Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Rencana Ke Gordon City


__ADS_3

Setelah menangkap ketiga dalang penyebab kekacauan di kota Score, Louisa mengirim surat resmi penangkapan Pine yang diduga melarikan diri ke kota Leak. Kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke kota Hinom.


Surat kecaman resmi dikeluarkan raja Landen kepada kerajaan Lingkar Awan atas tiga orang mata mata mereka yang membuat kekacauan di kota Leak dan kota Score.


Tapi seperti dugaan Louisa, pemerintahan kerajaan Lingkar Awan tidak mengakui hal itu walaupun semua bukti bukti yang diberikan sangat jelas menunjukkan keterlibatan pihak istana Kapur Putih didalamnya. Mereka mengklaim itu hanya motif segelintir pribadi ketiganya, dan tidak ada hubungannya dengan istana Pasir Putih. Dan memberikan kebebasan kepada kerajaan Lembah Angin untuk memberikan hukuman kepada ketiganya sesuai hukum di kerajaan Lembah Angin.


Walaupun demikian, Raja Landen tetap bersikap tegas dengan membatalkan sejumlah kerjasama antara kerajaan Lembah Angin dengan kerajaan Lingkar Awan. Juga disertai ancaman jika dimasa depan hal serupa ditemukan, maka hubungan persahabatan kedua kerajaan akan diputuskan.


Sebulan kemudian, ketiganya pengacau itu dijatuhi hukuman mati. Sementara Pine dijatuhi hukuman kerja paksa selama sepuluh tahun dibawah pengawasan pihak pengadilan. Sebelum dia dibawa pergi petugas pengadilan, Light mendatanginya dan memberikan sebuah surat yang dititipkan Louisa.


Setelah sampai di rumah tahanannya, ia tergesa membaca surat itu.


"Salam Tuan Pine,


Dengan kesalahan yang anda perbuat, sepatutnya anda mendapatkan hukuman mati sama dengan rekan anda. Tapi aku meminta keringanan hukuman kepada pihak pengadilan demi ayah anda. Ayah yang sangat mencintai puteranya, tapi lebih mencintai tanah airnya.


Masih terbayang dimataku, saat beliau menangis mengetahui penghianatan yang anda lakukan. Tapi menegaskan bahwa penghianat tetap harus dihukum.


Jalani hukuman anda dengan baik. Setelah masa hukuman selesai, pulanglah ke ayah anda dan berbakti kepada beliau.


Salam


Puteri Lorine"


Selesai membaca surat itu, seketika pecahlah tangis Pine dan hatinya penuh dengan penyesalan dan juga rasa syukur.


"Ayah...maafkan anak bodohmu ini..." batinnya


Sementara semua anggota pengacau yang direkrut, dikenakan hukuman wajib militer selama sepuluh tahun. Dan mereka mendapatkan latihan yang keras oleh pelatih prajurit kerajaan.


******


Semenjak itu, pembangunan tembok perbatasan berlangsung lancar. Tanpa terasa tahun tahun berlalu dan pembangunan tembok perbatasan hampir selesai dilakukan.


Kerajaan Lembah Angin sendiri semakin maju. Louisa sendiri, bolak balik antara kota Hinom dan kota Alma. Desa Alma sendiri mulai berubah menjadi sebuah kota kecil yang cukup ramai.

__ADS_1


"Bagaimana dengan pembangunan gudang gudang pangan yang baru?"


"Sudah rampung semua Tuan Puteri. Setiap desa mempunyai gudang pangan yang menampung bahan pangan yang akan bertahan setidaknya selama dua sampai tiga tahun." jawab menteri Pertanian.


"Sumur sumur resapan yang saya anjurkan setahun terakhir?"


"Sedang berjalan Tuan Puteri..."


"Pastikan semua mengerjakannya sebaik mungkin. Perkiraan bencana kemarau akan segera datang. Selain waduk waduk yang kita bangun, adakah lagi cadangan air yang bisa peroleh?"


"Tuan Puteri, sebenarnya kerajaan kita memiliki cadangan air yang cukup banyak. Tapi persoalannya, air air itu jauh terdapat di jurang yang dalam. Sehingga sulit untuk digunakan. Membuat sistem bendungan menjadikan daerah waduk seperti yang Tuan Puteri sarankan memang membantu sangat banyak. Tapi banyak terdapat sumber sumber air dengan celah yang terlalu sempit, sehingga jika kita membuat waduk atau bendungan hasilnya tidak akan maksimal."


"Celahnya terlalu sempit?"


"Benar Tuan Puteri. Karena itu jika kita memaksakan menjadi waduk, kita hanya akan mendapatkan kedalamannya tapi tidak mendapat lebar permukaan waduk yang wajar. Jadi menurut hamba, biayanya terlalu tinggi dibandingkan manfaat yang akan kita peroleh Tuan Puteri"


Louisa terdiam. Ia berpikir apa yang harus dilakukannya mengatasi masalah ini.


"Oh.. bodohnya aku. Dikehidupanku sebelumnya aku adalah seorang yang berpendidikan tinggi. Persoalan seperti ini adalah hal yang sepele. Walaupun segala sesuatu yang ada di kehidupan ku sekarang terbatas, bukan berarti ilmukuu tidak bisa dimanfaatkan." batinnya


"Aku tahu apa yang harus kita lakukan. Aku akan melakukan sesuatu sekarang. Menteri Sano, anda teruskan saja pekerjaan Anda. Masalah tentang air ini akan kita bahas lagi. Tunggu saja kabar dari saya"


Setelah Menteri pertanian Sano keluar dari ruangannya, Louisa mengambil kertas tulis. Ia mulai menggambar rancangan yang telah ia pikir kan sebelumnya.


Satu gambar bentuk jadi yang ia inginkan. Itu adalah sebuah gambar yang sangat besar. Kemudian mengambil kertas tulis lain, untuk membuat gambar bagian bagian yang ia inginkan. Dikertas lainnya ia menggambar lagi lebih detail dan rinci.


Ia melakukannya berulang ulang. Tanpa terasa pekerjaan itu memakan waktu berjam jam. Louisa bahkan melewatkan jam makan siang. Menjelang sore terdengar ketukan di pintu ruang kerjanya.


Tok...tok.


"Ma...Ini Lucio. Aku boleh masuk?"


"Masuk sayang..."


Pintu terbuka, dan tampaklah seorang pria kecil yang tampan memasuki ruangan.

__ADS_1


"Mama sibuk?" tanya Lucio


Louisa menghentikan pekerjaannya. Ia memandang wajah puteranya sambil tersenyum.


"Sedikit. Tapi untuk pria tampan, mama bisa menyediakan waktu." kata Louisa sambil mengedipkan matanya.


"Ha...ha.. Tadi nenek Margaret bilang, mama tidak pulang makan siang ke rumah leluhur. Kukira mama makan bersama nenek Sofia, tapi kata nenek Sofia, mama juga tidak makan disini. Jadi aku datang bawa cemilan untuk mama"


"Anak baik. Sekarang mana camilannya?"


Lucio menemukan tangannya dua kali. Sesaat kemudian datanglah seorang pelayan membawa teh dan camilan dengan nampan. Ia segera menghidangkannya di meja tamu.


"Silahkan Tuan Puteri"


"Terima kasih" kata Louisa sambil berdiri dan pindah ke kursi tamu dari meja kerjanya.


"Cio duduk disini sama mama.." kata Louisa


"Bentar ma.. Mama buat gambar apa ini? Banyak amat.." kata Lucio sambil melihat gambar yang dibuat Louisa.


"Itu rancangan mesin pompa air. Jika itu bekerja, sangat berguna untuk memindahkan air dari tempat yang dalam"


"Seperti sumur di desa Alma, ma?"


"Iya. Tapi biasanyakan menggunakan ember untuk mengambilnya. Tapi ini kita hanya perlu menggunakan tuas atau pengungkit. Jadi pekerjaan lebih efisien dan mudah, serta menghemat tenaga"


"Terus yang ini?" tunjuk Lucio seperti gambar baling baling.


"Oh itu, rencana mama untuk penggerak turbin. Yang itu, untuk pompa yang lebih besar. Karena air yang mau diambil lebih dalam"


"Turbin itu apa, ma?"


Dengan sabar Louisa menjelaskan tentang pompa air yang tengah dirancangnya. Semua dijelaskan dengan bahasa yang lebih disederhanakan agar bisa dimengerti oleh Lucio.


"Wow... itu sangat hebat, Ma. Tidak sabar Cio melihatnya "

__ADS_1


"Sabar.. Itu masih memerlukan proses yang cukup panjang. Nanti mama diskusikan dahulu dengan kakek Raja. Kalau kakek setuju, kita mungkin perlu ke Gordon city"


"Gordon city? Cio bisa ikut?"


__ADS_2