
Malam harinya selesai makan dan menidurkan Lucio, Louisa duduk beranda belakang. Margaret belum pulang dari pesta pernikahan. Louisa kembali teringat pembicaraan dengan tuan Gue MoLey dan Tuan Tang.
"Tindakanku meminta Natasha memasuki istana nampaknya cukup tepat. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi di istana. Wanita menjijikkan itu..." gumam Louisa saat teringat informasi yang dikirimkan anak buahnya yang pernah dimintainya untuk menyelidiki Diana.
"Dasar keturunan budak tidak tahu diri" gumamnya geram.
"Siapa budak tidak tahu diri?" terdengar suara Margaret yang ternyata sudah ada dibelakang Louisa.
"Ibu... kapan ibu pulang? Mengapa aku tidak mendengar?" tanya Louisa balik
"Sudah dari tadi. Tapi aku melihatmu melamun sangat lama. Apa yang kau pikirkan? Siapa budak tahu diri?"
"Hah... aku bingung harus bagaimana ibu." kata Louisa dan kemudian menceritakan pembicaraannya dengan tuan Gue MoLey serta tuan Tang.
"Yah... ibu juga mendengar hal yang sama saat pesta tadi. Semua menyayangkan tindakan Raja Peter terhadapmu. Tapi ibu hanya menjawab jika semua itu telah berlalu. Dan waktu tidak akan berulang kembali"
"Aku juga tahu hal itu, bu. Jika bukan karena memikirkan Lucio, aku tidak akan repot repot teringat masalah ini. Tapi karena sudah memutuskan Lucio akan kembali memasuki istana Gordon, aku tidak mau saat puteraku datang, istana dalam keadaan kacau. Ataukah kita batalkan saja?"
"Itu tidak adil untuk rakyat Gordon, Lorine."
"Jadi apakah aku harus turut campur ibu?"
"Iya. Tapi tidak secara langsung. Bagaimana caranya, kamu pikirkan sendiri. Cepat tidur, besok pagi kamu ditunggu Dutch Norwey. Tadi aku bertemu dengan beliau saat pesta dan mengira kamu ikut, makanya tidak membalas suratmu"
"Beliau bilang jam berapa, bu?"
"Tidak ada. Beliau hanya mengatakan jika pintu rumahnya selalu terbuka untukmu saat matahari terbit"
"Apakah beliau bertanya alasanku berkunjung?"
"Tidak. Beliau berkata 'jika seorang cucu menantu tidak harus punya alasan untuk mengunjunginya'. Kau simpulkan sendiri harapannya terhadapmu" kata Margaret dengan tersenyum.
"Iya. Aku mengerti. Ibu tidurlah lebih dahulu, aku segera menyusul" jawab Louisa
Louisa merenung sejenak dan kemudian tersenyum tipis.
"Aku tahu yang harus kulakukan. Aku bisa meminta tolong kepada dutch Norwey tentang masalah harem istana tanpa turut campur secara langsung. Sudah saatnya orang tua itu turun gunung" katanya sambil bangkit dari posisi duduknya.
.
__ADS_1
.
Matahari baru muncul malu malu. Sebuah kereta kuda meluncur cepat dijalanan ibu kota Gordon. Kereta kuda itu berjalan kearah Timur kota, dan terus berjalan meninggalkan keramaian kota yang mulai hiruk pikuk seiring dimulainya aktifitas masyarakat.
Setelah sampai diujung kota, kereta kuda mulai memasuki kompleks pribadi dengan gapura besar dengan tulisan Norwey diatasnya.
Begitu memasuki gerbang, kereta kuda dihentikan pengawal yang berjaga.
Louisa membuka jendela kereta kuda.
"Aku ada janji dengan Dutch Norwey dan Nyonya rumah. Tolong sampaikan kepada beliau jika Nyonya Margaret dari kediaman Jendral Lucky mengutusku" kata Louisa.
Dia sengaja tidak mau mengungkapkan kedatangannya kepada semua orang. Bahkan dia tetap memakai cadarnya agar tidak mudah dikenali. Apalagi Louisa membawa Lucio ikut serta yang bisa menimbulkan keributan besar jika tidak ditangani dengan benar.
"Tunggu sebentar Nyonya" kata penjaga itu dengan hormat. Ia segera menaiki kudanya dan memacunya ke dalam kediaman. Jarak antar gerbang depan ke kediaman Dutch Norwey sekitar lima ratus meter, dan tidak sampai lima menit penjaga itu telah kembali.
"Mari Nyonya, ikuti saya" katanya sambil memimpin didepan kereta kuda.
"Silahkan Pimpin jalannya " jawab Louisa
Kereta kuda kembali berjalan mengikuti penjaga itu. Tidak lama kereta kuda berhenti didepan sebuah bangunan yang cukup megah. Louisa turun dari kereta kuda dan diikuti Lucio di belakangnya.
Lucio terkagum kagum melihat bangunan itu.
"Sangat besar, ma. Seperti kediaman leluhur di Hinom, tapi lebih megah dan modern" jawab Lucio.
"Ha...ha... Kediaman leluhur di Hinom memang bergaya lama maklum usianya sudah sangat tua. Sedangkan bangunan ini, mungkin baru berusia beberapa puluh tahun."
"Bagaimana dengan istana, ma?"
"Gaya istana utama hampir sama dengan kediaman leluhur. Tapi terdiri dari beberapa bangunan dan sebagian merupakan bangunan baru. Tentu saja jika dibandingkan dengan kediaman leluhur, itu hanya satu bagian dari istana Gordon saja" jelas Louisa
Lucio menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Ayo, kita sapa dulu kedua leluhur. Tidak sopan kita malah berbincang disini"
"Iya, ma"
Louisa menggandeng tangan Lucio, menuju Ducth Norwey dan istrinya yang telah menunggu di depan rumah yang memandang Lucio dengan pandangan menyelidiki.
__ADS_1
"Salam kakek Norwey dan nenek Tie" kata Louisa
"Selamat datang ke kediaman kami Lorine. Siapa pemuda tampan ini?" tanya dutch Norwey sambil tersenyum kepada Lucio.
"Salam leluhur putera dan leluhur Puteri. Perkenalkan nama saya Lucio" kata Lucio sambil membungkukkan badannya.
"Manisnya... selamat datang di kediaman kami pemuda tampan. Ayo masuk" kata Nyonya Tie dengan senyum dan menggandeng Lucio masuk kedalam rumah.
"Keponakan mu Lorine ?" tanya dutch Norwey penasaran
Tidak ada menduga jika anak laki laki itu adalah putera Lorine, karena tidak ada kabar tentang pernikahan Lorine.
"Ah.. kakek. Sebaiknya kita bicarakan didalam saja" jawab Louisa
"Iya..ya..."
Sementara Louisa berbincang sambil berjalan santai dengan dutch Norwey, Nyonya Tie membawa Lucio ke ruang makan.
"Lucio mau kue? Tadi leluhur ini sedang membuat kue cokelat. Ini di coba dulu. Katakan enak atau tidak" katanya sambil memberikan sepiring kecil kepada Lucio.
"Mmm...enak." kata Lucio dengan mata berbinar.
"Ha...ha... Sudah habiskan dulu."
"Enaknya yang makan kue cokelat. Mama juga mau.."kata Louisa yang datang dari belakang mereka.
"Apa....!" dutch Norwey dan Nyonya Tie tanpa sadar berteriak keras.
Louisa tertawa melihat reaksi kedua karena sudah memperkirakan hal ini sebelumnya.
"Hei tuan muda. Perkenalkan dirimu dengan benar, agar leluhur putera dan leluhur Puteri bisa melihatmu dengan jelas" kata Louisa sambil menarik sebuah kursi dan duduk disana.
"Tunggu ..mmm...mmm" kata Lucio dengan pipi menggembung karena mulutnya masih penuh kue cokelat.
Dia meminum air putih yang tersedia di depannya, kemudian berdiri tegap penuh wibawa.
"Salam leluhur putera dan leluhur Puteri. Perkenalkan, nama saya Lucio Patrick Valley Henry. Putera Yang Mulia Raja Peter Aldus Henry dari Gordon dan Puteri Lorine dari Lembah Angin. Saya biasa dipanggil Lucio" katanya sambil membungkukkan badan gaya seorang bangsawan kemudian duduk kembali dan meneruskan makan kue cokelatnya.
"Ini...ini..."
__ADS_1
Dutch Norwey hampir tidak bisa berkata kata, ia hampir terlonjak dari tempat duduknya. Nyonya Tie melihat Louisa dengan bingung.
"Itu sebabnya tadi saat kakek bertanya, aku berkata bicarakan didalam kakek. Aku takut kakek pingsan diluar" kata Louisa sambil tersenyum.