Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Prajurit Kerajaan Tiba


__ADS_3

Louisa dan Light bergerak dengan sangat cepat. Hanya dalam hitungan menit mereka sudah tiba di lokasi pembangunan tembok perbatasan.


Keadaan di sana masih tegang, walaupun tidak ada lagi keributan. Para pekerja tampak merapikan beberapa kekacauan.


Tampak Kepala kota sedang berbincang dengan Deep dan Shadow tapi terhenti saat melihat kedatangan Louisa dan Light.


"Ketua..."


"Tuan Puteri.."


"Bagaimana keadaannya ?"


"Pengacau sudah di tahan. Tapi menurut informasi dari senior Shine sebelumnya, seharusnya ada beberapa orang yang melarikan diri atau tidak datang"


"Kira kira berapa orang?" tanya Light.


"Mungkin lima atau enam orang"


"Sudah dibawa penjaga kota ke Balai kota "


"Kok bisa?" tanya Kepala kota bingung


"Kami bertemu di kota, dan curiga pada mereka." kata Light dan menceritakan semuanya.


"Jika begitu, nanti setelah kembali akan kami introgasi Ketua"


"Oh ya...Dari tadi aku tidak melihat Shine dan Marco. Kemana mereka?" tanya Louisa


"Menurut pesan dari senior, mereka mencari keberadaan tempat tinggal Pine dan perempuan itu. Karena ternyata mereka tidak tinggal di desa yang dikatakan Kepala kota "


"Maksudnya?"


"Hanya orang-orang yang mereka rekrutlah yang tinggal di desa itu. Sementara mereka berdua tidak tinggal disana. Dan menurut senior lagi, bukan perempuan itu satu satunya anggota pasukan khusus kerajaan Lingkar Awan tapi masih ada dua atau tiga orang lagi"


"Pantas saja mereka dengan mudah melatih rekrutan mereka. Aku juga sempat bertanya tanya dalam hati, bagaimana caranya perempuan itu dan Pine melatih orang orang sipil menjadi pengacau jika hanya berdua. Padahal mereka mengumpulkan banyak orang"


"Apa tindakan kita selanjutnya Tuan Puteri ?"


"Bagaimana keadaan disini? Apakah sudah benar-benar aman?"


"Sudah Tuan Puteri. Bahkan semua pengacau sudah dibawa penjaga kota ke Balai kota "


"Siapa yang bertanggung jawab membawa mereka?"


"Wakil Kepala penjaga kota Tuan Puteri. Dan hampir setengah penjaga kota ikut mengawal"


"Jika demikian, bagaimana dengan keadaan disini?"


"Kepala penjaga kota yang bertanggung jawab sebagai pengawas"

__ADS_1


"Jika demikian, kita kembali ke Balai Kota dahulu. Mengintrogasi pengacau, juga menunggu kedatangan prajurit kerajaan. Sekalian membicarakan strategi selanjutnya"


******


Louisa merasa baru memejamkan mata saat ia terbangun karena mendengar ketukan di pintu.


Tok...tok...tok...


"Siapa ?" katanya dengan matanya masih setengah terpejam.


"Ketua, saya Shadow. Prajurit kerajaan sudah tiba. Anda ingin menjumpai mereka sekarang atau nanti saja?"


"Apakah matahari sudah terbit Shadow?"


"Sudah Ketua?"


"Jika begitu, minta mereka menunggu sebentar. Saya bersiap dahulu"


"Baik ketua"


Louisa segera bersiap. Mencuci mukanya untuk menghilangkan kantuk yang masih menyerang. Maklum ia baru tidur beberapa jam.


Saat dia keluar, terlihat dilapangan Balai kota penuh sesak dengan prajurit kerajaan yang berbaris rapi. Bagaimanapun halaman Balai kota tidak terlalu luas. Karena kota Score hanyalah kota kecil yang baru terbentuk beberapa tahun.


Melihat kedatangannya, seorang pria berusia sekitar empat puluhan berlari kehadapan Louisa dan segera memberi hormat.


"Apa ayah ada menitipkan pesan?"


"Hanya meminta Tuan Puteri segera pulang ke kota Hinom"


"Itu saja?"


"Dari Jendral Lucky hanya itu. Tapi ini ada surat dari Nyonya Margaret" kata Kapten Leon sambil menyerahkan gulungan surat yang masih bersegel kepada Louisa.


Louisa menerimanya dan segera membukanya. Sebab sangat jarang ibunya mengirim surat untuknya.


Wajah Louisa sebentar tersenyum tapi kemudian merengut.


"Apa terjadi sesuatu Ketua ?" tanya Deep yang melihat perubahan di wajah Louisa.


"Sedikit. Tapi nanti saja kita membicarakannya. Sekarang Kapten, bubarkan saja dahulu para prajurit agar bisa beristirahat dahulu. Setelah ini, kita mengadakan rapat tentang rencana selanjutnya"


"Baik Tuan Puteri "


Louisa berjalan kedepan para prajurit.


"Salam hormat pada Tuan Puteri Lorine." kata para prajurit itu serempak sambil membungkukkan badan kepada Louisa.


"Salam hormat kalian aku terima. Sebelumnya saya ucapkan selamat datang di kota Score. Pasang beberapa tenda agar kalian bisa beristirahat. Bagaimanapun kalian sudah menempuh perjalanan panjang dari kota Hinom."

__ADS_1


"Siap Tuan Puteri" jawab mereka serempak.


"Nanti aku memerlukan bantuan kalian untuk mengurus beberapa hal. Apakah kalian bersedia?"


"Bersedia setiap saat. Menunggu perintah dari Tuan Puteri "


"Bagus. Untuk selanjutnya akan diteruskan oleh Kapten Leon" kata Louisa sambil meninggalkan lapangan itu kemudian memasuki Balai kota.


*****


Di dalam ruang pertemuan sudah ada Kepala Kota, Light, dan Marco. Mereka terlihat melakukan pembicaraan yang serius tapi berhenti saat melihat kedatangan Louisa.


"Kukira kalian belum kembali..." kata Louisa


"Baru kembali Ketua. Kami belum melapor karena melihat Ketua sedang berbicara dengan Kapten Leon"


Deep, Shadow, Light dan di ikuti Kapten Leo paling akhir memasuki ruang pertemuan.


Setelah memastikan semua sudah berkumpul Louisa segera memulai pertemuan.


"Baiklah, karena kita telah berkumpul semua disini kita mulai pertemuan nya. Shine tolong jelaskan situasi yang terjadi agar Kapten Leon dapat mengerti permasalahan yang terjadi "


"Terima kasih Ketua. Semua bermula dari laporan kekacauan yang kami terima saat berada di kota Leak tepatnya di lokasi pembangunan tembok perbatasan yang merupakan gerbang pintu masuk dari Kerajaan Lingkar Awan" kata Shine memulai.


"Karena berada dekat dengan lokasi, kami ingin mengecek kebenaran informasi itu. Ternyata kenyataannya lebih parah dari yang kami duga sebelumnya. Kota Leak benar-benar menjadi kota mati di malam hari karena jam malam diberlakukan kepala kota."


"Kami mencari informasi penyebabnya termasuk introgasi pada pengacau yang telah menjadi tahanan. Dari sana cerita berkembang, dan kami tahu jika sasaran mereka selanjutnya adalah kota Score. Karena itu kami meminta mengirim prajurit kemari"


"Maaf pelatih Shine, tapi aku masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sekilas waktu kami tadi lewat, kota ini terlihat aman aman saja "


"Terlihat seperti itu, tapi sebenernya tadi malam terjadi serangan di pembangunan tembok perbatasan."


Kapten Leon sedikit terkejut dilihat dari warna mukanya yang berubah.


"Kami sudah menyelidiki tempat pelatihan orang orang itu. Dan saat ini masih ada sekitar lima puluhan orang ditempat pelatihan. Tapi yang menjadi poin utama bukan mereka, karena mereka hanyalah pion yang merupakan rakyat kita juga."


"Jadi maksud pelatih Shine?"


"Kapten Leon..."


"Iya Tuan Puteri "


"Semua kekacauan ini berhubungan dengan kerajaan Lingkar Awan. Saat ini yang kami tahu, ada sekitar tiga sampai lima orang anggota pasukan khusus Kerajaan Lingkar Awan berada di kota ini. Dan merekalah yang merekrut rakyat kita untuk membuat kekacauan ini"


Wajah Kapten Leon tampak memerah menahan marah.


"Mengapa mereka selalu mengganggu kita Tuan Puteri. Ini tidak bisa dibiarkan terus menerus. Apa mereka sangka kita begitu lemah? Mungkin kita harus bersikap tegas sekali ini Tuan Puteri. Saya tidak takut berperang dengan Lingkar awan."


"Kau kira mengapa selama ini pihak istana lebih mementingkan pembangunan tembok perbatasan? Juga mengapa perekrutan prajurit kerajaan ditingkatkan terus menerus? Saya tahu kemarahan anda Kapten Leon. Tapi fokus utama kita mengatasi yang kecil dahulu. Sebelum menyatakan perang, kita harus yakin jika kita betul betul siap dengan semua konsekuensinya"

__ADS_1


__ADS_2