
Selama dilorong istana ibu suri Anita banyak berpikir. Ia kembali teringat akan pembicaraannya dengan permaisuri Lorine, persis setelah satu hari Louisa menjumpai Arduchess Elisabet Wolfen..
Flask back on
"Ibu, jika nanti sidang putus cerai kami selesai, aku bisa minta tolong padamu?"tanya Louisa
"Jika bisa aku penuhi, pasti akan kutolong putriku. Memangnya apa yang kamu inginkan"
"Lamarkan Natasha Wolfen, putri Arduchess Elisabet Wolfen untuk Yang Mulia. Aku ingin ia menjadi selir pertama Yang Mulia"
Ibu Suri Anita terkejut dengan permintaan Louisa.
"Tapi mengapa Lorine? Tidakkah kamu ingin suatu saat nanti kembali kepelukan putraku?"
"Ibu, kembali atau tidaknya aku kepelukan putraku itu kita lihat nanti. Aku hanya tidak ingin perempuan yang tidak jelas nantinya yang menjadi selir pertama Yang Mulia"
"Maksudmu?"
"Setidaknya aku mengenal Natasha Wolfen sebagai perempuan dari kalangan terhormat. Bukan berarti aku memilih milih ibu. Tapi aku tahu akan kemampuan Natasha, dia akan mampu membantu pekerjaan ibu dan Yang Mulia"
Ibu Suri diam, tapi dalam hati ia sangat tersinggung akan permintaan Louisa. Dia berpikir mungkin saja Lorine ingin segera menikah lagi agar tidak memungkinkan kembali kepada putranya Raja Peter. Disaat itulah ia merencanakan agar setidaknya raja Peter bisa meniduri Lorine sekali lagi agar Lorine tidak bisa melupakan putranya.,
Flaskback off
Tanpa terasa ia sampai didepan ruang kerja raja. Begitu ingatan permintaan Louisa terngiang kembali di benaknya, membuat dia dilanda perasaan bersalah yang dalam . Dia mulai mengerti maksud perkataan Lorine tentang perempuan yang tidak jelas. Itu pasti merujuk pada selingkuhan putranya , dan amarahnya membuncah saat mengetahui penghianatan putranya.
Brak!!
Pintu ruangan raja terbuka dengan kasar membuat raja dan tangan kanannya Huber terkejut dan menghentikan diskusi mereka.
"Huber, keluar. Aku mau bicara dengan putraku"kata Anita dingin dan tegas.
Huber melihat ke arah Raja Peter yang menganggukkan kepalanya.
"Aku permisi dulu Yang Mulia, Ibu Suri"katanya membungkuk hormat sebelum keluar.
Begitu Huber menutup pintu..
Plak!
Ibu Suri menampar wajah Raja Peter dengan keras.
"Ibu..!"seru Peter terkejut.
__ADS_1
"Ada apa? Mengapa ibu begitu marah padaku?"
"Kau anak yang bodoh. Kau membuat ibu sangat kecewa... sangat kecewa..."katanya sambil terduduk dilantai.
"Ibu... bangunlah. Ayo kita duduk dan bicara"kata Raja Peter sambil menuntun ibunya kesebuah kursi panjang yang ada diruangan itu.
"Duduklah dan cerita. Ada apa?"
"Peter..ia mengetahui keterlibatan ibu dengan kejadian malam itu. Apa yang harus kulakukan Peter? Ia pasti sangat kecewa dan merasa dihianati..hiks..hiks.."kata ibu suri sambil menangis.
"Minta maaf lah ibu. Ia begitu menyayangi ibu, aku yakin ia pasti memaafkan ibu"
"Kau bisa seenaknya bicara. Ini semua karena kesalahanmu"katanya dengan nada marah.
"Ibu.. jadi aku harus bagaimana. Semua telah terjadi, aku akui aku memang salah. Tapi itu tidak mengubah apapun yang telah berlalu"
"Selama ini kamu terus meyakinkan ibu kalau kamu bisa membawanya kembali ke dalam istana ini. Sekarang ibu tanya padamu, masih bisakah kau bawa pulang menantu kesayanganku?"
Peter terdiam sejenak. Ia ingat dengan perjanjian pernikahan mereka, bahwa jika ada perpisahan terjadi karena suatu hal mereka akan tetap dapat kembali bersama kecuali karena penghianatan. Dan ia telah melanggarnya.
"Aku pasti bisa ibu"katanya berusaha menenangkan ibunya. "Urusan bisa atau tidak itu belakangan. Yang penting ibu tenang dulu"batinnya
"Ha...ha... kau pikir bisa menipu ibumu sendiri, hah!"seru ibu suri Anita.
Tubuh Raja Peter tiba tiba lemas.
"Siapa.. Siapa yang memberitahukan ibu?"
"Kau tidak perlu tahu dari mana ibu tahu. Yang ibu selalu sesali kenapa ibu baru tahu setelah melakukan sesuatu yang buruk pada Lorine. Jika saja mengetahui sebelumnya, ibu tidak akan memintamu melakukannya. Sahabat macam apa aku ini?"
"Ibu.."
"Kau harus secepatnya menikah lagi. Miliki seorang putra, dan setelah itu ibu tidak peduli bagaimana caramu, kamu harus membawa Lorine ku pulang"
Peter tersenyum. "Ini kesempatanku membawa Diana keistana"batinnya.
"Jangan pernah berpikir tentang perempuanmu di istana bambu hitam. Aku sudah tahu rencanamu. Kamu akan meminta Ducth Philip mengajukan lamaran keistana sambil membawa perempuan itu dengan berpura pura sebagai keponakannya. Tidak semudah itu anak muda"katanya setengah menyindir.
"Kenapa tidak ibu. Lagi pula aku mencintainya"
"Hanya perempuan baik baik yang berhak menjadi menantuku.. tapi kalau kamu mengambilnya sebagai budakmu terserah. Walaupun sebelumnya tidak pernah seorang raja mengambil seorang budak" kata Ibu Suri Anita tersenyum jahat.
"Ibu jangan keterlaluan, aku tidak akan menjadikannya budak"kata Peter tersinggung.
__ADS_1
"Kau yang keterlaluan. Meniduri perempuan yang bukan istrimu, dan perempuan itu mau saja. Padahal ia tahu jika pria yang menidurinya sudah beristri. Perempuan macam apa itu?"kata Ibu Suri Anita semakin pedas.
"Ibu aku sudah membawanya kemari. Katakan padaku aku harus bagaimana?"
"Ibu akan melamar Natasha Wolfen untuk menjadi selir pertama mu. Itu pilihan ibu. Kamu tidak bisa menolaknya. Setelah kalian menikah selama empat puluh hari, kamu menikahi salah satu putri yang diajukan Dutch. Setelah empat puluh hari, baru kamu bisa menikahi perempuanmu itu"
"Bagaimana ibu bisa tahu kalau para Dutch mengajukan calon selir?"
"Itu sesuatu yang pasti terjadi. Walaupun mereka tidak setuju kamu menceraikan Lorine, tapi pasti ada yang diam diam senang dalam hati karena memiliki peluang mengajukan putri atau keponakan mereka"
"Tapi ibu bisakah urutannya dibalik. Aku ingin menikahi Diana terlebih dahulu"
"Tidak bisa!! Kenapa? Sudah hamil kah perempuan itu? Dan kamu takut ketahuan? Kenapa kamu tidak berpikir sebentar belum bertindak?"
"Mungkin ia memang sedang hamil ibu. Aku tidak mau nanti putraku dipandang sebagai anak haram oleh orang lain"
"Apa kau bilang!! Dia hamil? Anak bodoh..."amarah ibu suri kembali tersulut. Padahal ia tadinya hanya bermaksud menggoda puteranya. Ia melepas sepatunya dan menggunakan itu untuk memukul putranya berulang ulang.
"Anak bodoh..anak bodoh.."katanya berulang sampai ia kelelahan sendiri.
"Ampun ibu ... aku mengaku bersalah...ampun ibu sakit , jangan dipukul lagi"
"Lebih sakit lagi hatiku melihat tingkahmu. Kelak jika aku mati, apa yang harus kukatakan pada ayahmu. Atau jika kakek leluhurmu datang, apa yang harus aku jelaskan Peter?"
"Kakek leluhur sudah lama pergi ibu, beliau mungkin sudah mati. Buktinya beliau sudah bertahun tahun tidak pernah kembali"
"Kau memang anak tidak berbakti. Beliau memang jarang datang, tapi bukan berarti beliau tidak tahu apa yang terjadi disini. Sewaktu kamu dan Lorine menikah, beliau mengirimkan hadiah pernikahan untuk Lorine. Apa kau lupa anak bodoh?"
"Aku memang lupa ibu. Jadi bagaimana ibu, bisakah aku menikahi Diana terlebih dahulu?"
"Tidak! Aku akan mengirim kabar untuk Arduchess Elisabet Wolfen. Dua hari lagi aku akan datang melamar Natasha sekaligus membicarakan tanggal pernikahan kalian."
"Ibu, Natasha itu sahabat Lorine. Mungkin ia tidak akan mau menikah denganku. Lebih baik aku menikahi Diana dulu, jika Natasha setuju baru akan kunikahi dia"
"Anggap saja Natasha telah setuju, jadi perempuanmu itu belakangan baru kau nikahi.."
"Tapi nanti kehamilannya terlalu besar ibu..."
"Itu bukan urusanku. Jadikan saja ia budakmu, dan tak perlu kau nikahi ia. Dan kau juga tidak perlu malu, karena menghamili budak. Itu kalau kau tidak sabar. Aku pergi dahulu..."
"Arrhh...."
>
__ADS_1