
"Tidak bisa begitu cepat sayang. Memasuki istana Gordon, tidak semudah itu. Nanti mama harus menulis surat pada leluhur Ducth Norwey terlebih dahulu. Minta ijin untuk bertemu. Jika disetujui, nanti kita bertemu leluhur Norwey terlebih dahulu. Baru nanti leluhur Norwey yang mengatur, agar bisa membawa Lucio masuk ke dalam istana"
"Tidak bisakah mama saja yang langsung bawa Cio ke istana?"
"Nanti kita bicarakan dahulu dengan leluhur Dutch Norwey. Jika keberadaan mu diketahui pihak istana, maka pasti kamu tidak akan semudah itu kembali ke Lembah Angin. Maafkan mama sayang..."
Lucio menunduk sedih. Margaret melihatnya dengan tidak tega.
"Sudah jangan sedih. Hari ini bersenang senang dengan nenek. Nanti nenek bawa ke taman bermain di alun alun kota. Bagaimana? Mau?" hibur Margaret.
"Mau nek.. Tapi nanti malam makan bersama mama ya.." pintanya.
"Tentu sayang.." jawab Louisa cepat.
Margaret dan Lucio berangkat terlebih dahulu. Louisa melepas kepergian mereka dengan menghela napas panjang.
"*Pada akhirnya anak yang selalu menjadi korban perpisahan orang tuanya. Apakah aku terlalu egois? Ataukah aku harus mengalah demi puteraku?" tanya lirih.
Ia bergegas masuk kembali kedalam rumah, dan menulis surat kepada Dutch Norwey kemudian meminta seorang pelayan untuk mengirimkan ya.
Setelah kepergian pelayan, ia mempersiapkan segala hal yang harus dibeli atau dipesan agar tidak ada yang ketinggalan.
.
.
Satu jam kemudian terlihat seorang perempuan cantik memakai cadar berwarna hijau tengah memasuki sebuah pusat pandai besi dan pertukangan. Dia adalah Louisa. Kedatangannya disambut seorang pelayan dengan ramah.
"Selamat datang Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?"
..."Saya ingin bertemu kepala toko atau kepala pandai besi"...
"Apa anda hendak membuat pesanan?"
"Benar."
"Silahkan ditunggu sebentar Nyonya" kata pelayan itu. Kemudian dia masuk kedalam sebuah ruangan, dan tidak lama kemudian ia kembali.
"Nyonya, mari silahkan ikut saya. Kepala toko menunggu anda diruangannya"
__ADS_1
"Silahkan Pimpin jalannya"
Louisa mengikuti pelayan itu memasuki sebuah ruangan. Kedatangannya disambut seorang pria berusia empat puluhan.
"Tuan, Nyonya ini yang hendak bertemu dengan anda" kata pelayan itu.
"Silahkan duduk Nyonya. Saya Gue MoLey kepala toko. Rent, bawakan satu teko teh kemari" perintahnya pada pelayan itu.
"Tidak perlu repot Tuan Gue. Saya Louisa" kata Louisa
"Tidak repot Nyonya Louisa. Itu sudah kewajiban menyambut tamu. Baiklah, apa keperluan Nyonya sehingga harus bertemu saya? Apakah ada pesanan khusus yang anda inginkan?"
"Betul Tuan Gue. Ini saya membawa cetak biru mesin mesin yang saya inginkan. Silahkan Tuan Gue lihat terlebih dahulu" kata Louisa sambil menyerahkan gulungan kertas.
Tua Gue menerima dan membuka gulungan kertas itu. Matanya seketika terbelalak.
"Ini...ini.."
"Apakah ada masalah Tuan?"
"Ini sangat detail. Saya sampai sulit untuk berkata kata. "
"Tentu Nyonya"
"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan satu set lengkap. Serta tolong hitung berapa biayanya "
"Sebentar Nyonya. Rent, panggil Tang kemari" perintahnya kepada pelayan itu.
Sementara pelayan itu keluar, Kepala toko itu sibuk menghitung total biaya yang diperlukan. Louisa menunggu dengan sabar sambil mengecap teh yang disajikan untuknya.
"Kepala toko memanggil saya?" tanya seorang pria paruh baya berbadan tegap yang datang bersama pelayan Rent.
"Benar Tang. Coba kamu lihat rancangan ini dan katakan apa pendapatmu" kata kepala toko sambil tersenyum.
"Wow.. siapa yang membuat rancangan ini? Ini luar biasa. Jika tidak salah, ini semacam pompa. Apakah aku benar?" tanyanya sambil memandang kepala toko dan Louisa.
"Anda benar. Ini nantinya digunakan sebagai pompa air. Untuk mengangkat air dari tempat yang dalam. Apakah bisa dibuat dan berapa lama waktunya agar selesai satu set lengkap "
"Jika semua bahan tersedia bisa saya pastikan bisa selesai enam hari"
__ADS_1
"Apakah bahan yang saya minta tidak ada tersedia?"
" Ada satu yang belum ada Nyonya. Kami sudah melakukan pemesanan. Seharusnya besok malam tiba disini"
"Jika begitu tidak ada masalah. Sekarang mengenai harganya?"
"Karena yang anda minta besi berkualitas bagus, harganya agak sedikit tinggi. Satu set lima koin emas empat puluh perak. Bagaimana dengan itu, apakah anda keberatan?"
"Lima koin emas empat puluh perak? Hmm... memang agak mahal. Saya bayar enam koin emas per set. Tapi dikirim ke Kerajaan Lembah Angin. Apakah kalian setuju?"
"Ke kota Hinom?"
"Bukan. Kota Alma, jika anda tidak memasuki kota Hinom kira kira dua jam sampai ditempat saya"
"Baik setuju. Berapa set yang anda butuhkan?"
"Lima puluh set untuk pemesanan pertama. Jika nanti masih belum cukup, akan saya kirim kabar pesanan lagi. Jadi berapa lama bisa kalian selesaikan?"
"Kami ada tiga tim disini. Tapi satu tim harus bebas untuk mengerjakan pesanan lain. Jadi hanya dua tim yang tersedia. Lima puluh set, berarti dua puluh lima set setiap tim. Lima hari per set. Jadi lima hari kali dua puluh lima set berarti seratus dua puluh lima hari. Tiga bulan Nyonya"
"Berarti satu bulan ada dua belas set yang selesai. Aku mau, setiap bulan setiap set yang selesai langsung dikirim ke kota Alma. Apakah bisa?"
"Tentu bisa Nyonya. Aku sendiri nanti yang akan mengantarkan untuk pesanan paket pertama. Sudah lama aku ingin berjalan jalan ke Lembah Angin, tapi tidak ada kesempatan. Terakhir aku ke kota Hinom saat pesta perayaan kerajaan Lembah Angin " kata tuan Gue MoLey
"Aku juga ingin pergi melihat. Nanti pesanan terakhir biar aku yang mengantar, Nyonya. Aku belum pernah kesana semenjak distrik sembilan berubah menjadi kerajaan Lembah Angin. Permaisuri Lorine memang luar biasa. Hanya beberapa tahun, aku mendengar Lembah Angin sekarang merupakan salah satu kerajaan termakmur di benua tengah. Raja Peter memang bodoh." kata Tang
"Yah...kau benar Tang. Raja Peter terlalu bodoh melepaskan permaisuri yang begitu berharga" sahut Tuan Gue MoLey
"Mungkin Raja Peter ada pertimbangan sendiri untuk itu Tuan tuan" kata Louisa berusaha bijaksana.
"Hanya menyesalkan apa yang terjadi Nyonya. Tidak masalah jika Yang Mulia bisa memajukan kerajaan Gordon seperti dahulu saat ada permaisuri Lorine, terdengar kemajuan pembangunan diseluruh negeri. Sedangkan, sekarang hanya kabar pertengkaran didalam harem yang terdengar. Agak memalukan menurutku" lanjut Tuan Gue MoLey
Louisa sedikit tercekat.
"Apakah perebutan gelar permaisuri ?" tanya Louisa pura pura bertanya walaupun tahu hal itu tidak mungkin.
"Bukan Nyonya. Gelar permaisuri tidak mungkin diberikan, tapi Gelar selir utama. Selama ini Gelar selir utama disandang selir utama Natasha Wolfen. Tapi masalahnya, beliau belum juga memberikan keturunan untuk Raja Peter. Karena itu selir Diana menuntut gelar itu dialihkan padanya karena ia mempunyai seorang Puteri. Tapi ibu Suri tidak setuju , karena terus terang saja Puteri itu sendiri menjadi lelucon istana karena tidak ada sedikitpun kemiripan dengan Yang Mulia Raja Peter" jelas Tuan Gue MoLey
"Darimana anda tahu semua itu Tuan Gue?"
__ADS_1
"Anak perempuan ku kebetulan bekerja sebagai pelayan di istana."