alun alun istana. Louisa naik diikuti Reneisme dan pelayan Jen yang memutuskan mengikuti Louisa.
Kereta kuda dikawal sepuluh penjaga yang diketuai oleh Jendral Lucky Valley.
"Mari kita pulang!"seru Jendral Lucky yang diikuti dengan bergeraknya kereta kuda meninggalkan istana.
__ADS_1
*****
Sementara itu di kediaman Jendral Valley tampak Margaret berjalan hilir mudik menunggu kedatangan suami dan putrinya.
"Tenanglah kakak. Seharusnya sebentar lagi mereka sudah sampai. Kakak duduk, ini minum air putih dulu" kata seorang wanita berusia muda dari Margaret. Dia adalah Sofia, bibi Lorine istri dari Landen Valley.
"Bagaimana aku bisa duduk tenang adik, sedangkan keponakanmu sendirian harus menghadapi persoalan yang begitu rumit."
"Kakak ini seperti tidak mengenal kemampuan putri sendiri. Bagaimanapun ia telah dilatih menjadi seorang permaisuri hampir seumur hidupnya. Masalah ini pasti bisa dilewatinya dengan baik"
"Justru karena dia dilatih menjadi seorang permaisuri sejak usia dari tahun, tapi baru menjadi permaisuri selama tiga tahun ia malah dicampakkan oleh suaminya sendiri. Aku tidak bisa membayangkan dia dipermalukan disana nanti adik"
"Kakak, putrimu telah melalui banyak hal. Berdiri dihadapan dipemberontak yang menyandera pekerja tambang dia bisa tenang, atau menghadapi Raja Rex yang ingin menyerang wilayah perbatasan dia bisa tersenyum. Pada hal waktu itu usianya belum genap empat belas tahun. Dibanding itu semua, masalah yang sekarang sangat kecil baginya. Jadi apa yang membuat kakak kwatir?"
"Adik Sofia, seandainya tadi pagi kakak iparmu mengijinkan aku ikut keistana, tentu aku tidak akan segelisah ini"
"Justru karena kakak ipar sangat mengenal kakak, makanya kakak tidak diijinkan ikut"
"Maksudnya? Apa aku akan membuat keributan? Hah... aku tidak segila itu adik"
"Kakak itu persis seperti ibu mertua kita. Kadang kupikir posisi kakak dan kakak ipar tertukar waktu lahir. Sama sama terlalu berterus terang. Apa yang dipikirkan langsung diucapkan, tidak memandang lawan dan waktu bicara" kata Sofia
"Kakak ipar takut, jika nanti saat menunggu mereka keluar dari balai sidang istana , kakak mengobrol dengan orang lain yang sama sama menunggu dan kakak akan mengatakan hal rahasia tanpa kakak sadari karena begitu kesal pada Yang Mulia Raja"
"Mungkin yang kamu katakan ada benar nya. Aku tidak akan bisa menahan diri bila ada yang coba coba menjelekkan putriku"
Pembicaraan mereka terhenti saat diluar terdengar suara kareta kuda.
"Kakak, kurasa mereka sudah sampai. Ayo kita keluar menyambutnya"
Segera mereka berjalan menuju pintu dan membukanya. Dihalaman depan telah berhenti sebuah kereta kuda yang dikawal oleh sepuluh penjaga. Tampak Jendral Lucky salah satu diantaranya. Dia turun dari kudanya, dan memberikan tali kekangnya kepada salah seorang penjaga rumah.
Louisa turun, diikuti oleh Reneisme dan pelayan Jen. Louisa berjalan ke arah Margaret dan Sofia.
__ADS_1
"Ibu, bibi.."sapanya tersenyum
"Selamat datang kembali ke rumah putriku...."