
Saat jamuan teh sore hari di istana Fatma.
"Adik kedua, seperti apa yang kau inginkan untuk pesta pertunangan Puteri Reva?"tanya permaisuri kepada selir kedua.
"Tidak usah begitu mewah kakak. Yang penting menampilkan kebudayaan kerajaan Fatma sudah cukup"
"Mana bisa begitu kakak kedua. Sewaktu pesta pertunangan dan pernikahan putera mahkota Yang Mulia Raja menggelar pesta kerajaan yang sangat mewah. Mana mungkin kita tidak mengadakan pesta serupa..." kata selir ketiga.
"Aduh adik ketiga. Tentu berbeda pesta seorang putera mahkota dibandingkan Puteri biasa. Apa lagi calon suaminya hanya berasal dari sebuah kerajaan kecil dan miskin. Bahkan saat melamar Puteri Reva, dia bahkan tidak bisa memberikan apapun pada Puteri Reva" kata permaisuri lagi.
"Apa benar begitu kakak kedua?" tanya selir setiga
"Sebenarnya ada. Sebuah cincin berlian yang cantik. Menurutku untuk menyatakan sebuah hubungan, itu sudah cukup baik. "
"Cincin berlian ya? Apa Puteri Reva sudah memakainya?" tanga selir ketiga lagi
"Tentu, karena pangeran Lark sendiri yang memakaikannya ke jari Reva"
"Pelayan, panggilkan Puteri Reva kemari. Katakan aku mencarinya"
"Baik permaisuri"
*****
Sebuah kereta kuda yang dikawal prajurit menunggangi kuda memasuki kawasan istana Lingkar Awan.
"Akhirnya aku pulang" gumam seorang gadis saat turun dari kereta.
"Selamat datang kembali tuan putri" kata prajurit pengawal istana.
Gadis itu tersenyum sambil menganggukkan kepala kemudian melangkah memasuki istana membuat prajurit pengawal istana terkejut.
"Ternyata kepergian tuan Puteri Resta ke Lembah Angin mampu merubahnya" kata seorang prajurit.
"Kau benar. Biasanya selalu bersikap sombong dan tidak memandang kita sedikitpun. Ini walau tidak membalas sambutan kita, setidaknya dia bisa tersenyum"
"Kalian sedang menggunjingkan siapa saat sedang bertugas?" kata kepala regu yang muncul tiba tiba dibelakang mereka.
"Maafkan kami ketua" kata keduanya..
Puteri Resta yang memasuki istana berbelok menuju ruang kerja Raja.
"Tok...tok..."
"Siapa?"
"Ini aku Puteri Resta""
"Masuk saja"
Puteri Resta terkejut saat membuka pintu.
"Kenapa kak Hurex ada disini? Dimana ayahanda?"
"Ayahanda pergi memanjakan diri dengan Ibu Ratu dan semua selir. Mungkin tiga hari lagi baru kembali ke istana"
"Mengapa begitu lama.." gerutunya kesal.
"Adik Resta pergillah beristirahat dahulu. Adik pasti masih lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Nanti malam kita makan bersama, adik bisa cerita" kata pangeran Hurex.
"Baiklah. Tapi kakak janji ya?"
"Oke, kakak janji"
__ADS_1
*****
Saat makan malam
Puteri Reva menceritakan kisah kunjungannya ke kota Hinom tanpa ada satupun yang ditutupi.
"Jadi begitu ceritanya kak. Coba jika kakak diposisiku, apa kakak tidak kesal . Tugas yang diberikan ibunda Ratu gagal begitu saja?"
"Sewaktu kamu disana, sama sekali tidak berjumpa pangeran itu ya? Mungkin memang kebetulan seperti itu."
"Tapi kak, dia akan bertunangan dengan Puteri Revaline dari Fatma. Aku tidak rela. Bagaimanapun hanya aku yang boleh menjadi calon permaisuri kerajaan Lembah Angin"
"Mengenai itu kita harus menunggu kedatangan ayahannda dan ibunda. Kita bicarakan bersama"
"Jika ayahannda mengirim lamaran ke Lembah Angin, apakah mungkin kak?"
"Itu tetap akan sulit jika pangeran Lark sudah bertunangan"
"Kalau begitu, kakak saja yang lamar puteri Revaline? Bukankah hubungan kerajaan kita dengan kerajaan Fatma cukup baik?"
"Sama saja Resta. Jika Yang Mulia Raja Tejza sudah menerima lamaran Lembah Angin, mereka pasti menolak lamaran kita"
"Bilang saja kak Hurex tidak mau membantuku... Hiks..hiks.. aku mau pangeran Lark. Jika bukan dia, aku tidak mau menikah. hiks...hiks.. "
"Resta... kenapa kau begitu ingin mendapatkan pangeran Lark? Masih banyak pangeran dari kerajaan Lain yang menginginkanmu menjadi ratu mereka"
"Tidak ada yang setampan pangeran Lark. Istananya juga indah. Dan ada satu lagi..."
"Apa itu?"
"Aku harus bisa masuk kedalam kawasan terlarang kediaman Valley. Aku selalu merasa jika ada sebuah rahasia besar disana"
"Kau yakin ada rahasia besar disana?"
"Hmm... kakak ada cara membatalkan pernikahan pangeran Lark dan Puteri Reva. Tapi kamu harus berjanji, kelak jika kamu berhasil menjadi permaisuri Lembah Angin, kamu harus bantu kakak mendapatkan proyek proyek besar yang ada disana "
"Oke aku berjanji kak."
"Kamu pergilah beristirahat. Besok pagi Kakak akan menyusul ayahanda ke istana bukit awan untuk membicarakan hal ini."
"Terimakasih kakak. Kakak memang selalu yang terbaik"
Puteri Resta keluar dari ruang makan istana menuju kediaman Puteri.
Sementara pangeran Hurex memanggil pengawal pribadinya.
"Saya pangeran"
"Persiapkan kuda. Kita ke istana bukit awan sebelum matahari terbit"
"Siap pangeran"
Ketika hari masih gelap, terlihat sepuluh ekor kuda berlari meninggalkan istana Lingkar Awan. Kuda kuda itu bergerak menuju bukit Awan.
Setelah melaju selama tiga jam tanpa henti, akhirnya di kejauhan tampak istana cantik yang didirikan diatas sebuah bukit. Karena tebalnya kabut yang mengitari bukit itu, membuat seakan akan istana itu didirikan diatas awan.
Kepala pengurus istana bukit Awan terkejut melihat serombongan orang berkuda dikaki bukit menuju puncak bukit.
Segera kepala pengurus itu memasuki istana untuk menjumpai sang raja.
"Salam hormat Yang Mulia..."
"Iya ..ada apa?" kata sang raja tidak senang karena acara bermesraanya dengan isteri isterinya terganggu.
__ADS_1
"Ampun Yang Mulia.. ada serombongan orang berkuda menuju kemari. Sekarang mereka sudah di kaki bukit"
"Aku segera keluar"
"Baik Yang Mulia"
Kepala pengurus istana itu segera keluar untuk menyambut rombongan itu.
"Salam pangeran... selamat datang di istana bukit Awan. Akan hamba persiapkan kamar untuk anda dan rombongan"
"Tidak perlu kepala pengurus, kami akan segera kembali ke kota Kapur Putih setelah urusanku dengan ayahanda selesai"
"Mari pangeran, ikut hamba"
Pangeran Hurex dibawa kepala pengurus itu ke sebuah ruang tamu. Tidak berapa lama Raja dan Ratu datang menemuinya.
"Salam ayahanda Raja dan ibunda Ratu"
"Salammu kami terima. Ada apa datang kemari.?"
"Ampun ayahannda" kata pangeran Hurex yang tahu jika sang raja terganggu kesenangannya karena kedatangannya.
"Katakan..."
"Ada tiga hal ayahannda. Yang pertama Puteri Willow menghilang. Ia meninggalkan sepucuk surat di kamarnya yang ditemukan seorang pelayan istana.. Surat ini ditujukan kepada ayahannda. Jadi aku tidak berani membukanya. Ini ayahannda"
Sang Raja meraih surat itu dan membukanya. Wajahnya berkerut sejenak dan kemudian biasa lagi.
"Ada apa suamiku?"
"Coba kau baca Ratu" katanya sambil menyerahkan surat itu.
"Kapan surat ini ditemukan?"
"Sore hari setelah kepergian kalian kemari, ibunda"
"Keluarga tabib itu sudah berapa lama pergi?"
"Sudah lebih sebulan ibunda."
" Kau bilang kemarin keluarga tabib itu pergi ke Long Beach kan?"
"Benar ibunda. Memang aku mendapat kabar dari Long Beach, jika keluarga Valley mewajibkan seluruh generasi muda mereka untuk mengikuti pelatihan pengobatan di Hinom. Itulah sebabnya Sidney tidak kembali ke kota Kapur Putih dan memutuskan membantu ayahnya di Long Beach karena kedua anaknya pergi ke Hinom"
"Satu ke Long Beach dan Hinom. Dan Willow ke kota Urb. Berarti memang tidak ada hubungannya. Biarkan saja, dia memang perlu bertemu keluarga ibunya"
"Tapi suamiku, kota Urb masih sering terjadi peperangan bukan?"
"Semenjak mereka bergabung dengan Lembah Angin, kota itu sedikit lebih damai. Aku yakin, kakeknya akan mengirimnya kembali kemari jika perang masih berlanjut"
"Jika keputusan Yang Mulia demikian aku mengikuti. Aku hanya tidak menduga, jika pembatalan pertunangan dengan keluarga tabib itu membuatnya merasa tersisih di keluarga kita"
"Dari suratnya ini, Willow sebenarnya tidak begitu kecewa kepada kita. Tapi ia lebih kecewa kepada ayahnya, adik kedua. Maka biarkan ia menenangkan diri di keluarga ibunya. Aku yakin ia akan baik baik saja disana"
.
..
....Ayo. Ada yang masih ingat siapa Willow?
....Chapter selanjutnya yang penasaran dengan tokoh pria diawal cerita boleh ditunggu kemunculannya.
...
__ADS_1
...Jangan lupa like dan comment