Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Kota Score


__ADS_3

“Maaf Tuan Siton. Hukumannya tidak bisa digantikan dengan anda. Tapi jika memang putera anda terbukti bersalah, kami menjamin dia akan mendapatkan hukuman seadil adilnya" kata Shine.


“Hukuman mati....Hukuman mati.... kau akan dihukum mati karena menghianati nenek moyangmu Pine.. apa yang harus kulakukan...gagal..gagal sebagai ayah..." kata Tuan Siton lagi sambil berjalan seperti orang bingung.


Melihat keadaannya membuat mereka menjadi prihatin.


"Orang tua yang malang..." kata Marco


"Anak yang berbuat, orang tua ikut menderita" kata Shine. "Tapi itu memang sangat sering terjadi dalam kehidupan ini" lanjutnya


Setelah Tuan Siton pergi, mereka segera melaporkan hal itu kepada Louisa.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Louisa


"Ketua, Tuan Siton tidak bersalah. Beliau sama sekali tidak terlibat dengan kekacauan itu."


"Tapi sejauh ini, dia merupakan tersangka satu satunya. "


"Tidak salah dengan dugaan kita. Karena pelaku nya merupakan anak laki laki Tuan Siton"


"Apa..!" kata Louisa dan Kepala kota serempak terkejut.


"Laporan lengkapnya" lanjut Louisa


Deep menceritakan kembali hasil introgasi yang mereka lakukan. Louisa mendengarkan dengan penuh perhatian sesekali kepalanya menggeleng gelang.


"Jadi bagaimana sekarang, Ketua? Kita melanjutkan pengejaran?" tanya Shine.


Louisa terdiam sejenak, berpikir apa yang harus dilakukannya.


Ia kemudian memejamkan mata dan mulai membaca mantera. Tidak berapa lama seekor burung hantu terbang mendekati mereka. Dan hinggap di tangan Deep. Kedatangan burung hantu besar itu tak urung menjadi perhatian sebagian pekerja.


Louisa menulis surat singkat dan kemudian menggulungnya dan mengikatnya pada kaki burung itu. Lalu bersiul singkat seperti nyanyian, dan burung itu terbang tinggi meninggalkan mereka.


"Seperti nya target mereka memang kota kota disepanjang perbatasan. Dan membuat kekacauan"


"Jadi apa tindakan kita selanjutnya, Ketua?"

__ADS_1


" Kita tetap kembali ke ibukota. Tadi aku mengirim pesan kepada ayah, agar mengirim satu orang kapten lengkap dengan prajurit untuk menangani masalah ini"


"Tapi Ketua, kita sudah dekat dengan kota Score. Apa tidak sebaiknya kita membantu?"


"Apakah menurutmu seperti itu Shine?"


"Menurutku itu lebih baik, Ketua. Dari kota Leak hanya perlu setengah hari perjalanan ke kota Score. Sedangkan dari ibu kota perlu waktu dua hari perjalanan. Lagi pula hanya kita yang mengetahui ciri ciri pelaku"


"Yang kalian katakan ada benarnya. Tapi bagaimana wajah isteri Pine? Jangan sampai nanti Pine sang pion yang tertangkap, tapi otak dibalik semua kekacauan itu justru melarikan diri kembali ke Lingkar Awan"


"Tuan Siton bersedia membantu Tuan puteri" kata kepala kota tiba-tiba datang.


"Ini lukisan istrinya Tuan Siton. Menantunya itu persis seperti ini. Hanya alis matanya sedikit berbeda. Karena sangat mirip inilah, makanya saya mengira mereka masih kerabat" lanjut kepala kota sambil menyerahkan gulungan lukisan.


Shine menerimanya dan kemudian membukanya serta memperlihatkan ya kepada mereka. Mereka melihatnya dengan serius.


"Kepala kota, kembalikan kepada Tuan Siton lukisannnya. Kami sudah mengingat wajahnya. Katakan kepada Tuan Siton tidak usah khawatir tentang puteranya. Jika tertangkap, kami akan berusaha berbuat seadil adilnya untuknya. Sebab kita tidak tahu apa motif yang melatarbelakangi tindakannya."


"Baik Tuan Puteri."


"Kami tidak akan berlama lama kepala kota. Kami harus melanjutkan perjalanan kami. Agar persoalan ini segera selesai. Mulai sekarang, cabut jam malam di kota. Saya yakin mereka tidak akan membuat kekacauan lagi di sini karena sudah mengincar kota berikutnya"


Segera rombongan Louisa bergerak meninggalkan kompleks pertambangan. Kuda kuda bergerak menjauhi kota Leak. Semakin kearah Barat mengikuti garis garis batas Kerajaan Lembah Angin.


Mereka beristirahat hanya untuk makan disebuah desa kecil yang mereka lewati, sambil mengumpulkan informasi mengenai orang yang mereka cari.


"Kata pemilik warung memang mereka ada singgah sekitar sepuluh hari yang lalu. Pemilik warung mengingat nya, karena mereka mengatakan mencari pekerja kasar untuk dijadikan pekerja mereka dengan tawaran upah diatas rata rata"


"Apakah ada yang tertarik waktu itu?"


"Ada beberapa pemuda yang mengikuti mereka. "


"Hah... kita tahu pekerja seperti apa yang mereka maksudkan. Jika begitu, kira harus bergegas. Sepertinya cara mereka merekrut orang memang seperti itu. "


"Tapi kita jadi tahu dimana kita bisa menemukan mereka. Dilihat dari cara mereka, kita tinggal menyebar kebeberapa rumah makan untuk menemukan mereka."


"Cara ini cukup efektif saya kira. Nanti kita bisa meminta tolong kepada kepala kota Mafy pemimpin kota Score untuk membantu" kata Louisa.

__ADS_1


"Mari berangkat sekarang, Ketua. Kuda sudah siap" kata Marco.


Kuda kuda kembali berderap menuju kota Score. Tanpa membuang waktu lagi, mereka langsung menuju kediaman Kepala kota.


"Selamat datang, Tuan Puteri." kata kepala kota Mafy sambil berlari tergopoh gopoh menyambut kedatangan rombongan Louisa.


"Salam jumpa tuan Mafy"


"Mari Tuan Puteri. Tuan dan nyonya.." kata sambil mempersiapkan mereka masuk.


"Apa ada masalah Tuan Puteri.? Sehingga Yang Mulia sendiri datang ke kota kecil kami?"


Louisa menceritakan persoalan yang dialami kota Leak sebelumnya. Dan juga tentang dugaan tersangka yang berada di kota Score untuk melanjutkan rencana kekacauannya.


"Begitulah kepala kota. Saat dalam perjalanan kemari, kami singgah di beberapa rumah makan untuk mengumpulkan informasi. Dan sepertinya mereka memang sedang mengumpulkan orang"


"Sejauh ini memang keadaan kota Score masih aman, Tuan Puteri. Tapi itu mungkin saja karena mereka belum beraksi, atau sedang melatih penduduk yang mereka rekrut agar sesuai dengan standar yang mereka inginkan"


"Kami juga menduga demikian ,Kepala kota. Berdasarkan apa yang terjadi pada kota Leak, mereka tidak hanya melakukannya sekali. Tapi berulang ulang. Jadi begitu satu kelompok ditahan penjaga kota, maka akan dikanjutkan okeh kelompok berikutnya."


"Jadi apa rencana Tuan Puteri?"


"Kita harus bisa menyusup ke dalam kelompok mereka. Tanpa bukti yang jelas, kita tidak bisa melakukan somasi ke pada pihak Lingkar Awan. Walaupun aku yakin, mereka pasti tidak akan mengakuinya"


"Caranya bagaimana Tuan Puteri?"


"Kita menyebar anggota kita ke beberapa rumah makan. Seolah olah mereka mencari pekerjaan. Aku yakin, salah satunya akan terjaring perekrutan."


"Tapi siapa yang harus saya gerakkan Tuan Puteri. Jika saya meminta kepada pengawal kota, kota akan kehilangan penjagaan. Karena jumlah prajurit kota juga sangat terbatas"


"Apa yang dikatakan kepala kota Mafy ada benarnya Ketua. Belum lagi, jika sebagai pengawal kota tentu wajah mereka sudah dikenal penduduk. Tentu akan menimbulkan


kecurigaan."


"Jadi haruskah kita menunggu prajurit dari ibu kota?" tanya Marco


"Tidak perlu. Kita bergerak terlebih dahulu. Jika nanti kita belum mendapatkan hasil sampai prajurit dari ibukota sampai disini, baru kita menggerakkan prajurit kerajaan."

__ADS_1


"Jadi bagaimana pembagiannya?"


"Kalian ber empat menyebar kebeberapa rumah makan. Saya dan Light akan mencoba keliling kota mencoba mencari informasi keberadaan mereka. "


__ADS_2