Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Kegelisahan Raja Peter


__ADS_3

Margaret memeluk Louisa dengan erat sambil menangis terisak. Sedih hatinya dengan kenyataan putrinya menjadi janda diusia yang sangat muda.


"Ibu... Jangan menangis. Hatiku sedih melihatmu menangis"kata Louisa sambil mengusap punggung Margaret.


"Aih.. kakak. Kau pelit sekali tidak mau melepaskan pelukanmu. Aku juga mau memeluk keponakanku."kata Sofia pura pura merajuk yang langsung ditanggapi tawa Louisa, Jendral Lucky, Reneisme dan pelayan Jen.


Margaret melepaskan pelukannya, dan menyeka air matanya.


"Sudah kulepaskan. Jangan mengatakan aku pelit lagi. Adik peluk sepuasmu, tidak ada yang berebut denganmu"


"Apa kabarmu sayang?" tanya Sofia sambil memeluk Louisa.


"Baik bibi. Aku hanya lelah dan lapar"


"Mari kita masuk. Bibi sudah menyiapkan air mandi herbal untukmu. Nenekmu sendiri yang meraciknya. Dengan berendam didalamnya sangat ampuh menghilangkan rasa lelah dan pegal"


"Apakah nenek datang bibi?"tanya Louisa, memang dari ingatan Lorine ia tahu bahwa Lorine masih memiliki nenek dan kakek dari pihak ayah dan ibunya.


"Tidak sayangku. Pamanmu tidak mengijinkannya ikut. Karena nenekmu orangnya sangat heboh seperti ibumu"katanya dengan kalimat terakhir yang sengaja dipelankan. Mendengar itu Louisa tertawa, ada rasa tidak sabar dihatinya ingin berjumpa dengan sesepuh keluarga Valley itu.


"Kalian tidak mau masuk? Atau hanya mau ngobrol diluar saja?"tanya Margaret. "Reneisme, Jen ayo masuk"lanjutnya lagi .


"Baik Nyonya"


Mereka berjalan memasuki rumah. Reneisme dan Jen masuk keruangan para pelayan untuk membersihkan diri.


Sementara Louisa masuk kekamarnya diikuti oleh Sofia.


"Seperti yang tadi bibi bilang. Bibi sudah menyediakan air mandi untukmu. Sekarang mandilah, bibi akan menyiapkan makan malam"


"Bibi tidak usah buru buru, aku mau berendam agak lama"


"Ok. Nikmatilah, tapi jangan ketiduran ya.. Satu jam lagi kamu belum sampai dimeja makan, bibi akan meminta pelayan menjemputmu"


"Iya bibi"di


Sofia keluar dari kamar Lorine. Didapur ia melihat Margaret sedang membantu para pelayan memasak. Margaret yang melihatnya datang tersenyum.


"Sedang mandi kah dia?"


"Ia kakak, mungkin agak lama. Apakah adik iparmu belum datang?"


"Kata kakak ipar mu mungkin Landen baru akan pulang lewat makan malam. Jadi kita tidak akan menunggunya"


"Berarti dia makan diluar? Huh... kalo giliran bersenang senang pergi sendiri, bukannya mengajak istrinya..."keluh Sofia


"Dasar...Sudah tua masih saja suka cemburuan. Dia bukannya bersenang senang. Dia mengadakan pertemuan dengan dengan beberapa menteri kerajaan. Jika kamu ikut, nanti kamu akan bingung sendiri. Tidak tahu apa yang mereka bahas"

__ADS_1


"Memang jika ada pertemuan seperti itu istri mereka tidak diajak?"


"Ya tergantung pertemuannya . Jika yang dibahas masalah penting yang menyangkut kerajaan ya ngapain juga yang tidak berkepentingan ikutan"


Mereka berbincang sambil memasak hingga tidak terasa semua masakan telah selesai. Pelayan telah menata semua hidangan diatas meja.


*****


Louisa berendam dengan nyaman di bak mandi yang berisi air herbal.


"Nyamannya... bibi Sofia benar. Rasa lelahku seperti tidak bersisa. Sekarangtubuhku terasa segar"batinnya senang


Dia berendam sekitar setengah jam, kemudian keluar dari bak mandi dan mengenakan pakaian yang telah ia sediakan sebelumnya.


"Baiklah saat nya makan. Aku sangat lapar"keluhnya dan berjalan keluar kamar menuju ruang makan .


Dimeja makan telah duduk Jendral Lucky, Margaret, dan juga Sofia.


"Paman Landen belum datang ayah?"tanyanya sambil menarik sebuah kursi


"Belum. Dia ada pertemuan dengan berapa menteri. Kita makan saja duluan".


Merekapun makan dengan lahap terutama Louisa yang tidak makan dari siang. Sebenarnya saat sidang tadi ada sesi makan sebentar. Tapi Louisa tidak dapat menelan satu suap pun karena masih memikirkan sidang yang berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan ya.


Dia sungguh sungguh balas dendam dengan menghabiskan makanan yang sangat banyak.


"Biarkan saja.. paling tidak menunggu seminggu saja ia akan menjadi gemuk. Tidak kurus seperti papan" jawab Margaret menimpali.


"Kalau nanti sudah gemuk, kita tinggal tinggal timbang beratnya"sahut Lucky ikutan mengejek.


"Ayah, Ibu, Bibi kalian tidak tahu kalau makanan yang dibuat penuh cinta rasanya akan lebih sedap. Lagi pula aku memang belum makan dari siang" jawab Louisa.


"Bukannya tadi disediakan waktu makan siang. Putri ayah dari kenapa tidak makan?"


"Tidak selera ayah. Rasanya sangat sulit menelan satu suap saja"kata Louisa lesu mengingat tadi siang.


"Siapa yang tidak selera makan?" sebuah suara menyapa mereka.


"Paman, ayo makan. Kami baru saja selesai. Masakan ibu dan bibi sangat sedap"


"Ha...ha... kau memang tidak pernah berubah keponakanku. Bagimu masakan ibu dan bibimu memang selalu yang terbaik. Berapa porsi yang kamu habiskan malam ini?"


"Tidak banyak paman. Hanya lima porsi saja.."


Ha...ha...


Semua tertawa mendengar jawaban Louisa.

__ADS_1


"Paman tadi sudah makan diluar. Paman mandi saja dulu, nanti kita berbincang lagi"


"Iya paman."


Landen berjalan menuju salah satu kamar tamu yang diikuti Sofia. Sementara Louisa, Jendral Lucky dan Margaret pindah duduk keruang keluarga.


Sekitar setengah jam kemudian Landen dan Sofia datang bergabung.


"Bagaimana dengan urusan paman di istana? Sudah selesailah?"


"Belum. Dan sebenarnya itu bukan urusan paman, seharusnya itu menjadi urusanmu Lorine. Kamu yang membuat keputusan tapi paman yang harus menyelesaikannya. Dasar keponakan yang merepotkan..."


"Ha..ha.. itulah enaknya punya paman. Ada yang bisa direpotkan. Jadi kapan urusan paman selesai?"


"Mungkin dua atau tiga hari ini. Kata kak Lucky kamu mau ikut ke Hinom city."


"Iya paman. Kalau paman masih lama urusannya, biar aku berangkat duluan saja"


"Tidak bisa. Ibu tidak mengijinkan kamu berangkat sendirian. Itu perjalanan yang jauh. Kamu tunggu paman dan bibimu."


"Aku tidak berangkat sendirian Ibu. Ada Reneisme, Jen dan beberapa pengawal kepercayaanku"


"Siapa saja anggotamu dulu yang ikut denganmu?"


"Hampir tujuh puluh persen anggota the power of night ingin tetap ikut denganku ayah"


"Itu terlalu banyak Lorine. Bagaimanapun mereka membutuhkan biaya operasionak yang tidak sedikit. Darimana nanti kamu membayar upah misi mereka"


"Tentu saja aku tahu itu ayah. Aku berencana hanya akan membawa dua puluh persen saja. Tiga puluh persen aku serahkan ke Jendral Besar Nico Larko dan beliau sudah sepakat. Sisanya dipimpin Hendrikus Rus membentuk organisasi independen"


"Apa itu the power of night?" tanya Landen


"Organisasi mata mata dan informasi bentukan keponakanmu. Dan dia ketuanya..."jawab Lucky


******


Di istana kerajaan Gordon


Raja Peter sangat gelisah. Kata kata yang dibisikkan Louisa sebelum pergi sungguh membuatnya terkejut.


"Bagaimana ia tahu? Sejak kapan ia tahu" batinnya


"Apa mungkin Dutch Philip berhianat? Tapi tidak mungkin ia berani melakukannya. Siapa saja yang tahu?" berbagai pertanyaan melintas di benaknya.


"Pantas saja ia sangat marah dengan kejadian malam itu.. Dan mungkin karena itukah ia bermaksud memutuskan hubungan dengan kerajaan Gordon dengan meminta melepaskan distriks sembilan?"


-

__ADS_1


__ADS_2