
"Ha....ha.... Iya"
"Kau bilang kebetulan....padahal jelas itu kau rencanakan....! Kau pantas dihukum Jhon Muel...!!" teriak Louisa.
Seketika angin terasa berkumpul di telapak tangan Louisa.
"agulha de vento" rapal Louisa.
Bilah bilah jarum angin terbentuk ditangan Louisa, dan...
"pergi..." kata Louisa.
Seketika jarum jarum itu melesat seperti anak panah menuju Jhon Muel.
"Apa itu...?" pikir Jhon Muel saat merasakan angin bertiup kearah nya
"Senjata rahasia?" gumamnya.
Jhon Muel melompat saat menyadari bahaya mendekati nya.
Tapi karena tidak sepenuhnya bisa melihat apa yang menyerang nya
"Aaahhkk...." ia berteriak kesakitan saat merasakan jarum jarum angin menusuk tubuhnya, membuat ia memuntahkan seteguk darah.
"Brengsek...aku meremehkanmu sebelumnya Louisa. Sekarang aku tidak akan segan lagi!" kata Jhon Muel sambil mengeluarkan belatinya.
"Kau kira aku takut.. Mari biar kulihat kehebatan pengecut dan penipu kehidupan pertama ku..."
"Setidaknya mampu membuatmu putus asa dan bunuh diri...Hiat...." kata Jhon Muel sambil berlari menyerang Louisa menggunakan belati.
Jhon Muel menyerang dengan ganas. Tapi itu tidak membuat Louisa gentar.
"Aku tidak akan membiarkan mu menyentuhku karena kau tidak punya kemampuan untuk itu." kata Louisa sambil merapal mantra.
Seketika perisai angin melingkupinya, ukurannya tidak sebesar perisai angin yang dibuat Shadow sebelumnya.
Boom....
Tubuh Jhon Muel terpental menabrak dinding perisai angin yang melindungi Louisa. Belatinya telah terlepas dari tangannya.
"Apa itu tadi?" gumamnya tanpa sadar, tapi kemudian dia bangkit kembali, dan memungut belatinya.
"Sekali lagi. Hiat..." katanya sambil berlari menghunus belatinya ke arah Louisa.
Boom...
Sekali lagi badannya terpental jauh menabrak sebatang pohon.
"Aaahhkkk..." teriaknya kesakitan.
"Masih berani mencoba menyerang ku?" tanya Louisa sambil berjalan mendekati Jhon Muel.
"Tidak mungkin..!! Bagaimana bisa kau punya kekuatan seperti itu..."
*****
__ADS_1
Kembali kepada Shine...
Trang...trang...
Tanpa kesulitan Shine berhasil menghadang laju pedang yang diarahkan kepadanya. Shine melakukan gerakan berputar.
Swiss..swisss..
Pedangnya ikut berputar mengikuti gerakan tubuhnya, menghasilkan suara angin berhembus kencang menebas tubuh kedua lawannya.
Aahhhkkk...
Darah menetes dari lengan kedua lawannya.
"Aku beri kesempatan sekali lagi, menyerah lah!"
"Tidak akan..." kata mereka keras kepala
"Jika begitu, majulah.... " kata Shine pada dua orang yang berhadapan dengannya.
"Kau kira kami takut... ayo..." katanya pada temannya. Mereka saling melihat dan mengangguk.
Keduanya mengambil ancang-ancang dan...
"Panah beruang!" sekejab saja mereka mengganti senjata mereka menjadi panah.
Wuss...wuss...
Anak panah melaju menuju Shine. Kombinasi keduanya sungguh sempurna. Saat yang satu selesai melepaskan anak panah nya, yang lain akan langsung menyusul tanpa jeda.
Shine menepis anak panah yang datang menggunakan pedangnya.
"Sungguh kombinasi yang sempurna. Terlihat, dari sembilan anggota Bear Arrow yang tersisa, sepertinya kedua orang inilah yang terkuat. Tapi mengapa orang yang bernama Zaine itu yang menjadi ketua?" batin Shine.
"Itu bukan urusanku, yang terpenting harus menyelesaikan pertarungan ini secepatnya. Aku tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi pada Louisa, tidak lagi. Terutama dengan pria brengsek itu" batinnya lagi.
Dengan kekuatan penuh, sambil menghadang anak panah yang datang menggunakan pedangnya, Shine terus berlari mendekati kedua orang lawannya.
"Kekuatan orang ini mengerikan. Ini pertama kali ada orang bisa lolos anak panah kombinasi kami tanpa luka samasekali" kata yang satu dalam hati.
"Akh...." katanya sambil memegang dadanya yang terkena sabetan pedang Shine.
"Keil...!!!" teriak temannya.
Sementara Shine sudah menodongkan pedangnya dileher orang yang bernama Keil itu.
"Tuan, kami menyerah. Ampuni nyawa saudaraku. Kumohon.." kata yang satu lagi.
Bug... Shine memukul tekuk Keil sampai pingsan.
"Kalau saja kalian menyerah dari tadi, tak perlu aku menyakiti saudaramu. Rawat saudara mu. Jangan coba coba melarikan diri!" kata Shine penuh peringatan.
"Terimakasih tuan. " kata orang itu sambil menangkap tubuh Keil.
Shine meninggalkan kedua orang itu. Ia melihat
__ADS_1
memutuskan melihat keadaan Louisa.
*****
Melihat anak panah yang ditujukan padanya Shadow menyambutnya dengan tawa.
"Ha....ha .....ha.... kalian pikir anak panah kalian mampu menembus perisai anginku. Baiklah mari kita bermain main sebentar" kata Shadow sambil merapal mantra.
Ketika anak panah itu menyentuh perisai anginnya, anak panah itu berbalik arah kembali menyerang empunya anak panah membuat mereka lari kocar kacir.
"Sial... bagaimana bisa anak panah ku menyerang ku balik." katanya berusaha lari.
Tapi kemanapun dia lari, anak panah itu selalu mengejarnya.
"Ha...ha... " terdengar suara tawa Shadow.
"Apa yang harus kulakukan? Coba kuhadang" katanya sambil menarik pedangnya.
Trang....trang....
Tapi anak panah itu seperti punya kesadaran sendiri, dengan melakukan perlawanan. Tentu semua itu tidak terlepas dari mantera Shadow.
Setelah berusaha akhirnya satu orang berhasil mematahkan anak panah itu.
"Masih mau bermain denganku?" tanya Shadow yang masih berada di atas menara angin yang dibuatnya.
"Coba kalau berani turun...!" katanya kesal.
"Baik jika itu mau kalian. Lagi pula bermain dengan kalian tidak begitu seru..."
Boom....
Menara angin pecah menimbulkan tekanan angin yang sangat kuat, membuat ketiga orang yang menyerang nya terhempas.
Aaaaakk...... terdengar jeritan mereka bertiga.
"Ha...ha...ha... bukannya tadi kalian yang meminta aku turun. Tapi mengapa kalian terkejut begitu?" kaya Shadow tanpa merasa bersalah.
Ketiganya berusaha bangkit kembali. Meraih senjatanya masing masing dan berusaha menyerang Shadow.
"Congelar" rapal Shadow
Seketika tubuh ketiganya kaku, tidak bisa bergerak.
"desabilitar" kata Shadow lagi.
Bruk..bruk..bruk ..
tubuh ketiganya jatuh ketanah hutan yang lembab.
Mata mereka melotot melihat ke Shadow dengan pandangan bingung, tidak mengerti. Ingin melawan tetapi tidak ada tenaga untuk sekedar menegakkan tubuh mereka.
Sungguh kesadaran mereka masih ada dan bisa melihat dengan jelas, hanya tubuh mereka tidak bisa bergerak. Persis seperti orang yang lumpuh.
"Biarkan saja mereka, aku harus melihat keadaan ketua. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya. " gumamnya sambil meninggalkan tempat itu melihat keadaan Louisa.
__ADS_1