Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Pengejaran (1)


__ADS_3

Tanpa menunggu penjelasan dari Deep keempatnya berlari menuju tempat terakhir mereka meninggalkan pangeran Lark dan Puteri Revaline.


Louisa merapal mantera, sehingga kecepatan larinya menjadi setara saru setengah kali kecepatan lari seekor kuda. Tidak butuh waktu lama mereka tiba di tempat pangeran Lark dan puteri Revaline.


"Lark...!! Revaline...!!" seru Louisa saat melihat kedua bersimbah darah dengan beberapa anak panah menancap ditubuh mereka.


******


Sementara itu lima belas menit sebelumnya.


Marco yang bertugas menjaga pangeran Lark dan puteri Revaline memandang sekitar dengan sikap waspada.


Instingnya sebagai pasukan yang sering menghadapi situasi krisis entah kenapa tiba-tiba muncul. Ia merasa ada bahaya di sekitarnya.


Ia memejamkan matanya. Merapal mantra, dan seketika ia dapat merasakan niat membunuh di sekitar tempat itu.


"Satu, dua, tiga, lima, delapan, sepuluh orang. Sepuluh orang dengan empat tempat berbeda" batinnya.


"Semuanya memegang panah. Hmm...mengapa rasa nya formasi mereka aku kenal?" batinnya lagi. Tiba-tiba dia tersadar akan sesuatu.


"Sial!! Pangeran awass!!" teriaknya sambil melompat kearah pangeran Lark dan Puteri Revaline dan mencoba menghadang panah panah yang datang dengan pedangnya.


Semua orang terkejut dengan tindakan nya. Bahkan kepala pengawal dari kerajaan Fatma sempat seperti tersihir dengan tindakan Deep. Sebab sebelumnya mereka sedang duduk bersama, ketika tiba tiba Deep melompat untuk melindungi pangeran Lark dan puteri Revaline.


Tapi Deep bukan perapal mantera seperti Louisa, Light dan Shadow yang bisa membuat perlindungan diri dan orang disekitarnya. Ia hanya pasukan dengan kemampuan khusus. Mantera yang dikuasainya hanya untuk mendeteksi keberadaan musuh.


Dengan terpaksa hanya pedang nya yang diputar cepat untuk menghentikan laju panah. Tapi karena banyak nya panah yang datang, dan berasal dari empat tempat yang berbeda membuat ada anak panah yang lolos dan ...


Sleb!! Slebb!!


Dua ana panah langsung menancap ketubuh Puteri Revaline.


"Revaline...!!! Tidak..!!" teriak pangeran Lark histeris saat melihat anak panah yang menancap ditubuh Revaline, sehingga ia lengah saat dua lagi anak panah datang dan...


Sleb!! Sleb!!


Satu anak panah menancap dilengan pangeran Lark, sementara yang satunya lagi kembali mengenai salah satu lengan Puteri Revaline.


"Aahk..."teriak pangeran Lark.


Deep, tanpa aba aba langsung berlari mengejar salah satu pemanah.


"Lindungi puteri dan pangeran!! Tunggu bantuan datang!!!" teriaknya kepada kepala pengawal.


Prajurit yang tadinya mengawal mereka segera membentuk prisai untuk melindungi pangeran Lark dan Puteri Revaline.


Sementara penduduk sekitar menjadi panik. Mereka berlarian tidak tentu arah. Tiba tiba semua toko menutup diri. Sehingga tempat itu menjadi sepi.


*****


Di tempat lain.


Sola, Norbert, Light dan Shadow baru keluar dari sebuah toko cendramata. Tampak kegembiraan menghiasi wajah mereka.

__ADS_1


"Kak Light, cendramata yang kubeli tadi tidak terlalu mahalkan?"


"Tidak. Menurutku harga yang mereka berikan sudah sangat murah. Bahkan jika itu di jual di toko Nyonya Margaret, harganya bisa dua atau tiga kali lipat."


"Bibi memang sangat pandai berdagang. Lain kali, jika ada kesempatan harus pergi dengan kak Light lagi"


"Boleh. Cendramata nya mau Sola berikan kepada siapa?"


"Ibu mertuaku, kak. Aku sudah meninggalkan puteriku padanya. Membuat nya kerepotan. Sudah seharusnya pulang membawa sedikit buah tangan."


"Jadi untuk Permaisuri Sofia, dik Sola tidak beli?"


"Ibu tidak perlu buah tangan dari ku kak Light. Beliau telah mendapatkan hadiah terbaik, yaitu..."


"Seorang menantu!! Ha...ha..." tawa keduanya serempak.


Norbert dan Shadow hanya menggeleng gelengkan kepala melihat tingkah keduanya. Tiba tiba wajah Shadow berubah...


"Light... Pangeran Lark dan Putri Revaline dalam bahaya!"seru Shadow.


"Adik Sola dan Tuan Muda Norbert, kami duluan. Kalian susul kami secepatnya!" kata Light tanpa mempertanyakan alasan Shadow.


Shadow berlari duluan dan diikuti dengan Light dengan secepat mungkin. Ia merapal mantra, membuat kecepatan larinya setara kecepatan lari seekor kuda.


Tidak sampai lima menit keduanya sampai ditempat pangeran Lark dan Puteri Revaline. Disana juga sudah ada Louisa dan Shine.


"Ketua, apa yang terjadi?"


*****


"Mereka cepat sekali suamiku. Kita tidak bisa menyusul mereka. Hah...hah..." kata Sola sambil napasnya ngos ngosan.


"Jangan dipaksakan mengejar mereka isteri ku. Mereka sudah terlatih untuk itu. Yang penting kita berusaha secepatnya" sahut Norbert.


"Tapi dari mana Kak Shadow tahu jika kakak dan kakak ipar dalam bahaya?"


"Aku juga tidak tahu, nanti kamu bisa bertanya sesudah bertemu mereka"


Dua puluh menit kemudian mereka akhirnya tiba ditempat pangeran Lark dan Puteri Revaline. Selain Shadow dan Light, disana juga telah terlihat Louisa dan Shine.


Pangeran Lark tampak memeluk puteri Revaline sambil menangis. Baju kedua nya bersimbah darah dan anak panah masih menancap di tubuh mereka.


"Kakak sepupu apa yang terjadi...?"


"Nanti ku jelaskan. Kamu tolong dahulu mereka"


Sola mendekati pangeran Lark dan Puteri Revaline.


"Kakak..." panggil nya.


Pangeran Lark tidak menjawab, masih tampak air matanya menetes.


"Kak...!" panggil Sola lebih keras.

__ADS_1


Pangeran Lark masih terdiam.


Melihat itu Sola menjadi emosi, dan ....


Plak..!! Plak!!


Dua tamparan mendarat diwajah pangeran Lark.


Pangeran Lark terkejut, ia seperti tersadar.


"Dasar pangeran tidak berguna... Melindungi isteri sendiri saja tidak bisa... Sudah tahu isterinya terluka, bukan nya diobati tapi malah menangis tidak tentu. Apanya gelar tabib tingkat tinggi... apanya calon tetua keluarga Valley di masa depan"


"Isteri ku... sudah. Jangan marah marah..." bujuk Norbert.


"Biar saja suamiku. Jangan bela lagi. Kakak sepupu...cabut saja kedudukannya sebagai Putera Mahkota. Dia tidak pantas..."


"Nanti kita bicarakan lagi. Sekarang kamu tolong dahulu mereka. Nanti sesampainya di Hinom, kamu boleh ngamuk kepada nya tidak ada yang akan melarang mu"


"Karena kakak sepupu, selamat kamu sekali ini. Suamiku, kamu bisa menolong iparmu yang bodoh itu? Biar kakak ipar, aku yang periksa"


"Tentu isteriku. Kakak ipar, mari aku bantu mencabut panah dilenganmu. " kata Norbert.


"Tapi...Reva..."


"Biar dik Sola dan nona Light yang menolongnya"


"Benar pangeran, biar saya periksa tuan puteri" kata Light.


Akhirnya dengan berat hati, Lark melepaskan pelukannya pada Reva. Light segera menyambut dengan tangannya.


Revaline sudah sangat lemas karena banyaknya darah yang keluar.


"Ketua, bisa anda tolong memangku puteri Reva? Biar saya membantu dik Sola mencabut anak panahnya"


"Tentu. Mari..."


Light membaringkan puteri Revaline dipangkuan Louisa.


Sementara itu Light merapal mantra, seberkas cahaya keluar menyinari tangannya. Ia menggerakkan tangannya di sekitar anak panah yang menancap di tubuh Revaline.


"Untung keduanya tidak ada yang mengenai organ vital. Cuma memang agak dalam. Dik Sola, tolong kamu yang cabut ya... Aku akan membantu, agar Puteri Revaline tidak terlalu kesakitan saat anak panahnya dicabut"


"Baik kak Light"


Keduanya terlihat bekerja sama. Sola dengan perlahan dan tampak sangat hati hati mencabut anak panah itu, sambil matanya melirik reaksi puteri Revaline.


Sementara Light, merapal mantra pengurang rasa sakit.


Tidak membutuhkan waktu lama ketiga anak panah yang menancap di tubuh Puteri Revaline berhasil dicabut.


Light mengambil ketiga anak panah, memeriksa dengan seksama. Wajahnya berkerut, tapi tampak ketenangan disana.


"Apakah mengandung racun?" tanya Louisa yang tahu apa yang diperiksa Light.

__ADS_1


__ADS_2