Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Pengejaran (2)


__ADS_3

"Tidak ketua. Jadi saya bisa menutup lukanya untuk menghentikan pendarahan" jawab Light.


Light kembali merapal mantra. Tangannya mengeluarkan cahaya kuning keemasan. Dengan perlahan ia menggerakkan tangannya diatas ketiga luka Puteri Revaline.


Luka ditubuh puteri Revaline perlahan menutup. Hanya meninggalkan bekas sedikit memar.


Sola yang melihatnya menjadi takjub. Ia sendiri juga seorang ahli pengobatan tingkat tinggi. Tapi belum pernah ia melihat hal yang demikian terjadi.


"Kak Light. Apa itu tadi? Sola belum pernah melihat pengobatan seperti itu"


"Itu disebut pengobatan tekhnik cahaya. Tapi sebelum melakukan nya, harus memastikan jika luka tidak terkena racun. Jika terkena racun, racun harus kita keluarkan terlebih dahulu, baru luka bisa ditutup"


"Kalau ditutup langsung, baru diobati bagaimana?"


"Akan sulit mengeluarkan racunnya, dan membuat kondisi korban menjadi lebih buruk"


"Jadi kakak ipar sudah sembuh? Mengapa dia masih lemas jika sudah sembuh?"


"Tentu saja belum pulih Sola. Apa yang dilakukan Light, hanya untuk menghentikan pendarahan dan menutup luka agar tidak infeksi. Sementara untuk memulihkan kesehatan adik ipar, tetap harus dirawat seperti biasa" kata Louisa


"Minum obat herbal juga?"


"Iya. Kepala pengawal..."


"Iya putri Lorine"


"Dimana kereta kuda puteri Revaline?"


"Sebentar lagi akan tiba Puteri."


Kereta kuda kerajaan yang membawa Puteri Revaline dan pangeran Lark sebelumnya, ditinggalkan di pusat kota tempat awal pembagian bingkisan dari puteri Revaline. Hanya kereta pengangkut barang yang berisi bingkisan yang dibawa mengikuti mereka. Dan saat ini mereka ada di bagian selatan kota Malwa.


"Shine, Simon kalian kembali ke The power of night. Kumpulkan semua anggota kita yang tidak bertugas. Biar aku, Light dan Shadow yang mengantar pangeran dan puteri kembali ke istana."


"Baik ketua"


"Paman Shine, bagaimana jika penyerang itu kembali?" tanya Sola panik saat Shine akan pergi.


"Tidak apa apa puteri Sola. Kekuatan mereka bertiga lebih dari cukup untuk melindungi kalian. Jika begitu kami pergi ketua" kata Shine.


"Nanti jika urusan diistana Fatma selesai, kami segera menyusul kesana." kata Louisa.


"Kepala pengawal, bukan kah sebelumnya ada dua orang pelayan yang mengikuti kalian, membantu puteri Revaline membagikan bingkisan?"


"Hmm...tadi memang ada Puteri Lorine" jawab kepala pengawal sambil melihat kesekitar mereka.


Tanpa sengaja mata nya menangkap sesuatu dibawah kereta barang. Ia berjalan mendekati kereta barang....


"Hei, mau sampai kapan kalian bersembunyi dibawah kereta ini nona nona?"


"Ampun...ampun tuan. Hiks... hiks..." jawab kedua pelayan itu sambil menangis tanpa melihat siapa yang berbicara.


Sangat jelas jika mereka berdua ketakutan melihat panah yang melesat mengenai Revaline.

__ADS_1


"Sudah aman. Ayo keluar, kita kembali ke istana"


Keduanya melihat kesekitar. Semua sunyi, dan melihat jika kepala pengawal yang memanggil mereka.


Segera kedua pelayan itu keluar dari bawah kereta barang, dan melihat Putri Revaline di gendong pangeran Lark naik keatas kereta kerajaan.


"Sola dan Norbert.. Kalian juga naik!" perintah Louisa.


"Bagaimana dengan kakak sepupu?"


"Kami akan menunggang kuda. Mengawal kalian"


"Baik kak" kata Sola, kemudian naik keatas kereta kuda yang diikuti Norbert


Louisa, Light dan Shadow menunggangi kuda yang diberikan kepala pengawal kepada mereka.


"Kepala pengawal, apa kejadian seperti ini pernah terjadi sebelumnya?"


"Seingat saya ini kejadian kedua puteri Lorine"


"Kapan sebelumnya terjadi"


"Sudah sangat lama. Mungkin sekitar tiga puluh tahun yang lalu"


"Siapa yang diserang waktu itu?"


"Pangeran kedua kerajaan. Paman dari Raja Tejza."


"Tidak puteri. Ia meninggal ditempat"


"Pelaku nya tertangkap?"


"Tertangkap. Tapi siapa dalang dibalik penyerangan tidak pernah diketahui"


"Apa pelaku tidak mengaku?"


"Dia memilih bunuh diri menggunakan racun dari pada membocorkan dalang penyerangan"


"Sebegitu sulitkah mengungkap sebuah kejahatan di kerajaan Fatma ini" batin Louisa


Hampir menghabiskan satu jam diperjalanan karena kereta kuda berjalan lebih lambat, akhirnya mereka pun tiba di istana Fatma.


Kedatangan mereka disambut Raja Tejza dan Selir kedua dengan cemas. Ada juga kakek Franklin, nenek Eliz dan Jendral Lucky. Berita tentang penyerangan terhadap puteri Revaline dan pangeran Lark telah menyebar di seluruh kota Malwa dan tentu juga istana Fatma.


"Reva...!" seru selir kedua saat puteri Revaline turun dari kereta kuda dengan dituntun pangeran Lark.


"Aku sudah tidak apa apa ibunda"


"Tapi baju mu...darah sangat banyak..."


"Ibu selir kedua, sebaiknya bawa kakak ipar ganti baju dahulu. Agar bisa beristirahat, dan cepat pulih" kata Sola.


"Sola. Kamu temani kakak ipar mu. Nanti nenek datang melihatnya sekaligus membawa obat untuk nya"

__ADS_1


"Baik nek"


Selir kedua, puteri Revaline dan Sola pergi ke tempat kediaman puteri Revaline. Sementara Louisa mendekati Raja Tejza.


"Yang Mulia, ada yang ingin aku tanyakan kepada anda. Apakah Yang Mulia ada waktu?"


"Tentu puteri Lorine. Aku juga ingin tahu apa yang terjadi. Mari ikuti aku"


"Light, kamu jelas kan kondisi puteri Revaline kepada nenek. Nanti aku menjemputmu sebelum kita pergi"


"Baik ketua"


Louisa, jendral Lucky, Shadow, Kakek Franklin dan pangeran Lark mengikuti Raja Tejza kesebuah ruang pertemuan.


"Silahkan duduk"


"Terimakasih Yang Mulia"


"Saya akan menjelaskan yang terjadi pada Puteri Revaline Yang Mulia. Pertama, ini bukan serangan yang pertama kepada puteri Revaline"


"Apa..!" seru mereka semua, kecuali Shadow yang telah terlebih dahulu tahu.


"Ini mungkin serangan yang keenam atau yang ketujuh. Saya belum bisa memastikan nya. "


"Dari mana anda tahu jika ananda Reva telah pernah diserang sebelumnya?"


"Semenjak sepupu Lark mengirimkan kabar ke Hinom sebulan yang lalu jika lamaran nya diterima, dengan diam diam aku mengirim beberapa orang sebagai penjaga bayangan tuan Puteri"


"Apakah dia tidak menyadari nya?"


"Kukira tidak Yang Mulia. Penjaga bayangan hanya mengawasi dan memberikan perlindungan selama puteri Revaline keluar dari tembok istana. "


"Mengapa anda melakukan nya?"


"Tentu saja kami harus melindungi calon permaisuri masa depan kerajaan Lembah Angin."


"Aku tidak menyangka jika kalian begitu menyayangi puteri ku"


"Boleh aku lanjutkan Yang Mulia?"


"Silahkan..."


"Dari pengamatan kami, pelaku penyerangan berasal dari dua kelompok yang berbeda. Serangan pertama sampai ketiga dilakukan oleh satu kelompok. Sedangkan serangan selanjutnya kelompok kedua"


"Jadi bagaimana dengan serangan yang terakhir ini"


"Ini kelompok yang sama. Ada satu pertanyaan ku Yang Mulia. Apa hukuman bagi orang yang menyerang keluarga istana?"


"Kematian dan jika orang yang diserang meninggal, maka keluarga inti orang itu juga dibunuh semua. Tapi jika hanya luka seperti yang dialami Revaline, maka keluarganya dihukum dengan menyita seluruh kekayaan serta penjara seumur hidup"


"Kedua, Yang Mulia. Saat ini memang informasi yang dapat saya peroleh masih sangat minim. Jika saya sudah mendapatkan informasi yang cukup, dapatkah anda mengeluarkan ijin perburuan untuk mengejar pelaku penyerangan? Bagaimana pun ini adalah kerajaan Fatma, bukan Lembah Angin"


"Pasti puteri Lorine. Saya akan memerintahkan salah satu jendral saya untuk membantu anda"

__ADS_1


__ADS_2